Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.
Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....
Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀
Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰
~ Happy reading ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa dengan Dirimu?
Beberapa hari sudah berlalu. Felix menemaniku dan membantuku dalam melakukan berbagai hal. Dia menjagaku dengan baik. Setiap malam setelah pulang kerja dia akan duduk di tepi tempat tidur dan mengajakku mengobrol. Dokter juga kemari setiap hari untuk memeriksa keadaanku. Aku dan Auris masih tinggal di tempat Felix sampai tubuhku sembuh total.
Aku masih tidak tau identitas Felix yang sebenarnya. Pernah suatu malam aku bertanya tapi dia mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak mau memberitahuku. Apa serahasia itu identitasnya? Aku bertanya pada Ray juga tapi dia sama seperti Felix. Aku berharap suatu hari dia akan memberitahuku.
***
Malam ini Ray mengajak Auris bertemu orang tuanya. Katanya orang tua Ray rindu pada putranya, mengajaknya makan malam. Bagaikan mendapat lampu hijau, dia mendapat kesempatan untuk memperkenalkan Auris. Tak kusangka dia sangat serius dalam menjalin hubungan.
Aku duduk di sofa, memakan camilan sambil menonton televisi. Mungkin Ray dan Auris tidak pulang malam ini, hanya Felix yang ku tunggu. Aku tidak bisa tidur jika berada di rumah sendirian. Malam sudah larut tapi Felix belum juga pulang. Tidak seperti biasanya, dia selalu pulang tepat waktu. Aku hanya bisa menunggunya karena aku tidak ada ponsel. Ponselku hilang sewaktu penculikan kemarin, mungkin Nona itu sudah membuang jauh barang-barangku.
Aku mulai mengantuk. Perlahan mataku mulai terpejam tapi aku tidak berniat tidur sebelum ada seseorang yang pulang malam ini.
-Piiip piiip piiip-
-Ceklek-
Seseorang pulang. Aku menoleh ke arah pintu dan kudapati Felix masuk ke dalam. Aku tersenyum senang saat ku lihat Felix muncul tapi ada yang salah. Raut muka Felix terlihat tidak baik. Apa ada masalah yang terjadi?
"Aku menunggumu dari tadi. Tumben kamu pulang telat. Apa ada masalah?"
Aku berjalan menghampiri Felix dan membantunya melepas jas yang dia kenakan. Felix tidak menggubris pertanyaanku. Dia terlihat murung.
"Kamu sudah makan? Mau mandi dulu? Biar aku siapkan makam malam untukmu," aku berusaha mengajaknya bicara tapi dia tetap diam.
-Brukk-
Felix menjatuhkan tubuhnya di hadapanku. Aku menangkap tubuh itu, aku sempoyongan. Dia lumayan berat, wajar saja tubuhnya lebih besar dari tubuhku.
Felix melingkarkan tangannya pada tubuhku, dia memelukku. Ku rasa beban yang ada di pundaknya sangat berat. Aku membalas pelukannya dan mengusap pundaknya.
"Kyra," gumam Felix.
"Kyra," gumamnya sekali lagi.
"Apa?" tanyaku.
"Kyra," Felix bergumam sekali lagi.
Felix mengangkat wajahnya dan menatapku. Aku menatap balik pada Felix. Wajah Felix semakin mendekat, dia memotong jarak di antara kami. Hidung kami bersentuhan kemudian disusul dengan bibir.
Bibir Felix mencium bibirku. Kami berciuman dimalam yang sunyi itu. Hanya ada kami berdua. Felix mempererat pelukannya dan menekan bibirku. Aku merangkulkan tanganku pada leher Felix. Kami berciuman cukup lama.
Felix melepas ciuman kami dan menggendongku.
"Felix. Kamu mau membawaku ke mana?" tanyaku.
Felix melangkah dengan penuh keyakinan, tidak ada keraguan sama sekali, "ke tempat tidur."
"Apa?" pekik ku kaget.
Felix masuk ke kamar yang biasanya ku gunakan untuk tidur. Dia menendang pintu ke belakang dengan keras agar tertutup. Dia merebahkan tubuhku di atas kasur. Kedua tangannya berada di sisi kanan dan sisi kiri mengekangku. Dia berada di atas ku menatap mataku, aku tidak dapat membaca tatapan matanya.
Tanpa basa-basi lagi Felix mencium bibirku kembali. Seluruh rongga pernafasanku penuh dengan aroma tubuh Felix. Dia menciumku dengan lembut tapi sangat dominan. Aku mengalungkan tangaku pada lehernya. Jika hanya sekedar ciuman aku bisa melakukannya.
Felix memperdalam ciumannya. Sekarang dia memainkan lidahnya dan membuat kami bertukar saliva.
"Hah hah."
Kami melepas ciuman karena kebutuhan oksigen.
"Kyra."
Felix menyebut namaku lagi. Kami berciuman lagi. Aku semakin mempererat tanganku yang melingkar di lehernya. Dia memelukku dengan erat. Kami berciuman lebih panas dari yang pertama.
Kami melepas bibir satu sama lain karena kebutuhan oksigen lagi.
"Kyra!" teriak seseorang dari luar kamar. Itu suara Auris. Oh tidak, Auris dan Ray sudah pulang. Ku kira mereka akan menginap di rumah orang tua Ray.
Posisiku dan Felix sekarang cukup berbahaya jika dilihat orang lain.
"Kyra! Kamu sudah tidur? Tapi kok lampunya masih menyala," suara Auris sudah berada di depan pintu kamarku.
-tok tok tok-
"Ky, kamu sudah tidur?" Auris berdiri di depan pintu.
"Mungkin dia sudah tidur," ucap Ray.
"Tapi lampunya masih menyala. Kyra tidak suka jika tidur dengan lampu menyala," ujar Auris.
Sementara Auris dan Ray berbincang di depan pintu, aku dan Felix membenarkan posisi kami. Aku membenarkan posisi berbaringku sementara Felix turun dari tempat tidur. Dia duduk di tepi tempat tidur dan menelungkupkan wajahnya diantara tangan yang disilangkan. Aku dan Felix berpura-pura tidur.
"Mungkin dia ketiduran," ucap Ray.
"Kalau begitu aku akan menyusulnya tidur dan mematikan lampu," kata Auris.
"Ky, aku masuk," Auris membuka pintu kamarku.
"Lho Felix juga di sini?" ucap Auris kaget.
"Mungkin Felix ketiduran di sisi Kyra. Aku akan membangunkannya. Lehernya akan sakit jika dia tidur seperti itu," ujar Ray.
"Lix, bangun. Pindah ke kamar sebelah," ucap Ray. Ray menggoyangkan tubuh Felix beberapa kali.
Felix mengangkat kepalanya, dia berekspresi seperti orang yang dibangunkan dengan paksa beneran.
"Jangan tidur seperti ini. Lehermu akan sakit. Tidurlah di kamar seperti biasa," ucap Ray.
"Kalian sudah pulang?" ucap Felix basa-basi dengan nada lemah.
"Hm," Ray mengangguk. Ray menggiring Felix ke kamar sebelah.
Aku masih berpikir ada apa dengan Felix malam ini. Dia pulang telat dengan wajah lesu. Sepetinya masalah yang di hadapinya kali ini tidak mudah untuk dia lalui.
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Boleh intip "Pengantin Pengganti"