Pelacur mahal milik Wali Kota. Kisah Rhaelle Lussya, pelacur metropolitan yang menjual jiwa dan raganya dengan harga tertinggi kepada Arlo Pieter William, pengusaha kaya raya dan calon pejabat kota yang penuh ambisi.
Permainan berbahaya dimulai. Asmara yang menari di atas bara api.
Siapakah yang akan terbakar habis lebih dulu? Rahasia tersembunyi, dan taruhannya adalah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arindarast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Macan alaska vs Rubah lincah
Marco, yang masih memegang tangan Rhaell, terlihat terkejut dengan pernyataan Arlo yang tiba-tiba. Ia tidak menyangka Arlo akan bertindak seberani itu. Rhaell sendiri juga hampir meledak saking terkejutnya. Sejauh mana mereka akan membawanya ke neraka?
Rhaell melepas kedua tangan yang menggenggamnya. Tatapan semua orang tertuju padanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk meredakan ketegangan yang sudah mencapai puncaknya.
Dengan suara tenang namun tegas, Rhaell berkata, “selamat malam. Sebelumnya mungkin anda bingung, kenapa wanita seperti saya ada di rumah ini. Saya pun sama bingungnya seperti anda. Nama saya Rhaell Lussya, saya bukan teman Marco ataupun calon istri Arlo. Saya... saya hanya seorang pelacur yang kebetulan dibayar oleh anak-anak anda.”
Pernyataan Rhaell mengguncang seisi ruangan. Ibu Arlo ternganga, penuh ketidak percayaan. Ia tidak menyangka akan mendengar sebuah pengakuan biadab seperti itu.
Rhaell sendiri tersenyum tanpa penyesalan, ia tidak akan membuat seorang dihadapannya itu salah paham dengan kebohongan yang diciptakan anak-anaknya. Lebih tepatnya, dia sudah muak dengan melibatkan diri pada keluarga ini. ‘Mode Rhaell’ sepenuhnya aktif kembali.
Atlas melihat celah untuk menyelamatkan situasi yang sudah di luar kendali. Ia ingat jadwal Ibu Arlo. Dengan sigap, ia melangkah mendekati Ibu Arlo yang masih belum bergeming.
“Bu,” kata Atlas dengan suara tenang, “acara perayaan hotel Mr. Simon akan segera dimulai. Mobilnya sudah menunggu di depan.” Ia menambahkan dengan nada yang lebih lembut, “Saya rasa, akan lebih baik jika Ibu segera bersiap. Kita tidak ingin membuat Mr. Simon menunggu.”
Atlas tahu ini adalah kesempatan emas untuk meredakan ketegangan. Ia berusaha mengalihkan perhatian Ibu Arlo dari situasi yang pelik di dapur. Ia berharap dengan mengarahkan perhatian Ibu Arlo ke acara Mr. Simon, konflik yang baru saja meletus bisa diredakan sementara waktu.
Ibu Arlo, yang masih dalam keadaan terkejut dan marah, terdiam sejenak. Ia menatap Rhaell, kemudian ke Arlo dan Marco, lalu kembali ke Atlas.
Atlas melanjutkan, “Mobilnya sudah menunggu, Bu. Kita tidak ingin membuat Mr. Simon kecewa.” Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang dan ramah, mencoba untuk meyakinkan Ibu Arlo agar mau pergi. Ia tahu bahwa jika Ibu Arlo tetap tinggal, konflik akan semakin membesar.
Setelah beberapa saat terdiam, Ibu Arlo menghela napas panjang. Ia masih terlihat marah, tetapi janji menghadiri acara rekan bisnisnya lebih penting. Ia menatap Rhaell sekali lagi, kemudian berbalik dan mengikuti Atlas keluar dari dapur. Langkahnya masih terlihat tegang, karena menyimpan emosi yang tak terluapkan.
...****************...
Di ruang tengah yang luas, suasana masih kaku meskipun Ibu mereka sudah pergi. Arlo dan Marco duduk di sofa hitam besar, kepala mereka sedikit tertunduk.
Namun, situasi di seberangnya lumayan kontras. Di atas karpet putih tebal bergaya eropa, Atlas dan Edgar duduk berdampingan, sedang menikmati sepiring besar spaghetti yang dimasak Arlo sebelumnya. Mereka makan dengan lahap, sesekali bertukar pandang dan tersenyum kecil, seolah-olah situasi tegang di sekitar mereka tidak ada.
Dayana, seperti biasanya, mengamati semuanya dari kejauhan, wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi matanya tajam mengamati setiap gerak-gerik.
Rhaell berdiri di hadapan Arlo dan Marco, melipat kedua tangannya di dada. Ia menatap mereka berdua bergantian.
“Baiklah,” katanya, memecah keheningan. “Kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Kalian berdua sudah berbuat seenaknya dan aku muak.” Suaranya berhenti sejenak. Ia menarik dalam napasnya dan melanjutkan, “Arlo, kenapa aku harus jadi calon istrimu? Pemimpin gila mana yang akan menikahi pelacur? Kamu lupa… kamu membayarku untuk menutup mulut dan menghilang dari bumi? Sampai pencalonanmu selesai, kan?”
Ia beralih menatap Marco. “Dan kamu, Marco. Anak gadismu sudah cukup besar untuk menyadari kebejatan bapaknya. Mau sampai kapan kamu diperbudak alkohol dan obat-obatan itu? Bagaimana Sienna mau bahagia, kalau masa depan bapaknya saja, bisa hancur kapanpun?”
Dua manusia itu terdiam, seperti tertampar oleh perkataan Rhaell. Semua ada benarnya, Rhaell mengingatkan mereka untuk kembali ke tujuan awal. Lupakan semua perasaan, buang semua kata cinta yang hanya membuat berantakan.
Keheningan yang membisu menyelimuti ruangan. Hanya suara dentingan garpu dari Atlas dan Edgar yang terdengar samar, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan ketegangan yang meliputi Rhaell, Arlo dan Marco.
Mata Rhaell menangkap Dayana yang berdiri dari jarak lima meter. “Dayana,” panggil Rhaell, suaranya terdengar melemah, “aku tidak peduli kamu ada di pihak siapa... tapi tolong antar aku pulang sekarang.”
Setelah beberapa saat terdiam, Dayana akhirnya mengangguk pelan. Gerakannya terukur dan tenang, seperti robot yang menjalankan perintah. Ia tidak memberikan komentar apapun, tidak menunjukkan persetujuan atau ketidaksetujuan, hanya mengangguk dan mulai berjalan menuju Rhaell.
Atlas, dengan sisa spaghetti yang masih menempel di sudut bibirnya, mengangkat tangan, “interupsi!” Ia melanjutkan, “Rhaell tidak bisa meninggalkan mansion malam ini.”
Rhaell dan Edgar serempak bertanya, “hah? Kenapa?” Nada suara mereka mencerminkan kekecewaan.
Atlas, setelah menelan spaghetti terakhirnya, menjawab, “aku belum sempat melaporkan ini padamu, Lo. Artikel perjodohanmu dengan dokter kemarin, bocor. Dan saat ini ada banyak wartawan di luar mansion yang… mengintai di beberapa titik.” Ia lalu mendekati Arlo dan memberikan iPad-nya. “Lihat sendiri.”
“Aku sudah memikirkan berbagai cara,” kata Atlas, “tetapi sulit untuk mengelabuhi mereka. Jumlahnya terlalu banyak, hanya mengalihkan perhatian saja tidak akan efektif.” Ia menghela napas, menunjukan frustrasinya.
Rhaell terduduk lemas di sofa. Kecemasan dan kelelahan tampak jelas di wajahnya. Saat ia merosot ke bawah, kaosnya sedikit tersingkap, memperlihatkan paha bagian dalamnya yang mulus.
Arlo, yang duduk di sebelahnya, dengan sigap mengambil bantal sofa dan menutupi kaki Rhaell dengannya, menunjukkan perhatian yang tak terduga. Gerakan itu begitu halus, hampir tak terlihat, namun cukup untuk membuat seorang Rhaell sedikit terkejut dan memperhatikannya.
Pikiran Rhaell melayang ke apartemen kecilnya yang sederhana. Tempat yang terasa seperti surga dibandingkan dengan mansion yang kini terasa seperti penjara. Bayangan ibu mereka, yang bisa muncul tiba-tiba, menambah rasa ngerinnya. Dia sudah merindukan ketenangan di apartement.
Dayana yang sedari tadi berdiri di sampingnya, menyadari hal itu. Ia berlutut di hadapan Rhaell, suaranya lembut namun tegas, “Kita bisa pulang setelah semuanya aman. Aku akan menjagamu di sini.” Ia menatap Rhaell dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah-olah memahami ketakutan yang dirasakan Rhaell.
“Wait. Sejak kapan matamu berubah jadi cokelat?” Rhaell mendekat untuk melihat lebih jelas mata Dayana, “bukannya saat kamu menipuku di supermarket, warna matamu biru?”
Wanita yang ditatap Rhaell itu reflek memundurkan wajahnya dengan cepat, “ah, itu softlens. Waktu itu aku sedang menyamar.” Jelasnya gugup.
Saat Atlas dan Arlo masih berdiskusi dengan serius, Rhaell menoleh ke Marco yang masih tertunduk lesu. Dengan lembut, Rhaell meninju pelan lengan Marco. Sentuhannya ringan, namun penuh arti. “Aku percaya kamu daddy yang baik untuk Sienna,” katanya, suaranya menenangkan.
Nada suara Rhaell yang lembut, jauh berbeda dari nada tajam sebelumnya, membuat Marco mengangkat wajahnya, menatap Rhaell dengan mata yang redup.
Marco terhenyak. Perkataan Rhaell, yang penuh pengertian dan kepercayaan, seakan membangkitkan kembali semangatnya. Ia mengangguk pelan. “Aku akan berusaha,” bisiknya, suaranya masih berat, namun terdengar lebih teguh.
Melihat Marco yang akhirnya menunjukkan tekad untuk berubah, Rhaell merasa sedikit lega. Ia tahu perjalanan Marco untuk memperbaiki dirinya akan panjang dan sulit, tetapi setidaknya, ada secercah harapan.
Ia meraih tangan Marco, menggenggamnya dengan erat. Sentuhan itu bukan lagi sentuhan dingin seperti sebelumnya, tetapi penuh dengan dukungan dan empati.
Setelah beberapa saat, Arlo mulai memberikan instruksi dengan nada tegas yang terkendali, “Malam ini Rhaell menginap di mansion. Atlas, kamu akan mengantar pulang Edgar ke apartemennya sambil mengecek keadaan di luar. Bawa satu ajudan untuk menjaga Edgar. Dayana, minta Grace untuk menyiapkan kamar Rhaell. Segera.”
Atlas mengangguk, menerima perintah dengan sigap. Ia melirik Edgar, lalu ke Dayana, memastikan semuanya mengerti tugas masing-masing. Edgar, yang selama ini tenang, menunjukkan sedikit kekhawatiran di wajahnya, namun ia tetap mengangguk patuh demi keamanan kakaknya.
“Baiklah,” kata Rhaell, suaranya sedikit lemah. “Aku akan tetap di sini. Tetapi, pastikan semuanya aman.” Ia menatap Arlo, berharap pada sebuah kepercayaan.
Arlo mengangguk, matanya menunjukkan rasa syukur dan sedikit kelegaan. Ia menyadari bahwa Rhaell, meskipun marah dan kecewa, tetap menunjukkan keberanian dan kesetiaan yang tak terduga. Satu-satunya jalan adalah, harus bekerja sama untuk melewati kekacauan ini.
Sementara itu, Edgar berpamitan pada Rhaell. Memeluknya erat dan memberikan kalimat-kaimat positif yang mendukung. “Semangat ya, Cia. I wov you!”
...****************...
Di kamar tamu yang luas dan elegan, Rhaell berdiri di depan cermin besar, mengamati dirinya sendiri. Cahaya lampu kamar mewah memantul di permukaan cermin, memperlihatkan bayangannya yang tampak lelah namun tegar.
Rhaell menyisir rambutnya yang sedikit kusut dengan jari-jari tangannya, matanya menatap pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi yang rumit. “Hidupmu banyak sekali kejutan, ya?!” gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.
Ia menghela nafas panjang, mencoba meredakan ketegangan yang masih terasa di dadanya. Kejadian hari ini terus berputar-putar di kepala dan semua itu terasa seperti mimpi buruk yang nyata.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rhaell. Ia menoleh ke asal suara dan menunggu seseorang membukanya.
Ketika pintu perlahan terbuka, muncul seseorang dari baliknya.
“Dayana?”
Bersambung…
tu kan mo arah ke ❤❤ gituu 😅🤗