Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Hotel
Nyatanya, ucapan Alissa yang mengatakan jika dirinya tidak peduli hanyalah bualan semata. Buktinya sekarang perempuan itu berada di kursi belakang mobil. Mengikuti mobil Sean di bawah gelapnya malam.
"Bisa tolong lebih cepat, Pak? Jangan sampai kita ketinggalan jejak suamiku." pinta Alissa pada supir taksi di depan.
Dia tidak akan bodoh dengan meminta bantuan supir pribadi di kediamannya. Bukannya berhasil memergoki perselingkuhan Sean dan Stella, Alissa yakin Sean akan menghajarnya karena berani ikut campur urusan laki-laki itu.
"Baik, Nyonya." balas supir itu patuh. Menginjak pedal gas dan mempercepat laju mobilnya.
Kita lihat saja Sean. Secepatnya aku akan lepas dari pernikahan ini.
Selang seperempat jam kemudian, mobil Sean memasuki basement hotel. Sedangkan taksi yang Alissa tumpangi hanya berhenti di pelatarannya saja.
Istri Sean itu gegas memakai wig berwarna merah terang, kacamata hitam, dan masker untuk melakukan penyamaran. Sebelum keluar ia mengeluarkan sejumlah uang untuk diberikan kepada supir taksi.
"Nyonya, ini sangat banyak." ujar supir itu ketika mendapati nominal yang Alissa berikan.
"Tidak apa-apa. Itu tips untukmu." balas Alissa yang kembali mengecek penampilannya.
Sepertinya penyamaranku cukup bagus. Bahkan aku tidak menyangka yang dicermin ini adalah diriku sendiri.
"Jika boleh tahu, sebenarnya Kenapa anda mengejar mobil suami anda, Nyonya?"
Mendengar pertanyaan dari sang supir, Alissa memasang wajah sedih. Ia keluarkan air mata palsunya untuk menarik simpati.
"Suamiku selingkuh, Pak." ujar perempuan itu dengan air mata buayanya.
"Aku ingin bercerai, tapi dia tidak memberikannya. Maka dari itu aku ingin mencari bukti perselingkuhan suamiku untukku laporakan pada keluarganya."
Bukankah Alissa jenius. Sean tidak ingin bercerai kan. Maka Alissa akan membuat keluarganya yang meminta Sean untuk melepaskan Alissa.
"Saya sedih mendengarnya. Semoga Nyonya bisa segera lepas dari laki-laki itu dan mendapatkan kebahagian Nyonya kembali."
Alissa tersenyum membalas dukungan dari sang supir taksi. "Terimakasih Pak. Terimakasih atas dukunganmu."
Alissa keluar dari mobil. Pun dengan mobil itu yang melaju meninggalkan pelataran hotel. Mencari keberadaan Sean, Alissa berdecak takjub kala melihat pemandangan di depannya.
Laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu tengah memeluk perempuan yang berstatus sebagai adiknya dengan sangat mesra.
Alissa mendengus sinis. "Aku akan mengembalikan cinta itu. Alahhh, bulshit!" cibir perempuan itu yang mendadak kesal.
Mengingat sesuatu, buru-buru Alissa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia rekam adegan romantis itu untuk dijadikan sebagai bukti.
Kemudian, Sean dan Stella berjalan bersisihan. Pun dengan tangan mereka yang saling bertaut layaknya pasangan.
Merasa penyamarannya aman, dengan penuh kepercayaan diri Alissa membututi Sean tepat di belakang laki-laki itu dan juga Stella.
Mereka menuju meja resepsionis. Melakukan revervasi kamar yang telah mereka pesan.
"Kak, kau yakin istrimu tidak mengetahui hal ini?" samar-samar Alissa mendengar perbincangan itu.
"Tenang saja. Dia tidak akan mengetahuinya." balas Sean sembari mengusap bahu Stella seperti mencoba menenangkan.
Cih, dasar laki-laki murahan!
"Aku takut Kak. Jika nanti dia mengetahui ini bagaimana?"
"Memangnya dia bisa apa Stella? Alissa masih menjadi wanita lemah sama seperti yang dulu."
Sia-lan! Jika tidak sedang melakukan penyamaran, ingin sekali Alissa menghampiri Sean dan benar-benar menjambak rambut laki-laki itu sampai gundul.
Sean dan Stella telah selesai melakukan reservasi. Seorang resepsionis memberikan kunci kamar kepada mereka. Alissa kembali membututi kedua sejoli itu sembari terus merekam. Ponselnya ia taruh pada saku kemeja yang dikenakannya.
Sampai pada unit kamar nomor 105, mereka masuk. Saat itulah Alissa mengumpat pelan.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini?" ujarnya setelah berdecak kesal.
Sean dan Stella telah masuk. Tapi bagaimana caranya dia tahu apa yang mereka lakukan di dalam?! Kenapa Alissa tidak memikirkan hal sepenting ini.
"Kau memang payah Alissa." gumam perempuan itu dengan nada yang berubah lesu.
"Katamu, ini bukan urusanmu."
Sedang bingung dan frustasi, sebuah suara yang sudah tidak asing mengintrupsi Alissa. Menoleh pada sumber suara, perempuan itu dapat melihat Ellard tengah berjalan ke arahnya dengan senyum remeh yang membuat Alissa bertambah kesal.
Kenapa dia selalu ada di mana-mana sih! Dan kenapa dia bisa mengenaliku?!
"Bukan urusanmu, dan lihatlah sekarang. Sedang di mana kau berada." sindir protagonis laki-laki itu menatap Alissa mengejek.
"Kenapa kau ada di sini?" Alissa bertanya dengan nada yang tidak bersahabat.
Ellard menghela nafas jengah. "Ayolah, Alissa. Aku ingin menjadi teman masa kecil yang baik untukmu."
"Kupikir, setelah ucapanmu tadi siang, aku akan membututi suamimu dan juga adiknya untukmu." laki-laki itu mengendikan bahu herannya. "Tak kusangka, ternyata kau juga ada di sini."
"Aku ke sini karena memiliki tujuan!" ujar Alissa mencoba membela diri.
"Tujuan apa? Memergoki suamimu selingkuh dengan adiknya sendiri?" balas Ellard dengan dengusan gelinya.
"Ya! Dan itu ada tujuannya!" Alissa semakin berapi-api.
"Tujuan apa Alissa?"
"Bukan urusanmu." Alissa memutar bola matanya malas. "Lagipula, kenapa kau suka sekali merecoki hidupku? Lagi-lagi yang kulihat kau, kau, dan kau!"
Mata perempuan itu berganti mengerling jengah. "Bosan sekali rasanya."
Ellard tidak menjawab. Sebaliknya, laki-laki itu menarik lengan Alissa tiba-tiba hingga sang empu memekik kaget.
"Diam, Alissa." seru Ellard dengan nada tertahan. Ia bungkam mulut Alissa dengan telapak tangan besarnya. Membawa perempuan itu bersembunyi di balik vas besar di samping unit kamar Sean.
"Lepas!" Alissa ikut berbisik. Kendati demikian, ia tetap menatap Ellard penuh permusuhan.
"Shuttt." Ellard menempelkan jari telunjuknya pada bibir. Meminta Alissa untuk tidak banyak bicara. Lalu tangannya mengarah pada depan.
Mengikuti arah tunjuk Ellard, buru-buru Alissa kembali mengaktivkan vitur rekam video di ponselnya. Merekam dengan apa yang berada di depan sana.
Sean. Laki-laki itu keluar dari kamar hotel dengan penampilan yang...cukup berantakan. Tiga kancing kemeja terasa laki-laki itu terlepas. Pun dengan rambut yang acak-acakkan.
Melihat bagaimana kondisi Sean setelah keluar dari kamar, membuat Alissa meneguk salivanya susah payah. Pikiran buruknya melayang kemana-mana. Adegan-adegan tak pantas masuk memenuhi khayalannya.
Namun, yang lebih mengganggu perempuan itu adalah ketika hatinya terasa seperti diremas. Alissa tidak tahu apa sebabnya. Tapi jika boleh jujur, Alissa kesakitan sekarang.
Setetes air jatuh begitu saja dari matanya. Bahkan Alissa tidak sadar sejak kapan dirinya begitu sangat emosional.
"Halo, aku ingin bertemu. Segera!" terlihat Sean tengah menelpon seseorang. Alissa tidak yakin. Tapi raut laki-laki itu sangat tidak bersahabat.
Rahang yang mengetat dan urat-urat yang menonjol kuat. Seakan-akan laki-laki itu tengah menahan emosinya yang meluap hebat.
Sean kembali mengantongi ponselnya. Lalu berlalu begitu saja dari sana sendirian. Tanpa Stella seperti saat pertama laki-laki itu masuk.
Namun itu tak berselang lama. Karena sesaat setelah itu, suara pintu terbuka kembali terdengar. Lalu terlihatlah Stella yang rambutnya sama berantakannya dengan Sean berlari kecil meninggalkan tempat itu.
Meninggalkan Alissa dengan pikirannya yang kacau. Pun dengan hatinya yang berdenyut nyeri tiada henti.
"Oh astaga. Mereka keluar dalam kondisi yang berantakan." Ellard tatap Alissa penuh penasaran.
"Menurutmu, apa yang baru saja mereka lakukan, Alissa? Apakah having se-x?"
Sia-lan. Sepertinya Ellard sengaja mengatakannya untuk membuat Alissa bertambah panas.