SEASON 1
Bagaimana rasanya ketika tiba tiba kamu di jodohkan dengan seorang lelaki yang ternyata adalah Saudara sepupu Mantan kekasihMu?
Mungkin tidak masalah mereka bersaudara,tapi yang menjadi masalah adalah,kamu belum benar benar bisa melupakannya.
-
SEASON 2
Kebersamaan yang berlangsung lama, dalam atap yang sama. Nyatanya menumbuhkan cinta bagi adik kakak yang tidak memiliki hubungan darah
Daren dengan Syan
Meski usia mereka terpaut empat tahun, nyatanya Daren tidak memperdulikan hal itu, ia jatuh cinta pada kakaknya. Syan.
Dan berusaha keras untuk mendapatkan cinta sang Kakak meski ada pria lain yang dijadikan gadis itu sebagai pilihannya. Bukan Daren, tetapi pria pilihan orang tuanya yang berhasil membuat Syan berpaling dari Daren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Yulian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
From Juan, To Carra
*
Tanpa berkata apa apa lagi, Carra segera berhambur memeluk Juan. Sedikit mengguncang tubuh Juan dengan diiringi air matanya yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
Terjun begitu saja membasahi pipi Carra
"Juan, bangunlah! Kau tidak boleh meninggalkanku! Kau tidak boleh pergi Juan, hiikks hiiks"
Carra terus menangis, mengguncang guncang tubuh Juan agar laki laki itu terbangun
"Aku, aku mencintaimu Juan. Ku mohon bangunlah" Sahut Carra lemah, yang berakhir dengan membenamkan wajahnya di dada Juan. Tangisnya terus terisak, dan tangannya dengan kuat meremas baju pasien yang dikenakan Juan di bagian pinggang
"Jangan tinggalkan aku, ku mohon" Pintanya dengan nada lemah
Di saat mana Carra menangis dengan pilu, tiba tiba saja ia merasa ada seseorang yang mengelus kepalanya. Lantas ia mendongak dan mendapati Juan yang tengah tersenyum padanya dengan wajah yang pucat
"__ Kauu," Kata Carra, ragu ragu
"Kau mengkhawatirkan ku sayang?" Tanya Juan yang di susul dengan senyumannya
Carra mendengus, kemudian memukul dada Juan yang membuat laki laki itu meringis dan tersenyum diwaktu yang bersamaan
Dan dengan cepat Carra mengusap bagian dada Juan yang ia pukul tadi
"Sory sory" Sahutnya, dengan wajah meringis. Meminta ampun pada Juan barangkali dia akan marah pada Carra nanti
Sedangkan Robert yang melihat itu, dia hanya tersenyum. Dia tau jika kecelakaan yang di alami Tuannya tidaklah parah. Ia hanya mengalami luka ringan di kepalanya karena benturan. Dan memang tidak ada luka yang serius keculai itu. Ia juga melarangnya untuk mengabari Nonanya karena khawatir dia akan cemas nanti
Dan tanpa permisi, Robert yang memahami suasana di dalam ruangan, ia segera keluar tanpa bersuara. Meninggalkan sepasang suami istri yang berada di dalam ruangan itu, memberi privasi kepada mereka untuk saling menyuarakan isi hati
"Coba katakan lagi!" Sahut Juan tiba tiba
Carra diam, mencerna apa yang sebenarnya ingin di dengar oleh Juan
"Kau ingin makan?" Tanya Carra yang malah mengalihkan pembicaraan, lalu ia hendak beranjak, tapi Juan menariknya sampai ia jatuh di pelukan Juan
Untuk seperkian detik keduanya hanya berpandangan, mata yang saling berbicara. Seperti ada desiran di hati Carra begitu ia melihat mata Juan yang seolah menariknya ke dalam pusaran cinta yang terdalam
Sampai kemudian Carra tersadar, dan sedikit memberontak, untuk terlepas dari pelukan Juan
"Juan"
Juan tak menggubris, justru ia malah mengunci Carra dengan tangannya hingga gadis itu hanya bisa pasrah di dala pelukannya
"Aku ingin mendengarnya lagi" Sahut Juan (Lagi)
"Apa?" Tanya polos Carra
Juan diam dan malah hanya memandang Carra, membuat gadis itu salah tingkah karena tatapannya
"Kau mendengar semuanya?" Tanya Carra akhirnya meski ia sedikit ragu
"Tentu saja. Kau berteriak Carra, bahkan mungkin orang orang itu juga mendengar suara mu tadi" Sahut Juan, matanya mengerling ke arah pintu keluar. Dimana dua pengawalnya berdiri disana, di balik kaca tembus pandang
Carra menunduk, ia merutuki kebodohannya karena sudah teriak teriak tadi, ia melakukannya karena refleks dan khawatir dengan Juan
"Katakan!" Suruh Juan, belum menyerah
Sedangkan Carra hanya diam dengan membenamkan wajahnya pada dada Juan
Juan menghela nafas, perlahan dia mengendurkan pelukannya pada tubuh Carra
"Apa kau begitu sulit mengatakan hal itu Carra?" Tanya Juan, terdengar nada putus asa dalam kalimatnya yang membuat Carra tiba tiba saja merasa bersalah
"Apa begitu sulit Carra?" Tanyanya lagi
Carra yang masih membenamkan wajahnya di dada Juan lantas mendongak, menatap Juan yang mengalihkan tatapannya ke samping
Dia marah? Fikir Carra
"Sepertinya tadi kau hanya berakting!" Katanya lagi dengan nada setengah kesal
Ahh, padahal semalam dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan memaksa Carra. Tapi hari ini, justru ia seolah mendesak Carra agar mengakui perasaannya
Juan merutuki hal itu, tapi juga sudah terlanjur melakukannya
"Pulanglah. Aku tidak apa apa disini" Sahutnya lagi
"Juan" Panggil Carra, ragu
"Pulanglah Carra. Aku tidak apa apa, jangan mengkhawatirkanku" Sahut Juan lagi
Carra diam mematung, menatap Juan yang malah membelakanginya. Ada rasa bersalah di dalam hatinya karena sudah membuat suaminya kecewa
Tapi Carra juga ragu jika harus mengatakannya. Bukan ragu karena dia tidak yakin dengan perasaannya. Tapi ia malu jika harus mengakui itu di hadapan Juan
Yaj, ia malu
"Juan"
Carra kembali mendekat dan memegang lengan Juan
"Sudah ku bilang aku tidak apa apa!" Sergah cepat Juan dengan nada lembutnya
"Ponselku" Sahut Carra
Juan menoleh ke sampingnya, ternyata benar ada ponsel Carra di atas brangkarnya. Mungkin terjatuh saat Juan menariknya tadi
Ahh, Juan kira Carra mengkhawatirkannya
Juan mengambil ponsel Carra, menyerahkannya tanpa niat sedikitpun untuk menoleh pada sang istri
Carra menerimanya, lalu memegang tangan Juan. Kemudian kembali berhambur ke dalam pelukan Juan
"Aku mencintaimu Juan. Aku mencintaimu" Sahut Carra yang seketika saja membuat Juan tersenyum, senang mendengarnya
Juan segera berbalik, menatap Carra yang juga menatapnya dengan tatapan tersipu
"Benarkah?" Juan memastikan
Carra mengangguk dengan senyumannya, lalu ia duduk di kursi di samping brangkar Juan
"Maaf untuk semuanya, maaf aku terlalu egois untuk mengakui semuanya" Sahut Carra, lalu menunduk
Juan memegang dagu Carra, mengarahkan gadis itu agar menatapnya
"Aku sangat mencintai mu Carra" Ungkap Juan dengan mengecup tangan Carra
Sungguh, tidak ada yang membahagiakan keduanya selain daripada ini. Dimana keduanya saling mengakui perasaan masing masing dengan tulus tanpa adanya paksaan dari siapapun, dari pihak manapun
Sekarang Carra sadar. Bahwa apa yang dikatakan Ratna adalah benar. Semuanya merupakan proses, cepat atau lambat perasaan Carra akan berubah seiring berjalannya waktu
Jika dulu Carra selalu mengunci rapat pintu hatinya seolah tidak ada celah sedikitpun untuk orang lain bisa masuk, maka sekarang berbeda. Justru sekarang di hatinya telah tinggal seorang lelaki, yang tak lain adalah saudara sepupu dari mantan kekasihnya. Dan itu adalah Juan. Juan Zhucarlos, lelaki yang dua bulan lalu sudah menikahinya
Nama itu seolah terukir begitu saja di hati Carra tanpa ia minta. Seolah Tuhan dengan sengaja mengukirnya dan tidak lupa juga menumbuhkan rasa disana. Rasa yang tak lain adalah, cinta
Sesuatu yang rasanya dulu tidak akan pernah Carra dapatkan lagi setelah kegagalan cintanya dengan Abram, dulu
Tapi ternyata Tuhan memiliki caranya sendiri untuk kembali menumbuhkan rasa itu di hati Carra. Rasa yang sama, untuk orang yang berbeda
"Aku mencintaimu Juan. Sangat" Batin Carra,
Matanya tidak lepas memandang Juan yang juga tengah menatapnya dengan senyuman.
Senyuman penuh cinta, dari Juan untuk Carra
From Juan to Carra
sukses
semangat
mksh
gtu aja ko repot si juan..kau kn org berkuasa
krna dsni kyanya si jeni yg cinta mati sma juan tp juan ga prnh gubris