NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi penyelamatan

Ravela akan berpatroli ke pos medis yang berdiri di ujung kawasan padat penduduk, tidak terlalu jauh dari area barak.

Bangunannya sederhana, lebih mirip klinik darurat dengan tenda tambahan di sisi kanan dan kiri, sengaja ditempatkan dekat barak agar mudah dijangkau jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.

Ravela melangkah masuk dengan helm di tangan, senapan tergantung di punggungnya. Matanya menyapu sekeliling, beberapa ranjang terisi warga sipil antara lain, anak-anak, orang tua, juga perempuan sebagian terhubung infus, sebagian lain hanya dibalut perban seadanya.

Sebelum akhirnya tatapan Ravela berhenti pada seorang anak kecil yang berbaring lemah di ranjang pemeriksaan.

Di hadapannya, Devan tengah memeriksa kondisi anak tersebut.

Ravela mendekat dan berdiri di sisi ranjang. “Anak ini kenapa, Dok?” tanyanya.

Devan mengangkat kepala, lalu menurunkan stetoskop dan menggantungkannya di leher. Ia melirik sekilas ke arah Ravela. “Diare akut, Kapten. Dugaan kuat karena keracunan makanan.”

“Di sini, makanan dan air memang sulit dikontrol kebersihannya. Apalagi di kawasan padat seperti ini,” lanjut Devan menjelaskan.

Ravela mengangguk pelan. Pemandangan semacam ini bukan hal baru baginya. Ia sudah terlalu sering melihat dampak dari kemiskinan dan keterbatasan logistik di daerah konflik.

“Obatnya cukup?” tanya Ravela.

“Cukup untuk sementara,” jawab Devan jujur. “Tapi kalau suplai terlambat lagi, kami disini bisa kelimpungan.”

Ravela dan Devan menjadi akrab sejak tiga bulan lalu, setelah Devan tanpa ragu menjadi penerjemah dadakan saat Ravela kebingungan berkomunikasi dengan Youssef.

Ravela hendak menanggapi, namun sebelum sempat membuka suara, pintu pos medis terbuka keras. Suara benturannya membuat beberapa pasien menoleh.

Seorang perwira masuk dengan napas terengah, wajahnya tegang. Ia langsung berdiri tegak begitu melihat Ravela.

“Lapor, Komandan!” Dimas memberi hormat penuh.

Ravela segera menoleh ke arahnya. “Ada apa, Lettu?”

“Beberapa warga sipil disandera,” lapor Dimas cepat, suaranya ditahan agar tidak terdengar panik. “Diduga oleh kelompok bersenjata ilegal atau milisi. Lokasi penyanderaan ada di gedung tua, sekitar tiga kilometer dari sini.”

Ravela membeku sesaat. “Jumlah sandera dan motifnya apa?” tanyanya.

“Lebih dari sepuluh orang, Komandan. Termasuk perempuan dan anak-anak. Motif penyanderaan diduga untuk menekan aparat, dengan tuntutan logistik, senjata, serta akses aman untuk melarikan diri.”

Ravela menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Kumpulkan personel, sekarang!” perintahnya tegas.

“Siap, Komandan!” Dimas kembali memberi hormat, lalu berbalik cepat meninggalkan pos medis

Ravela berdiri di depan dua puluh personel yang sudah berkumpul di halaman belakang pos medis. Wajah-wajah di hadapannya tegang, menunggu perintah.

“Apakah kalian tahu kenapa saya mengumpulkan kalian di sini?” tanya Ravela lantang.

Beberapa prajurit saling melirik. Sebagian mengangguk, sebagian lain tetap diam.

“Bagi yang belum tahu, saya jelaskan sekarang,” lanjut Ravela. “Sekelompok milisi bersenjata menyandera warga sipil. Jumlah mereka lebih dari lima orang. Sandera yang mereka kuasai lebih dari sepuluh orang perempuan dan anak-anak. Motif penyanderaan diduga untuk menekan aparat, dengan tuntutan logistik, senjata, serta akses aman untuk melarikan diri.”

Suasana langsung menegang.

“Mereka menggunakan warga sipil sebagai tameng. Itu artinya kita tidak bisa sembarangan bergerak.”

Ravela berhenti sejenak, memastikan semua memperhatikan. “Tugas akan saya bagi menjadi beberapa tim,” ucapnya tegas.

“Tim pertama bertugas mengamankan area sekitar gedung. Pastikan tidak ada warga sipil yang mendekat dan tidak ada milisi yang kabur.”

Beberapa prajurit mengangguk paham.

“Tim kedua bertugas mengevakuasi sandera begitu gedung berhasil dikuasai. Prioritas perempuan dan anak-anak.”

Ravela lalu menggeser pandangan ke barisan depan. “Tim ketiga adalah tim penindak. Tim ini yang akan masuk lebih dulu, melumpuhkan milisi, dan membuka jalur aman.”

Ravela menatap mereka satu per satu. “Saya akan ikut di tim penindak.”

Tak ada yang protes. Semua sudah menduga itu.

“Begitu sandera keluar, tim medis langsung bergerak. Tidak ada yang ditinggal. Tidak ada yang bergerak sendiri. Apakah jelas?”

“Jelas, Komandan!” jawab mereka serempak.

Ravela mengangguk puas. “Lengkapi perlengkapan. Kita bergerak sekarang!”

Gedung tua itu berdiri sunyi di ujung kawasan kosong, terpisah dari pemukiman warga. Catnya mengelupas, dindingnya penuh retakan, dan beberapa jendela terlihat pecah.

Ravela mengangkat tangan, memberi isyarat untuk berhenti.

Semua personel membeku di posisi masing-masing.

Ravela menatap pintu utama yang sudah lapuk, lalu menggerakkan dua jarinya. “Masuk perlahan. Jangan sampai mereka sadar,” perintahnya pelan namun tegas.

Tim penindak bergerak cepat. Gema menempel di sisi pintu, Arya bersiap di seberang. Dalam hitungan detik, pintu didobrak dengan satu hentakan keras.

BRAK!

Suara tembakan langsung pecah di dalam ruangan.

Dor!

Dor!

Dua milisi (kelompok bersenjata ilegal) yang berjaga di balik meja tua langsung tersungkur, senapan mereka terlepas sebelum sempat mengarah.

Ravela masuk paling depan, menyapu ruangan dengan senjatanya. “Angkat tangan! Jangan bergerak!” teriaknya.

Teriakan panik sandera langsung memenuhi ruangan. Beberapa perempuan menjerit, anak-anak menangis ketakutan.

“Amankan sandera!” perintah Ravela.

Kirana dan Harris bergerak cepat ke arah sandera, melindungi mereka dengan tubuh dan senjata terangkat.

Sementara itu, dari lorong sisi kanan, seorang milisi lain muncul dan melepaskan tembakan membabi buta.

Dor!

Dor!

“Ada musuh di sebelah kanan!” Teriak Dimas.

Arya membalas tembakan. Peluru mengenai bahu milisi itu. Ia terhuyung, terjatuh, tapi masih hidup, merintih sambil berusaha meraih senjata api kecil tak jauh dari tempatnya.

“Jangan bergerak!” bentak Ravela.

Harris langsung menendang tangan milisi itu, menjauhkan dari senjata api tersebut.

“Dia terluka, tapi masih sadar,” lapor Harris cepat.

“Amankan!” jawab Ravela singkat.

Baku tembak kembali pecah dari lantai atas. Milisi lain menembak dari tangga, mencoba menahan tim.

Dor!

Dor!

Dor!

Peluru menghantam dinding, serpihan beton berhamburan.

“Jangan beri mereka celah!” perintah Ravela.

Gema dan Petra bergerak maju. Tembakan terarah membuat dua milisi lain tersungkur, satu roboh tak bergerak, satu lagi jatuh sambil menjerit kesakitan, kakinya terkena peluru.

Beberapa menit kemudian, suara tembakan berhenti.

Ruangan kembali hening, hanya tersisa suara napas berat dan isak sandera.

“Target sudah dikuasai, situasi terkendali,” lapor Dimas.

Sandera mulai digiring keluar satu per satu. Wajah-wajah mereka pucat, tubuh gemetar, tapi ada kelegaan saat melihat tentara berdiri melindungi mereka

Tim medis sudah bersiap di luar, langsung mengambil alih.

Namun sebelum Ravela sempat berbalik, seorang wanita paruh baya berlari mendekat, wajahnya basah oleh air mata. “Anakku!” teriaknya panik sambil menarik lengan Ravela. “Anakku belum keluar!”

Ravela menahan langkahnya, menatap perempuan itu. “Nama anak anda siapa?” tanyanya dalam bahasa Arab yang terdengar terbata.

“Youssef,” jawab wanita itu terisak.

Nama itu membuat Ravela tercekat. Youssef... anak laki-laki bermata hazel itu sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

Ravela menoleh cepat ke arah gedung. “Saya akan segera bawa dia keluar,” ucapnya.

Kirana langsung mendekat, “Komandan, jangan sendirian. Bisa jadi ada milisi yang masih tersisa atau jebakan.”

Ravela mengangguk, matanya tetap menatap pintu gedung yang kini hangus oleh bekas tembakan. “Saya tahu risikonya.”

Kirana menelan ludah. “Hati-hati, Komandan.”

Ravela hanya mengangguk sekali. Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan masuk kembali ke dalam gedung.

1
Sinchan Gabut
lah, apa hub status tentara sama di gombalin suami Vel Vel... melemah d gombalin cwo lain baru salah 🤣🤣
Sinchan Gabut
Bangun Tari bangun... perlu di guyang air seember? 😏🤣
Kreatif Sendiri
terharu
Alessandro
pas mendung..... bab ini 🙈
Mutia Kim🍑: Hussttt😂
total 1 replies
Alessandro
kamu yg stromg aja meleleh, vela. gmn pembaca ini... meleyot lah pasti
Sunaryati
Kirain Kirana akan marah, syukur dia malah senang. Kalian jangan bersentuhan terlalu jauh sebelum sah di mata hukum.
Mutia Kim🍑: Huhuhu iya kak😭
total 1 replies
tami
plot twist nya bakal lucu kalo suaranya ga merdu 🤣
tami
jirr pede banget tuh si tari 😭
Sinchan Gabut
Gimana, gimana? Sudah SAH tp masih mikir di kira jd wanita gampangan? kalau km g hobah yg ada laki mu yg pindah haluan Vel...
Sinchan Gabut
Bagus Pak Kai, biar sekali2 Vella jg tau kalau lakinya jg butuh penjelasan 😏
Gisha Putri🌛
Tari kepedean bgt🥴
Aruna02
sabar buuu jangan ketus ketus loh 🤪
Aruna02
biarin atuh bangun juga 🤣🤣💋
Pengabdi Uji
Ah elah VELAA kentang bgt gue dibuatnya😌🤭
Pengabdi Uji
Yaudah lah Jovan nggak usah apasih namanya gitu gitu lagi, orangnya dh berkahwin😌
Sunaryati
Astaga Nak Kaivan, ngumpetin istri di kamar mandi adu mulut kalau kedengeran dari luar lenguhan Ravela gimana ? Aduh kaya orang selingkuh tak punya uang, 🤣🤣🤭
Alessandro
caper bgt ni jovan
Alessandro
tiba-tiba gerah thor.... 🔥
Mutia Kim🍑: Butuh AC kak? 😂
total 1 replies
Sunaryati
Haduh jadi seperti tebar pesona Nak Kaivan, padahal senyumnya hanya untuk istrinya Ravela. Kamu juga punya masa lalu, maka jangan marah jika Ravela juga memiliki masa lalu juga, bahkan masa lalunya berniat mengejarnya, namun jangan kuatir Nak Ravela teguh hatinya
Mutia Kim🍑: Bener kak, mereka berdua sama-sama punya masa lalu. Tapi tidak sama sekali Ravela untuk kembali bersama masa lalunya itu. Masa lalu tetaplah masa lalu🙂
total 1 replies
Sunaryati
Nak Kaivan tidak usah marah dan cemburu, Istrimu Nak Ravela, bisa jaga mata dan hati untukmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!