'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bujuk rayu Nadia
Aditya pulang ke rumahnya dan Zahra berharap istrinya itu berada disana menunggunya dengan kepala dingin agar ia bisa menjelaskan semua hal yang terjadi.
Ia memang menyadari, tidak seharusnya menikahi Nadia di belakang Zahra. Tidak seharusnya ia menghadiri pesta alumni seorang diri saat Zahra tidak berada di rumah. Hingga membuatnya lupa akan istrinya dan terbujuk rayu setan untuk tidur dengan Nadia.
Tanpa ia sadari sebenarnya ia masuk ke dalam perangkap Nadia yang begitu halus seakan-akan apa yang terjadi benar kesalahan Aditya dan ia harus bertanggung jawab atas masa depan Nadia dan anak yang dikandungnya.
Aditya membuka gerbang dan memarkirkan mobilnya sembarangan. Ia membuka pintu dan berteriak memanggil Zahra.
"Sayang, dimana kamu ?" teriak Aditya mengelilingi penjuru rumah.
Sekeras apapun ia berteriak tetap tidak ada jawaban dari Zahra. Aditya merasa putus asa, tubuhnya luruh kelantai dan berteriak dengan keras memanggil nama Zahra.
"Kemana kamu, sayang ? kenapa tidak ada dirumah," tangis Aditya. Tidak ia pedulikan lebam-lebam ditubuh dan wajahnya yang mulai terasa sakit. Yang ia inginkan saat ini hanyalah melihat istrinya dan bersimpuh memohon ampun.
Aditya mencintai Zahra. Sangat mencintai Zahra. Tidak pernah terlintas sedikitpun untuk menyakiti Zahra bahkan sampai sedalam ini.
"Mas, kamu tidak apa-apa ?" suara Nadia terdengar di telinga Aditya. Tidak ia sangka rupanya Nadia menyusul nya kemari dengan masih mengenakan kebaya pernikahan nya.
"Nadia, ngapain kamu kesini ?" tanya Aditya tidak suka.
"Ya aku nyusulin kamu, Mas. Kamu ninggalin aku di rumah Mama. Padahal kita sudah menikah dan aku sudah jadi tanggung jawab kamu," kata Nadia tanpa mengerti perasaan Aditya saat ini.
"Nadia, mengertilah. Kamu tidak bisa tinggal disini. Aku akan mencarikan kamu rumah sendiri. Ini adalah rumah ku dan Zahra," kata Aditya setelah menghela nafas beratnya.
"Apa aku akan tinggal sendiri ? kamu kan tau aku ini penakut. Tidak bisa kalau sendirian. Apalagi aku sedang hamil. Gimana kalau terjadi sesuatu sama aku ?" kata Nadia lemah mencoba menarik simpati Aditya.
"Kamu tidak sendiri. Aku akan menyewa asisten rumah tangga untuk menemani kamu," kata Aditya agak keras. Ia tidak mau terperdaya lagi pada sesuatu yang tidak sejalan dengan hatinya.
"Kenapa kamu selalu marah-marah sama aku ? bukan aku yang menyebabkan semua ini, Ditya. Bukan aku. Aku hanya korban kalau kamu lupa. Aku sudah kehilangan masa depanku dan sekarang kamu juga tidak menginginkan ku," Nadia mulai terisak dan sepertinya itu berhasil meluluhkan hati Aditya.
Aditya mendekat mencoba mengelus punggung Nadia. Rasa sesak tersirat dari raut wajahnya. Memang benar, sejak awal Nadia tidak minta untuk dinikahi. Ia yang salah. Ia yang bajingan. Dan tidak seharusnya menyalahkan Nadia dalam panasnya hubungannya dan Zahra.
"Maafkan aku, Nad. Aku tidak bermaksud menyalahkan kamu. Aku...aku sedang buntu sekarang. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku cuma mau ketemu Zahra dan minta maaf sama dia. Aku harap kamu mau mengerti," kata Aditya menyesal.
Nadia mengangguk pelan dan memeluk Aditya. Aditya terkejut, ia diam saja. Tidak juga berniat membalas atau melerai pelukan itu.
Bagi Aditya, Nadia masihlah sama yaitu sahabat dan teman masa kecilnya. Tumbuh bersama dan dibesarkan di lingkungan yang sama membuat Aditya menganggap jika Nadia sudah seperti saudara.
Namun berbeda dengan Nadia yang menjadikan Aditya sebagai cinta pertamanya. Hal itu baru ia sadari ketika keluarga kecilnya pindah ke rumah baru saat usia mereka remaja.
Namun meskipun sudah tidak bertetangga lagi, keduanya masih berhubungan dengan baik karena masuk di sekolah dan universitas yang sama.
'Aku sudah mendapatkan kamu. Tidak akan aku biarkan cinta ku yang tumbuh selama bertahun-tahun musnah seketika. Tidak akan Aditya,' batin Nadia tersenyum puas.
"Memangnya, kamu sudah menyiapkan rumah untukku ?" tanya Nadia.
"Belum. Aku belum berpikir kearah sana," jawab Aditya dengan mendorong pelan tubuh Nadia agar melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu biar aku tinggal disini dulu saja sementara waktu. Aku sudah jadi istri kamu. Tidak pantas rasanya kalau aku masih tinggal di rumah Mama dan Papa. Itu akan sangat mencoreng nama baik kamu sebagai suami," kata Nadia memprovokasi.
Sejenak Aditya berpikir. Memang benar jika Nadia masih berada di rumah orang tuanya itu sedikit tidak pantas. Apalagi Aditya mengatakan akan menyiapkan rumah untuk Nadia jika mereka sudah menikah.
"Kalau begitu kamu boleh tinggal disini sementara waktu. Tapi kalau nanti Zahra pulang dan dia tidak mau kamu berada disini aku mohon mengertilah. Secepatnya aku akan mencari rumah untuk kamu," kata Aditya merasa menemukan solusi yang tepat.
"Baiklah. Tidak masalah. Aku akan menuruti semua kata-kata kamu," kata Nadia dengan nada manja.
Sekarang ia bisa bebas mengekspresikan rasa cintanya dengan mengatasnamakan pernikahan. Meskipun pernikahan itu harus mengorbankan hati perempuan lain.
"Kamu bisa menempati kamar itu. Sekarang istirahat lah. Aku mau ke rumah mertuaku. Aku yakin Zahra ada disana," ujar Aditya.
"Baiklah, Mas. Hati-hati. Semoga Zahra mau mengerti dan hubungan kalian segera membaik," kata Nadia dengan senyuman yang mengandung arti lain dari ucapan nya.
Aditya mengangguk dan mengaminkan perkataan Nadia dalam hati. Iya, semoga. Semoga Zahra bersedia memaafkan nya dan menerima nya kembali.
Satu-satunya hal yang ia takutkan adalah kemarahan Papa mertuanya dan juga Zafirah.
Masih terngiang di telinganya ketika Papa Yusuf memberi peringatan pada Aditya setelah perceraian Zafirah.
'Jika kamu melakukan hal yang sama seperti yang Aldo lakukan, demi Tuhan Papa tidak akan tinggal diam. Papa akan memaksa Zahra untuk berpisah dari kamu meskipun kamu bersimpuh memohon maaf. Karena sejatinya perselingkuhan itu bukanlah kelalaian melainkan suatu hal yang disengaja,' kata Papa Yusuf kala itu.
Sedangkan dengan Zafirah, perempuan itu memiliki tatapan tajam yang bisa membelah tubuh seseorang menjadi dua bagian. Sejak dulu Zafirah memang memiliki tatapan yang tajam. Dan bertambahnya menyeramkan saat ia berpisah dari suaminya.
Dengan berbekal tekad yang tidak bulat, Aditya melajukan mobilnya kearah rumah mertua nya. Ia yakin jika Zahra berada disana.
Ketika sampai, ia disambut bentakan keras oleh Papa Yusuf. "Berani-beraninya kamu menginjakkan kaki di sini ! apa pukulan dari Zafirah masih kurang ?" tanya Papa Yusuf yang menyambut kedatangan Aditya.
"Papa, saya mau menjemput Zahra. Zahra ada di kamarnya kan ?" kata Aditya seolah tidak ada hal besar yang terjadi.
Mendengar ucapan Aditya, Papa Yusuf yang awalnya tidak ingin marah menjadi emosi juga. Apa Aditya meremehkan keluarganya ?
Papa Yusuf menghalangi jalan Aditya yang ingin masuk ke dalam untuk mencari Zahra. Tapi Aditya berusaha merengsek masuk hingga mendapatkan bogem mentah di pipinya. Belum juga hilang bekas pukulan Zafirah, kini malah bertambah sakit karena hadiah dari papa mertuanya.
...
Komennya othor tungguin ya. Banyakin love-love nya...
penasaran siapa itu.. smngt up ny Thor
sempet kirain genre BL novelnya gegara cover ternyata bukan hehehe
Semangat thor 💪