NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Gemerlap distrik Gangnam pada malam hari lazimnya menjanjikan kemewahan yang terpatri dalam cahaya neon dan pantulan kaca—janji tentang kesempurnaan, tentang kehidupan yang bergerak dalam bingkai estetika tanpa cela. Namun, di lantai empat kompleks apartemen The Zenith, janji itu runtuh tanpa suara, menyisakan kenyataan yang jauh lebih kelam dan lebih sunyi daripada kegelapan di balik jendela.

Lisa melangkah melewati garis polisi kuning yang melintang di depan pintu unit 404, seutas pita rapuh yang memisahkan dunia normal dari sebuah teka-teki. Rasanya seperti memasuki sebuah diorama mahal yang keliru susun. Udara di dalam ruangan dingin, diatur oleh pendingin sentral, tetapi membawa aroma yang saling bertentangan: parfum mahal bernuansa peony dan oud yang masih menggantung manis, bercampur dengan bau kimiawi bubuk sidik jari berwarna abu-abu yang menempel di permukaan mengilap. Bau itu adalah bahasa kekerasan yang disamarkan oleh kemewahan.

“Kim Jina, dua puluh empat tahun. Influencer kecantikan. Pengikut media sosial: lima juta dua ratus ribu, dan terus bertambah setiap jam meskipun pemilik akunnya menghilang.” Gumam Lisa, lebih kepada dirinya sendiri, sementara matanya yang terlatih memindai ruangan.

Segalanya tertata dengan kesempurnaan yang nyaris menyakitkan. Sofa beludru merah muda pucat ditempatkan pada sudut yang presisi. Meja marmer putih bersih dari noda, hanya dihiasi sebuah vas kristal berisi rangkaian bunga kering yang pasti bernilai mahal. Setiap bantal, setiap buku dekoratif, setiap lilin aromaterapi yang belum pernah dinyalakan—semuanya berada di posisi masing-masing seperti pasukan yang sedang berbaris. Ruangan ini adalah latar foto yang terus hidup, sebuah kurasi eksistensi untuk dikonsumsi jutaan pasang mata.

𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢-𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘢. pikir Lisa sambil melangkah perlahan. Mereka tidak melihat ini.

Hendry telah berada di sana lebih dahulu, berdiri di tengah ruang tamu bagaikan batu besar di tengah aliran sungai yang tenang. Tangannya terselip di saku celana chino, bahunya yang lebar sedikit membungkuk, membawa kelelahan dari kasus-kasus lain yang juga tak kunjung menemukan ujung.

“Tidak ada tanda perkelahian atau perlawanan.” Lapor Hendry tanpa menoleh. “Tidak ada darah, tidak ada pecahan kaca, tidak ada goresan di lantai parket yang harganya mungkin setara setahun gajiku. Semua barang berharga masih di tempatnya dan tersusun rapi. Seolah-olah dia… menguap. Atau seolah seseorang yang sangat teliti membawanya pergi.”

Lisa mengangguk, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada Hendry atau barang-barang mewah itu. Matanya menyapu ruangan dengan cara yang lebih halus, mencari sesuatu yang lain. Sebuah kehadiran yang tidak kasatmata bagi orang lain.

𝘚𝘢𝘮. Pikirnya, memanggil dalam diam. 𝘋𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶?

Seolah menjawab panggilan itu, dari balik lemari pakaian walk-in berpintu kaca berbingkai emas, sosok Sam muncul. Wajahnya, yang biasanya tenang atau jenaka, kini diliputi kegelisahan yang dalam. Rambut kemerahannya, yang lazimnya tertata berantakan dengan gaya tertentu, kini benar-benar acak, seakan baru saja diremas-remas oleh tangan tak terlihat.

“Lisa...” Bisik Sam, suaranya langsung menembus kesadarannya seperti tetesan air dingin di tengkuk. “Aku sudah berkeliling di setiap sudut. Tidak ada arwah manusia di sini. Jika dia sudah mati, jiwanya tidak terperangkap di tempat ini. Dan jika dia masih hidup…” Sam menggeleng, ekspresinya frustrasi. “Tidak ada sisa energi ketakutan yang kuat. Biasanya, saat seseorang diculik, ada gema teriakan yang membeku di udara. Di sini tidak ada apa-apa.”

Lisa berpura-pura memeriksa susunan majalah mode di rak bawah meja, membalik halaman dengan sarung tangan lateks biru yang berderit. 𝘊𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘪𝘵𝘪. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘵𝘮𝘢𝘵𝘢.

Sam mengembuskan napas panjang, lalu kembali melayang menyusuri dinding, matanya yang tajam kini memancarkan cahaya biru pucat yang hanya dapat dilihat Lisa ketika ia benar-benar memusatkan perhatian. Ia menyerupai pemindai hidup, menyisir setiap sentimeter.

Saat ia melintasi rak sepatu yang menjulang tinggi, sebuah furnitur yang memajang puluhan pasang sepatu desainer dalam kotak-kotak kaca bercahaya, langkah semunya terhenti mendadak.

Di pojok bawah rak, di lantai yang dingin, duduk sebuah sosok.

Bukan manusia. Sosok itu lebih kecil, dengan siluet yang anggun dan melengkung. Seekor kucing persia berbulu abu-abu panjang duduk dengan tenang, ekornya melingkar di sekitar cakarnya. Tubuhnya memancarkan cahaya kebiruan yang lembut dan tembus pandang, seperti sinar bulan yang tersaring melalui kaca patri. Matanya, besar dan kuning, menatap Sam tanpa rasa takut.

𝘈𝘳𝘸𝘢𝘩 𝘩𝘦𝘸𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯, pikir Lisa, mengikuti arah pandang Sam.

Sam perlahan berlutut. Ia merendahkan diri hingga sejajar dengan kucing itu. “Halo, yang cantik. Siapa namamu?”

Kucing itu mengeong. Suaranya samar, seperti lonceng angin dari kejauhan, hanya melintas di frekuensi yang dapat ditangkap pendengaran Sam. Ia menggesekkan kepala samarannya ke arah kaki Sam, sebuah gerakan akrab yang tak menghasilkan sensasi apa pun.

“Lisa...” Panggil Sam, kali ini suaranya lebih mendesak, sarat penemuan. “Kemarilah dengan perlahan. Ada pemandu kecil di sini yang punya cerita.”

Lisa berpura-pura tertarik pada rak sepatu. Ia berjalan mendekat, berjongkok seolah memeriksa susunannya. “Apa?” Bisiknya, nyaris tanpa gerak bibir.

“Kucing ini. Namanya Mochi, menurut kalung nama yang masih tergantung di lehernya—kalungnya nyata, tetapi dia sudah tidak. Dia mati dua tahun lalu karena gagal ginjal.” Sam menerjemahkan, matanya tidak lepas dari kucing biru itu. “Dia bilang… pemilik apartemen sebelum Jina sering melakukan hal aneh. Menghilang di balik dinding ini.” Sam menunjuk ke sebuah bidang dinding polos yang terletak di antara dapur kecil dan pintu ruang ganti. Dinding itu dilapisi kertas dinding bermotif geometris abu-abu dan emas, tampak kokoh dan biasa saja. “Dia menyebutnya ‘pintu tanpa bayangan’. Katanya, di baliknya ada ruang sunyi.”

Lisa menahan napas. Matanya meneliti dinding itu. Tidak ada engsel, tidak ada pegangan, tidak ada celah yang terlihat. Ia mengetuknya dengan buku jari. Bunyinya padat. Namun…

Dengan gerakan yang tampak seperti bagian dari pemeriksaan rutin, Lisa berdiri dan mulai mengetuk dinding secara sistematis, dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Hendry yang melihatnya mengerutkan kening.

"Itu sudah diperiksa, Lisa. Tidak ada rongga disana.” Gumam Hendry, meskipun tetap mengawasi.

Lisa mengabaikannya. Ia tiba pada sebuah lukisan abstrak besar yang tergantung di tengah dinding. Karya itu berupa sapuan cat hitam, putih, dan emas dalam bingkai logam tipis. Ia dengan hati-hati mengangkat tepi bingkai, memeriksa dinding di belakangnya. Tidak ada. Lalu, jarinya yang bersarung menyusuri bagian belakang bingkai itu sendiri. Di tengah logam yang dingin, tepat di balik kanvas, ia merasakan sebuah tonjolan kecil, halus, nyaris seperti kepala sekrup yang tertanam.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Dengan tekanan yang hati-hati, ia menekan tonjolan itu.

𝘒𝘭𝘪𝘬.

Suara itu nyaris tak terdengar, tetapi bagi Lisa, ia bergema seperti letupan. Sepotong panel dinding selebar setengah meter, yang tepinya tersamar sempurna oleh pola geometris, bergeser ke dalam sekitar satu sentimeter, lalu meluncur ke samping dengan suara gesekan halus.

Sebuah celah terbuka. Bukan pintu besar yang dramatis, melainkan bukaan sempit dan gelap, cukup untuk dilalui seseorang bertubuh ramping. Dari dalam, menguar aroma yang sama sekali berbeda: bau logam, debu beton, dan udara yang lama terkurung tanpa sirkulasi.

“Detektif Ahn?” Hendry sudah berdiri di belakangnya, suaranya penuh keheranan dan kewaspadaan. “Apa itu?”

Lisa segera berdiri tegak, dengan sengaja menghalangi pandangan Hendry ke dalam celah itu untuk sesaat. Pikirannya berputar cepat. Jalur servis. Rongga antar-dinding. Tempat persembunyian. Di sampingnya, Sam telah melongok ke dalam kegelapan, dan ekspresi di wajah arwah itu berubah dari penasaran menjadi ngeri murni.

“Senior...” Ujar Lisa, berusaha menjaga suaranya tetap terkendali meskipun adrenalin membanjiri nadinya. “Saya rasa ini jawaban mengapa dia tidak tertangkap kamera di koridor atau lobi.” Ia menunjuk ke celah sempit itu. “Ini pintu rahasia menuju jalur pipa dan akses servis gedung. Dia tidak dibawa keluar melalui pintu utama, Senior. Dia… ditarik ke dalam.”

Sam menoleh ke arah Lisa, wajahnya pucat dalam cahaya temaram apartemen. “Mochi bilang, ada ‘orang lain’ di sana. Di bawah. Bukan manusia yang baik. Lisa, jangan masuk sendirian.”

Hendry mendekat, mendorong Lisa dengan lembut untuk melihat ke dalam. Senter di pinggangnya ia nyalakan, sinar putihnya menembus kegelapan. Ia menyingkap sebuah lorong sempit dari beton kasar, dengan pipa-pipa besar berbalut isolasi membentang di sepanjang dinding. Lantainya berdebu, dan di atas debu itu… ada jejak. Beberapa pasang. Jejak sepatu bot besar, dan satu set jejak kaki kecil yang tampak terseret.

“Ya ampun...” Gumam Hendry, seluruh skeptisismenya sirna sesaat, digantikan fokus profesional yang tajam. Ia segera berbicara melalui radio genggam, memanggil tim penyergap dan forensik.

Sementara Hendry sibuk memberi instruksi, Lisa berdiri di ambang pintu rahasia itu, menatap lorong yang menganga seperti mulut gelap. Hembusan hangat dari pipa-pipa pendingin ruangan menyentuh wajahnya, membawa cerita yang lebih mengerikan daripada apa pun yang bisa dibayangkan oleh lima juta pengikut di luar sana.

Sam muncul di sisinya, begitu dekat hingga aura dinginnya membuat lengan Lisa meremang. “Aku akan masuk lebih dulu.” Bisik Sam, suaranya tegas. “Aku bisa melihat dalam gelap. Aku bisa merasakan… apakah masih ada yang di sana.”

“Jangan...” Batin Lisa, cemas. Namun sudah terlambat. Sam meluncur masuk ke lorong, siluet kebiruannya menyatu dengan bayangan.

Beberapa detik terasa seperti jam. Lalu suara Sam kembali, bergetar dan sarat peringatan.

“Lisa… ada ruangan di ujung lorong ini. Seperti… sarang. Ada tali, ada kain penutup mata… dan baunya… baunya seperti ketakutan yang sudah mengendap bertahun-tahun.” Sam terdiam sesaat. “Dan ada arwah di sini. Tapi bukan Jina. Yang lain. Banyak. Mereka… mereka terperangkap.”

Lisa menatap Hendry yang masih berbicara di radio. Ia tahu prosedur: mereka harus menunggu tim penyergap, memastikan area aman. Namun di telinganya, gema kata-kata Sam berdenyut seperti luka lama yang terbuka kembali.

Apartemen 404 yang sempurna itu tiba-tiba terasa seperti topeng. Di balik dinding bercat warna-warna tren dan perabot yang layak unggahan media sosial, tersembunyi urat nadi kegelapan yang menghubungkan satu ketidakberuntungan dengan yang lain. Kim Jina bukan yang pertama. Dan jika mereka tidak bergerak cepat, ia mungkin bukan yang terakhir.

Mochi, si kucing berwarna biru, kini duduk di ambang pintu rahasia, menatap ke dalam lorong dengan mata besarnya. Ia mengeong sekali lagi, sebuah nada yang bagi Sam terdengar seperti, Aku sudah memperingatkan mereka. Tetapi mereka tidak pernah mendengar.

Lisa menguatkan diri, bersiap mengikuti tim penyergap ke dalam kegelapan. Namun, pertama-tama, ia harus memastikan Sam aman. Dan di dalam dadanya, sebuah ketakutan baru mulai tumbuh—ketakutan bahwa misteri yang mereka hadapi kali ini mungkin jauh lebih besar dan lebih kejam daripada sekadar hilangnya seorang influencer.

Lorong itu menunggu. Dan di dalamnya, bayang-bayang masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi mulai mengangkat kepala.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!