NovelToon NovelToon
Manuskrip Vyonich

Manuskrip Vyonich

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Cinta Terlarang / Epik Petualangan / Persahabatan / Romansa
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Rifa'i

Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.

Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.

Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Yang Mengintai

Angin malam berembus tajam saat Arka, Kiara, dan Ezra berlari keluar dari kuil kuno, membawa Kristal Inti Orbis yang kini bersinar lembut di tangan Arka. Di kejauhan, gurun luas terbentang di bawah langit bertabur bintang. Namun, mereka tahu bahwa perjalanan mereka belum berakhir, karena di balik bayangan, musuh lama telah menunggu.

Dari puncak bukit berbatu, beberapa sosok muncul. Mata mereka berkilat dalam kegelapan, dan senjata mereka berkilau di bawah sinar bulan.

“Arka, mereka datang dari dua arah,” bisik Kiara, menarik belatinya.

Ezra mendengus, mengokang senjatanya. “Sudah kuduga. Mereka tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja.”

Arka menggenggam kristal lebih erat. Mereka baru saja memperoleh sesuatu yang bisa mengubah dunia, tetapi mereka harus bertahan hidup terlebih dahulu untuk bisa menggunakannya.

Dari kelompok musuh, seorang pria bertudung maju ke depan. Langkahnya mantap, dan ada sesuatu dalam gerakannya yang terasa familiar.

Ketika dia melepaskan tudungnya, Kiara tersentak. “Dragan?!”

Mantan sekutu mereka yang selama ini dianggap tewas kini berdiri di hadapan mereka, hidup-hidup, dan berpihak pada Ordo Malakir.

Arka menatapnya tajam. “Jadi, selama ini kau masih hidup… dan bekerja untuk mereka?”

Dragan tersenyum sinis. “Aku tidak bekerja untuk siapa pun, Arka. Aku bekerja untuk masa depan.”

Ezra menggeram. “Jangan berbicara seolah kau penyelamat dunia. Kau hanya pengecut yang bersembunyi di balik kekuatan mereka.”

Dragan tertawa kecil. “Dan kalian berpikir kalian bisa menjaga kristal itu sendiri? Kalian tahu betapa berbahayanya benda itu jika jatuh ke tangan yang salah.”

Arka mengangkat alisnya. “Dan kau menganggap tangan Malakir adalah tangan yang benar?”

Dragan tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia memberi isyarat.

Dari bayangan, lebih banyak pasukan musuh muncul.

Tidak ada waktu untuk berpikir lebih lama.

Dalam sekejap, pertarungan pun dimulai.

Kiara bergerak cepat, berputar dan menghindari tebasan pedang dari salah satu prajurit Malakir. Dengan satu gerakan lincah, dia menusukkan belatinya ke sisi lawan dan menghempaskannya ke tanah.

Ezra melepaskan beberapa tembakan cepat, mengenai dua musuh yang mencoba mengitari mereka. Debu beterbangan di sekitar mereka, menciptakan bayangan samar di bawah cahaya bulan.

Sementara itu, Arka menghadapi Dragan secara langsung. Pedang mereka beradu, menghasilkan suara dentingan yang menggema di malam hari.

“Berhenti melawan, Arka,” kata Dragan dengan suara rendah. “Kau tahu ini tidak ada gunanya.”

Arka tidak menjawab. Dia hanya mendorong lebih keras, memaksa Dragan mundur beberapa langkah.

Tapi Dragan hanya tersenyum. “Kau masih keras kepala seperti dulu.”

Di tengah pertarungan, Kristal Inti Orbis mulai berpendar lebih terang. Energinya berdenyut, seolah merasakan konflik yang terjadi di sekelilingnya.

Arka tiba-tiba merasa sesuatu berubah dalam dirinya.

Dunia di sekitarnya tampak melambat. Dia bisa melihat setiap gerakan musuh dengan lebih jelas, bisa merasakan energi yang mengalir dalam dirinya.

Kiara dan Ezra menyadari perubahan itu juga. Mata Arka tampak berkilauan sesaat, seolah-olah dia telah terhubung dengan sesuatu yang lebih besar.

Dragan menyipitkan mata. “Jadi… kau sudah mulai merasakannya, ya?”

Arka mengatupkan rahangnya. “Aku tidak akan membiarkan kekuatan ini jatuh ke tanganmu.”

Dia mengangkat tangannya, dan untuk sesaat, udara di sekitar mereka bergetar. Pasir-pasir di sekitar mereka berputar seperti terangkat oleh kekuatan yang tak terlihat.

Para prajurit Malakir tampak ragu. Mereka belum pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya.

Dragan mengangkat tangannya. “Mundur!”

Pasukan Malakir mulai menarik diri, menghilang ke dalam kegelapan. Dragan menatap Arka untuk terakhir kalinya sebelum tersenyum kecil. “Kita akan bertemu lagi.”

Dan dengan itu, dia pun menghilang bersama yang lain.

Saat semuanya kembali tenang, Kiara menoleh ke Arka. “Apa yang baru saja terjadi?”

Arka menggeleng. “Aku tidak tahu… tapi aku merasa aku mulai memahami kristal ini. Ini bukan hanya sumber energi biasa. Ini adalah sesuatu yang lebih besar.”

Ezra menyarungkan senjatanya. “Kalau begitu, kita harus mencari tahu lebih banyak sebelum musuh kita kembali.”

Arka menatap ke kejauhan, ke arah cakrawala yang mulai berubah warna seiring dengan datangnya fajar.

Mereka telah memenangkan pertempuran malam ini. Tapi perang yang lebih besar masih menunggu di depan.

Dan mereka harus siap.

Saat fajar mulai menyingsing, mereka bergegas menuju kota terdekat, Kota Bayangan, tempat para peneliti dan pemburu relik berkumpul. Kota ini tersembunyi di balik tebing-tebing tinggi dan hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tahu jalannya.

Setelah berjalan sepanjang malam, mereka akhirnya tiba di gerbang kota. Seorang penjaga bersenjata berat menatap mereka dengan curiga sebelum akhirnya mengizinkan mereka masuk.

Di dalam, suasana berbeda dari kota biasa. Pasar bawah tanah yang ramai, tenda-tenda pedagang yang menjual barang-barang langka, dan orang-orang berbicara dalam bisikan seolah-olah setiap kata bisa membawa masalah.

Mereka menuju Rumah Para Ahli, tempat seorang profesor tua bernama Lucien Varros menunggu mereka.

Saat mereka masuk ke dalam ruangan berisi gulungan peta dan manuskrip kuno, Lucien mendongak dari balik kacamatanya.

“Jadi,” katanya sambil menghela napas. “Kalian akhirnya menemukannya.”

Arka meletakkan Kristal Inti Orbis di atas meja. “Ya. Dan kami butuh jawaban.”

Lucien menatap kristal itu dengan tatapan penuh arti sebelum berkata pelan, “Maka bersiaplah, karena apa yang akan kalian pelajari bisa mengubah segalanya.”

1
Diana Dwiari
berasa nonton film lara croft
Ahmad Rifa'i: terima kasih kak sudah mampir ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!