Dirga. Dia adalah pemuda lupa ingatan yang tak pernah bermimpi menjadi pendekar. Tapi ternyata Dewata berpikiran lain, Dirga ditakdirkan menjadi penyelamat Bumi dari upaya bangsa Iblis yang menjadikan Bumi sebagai pusat kekuasaannya. Berbekal pusaka Naga Api yang turun dari dunia Naga, dia berkelana bersama Ratnasari memberantas aliran hitam sebelum melawan Raja Iblis.
Lalu bagaimana akhir kisah cintanya dengan Ratnasari? Apakah Dirga akan setia pada satu hati, ataukah ada hati lain yang akan dia singgahi? Baca kisah selengkapnya dalam cerita silat Nusantara, Pusaka Naga Api. ikuti kisah Dirga hanya ada di disni wkwk. kalau ada kesamaan atau tempat author minta maaf mungkin hanya sekedar sama aja cerita nya mungki tidak, ikuti kisahnya dirga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fikri Anja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Buktinya kau tidak terbunuh dan baik-baik saja, bukan" sahut Sarwana sembari terkekeh. "Dan mengenai pohon-pohon itu, ada saatnya nanti kau pun akan melakukan yang sama. Jika pertarungan terjadi di dalam hutan, tumbangnya pepohonan adalah salah satu resiko yang akan muncul."
Dirga hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak akan mungkin bisa menang berdebat melawan mereka berdua yang secara pengalaman jauh lebih unggul. Tapi ada sesuatu yang patut dia syukuri, jika tadi dia tidak bertarung melawan Hydra, belum tentu dia bisa menguasai jurus puncak pertarungan tangan kosong kitab Raja Naga.
Kenekatannya menggunakan jurus yang belum pernah dia latih, ternyata membuahkan hasil besar. Kini dia hanya tinggal memolesnya untuk menyempurnakannya.
Sementara itu tadi, Ronggo dan tujuh orang muridnya yang sedang dalam perjalanan, dikejutkan dengan terjadinya ledakan di angkasa. Mereka berhenti dan mendongak ke atas untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
"Guru, ledakan apa itu?" tanya seorang murid Ronggo.
"Apa kau kira aku ini Dewa yang mengerti segala sesuatunya, Rengga!?" bentak Ronggo. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan tidak penting yang diajukan salah satu muridnya.
Mendapat bentakan dari gurunya, murid tersebut seketika menundukan kepalanya, "Aku minta maaf, Guru," ucapnya lirih.
"Sudahlah... Jangan diambil hati. Aku hanya lagi pusing dengan keadaan ini." Ronggo menatap sayu muridnya yang bernama Rengga.Pandangan lelaki tua itu kembali mengangkasa. Dia berharap dapat melihat Naga yang terlihat oleh 5 orang muridnya tempo hari. Namun sampai awan mendung menghilang tersapu angin, dia tidak melihat sosok Naga yang diharapkannya muncul.
Ronggo menghela napas berat. Dia kemudian memandang ketujuh muridnya yang berada di samping kanan kirinya. "Rengga, setelah kita sampai di hutan itu kita berpisah jalan. Kau bersama 2 orang saudaramu carilah informasi di dalam hutan. Tapi ingat, jangan terlalu masuk ke dalam biar kera sialan itu tidak membantai kalian!"
Rengga menelan ludahnya. Dia tahu betul bagaimana kekuatan kera besar yang sudah membantai begitu banyak pendekar, dan mendapat tugas seperti itu adalah sebuah pilihan yang begitu berat buatnya. Tapi dia juga tidak mungkin untuk menolak perintah gurunya karena pasti akan mendapat hukuman yang bisa dibilang tidak ringan.Lelaki berumur 30 tahunan itu mengganggukkan kepalanya tanpa bersuara sedikitpun untuk menerima perintah Ronggo.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan!" Ronggo memacu kudanya cepat menyusuri jalanan setapak yang mengarah ke hutan tempat Jurang Panguripan berada. Di belakangnya, ketujuh muridnya juga memacu kudanya masing-masing mengikutinya.
Di dalam jurang Panguripan, tepatnya di dalam pondok yang selama ini menjadi kediaman Sarwana, Dirga sudah berganti pakaian yang diberikan oleh kera besar tersebut. Menurut penuturan Sarwana, pakaian yang dia berikan kepada Dirga itu adalah milik mendiang sahabatnya yang dijaganya dengan baik, hingga masih terlihat bagus dan kuat meski sudah berumur seratus tahun lebih.
"Kenapa kau tidak mempelajari jurus pedang, Dirga? Setahuku kau mempelajari jurus tangan kosong saja sejauh ini," tanya Sarwana.
"Aku tidak punya alasan khusus untuk itu. Tapi menurutku, setiap jurus yang menggunakan senjata, pasti diawali dengan jurus tangan kosong. Semakin kita lihai bertarung dengan tangan kosong, maka pergerakan kita dalam menggunakan senjata akan lebih lincah," jawab Dirga. Dia kemudian berdiri dan bersiap untuk kembali berlatih. "Aku berlatih dulu!"
Hydra dan Sarwana hanya terbengong mendengar alasan Dirga. Mereka berdua menatap pemuda tampan itu yang berjalan keluar dari gubuk.
"Sepertinya dia berbeda dengan para pendekar pada umumnya. Dirga lebih menggunakan pikirannya untuk mengembangkan kemampuannya," kata Sarwana.
Hydra tersenyum tipis. Dia membenarkan ucapan Sarwana yang berisi pujian terhadap Dirga.
"Kau mungkin belum pernah bertarung dengannya, Sarwana. Tapi aku sudah merasakan sendiri bagaimana dia bisa berpikir cepat ketika sedang bertarung. Kau tahu sendiri jika dia menguasai jurus Cakar Naga Membelah Angkasa tanpa melatihnya, meski belum sempurna betul."
"Kau benar, Hydra. Aku tidak habis pikir dengan keistimewaan yang dimilikinya. Bagaimana bisa semuda itu, tapi bisa mengembangkan pikirannya sedemikian rupa," balas Sarwana. Senyumnya sedikit terkembang merasakan kagumnya kepada Dirga.
"Apa kau tidak tahu siapa orang tuanya?" tanya Hydra penasaran.
"Kenapa kau sampai berpikir untuk bertanya tentang orang tuanya?" Sarwana terkekeh pelan.
"Tidak apa-apa. Cuma aku berpikir jika dia bukan dari kalangan biasa. Kemampuan berpikirnya jauh di atas rata-rata pemuda pada umumnya."
"Menurut cerita yang dia sampaikan kepadaku setelah aku menyembuhkan lukanya, dia bilang jika tidak ingat apa-apa. Dan nama Dirga sendiri adalah yang diberikannya kepada sindikat penjualan manusia yang menangkapnya," balas Sarwana sebelum dia bangkit berdiri untuk melihat latihan yang dilakukan Dirga.
Hydra menyusul berdiri dan juga keluar dari pondok kecil itu menyusul Sarwana.
Hari berlalu cepat. Ronggo dan muridnya akhirnya sampai di bibir hutan. Sesuai perintah lelaki tua itu, Rengga dan dua orang saudara seperguruannya berpisah jalan. Mereka bertiga masuk ke dalam hutan, sedang Ronggo dan 4 murid lainnya meneruskan perjalanan menuju Perguruan Rajawali Iblis.
Suasana di dalam hutan begitu hening. Setelah kejadian yang merenggut puluhan nyawa pendekar, tidak ada satupun lagi yang berani memasuki hutan tersebut.Rengga dan dua orang lainnya mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mengawasi situasi. Jantung mereka berdegup begitu kencang dipacu oleh rasa takut yang mendera pikiran.
"Rengga, apa sebaiknya kita berhenti saja sampai di sini? Apa kau ingin kita mati sia-sia bila bertemu kera besar itu?" kata seorang teman Rengga. Tampaknya kematian lebih membuatnya ketakutan dari pada kemarahan yang akan didapatnya dari gurunya.
"Kalau guru bertanya apa informasi yang kita dapatkan bagaimana?" tanya Rengga.
"Kita bikin alasan yang bagus. Tapi kita bertiga harus sepakat biar tidak ada yang salah menjawab."
Rengga menghela napas berat. Dia juga takut jika kematian datang menjemputnya. "Begini saja, kita masuk sedikit lebih ke dalam. Setelah itu kita diam di situ sampai besok. Jika tidak ada apa-apa, ataupun ada informasi yang kita dapatkan, kita susul guru ke perguruan Rajawali Iblis. "
Kedua teman Rengga mengangguk. Mereka setuju dengan usul yang disampaikan murid kesayangan Ronggo tersebut.
Ketiganya kembali melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini mereka memilih untuk berjalan karena derap kaki dan suara kuda rawan untuk terdengar.
Dua ratus meter berjalan, tiba-tiba saja mereka berhenti setelah dikejutkan dengan suara ledakan kecil yang terdengar.
"Apakah ada pertarungan lagi?" Hati Rengga bertanya-tanya.
Kedua teman Rengga pun berpikiran serupa. Mereka mengira jika ada pertarungan tidak jauh dari tempat mereka berhenti.Setelah saling berpandangan, mereka sepakat untuk melihat lebih dekat. Dengan berjalan mengendap-endap dan kemudian berhenti di sebuah pohon besar, mereka melihat pemuda yang tempo hari membantu kera besar, sedang berlatih sendirian.