Aksa bertemu dengan seorang gadis pemilik toko kue yang perlahan memikat perhatiannya. Namun ketertarikan itu bukanlah karena sosok gadis tersebut sepenuhnya, melainkan karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang sang istri.
Terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, Aksa mulai mendekatinya dengan berbagai cara — bahkan tak segan mengambil jalan licik — demi menjadikan gadis itu miliknya. Obsesi yang awalnya lahir dari kerinduan perlahan berubah menjadi hasrat posesif yang menguasai akal sehatnya.
Tanpa disadari, sang gadis pun terseret semakin dalam ke dalam cengkeraman pria dominan itu, masuk ke sebuah lembah gelap yang dipenuhi keinginan, manipulasi, dan ilusi cinta.
akankah Aksa bisa mencintai gadis itu sepenuhnya? apakah gadis itu mampu membuat Aksa jatuh cinta pada dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LebahMaduManis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kekecewaan yang pedih terpatri jelas di seluruh raut wajahnya. Aksa merasakan lidahnya kelu, sementara saraf-saraf tegang di lehernya mulai menonjolkan urat yang tampak seperti akar. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan ledakan emosi.
Mata Aksa mengerling, memancarkan perpaduan rasa tak percaya dan terhina. Penolakan mentah-mentah atas ajakannya untuk menikah oleh gadis yang ia puja itu terasa bagai tamparan keras di pipinya.
Di tengah kebisuan yang mematikan di antara mereka, tekad yang gelap mulai mengeras di batin Aksa.
"Aku tidak akan menyerah," gumamnya dalam hati, suaranya nyaris bergetar. "Aku akan lakukan apa pun untuk memilikimu, Erina." Ia menundukan kepalanya mengulum senyum licik di bibirnya.
...***...
“Siapa itu yang datang? Kita tidak pernah melihat dia”
“Tapi, laki-laki yang satunya seperri teman Kak Erina yang waktu itu datang” ucap anak panti yang melihat Aksa dan Rio yang baru turun dari mobil.
Aksa melangkahkan kakinya menuju kantor Panti asuhan, di belakangnya ada Rio dengan tangannya yang sepertinya terlihat aga repot karena harus membawa beragam paper bag yang dimaksudkan hadiah untuk para anak-anak di panti, belum lagi beberapa box yang masih ada di dalam mobil.
Sampai di depan pintu kantor panti asuhan, Aksa sedikit mencondongkan badannya, matanya menyapu pandangan mengitari ruangan sekitar “Permisi” Aksen bariton Aksa bergema di ruangan tersebut, tidak berselang lama seroang perempuan datang menghampirinya, ya … dia Ashanti pengelola panti asuhan ini yang sekaligus kerabat Erina.
“Iya” jawab Ashanti, ia berjalan menghampiri sumber suara, setelah mengamati siapa yang datang, ia menautkan alisnya, dengan mata yang sedikit menyipit, ia tak mengenali Laki-laki yang berada di hadapannya saat ini, laki-laki jangkung nan gagah yang mengenakan kemeja berwarna soft blue, dengan celana kain yang berkilau lembut ketika terkena cahaya, namun Ashanti mengalihkan pandangannya pada Rio, laki-laki yang berdiri di belakang Aksa.
“Saya Aksa, calon suami Erina, dan anda pasti sudah mengenal Pria yang bersama saya kan?” ucapnya dengan lantang memperkenalkan diri pada kerabat Erina.
Mendengar kalimat yang di ucapkan Aksa, sontak membuat Ashanti kaget, matanya terbelalak hingga ia spontan menutup mulutnya yang menganga “oh iya silahkan masuk” Ashanti membuka telapak tangan mengarahkannya ke kursi sofa yang berada di dalam ruangan kantor panti tersebut, ia pun bergegas mengambil minum untuk tamunya.
"Terima kasih," ujar Aksa singkat. Tak ada senyum, tak ada kehangatan, hanya tatapan mata yang beku dan menusuk dilemparkan lurus ke arah Ashanti.
Keheningan yang mencekik langsung menyelimuti ruangan. Bagaimana mungkin Ashanti tidak merasa canggung? Berhadapan dengan pria yang wajahnya sekeras topeng dan kata-katanya sesingkat embusan napas membuat siapapun terintimidasi. Seketika, sanggahan tak terucap membungkam semua riuhnya. Ashanti, si periang yang biasanya tak pernah kehabisan bahan obrolan, terutama saat menyambut tamu, kini hanya bisa terdiam. Ia menjaga pandangannya tetap rendah, hanya sesekali mengambil risiko mencuri lirik ke arah Aksa, sebelum buru-buru memalingkan muka lagi “kenapa sahabatku bisa punya calon suami semenyeramkan ini” gumam Ashanti dalam batinnya.
Setelah di persilahkan masuk, Aksa duduk di sofa yang tersedia, ia mengamati interior ruangan tersebut, memang bangunan dan interiornya terlihat jadul terlebih ruangan ini telah lama berdiri dan tak pernah ada renovasi.
“Silahkan diminum teh nya pak” ucap Ashanti tertunduk tak berani menatap langsung mata Aksa.
Aksa mendorong lembut beberapa paper bag yang ia simpan di meja “Saya sedikit membawa hadiah untuk anak-anak panti disini”
“Ini sih banyak banget bukan sedikit” lirih Ashanti dalam batinnya. “Wah … ini banyak sekali pak, anak-anak pasti senang menerimanya, terimakasih untuk perhatian yang bapak berikan” ujar Shanti.
“Ng, apa bapak mau bertemu dengan Erina?“ Tanya Shanti singkat.
Aksa hanya menganggukan beberapa kali kepalanya dengan lembut.
Dari luar seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun mengintip di balik pintu, dan dengan lantang anak kecil itu memanggil Rio “Om Rio !“
Membuat setiap yang berada di ruangan kantor panti terperanjat mendengar pekikan anak kecil itu, Rio segera menghampirinya “pak saya izin keluar sebentar”
Ashanti tersenyum, namun Aksa menautkan alisnya “kenapa anak panti disini kenal Asisten saya?“ Tanya Aksa, tetap dengan raut wajah yang tanpa Ekspresi.
“Waktu Pak Rio datang kesini sama Erina, Pak Rio sempat mengajak bermain anak-anak panti disini.“ tutur Ashanti.
“Oh” jawaban yang singkat, namun bagi aksa si minim ekspresi itu sudah jawaban yang tepat.
“Erina sedang berada di dapur bersama anak-anak panti perempuan, dia sedang mengajarkan mereka masak” ucapannya terjeda “saya panggilkan dulu Erina” belum sempat ia benar-benar berdiri dari tempat duduknya, Aksa sepontan menahan Ashanti.
“Tidak perlu memanggilnya kemari, tapi bolehkah saya yang menghampiri Erina? Tanya Aksa
Ashanti menarik nafasnya dalam “boleh, mari saya antar” Ashanti berjalan lebih dulu, diikuti Aksa di belakangnya.
Sampai didapur yang sederhana namun luas terdapat banyak jendela sebagai sirkulasinya, Aksa mengamati Erina lamat-lamat dari kejauhan, ia menyimpulkan senyumnya, timbul rasa senang dalam dada, Erina sedang mengajari anak-anak menghias piring sebagai sajian makan siang.
“Mari masuk pak” ajak Ashanti.
“Sssty … saya disini saja” Aksa mengisyaratkan pada Ashanti untuk tidak memberi tahu Erina.
Dengan suara yang sangat pelan nyaris berbisik “kalau begitu saya pergi menemui anak-anak lain pak” ucap Ashanti, kemudian ia berlalu meninggalkan Aksa.
Aksa hanya terdiam, berdiri mematung di ambang pintu, dengan kedua tangan terlipat santai di dada kekarnya. Ia menyandarkan punggung tegapnya yang kokoh itu pada kusen pintu, namun sorot matanya yang tajam sama sekali tak bisa menyembunyikan getaran hatinya.
Netranya yang gelap berbinar terang, seolah menangkap seluruh keindahan dunia saat pandangannya tertuju sepenuhnya pada Erina. Bukan lagi sekadar melihat, Aksa sedang menikmati kehadiran Erina, setiap detail gerakannya, setiap helai rambutnya, seakan ia adalah satu-satunya mahakarya yang pernah ada di hadapannya.
Seorang anak terkejut saat melihat Aksa bersiri di ambang pintu hingga ia menjatuhkan piringnya, sontak Erina membalikan badan dan spontan menghampiri anak kecil itu “kamu kenapa?“ Tanya Erina, nada bicara nya lembut, merangkul anak kecil tersebut.
Tak sempat menjawab justru anak kecil tadi menangis dan berlari meninggalkan Erina.
Anak kecil itu rupanya terkejut melihat keberadaan Aksa, dia menangis karena melihat tatapan tajam Aksa, padahal tidak ada yg Aksa lakukan pada anak kecil itu, hanya saja tatapan tajam yang tanpa ekspresi menakutkan bagi anak kecil.
Melihat pecahan piring porselen yang berserakan di lantai Erina jongkok untuk membereskan pecahan piring nya, di bantu beberapa anak panti dengan membawakan sapu juga pengki.
Aksa yang sejak tadi mengamatinya, sontak ia bergegas menghampirinya dan menghalau tangan Erina “saya saja yang bereskan, jangan sampai tanganmu terluka karena pecahan piring”
“Mas? Sejak kapan disini?“ tanya Erina heran.
“Sejak—” ucapannya terjeda, mata Aksa mengerling seakan sedang berpikir “sejak anak itu membawa beberapa potong kue yang harusnya ia simpan di meja makan, tapi dia makan sendiri hingga tak bersisa, jadi ku tataplah dia lamat-lamat hingga anak itu sadar bahwa aku sedang memperhatikannya, lalu anak itu terkejut dan menjatuhkan piringnya” Aksa terkikih sambil memunguti pecahan pering.
Refleks Erina menyikut Aksa hingga jarinya tergores pecahan piring “Mas —maaf, kamu jadi berdarah, duduk di kurai Mas, aku ambilkan perban”
Aksa yang sama-sama jongkok membereskan pecahan piring dengan sigap menahan tangan Erina yang hendak berdiri mengambil perban “tidak perlu, ini hanya luka kecil”
“Tapi Mas, jari kamu berdarah gara-gara aku” lirih Erina suaranya rendah
“Kamu khawatir sama saya?“ Ejek Aksa
Erina berdecak, serta meniup-niup jari Aksa yang berdarah.
Aksa menjangkau kantong keresek yang berada di dekatnya, kemudian memasukan pecahan piring itu kedalam keresek “sudah selesai” ia mengangkat kantong kereseknya dan memperlihatkan pada Erina.
Erina membuang nafasnya kasar, dan menyapu sisaan pecahan piring yang remuk lalu membuangnya. “Mas duduk, waktu makan siang sudah tiba, kita makan bersama anak-anak panti, mau?“ suaranya rendah namun bernada perintah
“Selama bersamamu saya tidak akan pernah menolak” jawabnya pelan, mata Aksa menatap tepat pada gadis yang berada dihadapannya, seolah menegaskan bahwa hatinya sepenuhnya milik Erina.
...***...
...SPAM KOMEN APA AJA BOLEH...