Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Seluruh tubuh Ratna Menur terpaku.
Dialog dari buku harian itu... Langgeng Sakti benar-benar mengucapkan kata-kata yang persis sama, kata per kata!
Dia tertegun sejenak, tidak tahu harus merespons apa. Penampilan Ratna yang tampak lugu dan bingung ini, di mata Langgeng Sakti, justru terlihat menggemaskan dan membuat jantungnya berdebar kencang.
Itulah perasaan jatuh cinta! pikir Langgeng.
Langgeng berkata dengan nada tenang namun tegas, "Menur, jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Jaka Utama, si pemimpin padepokan sampah itu!"
Lalu, dengan senyuman nakal yang menurutnya keren, ia menambahkan, "Senyummu, biarlah aku yang menjaganya."
Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan pergi dengan gaya pendekar gagah, meninggalkan Ratna Menur yang kepalanya dipenuhi dengan rasa jengkel yang luar biasa.
Di sisi lain...
Di langit malam, dengan membawa Jaka Utama, Naningsih terbang menggunakan pedang pusakanya menuju Kota Merapi.
Melihat punggung Naningsih yang seksi serta mencium aroma samar melati dari rambutnya, Jaka merasa giginya ngilu. Apa asistenku ini benar-benar lagi puber kedua?
"Ningsih, boleh kita bicara sebentar?"
"Bicara apa."
"Gaya rambut konde modern dan kebaya ketat ini... rasanya kurang sreg dilihat. Lagipula, kalau bahu dan kakimu terbuka begitu, nanti kamu masuk angin. Kenapa tidak pakai kebaya ungu longgar yang lama saja?"
"Tidak mau."
"Gantilah, itu jauh lebih sopan."
"Tidak."
"Aku memerintahkanmu sebagai pemimpin padepokan untuk ganti baju!"
"Berisik."
Sial, perawan tua ini, dia sudah berani membangkang ya? batin Jaka geram. Kalau saja kekuatanku tidak di bawahmu, sudah kupaksa kamu ganti baju tiga ratus kali di atas pedang ini.
Jaka merasa gemas, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di dunia novel klenik ini, plot harus terus berjalan sampai perannya sebagai penjahat selesai. Syarat untuk lulus adalah jangan sampai alur cerita utama menyimpang. Untungnya, urusan pembatalan pernikahan ini murni keputusan sepihak dari keluarga Ratna Menur.
Tak lama kemudian, keduanya tiba di Kota Merapi. Kota ini adalah pusat kadipaten di wilayah selatan yang bertugas mengawasi pergerakan makhluk gaib di sekitar lereng gunung.
Malam ini, Kota Merapi sangat ramai. Jalanan dihiasi lampion dan gang-gang penuh dengan pedagang makanan. Semua itu karena malam ini adalah pesta ulang tahun ke-16 Ratna Menur, kembang desa tercantik sekaligus putri dari sang Bupati yang sudah berkuasa turun-temurun.
Jaka Utama membawa Naningsih memasuki kediaman Bupati. Begitu masuk ke pendopo utama, dia langsung melihat Ratna Menur yang dikerumuni banyak orang bak bintang di antara rembulan.
Ratna mengenakan kebaya sutra panjang berwarna hijau lumut dengan motif bunga, kain jarik sutra premium, dan rambutnya yang panjang disanggul rapi. Dia terlihat cantik, anggun, dan berwibawa sebagai putri pejabat tinggi.
Harus diakui, dia memang cantik banget. Tapi itu bukan urusanku. Aku ini penjahatnya. Aku ke sini buat dipukuli dan diputusin!
Jaka berjalan menuju Ratna dengan penuh semangat. Melihat kedatangannya, para tamu undangan berhenti bicara dan memusatkan perhatian padanya. Mata mereka masih menunjukkan rasa hormat.
Padepokan Tanpa Beban dulunya sangat kuat dan disegani di seluruh wilayah selatan, membawahi banyak perguruan kecil dan kota-kota besar. Meski sekarang sudah merosot dan sisa muridnya sedikit, martabat Jaka Utama masih dianggap tinggi.
Ayah Ratna, sang Bupati yang bernama Raden Mas Surya, tersenyum lebar menyambut Jaka dengan berbagai basa-basi. Jaka membalas singkat sebelum berdiri tepat di depan Ratna Menur.
Saatnya pertunjukan dimulai!
"Menur, sudah lama tidak jumpa. Kamu semakin cantik saja, aku jadi makin cinta padamu!"
Sambil berbicara dengan nada "lebay", Jaka memberi isyarat pada Naningsih. Naningsih mengeluarkan puluhan kotak kayu jati berukir dari kantong pusakanya. Setelah membuka kotak-kotak itu, dia mundur dan diam-diam memperhatikan.
Ini yang Gusti Jaka tulis di buku harian tadi. Plot pembatalan pernikahan, ya? Menarik juga, batin Naningsih penasaran.
Jaka melambaikan tangannya dengan gaya sombong ke arah kotak-kotak itu. "Menur! Ini kado untukmu. Selamat ulang tahun yang ke-16, semoga panjang umur dan ilmu kesaktianmu makin hebat!"
Di dalam kotak-kotak itu tersaji berbagai macam keris pusaka, kitab ilmu kanuragan, mustika gaib, dan permata berharga. Kemewahan itu membuat tamu-tamu berdecak kagum.
"Gusti Jaka memang luar biasa!"
"Gusti Jaka dan Nona Ratna benar-benar pasangan yang serasi!"
"Selamat Pak Bupati, dapat menantu hebat seperti Gusti Jaka!"
Mendengar pujian itu, Jaka sengaja membusungkan dada dan mengangkat dagu, memasang wajah 'aku paling hebat sejagat raya'.
Melihat Jaka di depannya, Ratna Menur hanya memberikan senyuman formal yang tipis. "Terima kasih, Gusti Jaka."
Senyum palsu dan nada bicara yang datar itu membuat Jaka hampir tertawa dalam hati. Nah, ini dia sifat asli sang heroine. Meskipun benci sama penjahat sepertiku, dia tetap jaga sopan santun.
Tapi ini belum cukup, kamu harus putuskan pertunangan kita sekarang!
"Menur, sekarang kamu sudah dewasa. Ayo kita tentukan tanggal pernikahan kita! Aku sudah tidak sabar ingin meminangmu dan menjagamu selamanya!"
Kata-kata itu diucapkan dengan penuh drama dan desakan cinta yang dibuat-buat. Jaka bahkan kagum pada aktingnya sendiri. Aku benar-benar pantas dapat piala citra.
Ratna Menur hanya tersenyum dingin sambil memperhatikan gerak-gerik Jaka.
Hmph, pria ini... di buku hariannya bilang tidak suka padaku dan mengataiku 'anjing polos' dan 'gila laki-laki', tapi di depan orang banyak aktingnya mesra sekali.
Drama pembatalan pernikahan, ya? Bagus.
Aku ingin lihat bagaimana mukamu nanti kalau malam ini aku TIDAK membatalkan pernikahan kita!