Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Pak Hazel, ayo ke sini!" ajak Maira sambil melambaikan tangannya.
Hazel mengangguk, lalu melangkah mendekat dan bergabung dengan Maira serta anak-anak jalanan yang tinggal di kolong jembatan. Suasana siang ini terasa hangat meski hanya berada di lingkungan tak layak. Tawa anak-anak pecah saat Maira mulai bercanda dan bernyanyi bersama mereka. Beberapa anak ikut bertepuk tangan, sementara seorang bocah duduk di sudut dengan gitar tua di pangkuannya.
Hazel memperhatikan dari dekat. Ada rasa asing tapi menyenangkan di dadanya melihat Maira bisa begitu luwes. Tidak canggung, tidak dibuat-buat. Seolah dunia yang sedang mereka datangi ini adalah bagian dari dirinya.
Salah satu anak menyerahkan gitar itu pada Hazel. Tanpa banyak bicara, Hazel menerimanya. Jemarinya bergerak luwes di atas senar, lalu ia mulai bernyanyi. Anak-anak ikut bersorak, Maira pun tertegun.
Maira sama sekali tidak menyangka Hazel bisa bermain gitar. Apalagi melihat ekspresinya yang begitu ramah, jauh dari kesan kaku yang selama ini ia rasakan saat berdua saja dengannya. Senyum Hazel terlihat lepas, matanya hidup.
"Yes, rencana aku berhasil," gumam Maira dalam hati, menahan senyum puas.
Setelah cukup lama menghibur anak-anak jalanan, Hazel akhirnya mengantar Maira kembali ke apartemen. Malam ini Hazel memang masih menginap di tempat Nadia dan baru akan kembali ke apartemen besok.
Mobil berhenti di depan lobi. Maira membuka pintu, lalu menoleh.
"Terima kasih, Pak Hazel," ucapnya tulus.
"Tunggu."
"Hah?" Maira menoleh kembali.
Ia terdiam beberapa detik saat Hazel mendekat dan mengangkat tangannya. Dengan gerakan refleks, Hazel mengambil sehelai bulu mata Maira yang jatuh di pipinya.
"Bulu mata kamu," ucap Hazel pelan sambil menunjukkannya.
"Oh, terima kasih," jawab Maira gugup.
Wajahnya sedikit memanas. Ia buru-buru turun dari mobil tanpa mengambil bulu mata yang masih berada di jari Hazel.
Hazel terdiam, menatap pintu mobil yang sudah tertutup. Ia menunduk, menatap bulu mata itu di ujung jarinya.
"Aish, kok aku sampai bisa-bisanya ngambilin bulu matanya yang jatuh ke pipi? Pasti dia salah paham nanti," gumamnya, sedikit kesal pada diri sendiri.
Namun tak lama kemudian, bibir Hazel justru terangkat. Bayangan Maira yang tertawa dan bernyanyi bersama anak-anak jalanan tadi kembali terlintas di kepalanya.
Hazel menghela napas pelan. Ia mengambil selembar tisu, meletakkan bulu mata Maira di sana dengan hati-hati, lalu melipatnya kecil sebelum menyimpannya ke dalam saku celana.
***
Perasaan Hazel terasa cukup tenang dan bahagia malam ini. Ada sisa kebahagiaan yang belum sepenuhnya pudar sejak kegiatannya tadi siang bersama Maira. Bahkan saat ia melangkah masuk ke dalam rumah, Hazel sama sekali tidak menyadari bahwa Nadia sudah duduk di sofa ruang tamu, menunggunya.
"Sayang…" Nadia berdiri, membuat langkah Hazel terhenti.
"Nadia…" Hazel menoleh, ekspresinya sedikit terkejut.
"Kamu dari mana? Kok kemeja kamu kotor banget kayak gini?" tanya Nadia heran sambil menatap pakaian Hazel dari atas ke bawah.
Ia lalu mendekat, mencium samar tubuh Hazel. Keningnya langsung berkerut.
"Bau kamu juga…" gumam Nadia pelan.
Hazel refleks mengusap tengkuknya.
"Aku tadi ada kegiatan di luar kantor," ucapnya berbohong dengan nada datar.
"Oh, begitu," jawab Nadia, lalu tersenyum tipis.
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Aku sudah masakin buat kamu."
"Hmm." Hazel mengangguk singkat, lalu langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Tak lama kemudian, Hazel sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Wajahnya terlihat lebih segar, meski rambutnya masih sedikit berantakan karena belum sepenuhnya kering. Ia langsung duduk di kursi meja makan tanpa banyak bicara.
Nadia yang sigap segera mengambilkan nasi dan lauk ke piring Hazel, lalu meletakkannya di hadapannya. Mereka pun makan bersama dalam diam, hanya suara sendok dan piring yang terdengar.
Hingga tiba-tiba, Nadia memecah keheningan.
"Sayang… bagaimana?" tanya Nadia mendadak.
"Hah? Bagaimana apanya?" Hazel mengernyit, tidak mengerti.
"Kapan kamu menyentuh Maira?"
Hazel langsung berhenti mengunyah. Sendok di tangannya diletakkan perlahan ke atas piring yang masih berisi makanan. Rahangnya mengeras.
"Nadia, kita ini lagi makan," tegurnya dengan nada tertahan.
"Maaf, sayang," ucap Nadia lirih, namun tatapannya tetap serius.
"Tapi ini sudah dua minggu kamu menikahi wanita itu. Belum ada progres apa pun. Semakin lama kamu tidak menyentuhnya, semakin lama dia berada di antara kita."
Hazel menatap Nadia tajam.
"Yang menghadirkan dia di antara kita itu kamu, Nadia. Sekarang kamu malah bicara seperti ini?"
"Kamu kira aku segampang itu menyentuh wanita lain?" lanjut Hazel dengan suara meninggi.
"Bahkan menyentuh kamu saja aku belum pernah."
"Hazel!" Nadia membentak.
Hazel berdiri dari kursinya. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Ingat, satu-satunya wanita yang ingin aku sentuh itu kamu. Tapi kamu tidak pernah memberi aku kesempatan itu. Sekarang kamu malah memaksa aku menyentuh orang lain demi menuruti ide gila kamu."
Ia melangkah pergi meninggalkan meja makan.
"Hazel, kamu mau ke mana?" Nadia bangkit dan memegang lengan Hazel.
"Pergi nenangin otak," jawab Hazel dingin.
Ia melepaskan tangan Nadia, mengambil kunci mobil, lalu pergi begitu saja meninggalkan rumah.
Nadia mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan kesal. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Maira, memerintahkannya untuk secepatnya hamil.
Di tempat lain, Maira membaca pesan itu dengan napas berat. Ia menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
"Istri gilanya Pak Hazel kumat lagi," gumamnya kesal sambil melempar ponsel ke samping. Pesan itu pun tak ia balas sama sekali.
-
-
Sementara itu, Hazel memilih pergi ke rumah Devin. Tempat yang menurutnya paling aman untuk menenangkan pikiran. Mobilnya berhenti di halaman rumah Devin tidak lama setelah ia pergi dari rumah. Hazel masuk tanpa banyak bicara, wajahnya terlihat kusut.
Devin yang melihat raut wajah Hazel langsung paham. Ia menyodorkan segelas minuman lalu duduk di hadapannya.
"Ada masalah lagi?" tanya Devin heran.
Hazel menyandarkan punggungnya ke sofa, memijat pelipisnya dengan lelah.
"Gue pusing sama tuntutan Nadia."
Devin menghela napas pelan.
"Masalah Maira lagi?"
"Iya," jawab Hazel tanpa ragu.
"Dia terus maksain gue buat segera menyentuh Maira."
Devin mengangguk pelan.
"Lo yang sabar."
Ia terdiam sejenak, lalu kembali bertanya, "Tapi serius, kenapa lo belum juga menyentuh Maira?"
Hazel melirik tajam.
"Gue kan sudah bilang alasannya ke lo waktu itu."
"Gue paham dia mantan wanita malam," ujar Devin jujur.
"Tapi kalau memang lo ingin hubungan lo sama Maira tidak berlarut-larut, ya buruan bikin dia hamil. Dengan begitu, setelah anaknya lahir, dia bisa pergi."
Hazel terdiam, rahangnya mengeras.
"Dan gue rasa Maira juga ingin cepat bebas," lanjut Devin.
"Dengan lo gantung seperti ini, sama saja bikin dia terus dapat tekanan dari Nadia."
Hazel menunduk, tangannya mengepal. Dadanya terasa sesak.
"Semua ini gara-gara Andrew," ucapnya dengan suara bergetar menahan amarah.
"Kalau dia tidak melecehkan Nadia di malam pertama gue, gue sama Nadia pasti bahagia."
Emosi itu kembali muncul, membuat napas Hazel memburu.
"Kita sudah sama-sama cari Andrew," jawab Devin hati-hati.
"Dan sampai sekarang belum dapat info keberadaannya."
Hazel mendongak, sorot matanya tajam dan penuh tekad.
"Dan gue bakal cari dia sampai ke ujung dunia."
Ia berdiri, seolah amarah itu memberinya tenaga.
"Gue pastikan dia ngerasain apa yang sudah dialami Nadia selama ini."
Devin menatap Hazel dalam diam. Ia tahu, kali ini tekad Hazel bukan sekadar ancaman belaka karena dendam itu memang sudah lama terpendam dalam diri Hazel.