Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Hari demi hari berlalu,
Alice akhirnya kembali masuk sekolah. Penampilannya sama seperti biasanya—seragam rapi, kacamata bulat yang setia bertengger di wajahnya.
beberapa kali Alice secara tak sengaja berpapasan dengan Rey. Rasa takut masih mengendap dalam dirinya, namun ia berusaha untuk melupakan apa yang terjadi seolah tidak terjadi apa-apa.
Rey juga hanya terdiam, wajahnya datar dan terlihat sangat berbeda dari biasanya, seolah menyimpan beban yang tak terucapkan.
Alice mulai menyadari ada yang janggal. Rey tidak lagi ramai bersama gengnya. Ia sering terlihat sendiri, tanpa Mike, Megan, ataupun Stella. Bahkan teman lain pun menjauh.
**
Bel pulang akhirnya berbunyi. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas, memenuhi koridor dengan riuh tawa dan langkah tergesa-gesa.
Alice melangkah pelan, menyusuri lorong yang semakin ramai. Namun dari kejauhan, matanya menangkap sebuah keributan di ujung koridor.
Rey tampak gelisah dan frustrasi. Beberapa siswa mengerjainya—mereka merebut kunci motor Rey, lalu mengoperkannya dari satu tangan ke tangan lain seperti permainan lempar tangkap.
Di ujung sana, Stella, Megan maupun Mike juga melihat kejadian itu. mereka hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat apa-apa.
Wajah Rey kusut, keringat bercampur dengan amarah. Ia mondar-mandir cepat, mencoba merebut kuncinya, namun selalu gagal.
Hingga akhirnya, saat ia berhasil mendekati salah satu siswa, sebuah bogem menghantam bibirnya dengan keras. Rey terhuyung, darah mengalir perlahan dari sudut mulutnya.
Siswa itu pun melempar kunci motor ke arah seseorang. Orang itu menangkapnya dengan satu tangan—dan seluruh perhatian langsung tertuju padanya.
Itu adalah Danzel.
Tatapan sinisnya menusuk Rey, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum menyeringai.
“Kau mau ini?” tanyanya datar.
Rey menatap dengan bimbang, namun ia tetap melangkah mendekat. Harapannya sederhana—Danzel benar-benar akan menyerahkan kunci itu.
Namun tepat saat jarinya hampir menyentuhnya, Danzel menarik tangannya menjauh. Rey tampak bodoh di hadapan kerumunan, dan seketika tawa meledak dari siswa-siswa di sekitar mereka.
“Bagaimana, Rey?” suara Danzel terdengar tenang, namun dingin.
“Sudahkah kau menikmati rasanya jadi bahan permainan? Rasanya ditindas oleh orang-orang yang dulu kau anggap remeh?”
Rey hanya terdiam. Matanya menatap dalam, napasnya terengah.
“Sebenarnya ini adalah karma untukmu,” lanjut Danzel. “Aku hanya menjadi jalan bagi mereka yang ingin membalas perlakuanmu selama ini. Jadi rasakanlah... dan renungi semua kesalahanmu—terutama terhadap Alice.”
Tatapan Danzel menggelap, penuh amarah yang ia tahan sejak kejadian kemarin.
Rey menunduk. Tangannya mengepal, bibirnya bergetar, tapi ia tahu melawan hanya akan memperburuk keadaan. Dengan langkah gontai, ia akhirnya pergi, meninggalkan kerumunan tanpa mempedulikan kunci motornya lagi.
Alice yang sejak tadi berdiri di antara mereka, hanya bisa tertegun.
Ia tahu, Rey pantas mendapatkan balasan. Tapi melihatnya dipermalukan seperti itu, justru meninggalkan perasaan yang rumit. Ada bagian kecil di hatinya yang merasa iba.
**
Rey berdiri diam, bersandar pada motornya di parkiran. Pandangannya lurus menatap jauh ke depan, berusaha mengabaikan semua yang baru saja terjadi di koridor sekolah.
Darah masih mengalir tipis dari bibirnya, ia angkat tangannya untuk menyekanya—namun tiba-tiba sebuah sapu tangan terulur ke arahnya.
Karena pikirannya kacau, ia sempat menerima begitu saja. Namun, saat hampir menggunakannya, kesadarannya kembali. Siapa yang peduli padanya hingga rela memberikan ini?
Dengan hati-hati, Rey menoleh ke samping.
Di sana berdiri Alice, memandangnya dengan senyum tipis yang samar, penuh keraguan dan kekhawatiran. Ada ketakutan dalam matanya, tapi juga sinar iba yang tulus.
“kenapa kau ke sini?” ucap Rey dingin, suaranya parau.
“Kau pasti ingin mengejekku, kan? Kau juga pasti puas melihat aku diperlakukan seperti ini!” suaranya meninggi, dipenuhi gengsi dan amarah.
“Jika ingin menertawakanku, tertawalah. Atau hina aku, maki aku, bahkan sakiti aku. Balaslah semua perbuatan jahatku padamu.”
Alice menggeleng pelan. “Tidak, Rey,” ucapnya lembut, “Aku tidak ingin melakukan itu. Aku hanya... kasihan padamu.”
“Hhh, kasihan?” Rey mendengus, memotong cepat. “Jangan sok peduli. Aku yakin, di dalam hatimu, kau merasa senang melihat aku jatuh seperti ini!”
Tatapan Alice melembut, penuh luka. Meskipun trauma kejadian kemarin masih membekas, hatinya tak mampu menumbuhkan dendam. Yang ada hanya iba.
“Tidak apa-apa kalau kau tidak mempercayaiku,” katanya lirih. “Aku hanya datang untuk mengembalikan ini kepadamu.”
Alice meraih tangan Rey, lalu meletakkan kunci motor di telapak tangannya. Ia tersenyum kecil, sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Rey terdiam, menatap kunci itu, lalu menatap punggung Alice yang menjauh. Perasaannya campur aduk—malu, marah, tapi juga tersentuh oleh kepedulian yang tak bisa ia pahami.
Flashback
Beberapa saat sebelumnya, setelah keributan di koridor mereda.
Alice memberanikan diri menghampiri Danzel yang masih memegang kunci motor Rey. Wajahnya menegang, kerutan halus muncul di keningnya.
“Danzel...” panggil Alice pelan.
Danzel menoleh, tatapannya masih menyimpan sisa amarah. “Ada apa, Alice?”
“Bisa kita bicara sebentar?”
Danzel terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia mengikuti Alice, meninggalkan koridor yang masih ramai oleh suara tawa dan bisik-bisik siswa. Mereka berhenti di sudut yang lebih sepi.
Alice menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Danzel. “Aku tahu, semua yang terjadi kepada Rey akhir-akhir ini tadi... itu karena kamu ingin membalas perbuatan Rey terhadap ku kan?
Danzel terdiam, matanya menelisik wajah Alice. Ia tidak menjawab, tapi sorot matanya jelas memberi isyarat: *ya, benar.*
Alice melanjutkan dengan suara lembut, “Aku sangat berterima kasih, Danzel. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku masih merasa terpuruk karena apa yang Rey lakukan. Tapi... menurutku, ini sudah cukup.”
“Cukup?” Danzel mengulang, keningnya berkerut. “Alice, dia sudah membuatmu menderita. Apa kamu lupa? Semua air matamu, semua rasa sakitmu... itu gara-gara dia! Dan sekarang kamu bilang cukup?”
Alice menunduk sejenak, menahan perasaan yang campur aduk. “Aku tidak lupa, Danzel. Justru karena aku tidak lupa, aku ingin berhenti di sini. Kalau balas dendam diteruskan, bukankah kamu hanya akan jadi sama seperti dia?”
Danzel mengepalkan tangannya, menunduk sebentar, lalu menatap Alice lagi.
Alice menatapnya dalam-dalam, senyum tipis menghiasi wajahnya meski matanya tampak sedih. “Aku ingin melihat kalian bisa kembali seperti dulu. Aku ingin kamu menghentikan hukuman ini kepada Rey. Dan biarkan Rey kembali berteman bersama Stella, Megan dan Mike."
Kata-kata itu membuat Danzel terdiam. Hatinya bergejolak.
Akhirnya, dengan helaan napas panjang, Danzel menoleh ke arah lain dan menyerahkan kunci motor itu ke tangan Alice. “baiklah kalau itu yang kamu mau Alice” katanya lirih,
Alice menerima kunci itu. “Terima kasih, Danzel...”
Danzel menatapnya, matanya melembut sejenak.