Novel ini memiliki tempo yang lambat.
Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan berdirinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Teriakan-teriakan dari luar menggantung di udara pengap gudang itu. Keheningan yang semula menekan kini seketika pecah menjadi ketegangan mencekam. Suara-suara kasar itu terdengar menuntut, sarat dengan keyakinan buta bahwa mereka berhak menerobos kapan saja. Dari nada bicara mereka, ancaman terasa begitu nyata, seakan pintu kayu di hadapan Jihan dan Yasmin hanya menunggu waktu untuk didobrak hingga remuk.
Hening sejenak jatuh di antara keduanya, namun ini bukanlah keheningan yang menenangkan.Mereka saling berpandangan, mata mereka bertemu dalam pemahaman bisu. Keduanya tahu tanpa perlu bicara: siapa pun yang ada di luar sana, pastilah datang membawa urusan yang berkaitan dengan kesialan yang menimpa Desa Batu Sungai.
Pikiran itu membuat sorot mata keduanya mengeras, dingin seperti baja. Yasmin menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya. Sebagai pengawas yang ditugaskan langsung oleh Arya Jaya untuk memastikan keselamatan Jihan, ia tahu tanggung jawabnya tidak bisa ia ingkari. Apa pun yang terjadi, ia harus berada di depan.
Dengan langkah mantap, Yasmin maju lebih dahulu. Jihan mengikutinya dari belakang, wajahnya kini tidak lagi dipenuhi keraguan, melainkan tekad dingin yang siap menghadapi apa pun yang akan datang. Bunyi langkah mantap mereka berdua memecah kesunyian gudang, sepatu kayu Yasmin dan telapak kaki Jihan bergema di atas lantai tanah, terdengar seperti tabuhan gendang perang yang sayup-sayup.
Lalu, tanpa menunggu lebih lama…
KREEK…
Pintu kayu berderit saat Yasmin mengulurkan tangannya, memutar gagang dan mendorongnya perlahan. Cahaya matahari yang terik menyembur masuk, menyibak bayang-bayang panjang di dalam ruangan.
Di ambang pintu, berdirilah tiga pria paruh baya. Wajah mereka keras, dipahat oleh kecurigaan dan kebencian yang tak berusaha mereka sembunyikan. Salah satunya masih mengenakan caping petani yang usang, tangannya mencengkeram parang berkilat, sementara yang lain membawa jaring nelayan yang kasar, seolah siap menjaring binatang buruan.
Namun, tatapan mereka tidak tertuju pada Yasmin. Seolah sosok pria dewasa itu hanya bayangan semu. Pandangan mereka langsung menembus ke belakangnya, terkunci pada satu target. Sosok yang bagi mereka bukan lagi seorang anak, melainkan kutukan yang harus dihapuskan.
Suara berat menggema dari salah satu di antara mereka, Darmin, lelaki yang membawa jaring, memecah keheningan canggung yang menyesakkan. Ia tidak tahan lagi melihat sikap Jihan yang begitu tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
“Cuih! Bocah kutukan!” hardiknya, ludahnya hampir menyembur bersama kata-kata.
“Berani sekali kau berdiri di hadapan kami dengan wajah setenang itu!”
Ia melangkah setapak ke depan, nadanya semakin meninggi.
“Masihkah kau tidak sadar siapa dirimu? Sejak hari terkutuk itu, desa ini tak pernah lepas dari sial!”
Darmin mengepalkan jaring di tangannya, seakan ingin melemparkannya ke arah Jihan saat itu juga.
“Air Sungai Batu terus menyusut! Aliran yang seharusnya menuju penangkaran ikan milikku tersumbat, membuat semuanya mati! Dan sekarang, ladang Karta pun hancur karena ulahmu!”
“SEKARANG, AKU MEMINTA TANGGUNG JAWABMU, BOCAH!!”
Namun Jihan tidak goyah. Bagi dirinya, semua tuduhan itu hanyalah omong kosong yang dilemparkan tanpa dasar. Ia menarik napas dalam, lalu menjawab dengan suara dingin, dan tanpa gentar. Setiap katanya menjadi bantahan yang tak terbantahkan.
“Semua itu tidak ada hubungannya denganku, Paman Darmin.”
“Sejak kemarin aku selalu bersama ibuku. Aku bahkan tidak punya waktu untuk membuat bendungan, apalagi merusak ladang.”
Sorot matanya menajam, menusuk balik ke arah Darmin.
“Lalu, apakah Paman bisa membuktikan aku bersalah? Jika tidak, berarti Paman hanya menuduh orang tak berdosa. Dan setahuku itu… adalah pelanggaran terhadap aturan desa.”
Kata-kata Jihan yang logis dan menusuk itu membuat Darmin terdiam. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah padam, bukan karena malu, tapi karena amarah yang tak punya jalan keluar.
Sejenak, para lelaki itu saling berpandangan. Namun, pikiran mereka sudah lama terikat oleh kepercayaan buta. Di mata mereka yang telah dibutakan oleh dogma, logika justru terlihat seperti sebuah pembangkangan.
“Tidak ada hubungan?”
Suara Karta, pria bertopi caping yang ladangnya kering, terdengar serak dan mengejek. Ia melangkah maju melewati Darmin, matanya yang memerah menatap Jihan dengan benci.
Melihat situasi memanas, Yasmin segera mengulurkan lengan, mencoba menghalangi jalan Karta.
“Jangan gegabah, Karta.”
Namun, Karta dengan kasar menghempaskan tangan Yasmin.
“Jangan ikut campur, orang luar!”
Ia kini berdiri tepat di hadapan Jihan, begitu dekat hingga Jihan bisa mencium bau amarah dan keringatnya. Jari telunjuknya yang kasar dan kapalan teracung, hampir menyentuh dada Jihan.
“Penatua Abadi sendiri yang sudah memberimu vonis!” suaranya terdengar kasar dan penuh kemenangan.
“Kau itu pembawa kutukan, Jihan! Kehadiranmu di desa ini hanya akan membawa lebih banyak bencana!”
“Apa kau tidak tahu aturan Langit? Orang-orang sepertimu… orang tanpa Akar Spiritual… adalah sumber masalah!”
Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, tatapannya keji.
“Jadi salahkan dirimu sendiri! Atau salahkan ibumu yang sakit-sakitan itu karena telah melahirkan anak terkutuk sepertimu! Tidak heran kalau dia terus menderita. Penyakitnya itu… pastilah karena kau!”
Penghinaan terakhir itu, yang membawa-bawa nama ibunya, adalah percikan api yang jatuh ke tumpukan kayu kering. Jihan bisa menahan semua tuduhan yang ditujukan padanya. Ia bisa menerima cemoohan. Tetapi ketika ibunya ikut diseret ke dalam lumpur hinaan ini… itu adalah garis yang tidak boleh dilewati.
Sesuatu di dalam diri Jihan retak. Lapisan es keputusasaan yang selama ini membekukan hatinya pecah berkeping-keping. Dan dari celah-celah yang menganga itu, bukan lagi kesedihan yang keluar.
Melainkan amarah. Amarah murni yang panas dan membara, siap meledak dan melahap siapa saja yang berani memprovokasinya lebih jauh.
Jihan akhirnya angkat bicara, suaranya pelan namun setiap katanya terdengar jelas dan menusuk.
“Aku sudah tinggal di desa ini seumur hidupku. Aku bekerja. Aku merawat Ibuku. Aku tidak pernah membawa sial untuk siapa pun.”
“DULU BERBEDA!”
Potong Budi yang sejak tadi hanya diam, kini tak lagi mampu menahan diri. Matanya memerah, menyala karena amarah.
“DULU KAMI TIDAK TAHU KAU ITU RUSAK! SEKARANG KAMI TAHU! KAU HARUS PERGI DARI SINI! BAWA KUTUKANMU DAN IBUMU SEBELUM SELURUH DESA INI HANCUR!”
Diusir.
Kata itu, dan gagasan untuk menyeret ibunya yang sakit ke dalam pengasingan, menghantam Jihan lebih keras dari pukulan fisik mana pun. Dan saat itulah, bendungan yang selama ini menahan semua rasa malu, lelah, dan amarahnya… akhirnya jebol.
Perlahan, Jihan menyipitkan matanya tajam. Tatapan tenangnya telah lenyap, digantikan oleh sorot mata yang dingin membara.
“Aku tidak akan ke mana-mana,”
“Ini rumahku.”
Melihat perlawanan itu, mata Karta menggelap. Akal sehatnya telah sepenuhnya ditelan oleh takhayul dan amarah.
“Sombong sekali kau, dasar sampah tak berguna!”
Dengan geram, ia melangkah maju dan mendorong dada Jihan dengan kasar.
Jihan tetap kokoh, tidak bergeming seinci pun, tetapi dorongan fisik itu adalah sumbu terakhir yang menyala. Tanpa berpikir, nalurinya mengambil alih. Tangannya terkepal begitu erat, dan dalam sekejap, bayangan saat ia menghajar Gading dan kawan-kawannya melintas di benaknya, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai sebuah janji akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Melihat situasi yang berada di ambang ledakan, Yasmin bergerak cepat.
“Semuanya hentikan! Mohon jangan bertindak impulsif!”
Namun dalam hatinya, ia tahu ini sudah terlambat. Rasa panik mulai mencengkeramnya. Perkelahian di sini akan menjadi bencana. Jika Jihan benar-benar melawan, itu bukan lagi sekadar membela diri. Itu adalah deklarasi perang terhadap desanya sendiri, sebuah tindakan yang akan membakar jembatan terakhirnya dan menyegel nasibnya selamanya.
Melihat kilat berbahaya di mata Jihan, ketiga pria itu sontak mundur selangkah. Mereka mungkin berani mengeroyok pemuda yang putus asa, tapi nyali mereka ciut menghadapi orang yang sama yang kemarin membuat Gading dan kawan-kawannya bertekuk lutut.
“Mau apa kau? Melawan kami, hah?!”
Namun rasa takut itu segera terkalahkan oleh keberanian yang lahir dari jumlah mereka. Dengan saling bertukar isyarat, ketiga pria itu mulai bersiap, hendak menerjang Jihan bersamaan.
Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya…
“HENTIKAN!”
Suara berat dan penuh wibawa menggelegar dari arah belakang, membekukan semua orang di tempat.
Langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Dari jalan setapak, sosok Arya Jaya muncul. Wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras seperti pahatan batu. Tatapannya tajam menusuk Karta dan kawan-kawannya, sarat dengan kekecewaan dan amarah yang tertahan.
“Kupikir keributan apa yang kudengar,” ucapnya dingin.
“Ternyata hanya sekumpulan pria dewasa yang hendak mengeroyok seorang anak tak berdosa.”
Ia menatap mereka satu per satu, hingga tak ada yang berani membalas tatapannya.
“Apa yang sebenarnya kalian lakukan?!”