Kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau menikahi ku gus ?
Kenapa kau tak merelakan aku bersama teman mu yang mencintaiku ?
Kau mengikat ku dalam hubungan yang menyakitkan !
Anisa Az-Zahra seorang gadis biasa yang terpana dengan bahu seorang laki-laki saat hari terakhir OSPEK, dia memendam rasa pada laki-laki tersebut yang kemudian ia mengetahui namanya yaitu Muhammad Ali Haidar yang merupakan seorang gus besar.
Sampai akhirnya Zahra menikah dengan Ali, tapi kehidupan setelah menikah tak seindah yang Zahra bayangkan karena dalam hati Ali terdapat nama wanita lain yaitu Selly bahkan nama Zahra pun tak tertera dalam hati Ali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfi Syafa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 ISI HATI ALI
ALI
Namanya Anisa Az-Zahra, aku tertarik dengan kepribadiannya diam-diam menghanyutkan katanya. Sehari-hari dia hanya fokus dalam setiap mata kuliah, tak pernah menghiraukan hal apa pun yang tak penting.
Waktu itu aku baru merasa bahwa semua teman sekelasku tak menyukai kepribadianku, dan saat itu aku mendengar seorang yang membela ku.
"Eh Ra kamu sebel nggak sih sama Ali, dia tu sok pinter terus sok ngeritik-ngeritik ngasih pertanyaan, pokoknya nyebelin nyusahin kelompok banget, hampir semua temen sekelas kita nggak suka lo Ra sama dia, kalau menunurutmu gimana ?" ocehan temannya
"Ya menurutku biasa aja sih mau apa lagi kalau nggak nyanggah, ngeritik, ngasih pertanyaan. Masak harus diem ngalamun atau tidur, kalau aku sih biasa aja Ya apa sih yang harus direpotkan" jelasnya
"Hahah kamu mah gitu Ra, bisa berfikir positif orang kamu pinter lah kita kalau dapat pertanyaan dari Ali udah pusing tujuh keliling" sahut temannya
"Bukan begitu tapi kan kita bisa tau dari pertanyaan itu ohh ternyata gitu to, kalau pertanyaannya udah standar-standar aja kapan kita berkembangnya" katanya
Aku terpesona dengan sifatnya yang bijaksana dan tidak mudah tergoyah dengan kondisi lingkungannya, aku merasa berhutang budi padanya.
Sampai saatnya semua teman ku mengetahui bahwasannya aku anak Kiai Kakak ku juga sebagai dosen di sini sedang Kakak iparku seorang pengusaha batik terbesar di Pekalongan, mereka semua terkaget-kaget mengetahuinya kecuali Zahra, dia tampak biasa saja bahkan setelah semua teman di kelasku mulai menyukai ku, aku merasa dia malah menjauh dari ku.
Aku berusaha mendekatinya dengan baik-baik tapi setelah ku fikir-fikir itu terlalu biasa, jadi ku putuskan untuk berlagak seresek mungkin di depannya, waktu itu aku mendapat kelompok bersamanya aku merasa berdebar tak karuan tapi sebisa mungkin ku sembunyikan, aku menggoda dan menyangkal usul yang dia buat untuk kelompok kita, aku suka melihat wajahnya yang manyun dan kesal itu.
Sampai pada suatu hari Aliya temannya menghubungi ku.
Aliya : Woy gus Ali
Aku : Apa ?
Aliya : Kalau temen aku ada yang suka sama kamu gimana ?
Aku : Siapa ?
Aliya : Ya pokoknya ada .. Gimana ?
Aku : Bilang ke temen mu aku gak bisa !
Entah mengapa aku sudah menduga kalau teman yang dia maksud adalah Zahra, hari-hari berganti aku semakin lama semakin menjauhinya, bukan tanpa alasan tapi karena aku berfikir wanita seperti Zahra bukan untuk mainan atau sekedar menjalin hubungan terlarang, aku melihat wanita seperti Zahra cocok dijadikan istri bukan pacar.
Semakin lama aku menjauhinya semakin merasa rindu padanya, setiap hari ku amati gerak-geriknya yang semakin diam dan tak bersuara.
Aku sakit melihatnya tapi apalah daya ini memang sudah keputusanku.
Semakin lama jarak antara aku dan Zahra semakin jauh, antara jarak itu datang Selly di kehidupan ku, dia adalah anak dari teman Abah dan juga teman SMA ku juga. Semakin lama aku semakin nyaman dengannya aku nyatakan perasaan ku memang beberapa kali ditolak tapi akhirnya perasaan ku di terima.
..
Hari ini adalah acara akhir semester yang dilaksanakan di rumah ku semuanya sibuk mempersiapkan acara itu, di sisi lain aku melihat Zahra yang sedang becanda dan tertawa lepas dengan Ridwan entah mengapa aku merasa tak suka melihatnya. Aku sadar sudah mempunyai Selly hati ku pun sangat mencintainya tapi aku tak suka melihat kedekatannya, ku putuskan untuk mengganggu mereka berdua tapi al hasil Zahra malah meninggalkan ku dan Ridwan.
Zahra duduk di teras depan rumah ku aku melihat Umi menghampirinya dan sepertinya sedikit berbincang dengan Zahra sepertinya Umi menyukai Zahra.
..
Liburan akhir semester berlalu, saatnya masuk semester baru hari pertama yang menyebalkan menurut ku. Dosen yang pertama masuk dia seperti memiliki pandangan yang aneh dengan Zahra, perlakuannya setiap mengajar pun memperlihatkan seperti suka dengan Zahra.
Sebenarnya aku sangat merasa aneh dengan semua ini, aku bukan siapa-siapa buat Zahra tapi hati ku merasa tak rela dengannya.
Benar saja perasaan ku waktu itu, hari ini aku mendengar bahwa pak Ardian sudah mengkhitbah Zahra, seharusnya aku biasa saja tapi entah lah hati tak bisa dibohongi.
Setelah beberapa minggu ku dengar teman ku Ridwan juga berniat untuk mengkhitbahnya, sungguh dia pantas mendapatkan laki-laki yang hebat seperti mereka berdua. Berangsur-angsur aku mencoba mengikhlaskannya dan mulai mencintai Selly.
..
Hari ini weekend aku memutuskan untuk pulang kerumah melepas kesumpekan ini, sesampainya di rumah Umi selalu bertanya-tanya tentang Zahra tanya ini itu seputar Zahra, dan pada intinya Umi meminta ku untuk menjadikan Zahra pendamping ku.
Ini sangat mengejutkan ku aku sudah sepenuhnya mencintai Selly tapi aku tidak bisa menolak permintaan Umi.
Akhirnya aku datang ke rumah Zahra untuk menemui orang tuanya, setelah beberapa lama aku berbincang-bincang ku utarakan niat ku untuk melamar Zahra, tanpa berfikir lama Ayah Zahra menerima lamaran itu, aku berfikir dia akan menolakku dan aku dapat bersama dengan Selly.
Beberapa hari kemudian aku dan keluargaku berkunjung ke rumahnya untuk melamarnya secara resmi. Aku melihat kegugupan dan kecanggungannya. Hari pernikahan telah ditetapkan, semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan ini, sedang aku sibuk untuk meyakinkan Selly bahwa ini akan baik-baik saja.
Waktu itu Umi mengajakku untuk fitting baju pernikahan kami, sebenarnya aku malas dan sudah beralasan untuk mengerjakan laporan akhir tahun pesantren tapi Umi tetap meminta ku untuk datang walau telat.
Aku melihat disana Umi Zahra dan tante Anita telah menemukan sebuah kebaya mungkin untuk akad, dan Umi meminta pendapatku untuk gaun resepsinya aku pun memilih gaun simple warna lightblue.
Hari pernikahan tiba, aku mengucapkan akad dan setelah kata sah diucapkan Umi dan Bunda menjemput Zahra di kamar, tak beberapa lama kemudian Umi dan Bunda keluar bersama Zahra, aku tak bisa membohongi kencantikannya yang luar biasa dia duduk di samping ku kemudian kita saling memasangkan cincin lalu dia mencium tangan ku dan aku pun menyentuh ubun-ubunnya lalu mendoakannya.
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tetapkan atas dirinya. Ya Allah beri juga dia kesabaran tiada batas untuk menunggu ku mencintainya"
Acara selesai tapi aku dan Zahra masih harus berdiri dan menyalami para tamu undangan, jujur sebenarnya aku lelah ku lihat Zahra yang ternyata juga terlihat lelah, ku suruh dia untuk duduk tapi kelihatannya dia malu lalu aku bilang padanya aku juga akan duduk dia pun mengikuti ku duduk.
Setelah acara benar-benar selesai aku dan Zahra menuju kamar, aku mempersilahkan Zahra untuk membersihkan tubuhnya dahulu, di situ aku merebahkan tubuhku seraya berfikir bagaimana aku mengatakan semua ini pada Zahra dengat tidak menyakiti hatinya, setelah Zahra selesai aku bergegas untuk membersihkan tubuhku sebelum masuk kamar mandi aku menyuruhnya untuk menunggu ku dan dia pun mengiyakannya.
Aku mengatakan semuanya pada Zahra ku lihat rau kekecewaan bercampur rasa sakit pada dirinya, malam pertamanya yang selayaknya seperti pengantin baru lainya tak seindah bayanannya. Aku melihatnya menangis dalam selimut, aku paham betul apa yang dia rasakan.
Keesokan harinya aku sarapan bersama keluarga Zahra, di situ terdapat ayam goreg kesukaanku ternyata yang memasaknya adalah Zahra, tak ku sangka dia begitu pandai memasak.
Setelah semua itu selesai aku mengajaknya untuk pulang kerumah ku dengan dalih aku banyak kerjaan padahal cutiku masih 1 minggu lagi.
Kita berpamitan dengan Ayah dan Bunda, dan mereka memberi amanah untuk ku agar menjaga anak semata wayangnya, dan aku pun mengiyakannya namun dalam hatiku merasa bersalah karena aku tak bisa menjaganya dengan baik.
Sesampainya dirumah seluruh keluargaku menyambut Zahra dengan baik, sekilas aku berfikir apa mereka akan melakukan hal sama pada Selly jika Selly berada di tempat Zahra.
Keesokan harinya aku berangkat kekantor beralasan bahwa ada pekerjaan yang harus aku urus, tak terasa dokumen ku tertinggal dan Zahra mau tidak mau mengantarkannya walau aku tak memintanya.
Sesampainya di kantor aku yakin Zahra melihat semua yang aku lakukan bersama Selly, maafkan aku Ra ucap ku dalam hati. Tapi itu suatu hal yang kecil sehingga teramat tertutupi dengan rasa marahku yang ku pendam karena kedatangannya akan menyakiti hati Selly, aku marah pada Zahra dan akibat itu aku dan Zahra terlibat perdebatan kecil, ya sebenarnya sudah sangat sering perdebatan ini.
..
Umi menyuruhnya untuk mengirimkan bekal untuk ku, aku merasa sedikit kesal karena aku tidak akan bebas dikantor.
Sampai pada saat aku mengatakan kepada Selly bahwa aku akan memadunya ku lihat makanan yang akan Zahra berikan pada ku jatuh, aku paham sekali pasti itu karena dia terkejut mendengar itu semua, ku lihat dia lari keluar kantor dan ku kejar dia setelah aku menemukannya entah mengapa tiba-tiba ada rasa tak suka dan juga terhianati ketika melihat Zahra berdiri di samping seorang lelaki.
Aku berpikir macam-macam tentang Zahra dan laki-laki itu yang tak lain adalah Ridwan orang yang sempat mencintai Zahra. Aku berdebat sangat hebat dan tak terasa aku melontarkan kata yang menyakitkan, yang sebenarnya tak pantas aku lontarkan pada wanita sesempurna Zahra.
Setelah perdebatan itu dia pergi menuju parkiran dengan menerobos hujan yang sangat lebat aku pun tak memperdulikannya.
Malam harinya aku pulang terlambat, aku pulang langsung ke kamar tanpa makan malam terlebih dahulu, mungkin karena aku belum makan Zahra hendak mengantarkan makanan padaku baru beberapa langkah dari ambang pintu dia terjatuh kelantai, ku gendong dia ke ranjang kemudian ku sentuh keningnya ternyata demam tinggi aku memanggil Abah dan Umi kita menunggu kesadarannya.
Dalam beberapa hari Zahra sakit aku selalu mengantarkan makanan untuknya tapi tak ku perhatikan keadaannya, tiga hari kemudian Zahra sembuh aku merasa sudah tidak ada tanggungan merasa bersalah, lalu rasa marah ku padanya sudah mereda.
Malam harinya aku memutuskan untuk tidak lembur dan makan malam di rumah, sialnya aku sekali makan di rumah Umi dan Abah memberiku kabar yang tak menggembirakan, yaitu aku dan Zahra ditinggal berdua saja di rumah.
Setelah larut malam aku hendak mencari angin di luar tak ku sangka mendengar percakapan Abah dan Umi bahwasannya aku dan Zahra ditinggal ke Pekalongan agar aku dan Zahra bisa merasakan suasana honey moon.
Aku mengatakan maaf saat mobil Abah dan Umi melesat jauh, karena aku belum bisa menyentuh Zahra bila hati ku ini masih terdapat pada Selly bukan Zahra.
..
Waktu itu Selly menelphone ku katanya penting ini tentang hidupnya tak berpikir panjang aku bergegas menemunya di cafe setelah berbicara beberapa saat Selly mengatakan bahwa ia hendak di jodohkan dengan anak teman dekat Papanya, aku merayunya untuk sabar dan akan ku jadikan dia madu ku.
Pikiran ku terbuyar kan kemana-mana mengingat janji ku pada Selly juga respon Abah dan Umi jika mengetahui semua ini. Aku bergegas pulang dengan keadaan tubuh basah kuyup kehujanan. Sesampainya di rumah aku melihat Zahra sangat khawatir tapi aku cuek kan begitu saja sampai ketika aku hendak marah padanya aku tak sanggup melanjutkannya dan kemudian aku pinsan.
Setelah aku terbangun Zahra membawakan ku bubur, aku tak mau memakannya dari tangannya langsung, aku tak tau bagaimana jalan pikiran Zahra, dia membawa Selly kehadapan ku namun Selly tak seperti biasa dia berkata-kata sesuatu yang menyakiti ku yaitu kata-kata untuk menyudahi semua hubungan terlarang ini.
Tak beberapa lama kemudian Selly pulang, dan Zahra masuk kedalam kamar disitu kita berantem hebat tak terasa Abah dan Umi sudah memperhatikan perdebatan kita sedari awal, Umi berjalan menghampiri ku dan menampar ku semua kata-kata yang di lontarkan Umi aku memahaminya tak sampai di situ Abah pun ikut menampar ku saat aku menjelaskan semua duduk permasalahannya.
Umi dan Abah memutuskan agar aku keluar dari kantor dan kemudian mengurus pesantren, sedang Zahra dianjurkan untuk pulang ke kediaman orang tuanya agar aku dapat merenungi kesalahan ku.
Berhari-hari tanpa Zahra terasa sepi aku pun serba keteteran mengerjakan semua tugas yang biasa Zahra kerjakan, semua hal aku tak tau cara menyalesaikannnya satu persatu. Pada akhirnya Umi sakit dan mengharuskan agar Zahra pulang.
Saat aku menjeputnya entah mengapa aku merasa senang dia kembali ke rumah. Setelah di rumah beberapa hari Zahra mengurus dokumen-dokumen pesantren. Saat dia mengerjakan dokumen pesantren datang lah tamu, dan tepat ketika aku melihatnya dia sedang menemui seorang laki-laki yang tak asing buat ku, Ridwan ya dia bertanya tentang kehidupan rumah tangga ku dengan Zahra, dalam hati ku aku merasa sangat tak suka dia dekat-dekat dengan Zahra dan menanyakan hal itu. Aku memutuskan untuk menghampirinya dan beberapa saat kemudian ia pulang.
Sebelum berangkat reuni aku mengajak Zahra untuk membeli baju yang senada, sesampainya di hotel dan berganti baju mataku tak kedip melihat kecantikkannya dengan baju yang ku belikan tadi.
Dalam acara reuni ku perhatikan Zahra berbincang-bincang dengan temannya tak lama kemudian Ridwan datang menghampirinya aku merasa cemburu dengannya, ku hampiri Zahra dan ku ajaknya ke kamar lalu ku cium bibirnya dengan kasar dan ku katakan aku mencintainya.
Setelah itu tubuh kita saling bercampur dalam satu nama atas Cinta.
entah q ny yg bapran ato novel ny yg bnyk bwang