Kemajuan teknologi di era globalisasi tetap tidak mampu menggerus dunia perdukunan
Bahkan masih banyak yang rutin dengan segala ritual ritualnya
Yang terang terangan ataupun yang sembunyi sembunyi
Ada banyak alasan tentunya
Ada yang pengen usahanya lebih maju
Ada yang ingin kaya tanpa harus memeras keringat
Ada yang ingin kebal senjata tajam dan ilmu santet menyantet
Ada juga yang sengaja membeli batu jimat, yang dipercaya bisa memberikannya kedudukan terpandang dan disegani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KT 29.
Grep…
Bang Jon memegangi kaki dari laki laki sangar itu dengan tubuh yang masih tergeletak di lantai. Kondisinya yang cukup parah, membuatnya tidak bisa menggunakan kakinya sendiri untuk berdiri.
“Kalau kau berani membawanya, aku akan membunuhmu”
DOOR…
“BANG JOOOOOON” teriak Serena dan Zahra berbarengan
Laki laki sangar itu menembak Bang Jon dengan pistol yang baru dikeluarkan dari balik jas mahal yang dipakainya.
Serena yang kaget dengan teriakan Zahra, berbalik badan dan menghambur lari ke arah bang Jon. Darah segar mengalir dan membasahi karpet lantai yang berasal dari perut Bang Jon, akibat timah panas yang dipaksa bersarang ke dalam tubuhnya.
Zahra menekan bagian yang tertembak itu untuk menghentikan pendarahan. Sedangkan Serena mengambil handphonenya yang tergeletak di meja, dan mencoba menghubungi ambulance untuk menyelamatkan pria yang menjadi supir setianya.
Ketakutan dan rasa khawatir yang menguasai diri Serena, membuat tangannya bergetar. Perlu beberapa kali dia berusaha untuk membuka kunci handphone, yang tetap tidak mau berfungsi di saat yang paling dibutuhkan.
Satu tangan Serena memegang telepon genggam yang sudah terhubung, sedangkan tangan yang satunya lagi menggenggam tangan Bang Jon.
“Ma…af Se re na….” ucap Bang Jon terbata
Zahra dan Serena terus menangis melihat keadaan Bang Jon yang semakin hilang kesadaran.
Laki laki sangar itu langsung melempar handphone yang berada ditangan Serena dengan kasar, sampai handphone itu terlempar jauh. Menarik tangan Serena dan menyeretnya keluar aparteman dengan paksa. Beruntung Serena sudah menutup sambungan teleponnya dengan mobil ambulance yang sedang dalam perjalanan.
Serena tidak bisa melawan. Tubuhnya yang sedang diseret sama sekali tidak dipedulikan. Matanya terus tertuju pada Bang Jon yang juga sedang menatapnya sayu dan perlahan tertutup.
“Bang Jon….” ucapnya lirih dengan air matanya yang tidak berhenti mengalir
Zahra menatap kepergian semua laki laki bertubuh besar itu dengan membawa sang kakak. Tangannya masih menekan perut Bang Jon yang sudah jatuh pingsan akibat luka tembak. Menunggu dengan tidak sabar akan datangnya pertolongan.
Para tetangga yang tiba tiba berkerumun di depan pintu apartemen karena mendengar suara tembakan, tidak dipedulikan oleh Zahra. Mukena yang masih dia kenakan sudah berganti warna. Bau amis memang sudah menjadi teman Zahra sejak dia meminta izin Serena untuk menjadi dokter.
Mobil ambulance sudah terparkir di basement apartemen, dengan paramedis yang berlari dan membawa Bang Jon dengan brangkar. Zahra terus mendampingi Bang Jon yang sudah mendapatkan tindakan pertama dari luka tembaknya.
“Bertahanlah Bang Jon” do’a Zahra dengan menggenggam tangan Bang Jon, yang sedang menuju Rumah sakit dengan ambulance yang melaju cepat.
-------------------------------------------
“Diam disini. Bersihkan dirimu dan tunggu diriku. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu. Aaah…. aku sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuhmu ini.” ucapnya di belakang tubuh Serena yang menegang, saat rambutnya digenggam dan dicium “ Oh iya…adikmu akan menjadi korbanku kalau kau sampai nekat kabur dari tempat ini”
Laki laki sangar itu meninggalkan Serena di adalam kamar yang cukup mewah.
“Serena…..” Yudi menghampiri Serena yang sudah duduk di tepian ranjang. Tapi tidak mendapat respon apapun dari anak gadis yang memilih memunggunginya.
“Serena, ayah…..”
“KELUAR!” bentak Serena dengan air mata yang sudah membasahi sudut matanya
“Seumur hidupku….. aku sudah bertemu banyak laki laki brengs*k, tapi tidak ada yang lebih brengs*k darimu. Aku benar benar ingin muntah melihat wajahmu itu. Jadi…keluarlah” ucapnya dengan nafas yang menderu
“Aku tidak akan pernah membiarkan kau kembali menyakiti ibu dan juga Zahra. Setelah ini….jangan pernah lagi muncul dihadapan ibu dan Zahra, bahkan akan lebih baik kalau mereka mendengar kabar kematianmu” sinis Serena
PLAK
Yudi menampar pipi Serena dengan keras.
“Jaga ucapanmu! Ibumu yang sakit sakitan itu benar benar membuat hidupku susah. Dia tidak bisa melahirkan anak laki laki untukku. Dia malah melahirkan anak anak yang tidak berguna seperti kalian”
Serena menatap nanar laki laki yang berstatus sebagai ayahnya, sambil memegang pipinya yang terasa panas. Laki laki yang harusnya menjadi penjaga dan pelindung keluarga itu, kini terlihat seperti setan dimatanya.
***
Karena kemarin ada yang penasaran sama visualnya, jadi di bab ini Si_Ro kasih gambarannya
semoga tidak mengecewakan buat reader yang udah punya gambaran sendiri.
cast untuk Serena
satu lagi deh
dan ini cast untuk Bang Jon
jangan dibully ya