NovelToon NovelToon
Lingsir Wengi

Lingsir Wengi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Supernatural / Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Laila Al Hasany

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....

Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.

Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Makan siang kali ini, simbok membuat urap daun kacang panjang, orang sini menyebutnya Mbayung, rasanya pedas segar dan nikmat. Dan ada beberapa lauk pauk khas pedesaan. Aku menikmati makan siang dalam diam, hanya bunyi peralatan makan beradu yang terdengar.

"Kacang panjang di kebun sudah panen Nduk, jadi tadi sebagian simbok bawa pulang daun dan kacangnya, yang lain sudah simbok jual."

Suara simbok memecah kesunyian, simbok berjalan dari arah dapur.

"Oh, banyak panennya kali ini, Mbok?"

"Lumayan Nduk, kali ini banyak kacang yang bagus-bagus."

Simbok duduk di hadapanku membawa seikat kacang panjang dan memotongnya kecil-kecil tanpa bantuan pisau kemudian dimasukkan ke dalam keranjang kecil.

"Kenapa gak dipotong pake pisau aja sih Mbok?"

"Kalo dipethiki (dipotong tanpa pisau, dengan jari seperti memetik- pen) kayak gini, katanya jadi lebih sedep lho, Nduk."

"Oh gitu ... gak dicuci dulu baru dipotong Mbok?"

"Ndak Nduk, kalo dicuci dulu, terus pas dipethiki ada ulatnya, sembunyi di tengah-tengah biji, trus dicuci lagi, kan menduakalikan pekerjaan Nduk, kalo kayak gini kalo ada ulatnya, kan bisa langsung dibuang, terus dicuci."

"Wah, tips baru tuh, Mbok!" kataku sambil menjentikkan jari. Simbok tertawa kecil.

Aku sudah menyelesaikan makan siangku, dan mulai membereskan meja makan. Simbok masih asik dengan kacang panjang.

"Mau kubantu Mbok?"

"Ini sudah mau selesai kok Nduk."

Simbok berdiri, dan menuju ke dapur.

Aku baru ingat, sebelum pulang ke rumah simbah putri, aku sudah mendownload beberapa film di laptopku.

"Kenapa baru inget sih!" aku bergumam sendirian sambil menepuk jidatku.

Setelah kuputuskan, aku menuju kamarku untuk menonton beberapa film sambil menunggu waktu asar. Tapi, sepertinya kurang seru kalau menonton tanpa cemilan, hehehe. Aku berjalan lagi ke dapur, menyeduh secangkir teh, dan mencari camilan. Aku menemukan setoples keripik pisang, wah! Aku sangat beruntung, bisa menemukan camilan kesukaanku di sini. Tanpa ragu lagi, aku menggondolnya . Camilan dan kawan-kawannya sudah tersedia, yeaaahh ... Movie time!

Azan asar berkumandang, aku menghentikan aktifitasku menonton film. Kemudian menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu dan menunaikan kewajibanku. Setelah selesai, aku meneruskan menonton film, sampai tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Aku keluar dari kamar untuk mandi. Simbok tidak terlihat dimana-mana, tapi pintu belakang terbuka. Seperti dugaanku, simbok sedang membersihkan halaman rumah. Aku bergegas mandi. Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian kasual yang nyaman. Aku agak sedikit bosan.

Aku meraih handphone-ku dan melihat baru saja ada pesan masuk. Kubuka pesan itu. Ternyata dari Aripin.

"Mbak, anak-anak pada ngumpul nih di rumahku, mau ikutan ndak? Daripada ngedekem mulu di kamar."

Aku tersenyum, boleh juga idenya!

"ok, bentar lagi aku ke situ."

Aku memasukkan dompet dan handphone-ku ke saku celana lalu keluar rumah. Aku berpamitan ke simbok yang sedang merapikan ranting-ranting tanaman bunga.

"Mbok, aku mau main ke rumah Aripin."

"Iya Nduk, nanti kalo sudah surup , cepet-cepet pulang lho! Titip pesan juga ke bu Rusmini, simbok minta tolong dibelikan ayam kampung seekor, yang sudah dibersihkan sekalian ya Nduk!"

"Okeeeee, Mbok." jawabku sambil berjalan ke arah jalan.

Rumah Aripin berlawanan arah dengan balai desa, jaraknya kira-kira 500-600 meter. Rumah pertama setelah rumah simbah putri dan ada gang kecil di samping rumah itu.

Aku sudah sampai di depan rumah Aripin yang bersebelahan sekaligus dengan warungnya. Banyak anak-anak bermain di teras rumah sebelah. Kulihat di warung Aripin itu terdapat banyak barang meskipun tidak terlalu besar ukuran ruangannya. Ada barang kelontong, bahkan sayur mayur.

Di teras rumah Aripin, terdapat meja dan bangku panjang. Ada beberapa bapak-bapak sedang duduk menikmati kopi sambil mengobrol. Di meja terdapat beraneka ragam makanan kecil dan gorengan. Ternyata di teras itu, jadi sebuah tempat wedangan, semacam warung kopi atau tempat kongkow.

Ibu Aripin, Bu Rusmini sedang melayani pembeli, beliau tersenyum padaku dan mengangguk. Aku teringat pesan simbok. Aku mendekat ke arah Bu Rusmini setelah pembeli tadi pergi.

"Bu, simbok tadi titip pesan, katanya minta tolong Bu Rusmini untuk membelikan ayam kampung seekor yang udah dibersihkan sekalian."

"Oh nggih, nggih. Mau yang besar apa yang kecil, Mbak?"

"Aduh, kurang tau Bu, tadi simbok gak bilang. Yang sedang saja, gak apa-apa."

Aku mengeluarkan dompet, untung saja sebelum ke rumah simbah putri, aku sudah ambil uang cash dari ATM.

"Bayarnya besok saja Mbak, kalo barangnya sudah ada."

"Oh gitu, tapi apa gak apa-apa, Bu?"

"Iya Mbak, biasanya juga gitu."

"Oh ...."

Aku memasukkan lagi dompetku ke dalam saku celanaku. Tersenyum kepada bu Rusmini.

"Makasih sebelumnya ya bu."

Bu Rusmini mengangguk dan membalas senyumanku.

"Monggo ... monggo, Mbak."

Kulihat seorang remaja putri melambaikan tangan padaku. Dia duduk di tempat lesehan. Aku belum mengenalnya, tapi aku pernah melihat wajahnya di forum Karang Taruna. Kulihat beberapa remaja juga ada di sana sedang mengobrol santai, mengangguk sopan ketika melihat kedatanganku. Aripin keluar dari rumah dan cengar-cengir dengan gaya khasnya.

"Baru selesai mandi aku Mbak, monggo ... monggo. Duduk, Mbak!"

Aku duduk lesehan di sebelah beberapa remaja putri dan menyalami mereka satu per satu.

"Ini Rina Mbak, sepupuku." Aripin menunjuk seorang gadis dengan tangannya. Gadis itu yang tadi melambaikan tangan ke arahku.

"Oh, ok. Aku Dyah."

"Iya Mbak," jawab gadis itu, sopan.

"Yang ini Evi, yang itu Retno, dan yang itu Zahra." Aripin menunjukkan nama mereka satu per satu.

"Yang cowok-cowok, ndak usah di kenalke Mbak, tuman!" kata Aripin cengengesan.

Terdengar suara "Huuuu ...." Kemudian mereka tertawa bersama. Bapak-bapak di meja seberang menatap kami dengan rasa ingin tahu.

"Mbak Dyah mau minum apa?"

"Kopi susu aja, Pin."

"Tapi adanya kopi susu instan merk pada umumnya, ndak apa-apa to, Mbak?"

"Gak apa-apa, seadanya aja Pin. Tapi kalo kopi instan, jangan diaduk, biar gak terlalu manis, Pin. Aku gak suka kopi yang terlalu manis."

"Ok, siaaaappp!" Aripin menyaut dengan bergaya menghormat. Aku terkekeh.

Aripin baru saja berbalik untuk membuatkan pesananku.

"Assalamualaikum ...."

Aku terkesiap, mendengar suara yang sepertinya kukenali. Orang-orang serempak menjawab salam. Aku menengok ke sumber suara, betul saja. Seorang laki-laki dengan senyum manis bak gula jawa tersenyum, dan mulai menyalami bapak-bapak satu per satu, menyapa Bu Rusmini dan menyalami remaja laki-laki di tempat itu.

Laki-laki itu duduk di sebelahku, aroma maskulin khasnya menyapa hidungku.

"Ehemmm ... ehem ...." Aripin berdehem. Entah kenapa wajahku terasa menghangat, aku menunduk.

"Naaahhh, pas banget ini, sekalian. Mas Lingga mau minum apa?"

"Kopi pakai gula aren ya Pin."

"Okeeee ..." jawab Aripin.

Aku tertangkap basah menatap Mas Lingga dengan heran.

"Belum pernah nyoba, kan? Kopi pakai gula aren enak looo ...."

"Baru tau kali ini, Mas."

Setelah beberapa lama kemudian, Aripin membawa keluar sebuah nampan yang berisi kopi pesanan kami berdua. Ketika aku mencoba membantu Aripin untuk menurunkan gelas dari nampan, tanpa sengaja tanganku bersentuhan dengan tangan Mas Lingga. Ada rasa aneh yang menjalar dari tanganku, membuat detak jantungku semakin terpacu. Aku buru-buru menarik tanganku. Pada akhirnya, Mas Lingga lah yang menurunkan gelas dari nampan. Aku mengalihkan pandanganku ke anak-anak yang bermain di teras rumah sebelah. Mereka memainkan suatu permainan, aku mulai mengamati anak-anak tadi.

Bersambung ....

1
Nur Bahagia
Ripin 🤣
Nur Bahagia
jangan2 Sada jadi jin pendamping nya Garvi 🤩
Nur Bahagia
kubah gaib warna perak🤔
Nur Bahagia
siapa nih? 🤔
Nur Bahagia
kannn bener murni sama Rian.. 🤩
Nur Bahagia
ai mbok ga diajak kah? 🤔🥺
Nur Bahagia
sama Rian aja.. yg ketua karang taruna itu 🤗
Nur Bahagia
bisaa aja thaliaa 🤣
Nur Bahagia
Alhamdulillah pak samijan yg terpilih jadi kades nya 🤩
Nur Bahagia
wahh Pin.. Aripiinn... awakmu di senengi wong kutho ki lhoo.. wehhh bejomu lee 😅
Nur Bahagia
🥰
Nur Bahagia
🤩
Nur Bahagia
😍
Nur Bahagia
Alhamdulillah si mbok baik2 aja.. diantara semua tokoh yg ada di novel ini, cuma si mbok idolaku 🔥🥰
Nur Bahagia
ehhh begini doang
Nur Bahagia
malah ngomongin mau nikah.. iki piyee thoo.. mikir selamat aja duluu.. si mbok gimana ini si mbookkk 😭
Nur Bahagia
heettt malah ngobrol.. buruan tuh tolongin mbok Minten 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ini lagi si kenanga.. suruh jagain 24 jam, malah ngendon aja di dalam kotak.. duhh 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ya elaaahhh Thor aku kecewaaa.. kenapa harus mbok Minten 😭
Nur Bahagia
yesss akhirnya terbongkar semua kebusukan mu Senen 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!