Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.
Season 3 Warisan Darah Majapahit : 02. Tambahan Bab 1
Pukul 22.30 WIB. Kamar Tidur Utama.
Kirana baru saja selesai memakaikan piyama bermotif dinosaurus ke tubuh Bumi. Bocah itu terlihat mengantuk, matanya berkedip-kedip lucu sambil memeluk guling.
“Gosok gigi sudah, cuci kaki sudah. Sekarang waktunya apa?” Tanya Kirana lembut sambil menyisir rambut putranya.
“Baca doa…” gumam Bumi sambil menguap.
Kirana tersenyum, membungkuk untuk mencium anaknya.
Namun, saat tangan Kirana menyentuh dahi Bumi, tiba-tiba Bumi tersentak mundur sedikit. Matanya yang tadi sayu, mendadak terbuka lebar menatap tangan kanan Ibunya.
“Panas, Bun!” Seru Bumi kaget.
Kirana bingung. “Apanya yang panas, Sayang? Tangan Bunda dingin kok, baru cuci tangan.”
Bumi menggeleng, menunjuk jari tangan Kirana.
“Itu…cincin Bunda. Marah.”
Kirana menunduk melihat jari telunjuknya. Jantungnya mencelos.
Cincin Merah Delima peninggalan masa lalu itu…berdenyut.
Batu merah itu tidak hanya memantulkan cahaya lampu kamar, tapi seolah-olah ada bara api yang menyala dari dalam intinya. Kirana bisa merasakan sensasi panas yang menyengat di kulit jarinya, seperti ditempel besi setrika, tapi anehnya kulitnya tidak melepuh.
Rasa panas itu bukan panas fisik biasa. Itu panas energi. Panas peringatan. Terakhir kali cincin ini bereaksi sekuat ini adalah saat Dyandra mencoba meracuni Arya lima tahun lalu.
“Bumi…” Kirana berusaha tetap tenang agar anaknya tidak takut. Ia menyembunyikan tangannya di belakang punggung. “Cincinnya gak marah kok. Cuma…lagi bersinar aja.”
Bumi menatap ibunya dengan tatapan yang terlalu dewasa untuk anak umur 4 tahun.
“Bukan, Bun,” bisik Bumi. Matanya melirik ke arah lemari pakaian yang pintunya sedikit terbuka. “Cincinnya marah karena Tante itu mau minta.”
Bulu kuduk di tengkuk Kirana berdiri tegak. Ia menahan napas, pelan-pelan menoleh ke arah lemari pakaian.
Gelap. Kosong. Hanya deretan baju yang tergantung.
“Tante siapa, Nak?” Tanya Kirana, suaranya sedikit bergetar.
“Tante yang rambutnya panjang. Dia dari tadi berdiri di situ liatin Bunda,” jawab Bumi polos, lalu ia kembali memeluk gulingnya. “Tapi sekarang udah pergi kok. Takut sama cincin Bunda.”
Kirana mematung. Kakinya terasa lemas.
Ia segera bangkit, berjalan cepat menuju lemari, dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia memeriksa seluruh sudut kamar. Nihil.
Saat ia kembali melihat tangannya, denyutan merah di cincin itu perlahan meredup. Rasa panasnya menghilang, berganti menjadi dingin yang menusuk.
Pintu kamar terbuka. Arya masuk membawa segelas susu hangat. Ia melihat wajah istrinya pucat pasi.
“Hei, kenapa Na? Kok kayak abis lihat hantu?” Tanya Arya khawatir.
Kirana menatap Arya, lalu menatap Bumi yang sudah mulai mendengkur halus.
“Mas…” bisik Kirana, mendekat ke suaminya dan mencengkeram lengan Arya kuat-kuat. “Kita harus panggil Dimas besok pagi-pagi banget.”
“Kenapa? Ada masalah di restoran?”
Kirana menggeleng, mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin merah delima nya yang kini tampak kusam, seolah kehabisan energi setelah ‘bertarung’.
“Bumi lihat sesuatu di lemari. Dan cincin ini…dia barusan ngelindungin aku, Mas. Ada yang masuk ke rumah ini.”
Wajah Arya mengeras. Rahangnya menegang. Ia teringat gambar seram Bumi di restoran tadi.
“Oke,” kata Arya, nada suaranya berubah menjadi mode waspada.
Malam itu, di balik selimut tebal, Kirana tidak bisa memejamkan mata. Ia terus memutar cincin di jarinya, berdoa agar sejarah kelam Majapahit tidak sedang merenggut kebahagiaan kecil mereka.
Pukul 02.30 WIB. Ruang Kerja Arya.
Arya menutup pintu kamar Bumi dengan hati-hati. Arya tidak kembali tidur. Hatinya tidak tenang. Kejadian di restoran dan perilaku aneh Bumi tadi membuatnya teringat pada sensasi panas di kunci brankas yang ia rasakan di saku celananya sore tadi.
Ia berjalan menuju ruang kerjanya dilantai bawah. Ruangan itu gelap, hanya diterangi lampu jalan yang masuk lewat celah tirai.
Arya berjalan menuju sebuah lukisan abstrak besar di dinding. Ia menggeser lukisan itu, memperlihatkan sebuah brankas baja modern yang tertanam di tembok.
Brankas ini ia pesan khusus dari Jerman. Tahan api, tahan bor, dan kedap suara. Tempat peristirahatan terakhir bagi Keris Kyai Sengkelat—senjata yang dulu menyertainya di medan Perang Majapahit, dan yang secara ajaib kembali padanya di kehidupan ini.
Arya menempelkan Ibu jarinya pada pemindai biometrik.
BEEP. Lampu indikator berubah hijau.
Namun, sebelum Arya memutar gagang brankas, ia mendengarnya.
Suara itu sangat pelan, tapi di keheningan malam, terdengar jelas.
Tring…tring…grkkk…
Suara logam beradu dengan logam. Bergetar. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam kotak baja itu dan berusaha keluar.
Jantung Arya berpacu. Ia tahu betul, tidak ada tikus atau hewan yang bisa masuk ke sana.
Dengan napas tertahan, Arya memutar gagang brankas dan menarik pintu berat itu hingga terbuka.
WUUSH.
Aroma yang sangat kuat langsung menyergap hidungnya. Bukan aroma besi atau minyak perawatan keris.
Melainkan bau Bunga Kantil yang bercampur dengan Bau Darah Amis.
Arya menutup hidungnya, menahan mual. Ia melihat ke dalam brankas.
Keris Kyai Sengkelat yang biasanya tergeletak tenang di atas bantalan beludru merah, kini…berdiri.
Ya, keris itu (masih didalam sarungnya) berdiri tegak secara vertikal, seolah ada tangan kasat mata yang memegangnya. Dan keris itu bergetar hebat. Brrrtt..brrttt.
“Kyai?’’ Panggil Arya ragu. Ia merasa konyol bicara pada benda mati, tapi ia tahu keris ini punya ‘jiwa’.
Perlahan, Arya memberanikan diri mengulurkan tangan. Saat ujung jarinya menyentuh gagang kayu keris itu, sebuah sengatan listrik statis menghantamnya cukup keras.
CTAR!
Arya tersentak mundur, mengibas-ngibaskan tangannya yang kesemutan.
Keris itu jatuh tergeletak kembali ke bantalannya. Getarannya berhenti. Namun, dari celah antara bilah dan sarungnya, menetes cairan kental berwarna merah gelap.
Darah.
Kering itu ‘menangis’ darah.
Arya mengambil kain lap, lalu dengan hati-hati mencabut bilah keris itu dari sarungnya.
Bilah keris yang biasanya hitam legam dengan motif beras wutah yang indah, kini terlihat kusam. Dan di bagian pangkal keris, darah segar itu merembes keluar dari pori-pori besi.
Ini adalah pertanda terburuk dalam dunia pusaka.
Jika keris pusaka mengeluarkan darah, artinya Tuannya sedang dalam bahaya maut, atau ada pusaka lain yang menantangnya berduel.
“Siapa yang datang?”bisik Arya pada bilah besi dingin itu. “Siapa yang membuatmu ketakutan seperti ini?”
Arya tidak mendapat jawaban verbal. Tapi ia merasakan hawa dingin yang merambat dari lantai, melingkari kakinya. Bayangan-bayangan di sudut ruang kerjanya tampak bergerak-gerak liar.
Arya segera memasukkan kembali keris itu, mengunci brankas rapat-rapat, dan menggeser lukisan penutup.
Ia bersandar di dinding, napasnya memburu. Keringat dingin di pelipisnya.
Musuh kali ini bukan manusia biasa seperti Dyandra yang bisa dilacak lewat rekening bank atau CCTV. Musuh kali ini bermain di ranah yang tidak bisa disentuh oleh logika ataupun teknologi modern.
Arya merogoh saku, mengambil ponselnya. Ia mengetika tambahan pesan untuk Dimas:
“Bawa garam kronik dan paku emas. Kyai Sengkelat berdarah malam ini. Benteng kita sudah jebol.”