Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Jam digital di dinding ruang tengah rumah pribadi Alexander menunjukkan pukul 19.47.
Sudah lebih dari dua puluh menit sejak pria itu naik ke lantai atas, dengan tubuh berkeringat, napas berat, dan tatapan tak biasa.
Elena duduk di ujung sofa panjang, tangannya saling menggenggam gelisah. Sesekali ia melirik ke arah tangga.
Pikirannya mulai melayang.
Apa yang sebenarnya terjadi di ruang rapat tadi?
Apa yang dimaksud Alexander dengan "jebakan"?
Dan kenapa tubuhnya terlihat seperti... melawan dirinya sendiri?
Elena menggigit bibir bawahnya.
Ia tahu ini melanggar garis profesional. Tapi suara kecil dalam hatinya berbisik,
'Bagaimana jika dia pingsan? Atau lebih buruk?'
Dengan langkah pelan, Elena bangkit dari sofa. Ia ragu sejenak di kaki tangga, lalu mulai menaiki anak tangga satu per satu. Rumah itu begitu sunyi hingga suara detak jam terdengar tajam.
Sampai akhirnya dia tiba di lorong atas yang sepi.
“...Tuan Thorne?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Ia berjalan menyusuri lorong, melewati beberapa pintu tertutup. Sampai akhirnya ia melihat satu pintu terbuka sedikit, cahaya temaram menyemburat dari dalam.
Elena mendorong pintu itu perlahan.
Lampu kamar hanya menyala setengah. Tirai jendela belum ditutup sepenuhnya. Dan di tengah ruangan, terduduk di sisi ranjang dengan napas tidak teratur, adalah Alexander Thorne.
Kemejanya telah dilepas, tubuhnya bersandar lemah ke sisi tempat tidur. Dahi dan dada bagian atasnya basah oleh keringat. Ujung rambutnya juga basah, dan tangan kirinya mencengkeram seprai.
Elena membeku di ambang pintu.
Wajah Alexander menoleh ke arahnya. Matanya merah dan tampak kacau. Tapi ia masih sadar. Masih menatap Elena dengan sisa-sisa kejernihan.
“Elena…” suaranya serak, nyaris tak terdengar. “Kau... tidak seharusnya di sini.”
Elena melangkah maju. “Anda tidak turun-turun. Saya, saya khawatir terjadi sesuatu.”
Alexander memejamkan mata sesaat. “Tubuhku… bukan milikku malam ini.”
Elena mendekat perlahan. “Apa maksud Anda… apakah Anda sedang sakit? Saya bisa panggil dokter.”
“Jangan.” Nada Alexander mendadak tajam. “Tidak ada yang masuk rumah ini malam ini. Tidak boleh ada yang tahu.”
Napasnya makin cepat.
“Ada sesuatu dalam minuman itu,” desisnya. “Aku tahu. Sejak kita keluar dari ruangan itu, aku tahu… tubuhku mulai memanas. Ini… bukan efek biasa.”
Elena membeku. “Anda pikir itu, obat?”
Alexander tidak menjawab. Tapi dari ekspresinya, Elena tahu itu bukan dugaan. Itu kepastian.
“Mereka ingin menangkapku dalam keadaan seperti ini. Lensa kamera. Skandal. Kehancuran,” ucapnya pelan, getir. “Mereka ingin membuatku hancur.”
Elena menggeleng perlahan. “Saya tidak akan bicara pada siapa pun.”
Alexander tersenyum samar. Senyum letih.
“Kau terlalu tenang, Elena. Terlalu rasional.”
Ia bangkit perlahan dari sisi tempat tidur. Tubuhnya limbung, tapi ia menahan diri. Keringat menetes dari pelipis ke rahang, membuatnya tampak seperti pria yang sedang bertarung melawan dirinya sendiri.
“Pergilah… sebelum aku kehilangan kontrol penuh.”
Tapi Elena tetap berdiri di tempat.
Dan itulah momen ketika Alexander menatapnya lagi, tajam, rapuh, penuh tekanan. Tapi masih dengan sisa-sisa kendali.
Ia tidak akan meminta simpati.
Elena berdiri terpaku di sisi tempat tidur, tubuhnya kaku dalam keraguan yang menusuk.
Tatapan Alexander masih tertuju padanya, tapi kini jauh lebih gelap, liar, dan kacau. Nafasnya tidak terkendali, dan suhu tubuhnya hampir seperti orang demam tinggi. Elena tahu, ini bukan sepenuhnya dirinya yang bicara, tapi juga efek zat yang mengalir dalam darahnya.
“Pergi,” desis Alexander. “Sekarang.”
Elena mengangguk kecil, berbalik cepat, langkahnya ragu tapi pasti. Ia ingin menuruti. Ia harus menuruti.
Namun, belum sempat ia melewati ambang pintu...
Tangan besar itu menariknya dari belakang.
Tubuhnya terhempas ke atas ranjang, tak keras tapi mengejutkan. Napas Elena tercekat, jantungnya berdetak seperti genderang perang.
Alexander menunduk di atasnya, lengan bergetar, wajahnya nyaris pucat karena menahan gejolak yang tidak biasa.
“Bantu aku,” desisnya, nyaris seperti permohonan. “Tolong aku… dan aku akan berikan satu permintaan untukmu. Apa pun.”
Elena menahan napas.
Tapi sebelum sempat menjawab, bibir Alexander mendarat di bibirnya. Panas. Terburu-buru. Seolah kendali terakhirnya telah lepas bersama setiap tarikan napas.
Elena menegang.
Tapi sesuatu di dalam dirinya... bergetar.
Antara ngeri dan iba. Antara kekacauan dan sesuatu yang lain.
Bibir Alexander bergerak, tapi hanya sesaat, sebelum ia menghentikannya sendiri. Ia menarik diri, memejamkan mata, gemetar menahan diri. Kedua tangannya mengepal di sisi kepala Elena, tidak menyentuh lebih jauh.
“Maaf,” gumamnya parau. “Ini bukan aku.”
Elena menatapnya. Tubuhnya masih berdebar. Tapi bukan karena takut. Karena... rasa campur aduk yang tak ia mengerti.
Ia perlahan duduk, lalu menghela napas dalam. “Saya akan bantu,” bisiknya. “Saya tidak bisa membiarkan Anda dalam bahaya.”
Alexander menatapnya. Lama.
Dan kali ini, tak ada lagi tekanan. Hanya… rasa sakit dan lelah yang menumpuk di balik ketegasan seorang pria yang biasa mengontrol segalanya.
Ia mengangguk perlahan.
"Jangan pernah menyesali keputusanmu."
Cahaya lampu redup menari di dinding kamar. Waktu berhenti di tengah keheningan yang tak biasa.
Alexander duduk di sisi ranjang, tubuhnya masih bergetar pelan. Elena duduk beberapa inci darinya, namun ruang di antara mereka terasa tipis… nyaris lenyap.
Ia menatap Elena dengan mata setengah lelah, setengah bingung. Efek dari zat itu masih ada, samar, tapi perlahan menurun. Tapi yang lebih kuat dari itu… adalah dorongan yang anehnya terasa nyata, bukan sekadar reaksi kimia.
“Elena,” gumamnya.
Suara itu nyaris seperti bisikan. Tapi Elena mendengarnya. Ia menoleh. Matanya bertemu mata Alexander.
Tangan Alexander perlahan terulur, menyentuh sisi wajah Elena.
Lembut.
Ragu.
Jari-jarinya turun ke lehernya, lalu ke bahu Elena. Sentuhannya ringan, nyaris tak menyentuh, tapi cukup untuk membuat jantung Elena berdebar kencang.
“Elena, kalau kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu…” katanya dengan suara rendah.
Tapi Elena tetap di sana.
Ia bahkan menutup matanya saat tangan Alexander menyentuh lengannya. Ada sesuatu dalam dirinya yang meleleh.
Dan ketika Alexander mendekat, menyentuhnya lebih dalam, Elena tidak menolak.
Untuk keduanya, mereka membiarkan batas runtuh. Bukan sekadar fisik… tapi kepercayaan. Alexander, yang selalu menutup diri. Elena, yang selalu menolak dekat.
Dan dalam setiap sentuhan, muncul rasa yang asing bagi mereka berdua.
Alexander, yang dikenal tidak punya sisi lembut, justru tak ingin berhenti merasakan kulit Elena di bawah jemarinya. Ia menyentuh dengan perlahan, seperti ingin menghafal setiap garis dan lekuknya.
Elena, yang biasa menahan diri, justru terlena dengan cara pria itu memperlakukannya.
Dan di tengah keheningan kamar itu, keduanya lupa siapa mereka di dunia luar.
Napas keduanya terengah-engah dan memanggil nama satu sama lain. Hingga tubuh keduanya melemas dan saling memeluk satu sama lain.
Pagi datang terlalu cepat.
Cahaya keemasan matahari musim gugur menyusup pelan dari sela-sela tirai tebal kamar. Suasana masih sepi. Hening. Tapi tidak sama seperti semalam.
Elena membuka mata perlahan.
Rasa hangat masih tertinggal di tubuhnya, tapi yang lebih kuat justru... kosong.
Ia menoleh ke sisi kanan ranjang, kosong. Bantal yang semalam menyentuh kepala Alexander sudah rata. Tak ada jejak.
Lalu terdengar gemericik air dari arah bathroom. Suara pancuran yang stabil. Elena duduk perlahan, tubuhnya masih terbungkus selimut.
Kenapa ini terasa… terlalu sunyi?
Ia memandangi kamar itu. Teratur. Tak berubah. Seolah malam tadi tidak pernah terjadi.
Tapi tubuhnya mengingat semuanya.
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya