'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Rayan terus saja mengajak bicara Zafirah sebab tidak ingin jika Zafirah pingsan. Tadi Zafirah mengatakan sepertinya ia demam. Mungkin karena ia baru saja jatuh dan kakinya cidera.
Rayan sebenarnya ingin mengajak Zafirah berhenti sejenak untuk berteduh. Tapi tidak ada tempat yang bisa dijadikan perlindungan dari hujan ini.
"Firah .." panggil Rayan namun tidak ada sahutan. Rayan berhenti dan menoleh ke belakang. Ia merasa tubuh Zafirah semakin berat. Dan rupanya benar jika Zafirah pingsan.
"Ya ampun, Fira..." panggil Rayan sambil menurunkan Zafirah ke tanah yang lebih landai.
Wajah Zafirah pucat. Bibirnya membiru. Rayan meletakkan tangannya dibawah hidung Zafirah dan merasakan nafas Zafirah yang begitu lambat. Rayan tau jika Zafirah terkena hipotermia.
Rayan mengeluarkan bantal kecil hangat yang sejak tadi diletakkan Zafirah di dalam jaketnya. Ia menggunakan alat itu untuk menghangatkan telapak tangan dan wajah Zafirah seraya mengguncangkan tubuh Zafirah berharap Zafirah bangun.
Rayan tau mereka sudah dekat dengan pos satu. Mungkin disana mereka bisa menemukan orang yang bisa membantu. Hujan sudah reda namun masih meninggalkan hawa dingin yang menusuk.
"Firah, bangunlah. Kita akan pulang sebentar lagi," bisik Rayan di telinga Zafirah namun sama sekali tidak ada reaksi.
Ia membuka tasnya dan tas Zafirah mencari jika masih ada kain kering yang mungkin bisa digunakan untuk melindungi Zafirah dari hawa dingin.
Di tas Zafirah hanya ada makanan, botol minum, obat-obatan serta satu lagi bantal penghangat. Sedangkan di tas nya ada sebuah jaket parasut yang mungkin bisa membantu.
Ia mengambil barang tersebut untuk membungkus kaki Zafirah yang sebelumnya sudah diletakkan bantal penghangat berharap hangatnya bisa menstabilkan suhu tubuh Zafirah. Tidak lupa minyak kayu putih ia balurkan di wajah dan leher Zafirah agar aromanya tercium oleh Zafirah.
Rayan juga menggosok-gosokkan tangannya dan tangan Zafirah. Cukup lama Rayan melakukan itu sampai merasa ada pergerakan dari Zafirah.
"Firah.. Ayo bangun. Kita akan sampai setelah itu kita pulang," bisik Rayan lagi di telinga Zafirah.
Namun Zafirah belum juga membuka matanya. Ia semakin mempercepat gosokan tangannya untuk menciptakan rasa panas.
Usaha Rayan tidak sia-sia. Zafirah mulai membuka matanya. Ia merasa kakinya terasa panas lalu Rayan memindahkan penghangat tersebut.
"Kamu sudah bangun. Syukurlah," kata Rayan lega.
"Aku pasti nyusahin kamu ya ?" tanya Zafirah dengan suara lemah.
"Tidak. Sudah jangan pikirkan apapun. Kamu harus tetap sadar," kata Rayan.
Setelah beristirahat beberapa menit akhirnya mereka melanjutkan perjalanan lagi. Rayan menawarkan pada Zafirah untuk istirahat lebih lama namun Zafirah menolak. Ia merasa tubuhnya semakin sakit apalagi kakinya yang cidera tidak bisa digerakkan.
'Aku pasti akan membalas kebaikan kamu, Rayan. Aku janji,' gumam Zafirah dalam hati. Lalu kedua tangan Zafirah memeluk Rayan dengan erat.
"Nanti aku masak makanan yang lezat buat kamu," bisik Zafirah dan diangguki oleh Rayan.
..
Zafirah baru bisa dihubungi setelah dini hari. Dan itu pun yang menjawab panggilan dari Mama Febi adalah Rayan yang membuat Mama Febi terkejut.
Rayan mengatakan jika Zafirah sedang menjalani perawatan karena terjatuh dan mungkin bisa kembali ke rumah esok paginya.
Sebenarnya Mama Febi bersikeras untuk datang menyusul Zafirah, namun Rayan mengatakan jika Zafirah tidak ingin kedua orang tuanya terlalu khawatir. Dan ia berjanji akan mengantar Zafirah pulang ke rumah dengan selamat.
Sesuai janji Rayan, ia mengajak Zafirah pulang pada pagi harinya. Meskipun dokter melarangnya untuk keluar dari Rumah Sakit karena Zafirah masih menjalani perawatan, namun mereka tetap kekeh ingin keluar dan mengatakan akan melanjutkan perawatan di kota asal mereka.
Rayan datang menggunakan mobil mewahnya. Dan sekarang Zafirah duduk di samping kemudi dengan pakaian baru yang dibelikan oleh Rayan. Entah dimana pria itu membelikannya.
Tidak hanya itu, Rayan jugalah yang mengurus semua administrasi pengobatan Zafirah serta membelikannya kursi roda karena Zafirah belum bisa berjalan.
"Tidurlah dulu. Perjalanan masih lama. Aku akan membangunkan kamu kalau hampir sampai di Jakarta," kata Rayan.
Zafirah mengangguk. Kepalanya memang masih terasa berat. Ia juga sudah mengirim pesan pada Mama Febi jika ia sudah dalam perjalanan pulang.
Zafirah menoleh menatap Rayan dari samping. Ia bertanya-tanya kenapa ia dipertemukan dengan Rayan ?
"Aku tau aku tampan. Saranku jangan terlalu lama memandangku kalau tidak mau jatuh cinta padaku," kata Rayan menoleh pada Zafirah.
Mendengar perkataan Rayan membuat Zafirah mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Zafirah akui memang Rayan tampan. Ia juga pria yang kuat. Rayan mampu menggendong Zafirah untuk turun dari gunung.
"Rayan, apa punggung kamu tidak sakit ? Kamu menggendong ku sangat lama," kata Zafirah.
"Tidak. Aku sering berolahraga. Menggendong perempuan bukan masalah besar," kata Rayan.
"Jadi kamu sudah sering melakukannya ?" tanya Zafirah.
"Ya begitulah," jawab Rayan sambil tertawa. Tapi tidak dengan Zafirah. Tadinya ia menganggap Rayan pria baik. Tapi karena pernyataan ambigu dari Rayan membuat penilaian Zafirah berubah.
'Dasar playboy...' gumam Zafirah tiba-tiba tidak suka. Ia memutuskan memejamkan matanya. Mungkin karena pengaruh obat yang baru saja diminum nya ia segera tertidur.
Rayan berkendara dengan kecepatan sedang. Meskipun matanya terasa mengantuk karena ia hanya tidur beberapa jam saja tadi.
Ia memutuskan berhenti membeli kopi dan istirahat sebentar kemudian melanjutkan perjalanan. Ia melihat ponselnya yang tidak seperti hari-hari sebelumnya. Hanya ada pesan dari Papanya yang masih belum dibalasnya.
"Sepi sekali ponselku," gumam Rayan mengerucutkan bibirnya. Pasalnya ia tidak lagi menerima pesan-pesan manis dari beberapa perempuan yang menjadi pacarnya karena kemarin sebelum pergi naik gunung, Papa Johan menyuruhnya untuk memutuskan semua pacar-pacarnya dan menyuruh Rayan mencari pacar yang benar.
Karena Rayan berjanji akan berubah lebih baik akhirnya ia menyetujui permintaan Papa Johan. Dan jadilah statusnya sekarang jomblo.
Setelah berjam-jam bergelut dengan jalanan yang ramai akhirnya Rayan mulai memasuki ibu kota. Ia membangunkan Zafirah yang masih tertidur pulas.
"Dimana rumah kamu ?" tanya Rayan. Lalu Zafirah memberitahukan alamat Papa Yusuf.
Saat sudah hampir tiba, Zafirah mengirim pesan pada Mama Febi. Kebetulan hari ini Mama Febi ada praktek malam hari sedangkan Papa Yusuf tidak ada kegiatan di kampus.
Papa Yusuf, Mama Febi dan pekerja di rumah menunggu kedatangan Zafirah di depan pintu. Gerbang di buka selebar-lebarnya.
"Zafirah.." panggil Mama Febi menangis melihat keadaan Zafirah. Kakinya di gips dan tidak bisa berjalan.
Papa Yusuf membantu Zafirah untuk keluar dari mobil sedangkan Rayan dengan cepat mengambil kursi roda di dalam mobilnya.
"Aku tidak apa-apa kok, Ma.." kata Zafirah tidak mau membuat Mama Febi khawatir.
"Tidak apa-apa bagaimana ? Kamu terluka. Pantas saja kemarin Mama merasa tidak tenang. Mama selalu kepikiran kamu apalagi sampai malam kamu tidak ada kabar," kata Mama Febi beruntun.
"Aku kemarin jatuh karena terkejut ada ular lewat di kakiku," kata Zafirah.
Lalu ia bercerita jika ia juga mengalami hipotermia dan Rayan lah yang menolongnya.
"Jadi kamu menggendong Zafirah sampai turun, nak ?" tanya Mama Febi.
"Benar, Nyonya. Tapi itu bukan masalah," jawab Rayan tersenyum.
"Tapi kamu tidak melakukan sesuatu hal yang buruk kan pada Zafirah ?" tanya Papa Yusuf menatap Rayan.
"Tentu saja tidak, Tuan. Saya benar-benar menghormati seorang perempuan," jawab Rayan tidak terpengaruh dengan pertanyaan Papa Yusuf.
..
karma tak Semanis kurma rasakno.