Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Tepat pukul dua siang, Briana langsung menuju kediaman keluarga Brixton. Ia menghentikan mobilnya saat gerbang tinggi berwarna hitam dibukakan oleh para bodyguard. Briana sempat memperhatikan ukiran besar bertuliskan BRIXTON di gerbang itu.
Astaga… ini rumah atau istana? Kaya banget keluarga Brixton!
"Ya ampun, mau sujud!" jerit Briana di dalam mobil saat melihat bodyguard bertubuh besar dengan wajah tampan. "Gila, yang jaga aja ganteng-ganteng semua!"
Lahan rumah itu bukan sekadar luas, tapi luar biasa besar. Cukup untuk menelan sepuluh rumah normal. Setiap jendela tertutup tirai putih yang rapi dan simetris. Bahkan ada beberapa balkon.
Briana turun perlahan dari mobil dan melepas kacamata hitamnya. Ia menggigit bibir saat seorang pria, yang sejak tadi mencuri perhatiannya mendekat. Sepertinya seorang butler.
"Nona. Briana Visenya?" tanyanya.
Briana mengangguk sambil tersenyum lebar. "Yes, that's me." Ia sempat mengedipkan mata, tapi sang butler tampak sama sekali tak tergoda.
Briana makin terpukau saat melihat bagian dalam rumah. Bahkan lantainya berkilau sampai rasanya bisa dipakai tidur!
"Ibu Aura?" tanya Briana saat melihat seorang wanita paruh baya mengenakan pakaian semi formal, tersenyum ramah. "S-senang bertemu dengan Anda," katanya gugup.
"Senang bertemu juga, Briana," sapa Aura Brixton. "Silakan duduk."
"Terima kasih, Bu!"
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membicarakan desain gaun pengantin calon menantu saya," ujar Aura sambil meminta pelayan menyajikan teh.
"Dengan senang hati, Bu!"
"Saya ingin gaun yang elegan. Sangat unik, yang belum pernah dilihat siapa pun di dunia," kata Aura penuh imajinasi.
"Baik, Bu. Kami akan mengusahakannya," jawab Briana. Desainnya memang khas, dan ide-idenya sering sejalan dengan Alyssa, itulah sebabnya mereka bekerja sama.
"Saya ingin gaun yang akan dikenang orang. Tidak mengikuti tren. Tidak ada belahan paha. Tidak korset transparan. Saya tidak mau dia terlihat seperti menghadiri karpet merah. Dia akan menjadi bagian dari keluarga kami. Gaun itu harus mencerminkan hal itu."
Briana mengangguk sambil membuka buku sketsa dan pensil. "A-line atau ballgown, Bu?"
Aura menyesap tehnya. "Ballgown. Rok lembut, tidak kaku. Lengan halus, mungkin off-shoulder. Dan bordir, bordir asli, bukan tempelan glitter. Harus terlihat penuh usaha."
Briana mencatat cepat.
"Gaunnya tetap putih, tapi ivory, bukan putih terang. Putih terang membuat kulitnya pucat. Ivory akan lebih cocok. Saya bisa membayangkan calon menantu saya mengenakan gaun impian itu…" Aura tersenyum puas.
Briana nyaris ingin memutar mata.
Apa pun yang dipakai Maureen, tetap saja menyebalkan.
"Kamu sudah melihat fitting-nya?" tanya Briana.
"Saya sudah melihat cukup banyak," jawab Aura. "Saya akan kirimkan ukuran tubuhnya."
Briana mulai menggambar.
"Bagaimana dengan ini, Bu?" Aura memperhatikan sketsa itu.
"Bagus. Dia ingin merasa cantik dan dikenang. Buat dia merasa seperti satu-satunya pengantin yang pernah berjalan ke altar. Pernikahan hanya sekali, harus elegan."
"Saya bisa, Bu. Percayakan pada saya," kata Briana sambil mengedip, membuat Aura tertawa.
"Aku tahu. Itu sebabnya aku memilihmu."
Mereka berbincang lama hingga akhirnya Briana pamit.
"Saya tunggu update-nya, Briana."
"Siap, Bu!"
Begitu masuk mobil, Briana menghela napas panjang. "Astaga… ini proyek perang. Permintaannya gila." Ia tahu, ia akan butuh bantuan Alyssa.
***
Sudah beberapa hari Maureen dan Junior tidak saling bicara sejak pertengkaran terakhir mereka. Junior memilih tinggal di rumah utama keluarga daripada menemui Maureen, karena tahu mereka hanya akan bertengkar lagi. Ia sudah terlalu lelah.
Junior berhenti di depan sebuah mall saat melihat sepasang suami-istri, orang tua Alyssa.
Ia sudah lama tak mendengar kabar mereka sejak hubungan bisnis diputus.
Junior mendekat. Ia tak menyalami atau mencium tangan, ia bukan lagi menantu mereka.
"Junior!" sapa Aliana, ibu Alyssa, dengan senyum harap.
"Kalian sibuk?" tanya Junior.
"Kenapa?" tanya Albert, ayah Alyssa.
"Ngopi?" tawarnya.
Mereka setuju dan masuk ke kafe di dalam mall.
"Kami baik. Kamu terlihat sukses. Selamat jadi CEO," kata Albert.
"Terima kasih," jawab Junior.
Ia menyesap kopinya sebelum berkata, "Saya bertemu Alyssa dan Niko beberapa hari lalu."
Pasangan itu terkejut.
"Kamu bertemu mereka?" tanya Aliana lirih.
"Iya. Sudah lama sekali. Apakah Alyssa pindah dari rumah kalian?" tanyanya. "Kenapa kalian kaget? Apa kalian menyembunyikannya dariku?"
"Tidak…" suara Aliana bergetar. Air mata jatuh. "Aku mengusirnya… saat kamu bilang Niko bukan anakmu."
Junior tertegun.
"Apa?"
"Kami tidak tahu ke mana dia pergi. Kami mencarinya bertahun-tahun. Bisnis kami hancur. Semua habis," tangis Aliana. "Tolong… kalau kamu tahu di mana dia, beri tahu kami. Aku ingin minta maaf."
Junior menutup mata.
"Aku akan mencari alamatnya," ucapnya pelan.
"Terima kasih…"
Junior tak tahu mengapa ia mengatakan itu. Ia seharusnya tak peduli. Namun hatinya terasa aneh, seperti rindu pada mantan istrinya.
***
Maureen duduk di sofa rumah sahabatnya, Ziora. Setiap kali hubungannya dengan Junior memburuk, ia selalu ke sini.
"Aku menemukan wedding organizer," kata Ziora bersemangat.
"Serius?" Maureen menegakkan badan.
"Namanya Ashley Evelyn. Bagus, cepat, rapi. Banyak review."
Maureen mengangguk. "Aku suka yang hands-on."
"Kita ketemu besok sore."
Maureen tersenyum lega. "Terima kasih."
***
Di sebuah kafe, Ashley membuka pesan baru.
Ziora Tasya
Hai, temanku Maureen akan menikah. Kami cari wedding organizer. Kamu free besok?
Ashley membalas cepat.
Ashley Evelyn
Bisa. Nama lengkap pengantin?
Ziora Tasya
Maureen Lyza. Calonnya Junior Zero Brixton.
Tangan Ashley membeku.
Maureen… Junior?
Ia menelpon Edgar.
"Aku dapat job wedding organizer," kata Ashley.
"Bagus," jawab Edgar.
"Tapi… Maureen dan Junior."
Hening.
"Itu Keputusanmu," kata Edgar akhirnya.
Ashley mengangguk, meski tak terlihat. "Aku ambil."