Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di usir, talak
Matahari semakin tinggi, menandakan hari semakin siang. Di ruang tengah rumah mertuanya, suasana terasa lebih panas dari tungku kayu bakar. Mariah, ibu mertuanya, duduk di kursi utama bak seorang hakim agung. Syamsul tertunduk lesu, sesekali memukul meja pelan seolah hatinya hancur berkeping-keping.
"Cakaplah, Norma! Jangan kau diam macam patung!" bentak Mariah. "Satu kampung sudah heboh. Mereka bilang kau jadi pemuas nafsu orang kaya di kota. Apa kau tak ingat punya suami yang banting tulang di negeri orang?"
Norma mengangkat wajahnya yang sembap. Suaranya bergetar. "Buk... kenapa Ibuk bicara begitu? Bukankah Ibuk dan Daria yang dulu bilang kalau kita tak punya pilihan? Nuri, anak saya, sakit keras. Kita butuh ratusan juta untuk operasinya. Mak yang bilang ada jalan keluar lewat Tuan Syakir..."
"Astagfirullah! Kurang ajar sekali mulutmu, Norma!" potong Mariah dengan nada tinggi, berpura-pura terkejut. "Kapan aku bilang begitu? Aku memang suruh kau cari kerja, tapi bukan menjual harga diri! Kau jangan fitnah orang tua, bisa kualat kau!"
Daria menimpali dengan sinis, "Iya, Kak Norma. Tega-teganya Kakak bawa nama kami. Kami memang miskin, tapi kami punya harga diri. Kami tak pernah suruh Kakak gadaikan rahim macam itu. Itu murni kemauan Kakak karena gila harta, kan?"ucap Daria seolah sedih.
Syamsul mendongak, matanya yang merah menatap Norma dengan kebencian yang dipaksakan. Padahal, saat di Singapura, ia sudah tahu, bahkan ikut berperan dengan mematikan ponselnya, tidak memberi kaber maupun uang. Sedangkan uang dari hasil kontrak rahim dirinya ikut menikmati uang itu, tapi kini ia butuh menjaga martabatnya di depan orang kampung.
"Norma... aku pulang membawa rindu, tapi kau sambut aku dengan kabar kau?... Aghrkkk!!" Syamsul berakting dengan sangat rapi, suaranya parau. "Aku ini suamimu. Apa kurangnya aku sampai kau tega jadikan rahimmu itu sebagai kontrakan? Kau buat aku macam laki-laki tak berguna!"
"Bang...?" Norma terkejut, Syamsul mengetahui tentang kontrak rahim. Iya menatap Daria, tapi wanita itu juga bingung tapi senang.
"Kenapa? Terkejut kan dirimu Nor. Aku ada buktinya" tantang Syamsul. Iya baru saja mendapat gambar surat kontrak yang di kirim oleh nomor tak di kenal. Meski bingung tapi dirinya senang, ini mempermudah dirinya menjatuhkan sang istri.
"Kau sudah sesat, Norma. Hartamu dari Tuan itu sudah membutakan matamu sampai berani berbuat seperti ini!" hardik Syamsul.
.
Di tengah hiruk-pikuk penghakiman itu, terdengar salam dari luar. Turunlah Pak Cik Hamdan dan istrinya, keluarga dari almarhumah ibu Norma Mak Cik Halimah.
Mariah sengaja menelepon mereka agar datang.
"Pak Cik... Mak Cik..." lirih Norma.
Pak Cik Hamdan menghela napas panjang, wajahnya penuh keprihatinan. Ia memandang keponakannya dengan tatapan iba namun penuh tanda tanya. "Norma, benarkah apa yang Mak mertuamu bilang? Benarkah kau mengontrakkan rahimmu pada pria asing demi uang?"
Norma bersimpuh di kaki Pak Cik Hamdan. "Pak Cik, saya lakukan ini untuk Nuri. Nuri butuh operasi, Pak Cik tahu itu. Saya tak punya pilihan..."
Pak Cik Hamdan terdiam. Ia tahu betapa sulitnya posisi Norma, tapi sebagai orang yang memegang teguh norma agama dan adat, hatinya perih. "Tapi Norma... cara ini salah. Biar bagaimanapun, martabat seorang perempuan itu ada pada kehormatannya. Kami memang iba padamu, kami tahu kau berkorban... Tapi kami tak bisa membela perbuatan yang melanggar hukum Tuhan ini."
Mak Cik Halimah hanya bisa menangis di belakang suaminya, tak berani bersuara melawan dominasi Mariah yang sangat dominan di kampung itu.
Melihat keluarga Halimah tak mampu membela Norma, Mariah merasa di atas angin. Ia berdiri dan menunjuk ke arah pintu keluar.
"Sudah cukup! Rumah ini tidak suci lagi karena ada perempuan pemelihara benih haram!" teriak Mariah. "Syamsul! Buat keputusan sekarang! Jangan jadi laki-laki lembek!"
Syamsul berdiri, menarik napas panjang. Ia mendekati Norma yang masih bersimpuh. Tanpa ada sisa rasa kasih sayang di matanya, ia berucap dengan lantang agar didengar oleh para tetangga yang mulai mengintip di jendela.
"Norma binti (Alm) Ahmad, hari ini, di depan ibuku, adikku, dan keluarga pamanmu... Aku lepaskan kau. Aku haramkan diriku menyentuhmu lagi. Kau aku talak tiga!"
Dunia seolah runtuh menimpa kepala Norma. Talak tiga. Tidak ada jalan kembali.
"Pergi kau dari sini! Bawa pakaianmu yang mahal-mahal itu! Jangan pernah kau injak rumah ini lagi!. Dan ingat! Aku akan segera mengurus hal asuh Nuri." ucap Syamsul tanpa iba.
Norma di seret keluar rumah, tas nya yang ada beberapa helai pakaian berhamburan. Orang-orang kampung yang menonton hanya berbisik-bisik, ada yang meludah ke samping, ada yang memandang dengan jijik. Tak ada satu pun yang tahu bahwa kemewahan yang mereka bicarakan hanyalah "uang darah" yang dinikmati oleh keluarga Syamsul sendiri di belakang layar.
Norma berdiri perlahan, memunguti pakaiannya satu per satu dengan tangan gemetar. Ia menatap rumah itu untuk terakhir kalinya. Di jendela, ia melihat Syamsul sedang menghitung beberapa lembar uang—mungkin sisa uang kiriman dari kontrak Norma—dengan wajah tanpa dosa.
Dengan langkah gontai dan hati yang hancur berkeping-keping, Norma berjalan meninggalkan kampung itu di bawah tatapan hina warga. Yang pasti diri nya harus tetap kuat, hidup demi Nuri dan calon janin satu-satunya bukti pengorbanan yang justru menjadi alasan ia dibuang.
****
.
Sementara itu Syakir sedang berdiri di depan jendela, tangannya terkepal melihat kiriman foto yang menyayat hati. Tak lama kembali pesan dari orang suruhannya masuk.
Bondan:'Tuan, Buk Norma sudah keluar dari rumah. Beliau di talak dan di usir'
"Bagus!. Bodohnya Dia mempermudah ku untuk memilikinya. Tapi, ku pastikan dirimu tidak akan bertahan lama dengan kesenangan mu itu, Syamsul!" batinnya.
Lalu Syakir mengetik pesan pada Sang ibu lalu mengirimnya.
****
.
Norma duduk di serambi rumah panggung, seraya menikmati keindahan suasana di sore hari, sambil melihat Nuri memberi pakaian burung di temani Buk Salbiah. Tak terasa sudah hampir sebulan semenjak peristiwa menyakitkan itu.
Di ceraikan Syamsul tak lantas membuatnya terpuruk. Meski dirinya sedih, tapi tidak membuatnya berlarut-larut, karena ada Nuri dan satu penantian lagi.
Asik melihat tingkah Nuri, tiba-tiba perut Norma seperti di aduk, ada sesuatu melesak ingin keluar. Reflek Norma menutup mulut, rasa mual tidak tertahankan. Segara iya beranjak, berlari pelan masuk rumah, menuju kamarnya.
"Eh, kenapa Nor?" tanya Mak Cik Syam. Wanita paruh baya ini membawa semangkuk soto ayam bawang.
.
Jangan lupa like dan komentarnya