Shanna Viarsa Darmawan melakukan kesalahan besar dengan menyerahkan kehormatannya pada Rivan Andrea Wiratama. Kepercayaannya yang begitu besar setelah tiga tahun berpacaran berakhir dengan pengkhianatan. Rivan meninggalkannya begitu saja, memaksa Shanna menanggung segalanya seorang diri. Namun, di balik luka itu, takdir justru mempertemukannya dengan Damian Alexander Wiratama—paman Rivan, adik kandung dari ibu Rivan, Mega Wiratama.
Di tengah keputusasaan, Damian menjadi satu-satunya harapan Shanna untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi apa yang akan ia temui? Uluran tangan, atau justru penolakan yang semakin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Menikah
Shanna berdiri di samping ranjang, menatap Damian yang sibuk dengan ponselnya.
"Om, saya tidur di mana?" tanyanya ragu.
"Di sini," jawab Damian singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Berdua?"
"Iya."
"Sama om?"
"Sama siapa lagi?"
Shanna menggigit bibirnya, merasa canggung. "Saya di sofa aja ya, om."
Damian akhirnya menoleh, menatapnya datar. "Kamu lagi hamil, Shanna."
"Tapi, om—"
"Kenapa lagi? Mau minta saya tidur di sofa?" Damian mendengus pelan. "Gak ada ya, saya gak sedermawan itu merelakan kasur empuk buat sekadar sakit pinggang."
Shanna terdiam, tapi tetap ragu. "Jadi saya beneran harus tidur sama om?"
"Iya. Kamu mau tidur sekarang, atau mau saya tidurin?"
Mata Shanna langsung membulat, wajahnya memanas. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia buru-buru naik ke ranjang, menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya, lalu berbalik membelakangi Damian.
"Dari tadi kek, gitu aja repot, mesti debat dulu," gerutu Damian sebelum kembali fokus pada ponselnya.
Shanna memaksakan diri untuk memejamkan mata, meski jantungnya masih berdegup kencang. Ia hanya berharap tidak ada hal yang terjadi malam itu.
Suasana kamar begitu hening. Damian melirik ke samping dan mendapati Shanna sudah tertidur lelap. Tidak, tentu saja tidak akan terjadi apa-apa. Lagipula, apa yang bisa ia lakukan pada gadis sekecil dan serapuh Shanna?
Pikirannya melayang pada Rivan, membuat rahangnya mengatup keras. Tanpa sadar, jemarinya mengepal. Betapa tega keponakannya itu mengeksploitasi gadis sepolos Shanna hingga membuatnya hamil di usia yang begitu muda.
Damian menarik napas panjang lalu membaringkan diri di sisi ranjang, menjaga jarak agar mereka tidak bersentuhan. Perlahan, rasa kantuk menyerangnya, membuat matanya terpejam dalam tidur yang cukup lelap.
Namun, suara gemericik air dari kamar mandi membangunkannya. Terdengar suara seseorang muntah-muntah. Damian terdiam sejenak, sedikit bingung, sampai akhirnya ia tersadar—Shanna.
Ia segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
“Kamu baik-baik saja, Shanna?” tanyanya, suaranya terdengar datar meski matanya menyiratkan perhatian.
Shanna terduduk lemas di dekat wastafel, tangannya memegangi perutnya yang masih terasa mual. “Mual, om,” keluhnya lirih.
“Mau ke rumah sakit sekarang?” tawar Damian tanpa banyak basa-basi.
Shanna menatapnya sekilas. Ia tahu pria itu peduli, tetapi kenapa caranya selalu terasa begitu dingin?
“Gak usah, om. Aku baik-baik aja,” jawabnya lemah.
Damian menghela napas berat. “Besok saya bawa kamu ke dokter kandungan,” ucapnya tegas, tak memberi ruang untuk perdebatan.
Shanna hanya mengangguk pelan. Ia tak punya energi untuk berdebat dengan Damian, terlebih tubuhnya masih terasa lemah akibat mual yang terus menghantui.
Damian meraih segelas air dan menyerahkannya pada Shanna. "Minum dulu."
Shanna menerima gelas itu dengan tangan gemetar, lalu menyesapnya perlahan. Air hangat itu sedikit membantu meredakan rasa tak nyaman di perutnya.
"Kalau masih mual, bilang. Jangan dipendam sendiri," ujar Damian, kali ini suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Shanna menatapnya sejenak. Meski pria itu sering terdengar ketus dan kaku, namun tetap ada perhatian di balik sikapnya.
"Terima kasih, om," ucapnya pelan.
Damian tak merespons. Ia hanya menatap Shanna sekilas sebelum berbalik keluar dari kamar mandi.
Shanna menghela napas panjang. Rasanya ia ingin menangis, bukan hanya karena kehamilannya yang membuat emosinya tak stabil, tetapi juga karena semua hal yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini.
Kenapa semua harus begini? Kenapa ia harus terjebak dalam pernikahan ini?
Namun, di balik semua pertanyaan itu, ada satu hal yang ia sadari—Damian mungkin bukan pria yang hangat, tapi setidaknya ia tidak membiarkannya menghadapi semuanya sendirian.
Shanna kembali ke ranjang dengan tubuh lelah. Ia menarik selimut hingga ke dada, menatap langit-langit kamar hotel yang terasa asing.
Di sisi lain, Damian duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya. Entah sedang bekerja atau sekadar mengalihkan pikirannya dari kekacauan yang kini menjadi bagian dari hidup mereka.
Shanna memejamkan mata, mencoba mencari kenyamanan. Namun, pikirannya terus berputar. Kenyataan bahwa ia kini menjadi istri Damian masih sulit ia cerna.
Damian bukan pria yang kasar, tapi ia juga bukan seseorang yang mudah ditebak. Sikapnya dingin, tapi tetap bertanggung jawab. Ia peduli, namun tak menunjukkan kelembutan.
Shanna menghela napas pelan. "Om, besok kita pulang ke rumah atau gimana?" tanyanya, suaranya nyaris seperti bisikan.
Damian menoleh sekilas. "Kita tinggal di rumah saya," jawabnya singkat.
"Rumah om yang mana?"
"Yang jelas bukan di rumah orangtua saya. Saya tau kamu tidak nyaman dengan keluarga saya. Itu rumah pribadi saya di pusat kota, dekat ke rumah sakit."
Shanna terdiam. Ia tidak menyangka akan benar-benar tinggal satu atap dengan Damian.
"Om yakin nggak keberatan saya tinggal di sana?" tanyanya hati-hati.
Damian menatapnya tajam. "Kamu istri saya sekarang, Shanna. Mau di mana lagi kalau bukan di rumah suami?"
Jawaban itu membuat tenggorokan Shanna terasa kering. Ada sesuatu dalam nada bicara Damian yang membuatnya sulit bernapas lega.
Ia tak punya pilihan lain. Hidupnya kini berada di jalur yang sama sekali tak ia rencanakan.
Shanna mengangguk lalu kembali memalingkan wajahnya, berbalik mencari posisi yang nyaman agar perutnya tak lagi bergejolak.
Pagi pun tiba. Damian sudah bangun lebih dulu. Saat Shanna membuka mata, ia mendapati tempat tidur di sebelahnya kosong. Pandangannya beredar mencari sosok lelaki itu, hingga akhirnya tertuju pada pintu kaca menuju balkon.
Damian berdiri di sana, memegang cangkir di tangannya—mungkin kopi. Tatapannya lurus ke arah langit kota yang mulai terang.
Shanna bangkit perlahan, merapikan rambutnya sebelum mengenakan piyama dengan lebih rapi. Ia berjalan mendekat.
"Om," panggilnya pelan.
"Hmm?" Damian menoleh sekilas.
"Sedang apa?"
"Melihat langit kota pagi ini," jawabnya santai.
"Udah sarapan?"
"Belum. Saya nunggu kamu."
Shanna mengernyit. "Kenapa nggak bangunin?"
"Kamu perlu banyak istirahat, jadi buat apa saya bangunin?" jawab Damian tanpa mengalihkan pandangan dari cangkirnya.
Shanna terdiam, tak tahu harus merespons seperti apa.
"Mau sarapan di sini atau ke bawah?" tanya Damian akhirnya.
"Di sini aja, Om. Saya nggak suka keramaian."
"Oke, biar saya pesenin. Kamu mau apa?"
"Apapun yang penting nasi."
"Baiklah. Kamu mandi dulu aja," ujar Damian sebelum kembali menyesap kopinya.
Shanna mengangguk, lalu melangkah ke kamar mandi dengan perasaan yang sulit ia definisikan.
Damian menatap kepergian Shanna sebelum meraih telepon di dalam kamar. Ia menghubungi pihak hotel, memesan sarapan dengan menu yang sekiranya cocok untuk Shanna. Setelahnya, ia menyandarkan tubuh di kursi, menyesap kopi yang mulai mendingin. Pandangannya terpaku pada langit kota yang perlahan terang, sementara pikirannya melayang, mencoba memahami perubahan besar yang kini mengikat hidupnya.