NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:34.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi penyelamatan

Ravela akan berpatroli ke pos medis yang berdiri di ujung kawasan padat penduduk, tidak terlalu jauh dari area barak.

Bangunannya sederhana, lebih mirip klinik darurat dengan tenda tambahan di sisi kanan dan kiri, sengaja ditempatkan dekat barak agar mudah dijangkau jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.

Ravela melangkah masuk dengan helm di tangan, senapan tergantung di punggungnya. Matanya menyapu sekeliling, beberapa ranjang terisi warga sipil antara lain, anak-anak, orang tua, juga perempuan sebagian terhubung infus, sebagian lain hanya dibalut perban seadanya.

Sebelum akhirnya tatapan Ravela berhenti pada seorang anak kecil yang berbaring lemah di ranjang pemeriksaan.

Di hadapannya, Devan tengah memeriksa kondisi anak tersebut.

Ravela mendekat dan berdiri di sisi ranjang. “Anak ini kenapa, Dok?” tanyanya.

Devan mengangkat kepala, lalu menurunkan stetoskop dan menggantungkannya di leher. Ia melirik sekilas ke arah Ravela. “Diare akut, Kapten. Dugaan kuat karena keracunan makanan.”

“Di sini, makanan dan air memang sulit dikontrol kebersihannya. Apalagi di kawasan padat seperti ini,” lanjut Devan menjelaskan.

Ravela mengangguk pelan. Pemandangan semacam ini bukan hal baru baginya. Ia sudah terlalu sering melihat dampak dari kemiskinan dan keterbatasan logistik di daerah konflik.

“Obatnya cukup?” tanya Ravela.

“Cukup untuk sementara,” jawab Devan jujur. “Tapi kalau suplai terlambat lagi, kami disini bisa kelimpungan.”

Ravela dan Devan menjadi akrab sejak tiga bulan lalu, setelah Devan tanpa ragu menjadi penerjemah dadakan saat Ravela kebingungan berkomunikasi dengan Youssef.

Ravela hendak menanggapi, namun sebelum sempat membuka suara, pintu pos medis terbuka keras. Suara benturannya membuat beberapa pasien menoleh.

Seorang perwira masuk dengan napas terengah, wajahnya tegang. Ia langsung berdiri tegak begitu melihat Ravela.

“Lapor, Komandan!” Dimas memberi hormat penuh.

Ravela segera menoleh ke arahnya. “Ada apa, Lettu?”

“Beberapa warga sipil disandera,” lapor Dimas cepat, suaranya ditahan agar tidak terdengar panik. “Diduga oleh kelompok bersenjata ilegal atau milisi. Lokasi penyanderaan ada di gedung tua, sekitar tiga kilometer dari sini.”

Ravela membeku sesaat. “Jumlah sandera dan motifnya apa?” tanyanya.

“Lebih dari sepuluh orang, Komandan. Termasuk perempuan dan anak-anak. Motif penyanderaan diduga untuk menekan aparat, dengan tuntutan logistik, senjata, serta akses aman untuk melarikan diri.”

Ravela menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Kumpulkan personel, sekarang!” perintahnya tegas.

“Siap, Komandan!” Dimas kembali memberi hormat, lalu berbalik cepat meninggalkan pos medis

Ravela berdiri di depan dua puluh personel yang sudah berkumpul di halaman belakang pos medis. Wajah-wajah di hadapannya tegang, menunggu perintah.

“Apakah kalian tahu kenapa saya mengumpulkan kalian di sini?” tanya Ravela lantang.

Beberapa prajurit saling melirik. Sebagian mengangguk, sebagian lain tetap diam.

“Bagi yang belum tahu, saya jelaskan sekarang,” lanjut Ravela. “Sekelompok milisi bersenjata menyandera warga sipil. Jumlah mereka lebih dari lima orang. Sandera yang mereka kuasai lebih dari sepuluh orang perempuan dan anak-anak. Motif penyanderaan diduga untuk menekan aparat, dengan tuntutan logistik, senjata, serta akses aman untuk melarikan diri.”

Suasana langsung menegang.

“Mereka menggunakan warga sipil sebagai tameng. Itu artinya kita tidak bisa sembarangan bergerak.”

Ravela berhenti sejenak, memastikan semua memperhatikan. “Tugas akan saya bagi menjadi beberapa tim,” ucapnya tegas.

“Tim pertama bertugas mengamankan area sekitar gedung. Pastikan tidak ada warga sipil yang mendekat dan tidak ada milisi yang kabur.”

Beberapa prajurit mengangguk paham.

“Tim kedua bertugas mengevakuasi sandera begitu gedung berhasil dikuasai. Prioritas perempuan dan anak-anak.”

Ravela lalu menggeser pandangan ke barisan depan. “Tim ketiga adalah tim penindak. Tim ini yang akan masuk lebih dulu, melumpuhkan milisi, dan membuka jalur aman.”

Ravela menatap mereka satu per satu. “Saya akan ikut di tim penindak.”

Tak ada yang protes. Semua sudah menduga itu.

“Begitu sandera keluar, tim medis langsung bergerak. Tidak ada yang ditinggal. Tidak ada yang bergerak sendiri. Apakah jelas?”

“Jelas, Komandan!” jawab mereka serempak.

Ravela mengangguk puas. “Lengkapi perlengkapan. Kita bergerak sekarang!”

Gedung tua itu berdiri sunyi di ujung kawasan kosong, terpisah dari pemukiman warga. Catnya mengelupas, dindingnya penuh retakan, dan beberapa jendela terlihat pecah.

Ravela mengangkat tangan, memberi isyarat untuk berhenti.

Semua personel membeku di posisi masing-masing.

Ravela menatap pintu utama yang sudah lapuk, lalu menggerakkan dua jarinya. “Masuk perlahan. Jangan sampai mereka sadar,” perintahnya pelan namun tegas.

Tim penindak bergerak cepat. Gema menempel di sisi pintu, Arya bersiap di seberang. Dalam hitungan detik, pintu didobrak dengan satu hentakan keras.

BRAK!

Suara tembakan langsung pecah di dalam ruangan.

Dor!

Dor!

Dua milisi (kelompok bersenjata ilegal) yang berjaga di balik meja tua langsung tersungkur, senapan mereka terlepas sebelum sempat mengarah.

Ravela masuk paling depan, menyapu ruangan dengan senjatanya. “Angkat tangan! Jangan bergerak!” teriaknya.

Teriakan panik sandera langsung memenuhi ruangan. Beberapa perempuan menjerit, anak-anak menangis ketakutan.

“Amankan sandera!” perintah Ravela.

Kirana dan Harris bergerak cepat ke arah sandera, melindungi mereka dengan tubuh dan senjata terangkat.

Sementara itu, dari lorong sisi kanan, seorang milisi lain muncul dan melepaskan tembakan membabi buta.

Dor!

Dor!

“Ada musuh di sebelah kanan!” Teriak Dimas.

Arya membalas tembakan. Peluru mengenai bahu milisi itu. Ia terhuyung, terjatuh, tapi masih hidup, merintih sambil berusaha meraih senjata api kecil tak jauh dari tempatnya.

“Jangan bergerak!” bentak Ravela.

Harris langsung menendang tangan milisi itu, menjauhkan dari senjata api tersebut.

“Dia terluka, tapi masih sadar,” lapor Harris cepat.

“Amankan!” jawab Ravela singkat.

Baku tembak kembali pecah dari lantai atas. Milisi lain menembak dari tangga, mencoba menahan tim.

Dor!

Dor!

Dor!

Peluru menghantam dinding, serpihan beton berhamburan.

“Jangan beri mereka celah!” perintah Ravela.

Gema dan Petra bergerak maju. Tembakan terarah membuat dua milisi lain tersungkur, satu roboh tak bergerak, satu lagi jatuh sambil menjerit kesakitan, kakinya terkena peluru.

Beberapa menit kemudian, suara tembakan berhenti.

Ruangan kembali hening, hanya tersisa suara napas berat dan isak sandera.

“Target sudah dikuasai, situasi terkendali,” lapor Dimas.

Sandera mulai digiring keluar satu per satu. Wajah-wajah mereka pucat, tubuh gemetar, tapi ada kelegaan saat melihat tentara berdiri melindungi mereka

Tim medis sudah bersiap di luar, langsung mengambil alih.

Namun sebelum Ravela sempat berbalik, seorang wanita paruh baya berlari mendekat, wajahnya basah oleh air mata. “Anakku!” teriaknya panik sambil menarik lengan Ravela. “Anakku belum keluar!”

Ravela menahan langkahnya, menatap perempuan itu. “Nama anak anda siapa?” tanyanya dalam bahasa Arab yang terdengar terbata.

“Youssef,” jawab wanita itu terisak.

Nama itu membuat Ravela tercekat. Youssef... anak laki-laki bermata hazel itu sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

Ravela menoleh cepat ke arah gedung. “Saya akan segera bawa dia keluar,” ucapnya.

Kirana langsung mendekat, “Komandan, jangan sendirian. Bisa jadi ada milisi yang masih tersisa atau jebakan.”

Ravela mengangguk, matanya tetap menatap pintu gedung yang kini hangus oleh bekas tembakan. “Saya tahu risikonya.”

Kirana menelan ludah. “Hati-hati, Komandan.”

Ravela hanya mengangguk sekali. Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan masuk kembali ke dalam gedung.

1
Icha sun
nah, ketakutan Kai jadi kenyataan. belum juga nikah udah ditinggalin 😅
Icha sun
hmmm... alasan Kai masuk akal juga ya. hmm, semoga Ravela gak begitu Kai, walopun tentara dia masih perempuan kok 🤭
GreenForest
gpp sih tanpa kehadiran mempelai wanitanya. tapi ... Kan kasihan atuh Vela. Kai bakal plonga plongo habis ijab
GreenForest
Siap-siap kalau debat nggak akan ada yang mau ngalah nih nanti.
Pengabdi Uji
bang kai ane ada ide krn ane honeymoon nya disana. tuh ada villa di puncak kolam berenang private indoor khusus utk pasutri baru loh🤭 hehe bisa nana nini di kolam loh🤭🤭 jus in po
Pengabdi Uji
🤣 blagak gila,lu jovan🤣 lu pkir laki cmn lu doang
Icha sun
Jovan emang redflag sih, 7 tahun putus gitu aja dengan alasan gak masuk akal. Untung ravela terselamatkan
Icha sun
Ravela pasti canti bgt ya Thor, aku plg suka dengan tentara perempuan. keliatan strong tapi sekaligus lembut
Aruna02
hempaskan yang ketauan selingkuh 😏
Aruna02
😭jangan banyak pemeran thor suka curigaan soal nya
Pengabdi Uji
Ada aja ya prempuan menggatal keknya kmaren habis tari terbitkah hana .. jodohin apaan orgnya dh kawin jir😌😌
Pengabdi Uji
Jelas lah vela bucin org kai nya jg sebaik itu 😌 worth it lah ya putus sma si jovan babik itu klo dptnya yg seperti kai🤭🤭
GreenForest
laki apaan kalau nggak mau berjuang kenapa harus pura-pura mau bertahan 😭😭😭
GreenForest
Baru pertama ketemu pak Kaivan udah jatuh cinta, mungkinkah bakal mengejar Komandan Ravela yang speknya bukan main2 ini.
Rivella
bgus tu, suka bnget gaya si vella. cowok kek Jovan memang pantas digituin 🤣
Rivella
jatuh cinta pada pandangan pertama ya kai🤭🤭
Pengabdi Uji
Lha 😌 itu lah blm mesra mesraan kang mas ud mo brangkat lg. Vela jg namany tentara agak susah izin kan ya jd nunggu aja barang kali nanti pas balik ydh pd siap blah duren montong🤪
Pengabdi Uji
Ih jauh dr kluarga julidah😌 enak bgt kehidupanya kai . Tp apakahh dikluarga kai si vela bkal disambit baik jg🤭
Istrinya James
Semoga endingnya bahagia❤🤍💜💙💚💛🧡
Istrinya James
jd cowok mmng hrs gentleman sprti raynand ini, lngsunv sat set✌️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!