Bunga itu telah layu sejak lama, menyisakan kelopak hitam yang berjatuhan, seperti itulah hidup Hanna Alaya Zahira saat ini, layu dan gelap.Hanna adalah seorang sekretaris yang merangkap menjadi pemuas nafsu bosnya, mengantungi pundi-pundi uang dalam rekeningnya, namun bukan tanpa tujuan dia melakukan itu. Sebuah rahasia besar di simpan bertahun-tahun. Pembalasan dendam.. Edgar Emilio Bastian bos yang dia anggap sebagai jembatan mencapai tujuannya menjadikannya simpanan dibalik name tag sekretarisnya, membuat jalannya semakin mulus. Namun, di detik-detik terakhir pembalasan dendam itu dia justru terjerat semakin dalam pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Yang Terjebak
Disaat Edgar dan Hanna memadu kasih, Dani memeriksa CCTV Resto And Karaoke, tempat Edgar melakukan pertemuan tadi malam.
Dari vidio yang di terima Edgar, orang yang merekam ada di dalam dan sepertinya duduk di sudut restoran, hingga kini Dani memeriksa cctv untuk melihat siapa yang menjadi mata- mata Siska.
Dani menaikan alisnya saat melihat Hanna keluar dari restoran dengan memegang ponselnya, lalu rekaman dia alihkan ke parkiran dimana Hanna masih memperhatikan Edgar dengan ponselnya.
Dani berdecak dengan menyandarkan punggungnya di kursi. "Hapus rekaman ini," ucapnya pada keamanan setelah menyalin rekaman tersebut. Lalu dia bangkit dengan menempelkan ponsel di telinganya.
Telepon berdering, namun Edgar tak juga menerima panggilannya. Dani mendengus, sudah pasti Edgar sedang bersenang-senang bersama Hanna.
Pria itu, Dani tak mengerti dengan pemikirannya. Dia tahu apa tujuan Hanna mendekatinya, tapi dia tak menyingkirkannya. Tunggu saat Edgar tahu kalau Hanna adalah mata- mata Siska.
Dani menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu, lalu bergegas memasuki mobilnya untuk menuju hotel tempat Edgar menginap.
...
Edgar membuka matanya saat terdengar suara pintu di ketuk. Edgar melihat ke arah Hanna yang juga terlelap setelah kegiatan panas mereka.
Edgar menaikan selimut untuk menutupi tubuh Hanna, lalu menurunkan kaki dan berjalan ke arah pintu setelah meraih bathrobe untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Edgar berdecak malas saat melihat Dani berdiri di depan pintu.
"Kamu benar-benar tidak membiarkan aku istirahat?" Dani menaikan alisnya saat melihat bosnya hanya mengenakan bathrobe lalu melihat ke arah ranjang dan melihat Hanna yang seluruh tubuhnya tertutup selimut menyisakan bagian kepalanya saja.
"Maaf, Pak." Edgar memang belum istirahat sejak semalam pergi ke Resto Dan Karaoke untuk bertemu dengan rekan bisnis barunya yang ternyata gila wanita, hingga Edgar harus ikut menggandeng seorang LC keluar untuk harga dirinya.
Setelah memastikan rekan bisnisnya tak terlihat, Edgar menurunkan sang LC di jalanan, tak peduli wanita itu mengumpat kesal karenanya. Setelah itu Edgar harus menyelesaikan pekerjaannya yang lain yang berlangsung hingga pagi. Tapi, parahnya kejadian itu justru dimanfaatkan Hanna untuk mengirimkan rekaman vidio tersebut pada Siska.
Tapi Dani pun sama dia juga belum istirahat. Lebih mending bosnya masih bisa ena- ena dengan sekretarisnya, sementara dirinya, hanya mampu melengos saat melihat bekas percintaan mereka dimana semua pakaian berserakan dimana-mana.
Dani mengikuti Edgar untuk duduk di sofa lalu segera memberikan salinan rekaman cctv yang baru saja dia dapatkan.
Edgar memutar vidio di ponsel Dani, lalu menatap ke arah Hanna. "Apa yang akan anda lakukan Pak?"
Edgar memijat pelipisnya. "Astaga." Lalu dia terkekeh.
"Saya pikir tidak mungkin dia ada di pihak Nyonya bukan?" Dani melihat ke arah ranjang, yang berjarak beberapa meter, lalu menatap Edgar. Tidak mungkin Hanna mendengar, kan? Karena mereka bicara cukup pelan. "Setidaknya itu pemikiran saya saat menunju kesini."
Edgar mengangguk. "Karena kalau iya, semua rencananya mungkin gagal. Tapi Dani kita tidak tahu tujuan dia sebenarnya mendekatiku, apakah dia memang ingin membalas dendam atau tidak."
Dani menggaruk rambutnya, dengan sedikit kesal. Bilang saja Edgar masih membutuhkan servis dari Hanna. "Pak, apa anda tak mau mencobanya dengan wanita lain? Wanita yang tidak beresiko untuk tujuan anda? Siapa tahu sekarang bisa?"
"Aku pikir musuh dari musuh kita adalah sahabat kita, Dani," ucap Edgar. "Lagi pula sepertinya dia mulai benar-benar menyukaiku." dia terkekeh.
Dani menggigit bibir dalamnya. Apa Edgar berencana menjerat Hanna? Kalau iya Hanna yang dalam bahaya.
Dani menggeleng karena merasa kasihan. Tapi itu bukan urusannya kan. "Tapi, Pak. Anda harus berhati-hati. Jangan sampai anda yang terjebak permaianan anda sendiri."
"Dia yang akan terjebak dalam permainannya sendiri Dani, siapa suruh memanfaatkan aku."
Dani mengangguk, Edgar benar. Seharusnya Hanna tak pernah datang pada Edgar.
Edgar melihat Hanna yang menggeliat membuatnya menginstruksikan Dani untuk segera pergi.
Dani mengangguk, dan pergi sebelum Hanna terbangun.
Hanna mengusap matanya lalu mendudukan dirinya. "Ada yang datang?"
"Hm, Dani." Edgar melangkah ke arah ranjang.
"Ada apa?" Hanna mengerutkan keningnya.
"Hanya urusan pekerjaan," ucap Edgar dengan mendudukkan dirinya di sebelah Hanna.
"Kamu terus bekerja, apa tidak ada waktu untuk istirahat?"
Edgar menggeleng. "Waktu istirahatku hanya saat bersama kamu."
Hanna terkekeh. "Itu tidak benar-benar istirahat, kamu masih harus berkeringat saat bersamaku."
"Ya, karena kamu terlalu memabukkan, aku tidak bisa membiarkan kamu diam."
Hanna tertawa saat Edgar mengecupi lehernya membuatnya geli.
"Mau mandi bersama?" Hanna menahan wajah Edgar yang terus saja menggodanya dengan ciuman di sekitar lehernya.
Edgar menyeringai. "Baiklah." Edgar akan turun dari ranjang, namun, Hanna justru melingkarkan tangannya di bahu Edgar lalu menaikan kakinya melingkari pinggang Edgar.
Edgar terkekeh, tapi tak memprotes dan bangun dengan Hanna yang menempel padanya seperti koala, membawa Hanna ke arah kamar mandi.