Pada awalnya, kehidupan Keana Larson sebagai gadis remaja terbilang biasa-biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika ia mulai mengenal cowok baru di sekolahnya yang bernama Gabriel Axton White.
Keana sadar, mungkin saja berdekatan dengan Gabriel bisa membuat kehidupannya jauh dari kata normal. Cowok itu punya rahasia besar yang tak boleh diketahui siapapun. Mengetahuinya sama saja mati. Tetapi, sudah terlambat bagi Keana untuk menghindar. Gadis itu justru jatuh cinta padanya.
Iblis dan malaikat. Keana tak menyangka harus terjebak di antara keduanya. Rentetan-rentetan kejadian buruk seolah takkan berhenti sampai gadis itu benar-benar mati.
Lantas, tahukah Keana kalau apa yang terjadi dengannya bukanlah suatu kebetulan semata? Dan bisakah ia mengubah takdir buruk yang telah digariskan untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poetry Alexandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-28- Bad Destiny
-Gabe-
Aku mengerjapkan mata ketika cahaya matahari menyorot lembut kedua retinaku yang perlahan-lahan terbuka. Rasanya menyegarkan kala cahaya itu menyerap masuk ke dalam kulitku. Kutegakkan tubuh sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi di otakku. Aku sadar bahwa saat ini tengah berada di Angelus Vallis.
"Hei, kau sudah bangun?" Suara Azrael terdengar di sebelahku.
Aku menoleh dan mendapati ia sedang berdiri menjulang dengan kedua sayap hitamnya terbentang. Kuusap wajahku dan akhirnya menyerah karena tidak bisa mengingat apapun.
"Apa yang terjadi?" tanyaku padanya.
"Banyak hal yang terjadi selama kau tidak sadarkan diri. Tapi, akan kujelaskan sedikit tentang kejadian pertempuran kita dengan Azazel dan anak buahnya di hutan beberapa hari lalu."
Aku tersentak. Kata hutan membuatku teringat sesuatu. Teringat gadis itu, Keana. Aku mengajarinya memanah di sebuah hutan dan tiba-tiba saja Lucifer dan iblis-iblis lainnya menyerang kami begitu saja. Lalu...
Kuraba perutku yang tertusuk pedang Azrael. Luka itu sudah agak mengering terkena cahaya matahari, tapi ada luka lain di bagian dadaku. Bekas sabetan pedang dan terlihat membiru. Aku yakin ini luka yang disebabkan pedang beracun milik Lucifer.
"Apa kau sudah ingat bagaimana Azazel berhasil melukaimu dengan pedangnya? Dia hampir berhasil mengambil kunci itu darimu. Tapi, kami datang di waktu yang tepat," jelas Azrael. Ia menyimpan kembali sayapnya ke dalam tubuhnya dan duduk di sampingku.
Aku ingat bagaimana Lucifer berhasil menusukku untuk kedua kali dengan pedang miliknya sementara pedang Azrael masih menancap di perutku. Ia membawaku terbang di atas langit saat itu dan kami bertarung hebat. Aku berhasil mencabut pedang Azrael dari tubuhku, kemudian balas menusuk perutnya, hingga akhirnya aku terjatuh ke bawah karena racun yang ada di pedang Lucifer membuatku lemas tak sadarkan diri. Namun, kuyakin Lucifer juga terluka karena tusukan pedangku padanya.
"Gadis itu ... bagaimana dengan gadis itu?" Aku kembali teringat dengan Keana yang tertinggal di dalam hutan.
"Dia baik-baik saja. Aku mengantarnya pulang sebelum matahari terbenam." Ia menjawab dengan kening berkerut. Mata biru tuanya menatapku lekat. "Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan tentang gadis itu?"
Aku menelan ludah. Apa aku harus jujur pada Azrael tentang siapa Keana sebenarnya? Tapi, aku tidak yakin dengan pilihan itu. Aku ingin membuatnya tetap aman.
"Apa yang kau pikirkan? Dia hanya gadis biasa," sahutku sambil menerawang memandang matahari yang terus menyorot tubuhku. Kuraba luka menganga di dadaku yang sedikit terbuka. Luka itu mulai mengering sekarang. "Apa Mikhael yang menyembuhkanku?"
"Ya. Dia berhasil membuang racun yang berada di dalam tubuhmu," angguk Azrael, tapi ekspresinya tidak berubah. "Aku menemui Jophiel kemarin saat kau belum siuman."
"Apa katanya?" Aku spontan menoleh. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang.
"Jadi, apa yang kau sembunyikan dariku? Jophiel mengatakan kau ke tempatnya beberapa malam lalu. Kau meminta diizinkan membaca kitab Henox. Ia bilang akan membantumu dan ia yakin kau sudah tahu siapa gadis yang dimaksud."
Tubuhku menegang. Kugigit rahangku kuat-kuat sampai terdengar bunyi bergemeletukan. "Aku tidak bisa membiarkannya membunuh Messias."
Azrael mendesah, lalu geleng-geleng kepala bingung. "Aku tidak mengerti dengan apa yang kau pikirkan. Apa kau tidak merasa bahwa kau semakin aneh, Gabriel?"
Aku hanya mendengus dan mengalihkan pandangan ke tempat lain. Kulihat di tepi telaga, Mikhael sedang bersiap memainkan serulingnya. Ia terlihat sangat bercahaya dengan sayap emasnya yang mengembang di bawah terpaan sinar matahari.
"Gadis itu akan mati jika ia membunuh Messias. Dan Jophiel juga bilang bahwa ia tidak memiliki umur yang panjang," ujarku setelah lama terdiam. Alunan suara seruling membuat mataku mengantuk. Kurebahkan tubuhku kembali di atas rerumputan. Wajah polos gadis itu membayang di pelupuk mataku.
"Kau tidak bisa mengubah takdir yang sudah tertulis untuknya," kata Azrael. Nada suaranya sedikit heran. "Lagipula, untuk apa kau mengkhawatirkannya? Kau sangat aneh."
"Entahlah." Aku mendesah, meletakan sebelah lengan di atas keningku, lalu terpejam. "Kurasa aku memang aneh belakangan ini."
Tak lama, kurasakan Azrael menyenggol bahuku. Refleks, kubuka mataku dan menatapnya. Ia mengulurkan sesuatu di telapak tangannya.
"Aku menyimpannya selama kau tidak sadarkan diri kemarin. Benda ini terus bergetar. Kurasa para iblis telah menyiapkan pasukannya yang semakin banyak. Kita harus bersiap dengan segala kemungkinan buruk terjadi."
"Terima kasih," ucapku seraya menerima kunci itu dan menggenggamnya erat-erat. Aku tahu bahwa walau bagaimanapun, Lucifer akan mendapatkan kunci ini dan Messias akan keluar ke muka bumi membuat kekacauan. Tapi paling tidak, kami harus mengulur waktunya sedikit lebih lama.
"Omong-omong, sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanyaku sambil bangkit berdiri. Luka di dadaku sudah tidak terasa nyeri lagi.
"Dua-tiga hari mungkin ..." jawab Azrael. Ia ikut berdiri di sampingku. "Jadi, apa benar gadis itu adalah si penerima takdir sebagai pembunuh Messias?"
Aku menarik napas, lalu mengangguk pelan. "Ya, sepertinya begitu."
Azrael terlihat terkejut. Namun, tidak berkata apa-apa. Ia seperti memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba Raphael muncul di dekat kami. Tampaknya ia baru saja datang dari dunia manusia bersama Uriel yang menyusul di belakangnya. Wajah keduanya nampak serius dan tegang.
"Aku punya kabar buruk!" gumam Raphael. Rambut pirang kelabunya yang selalu terikat rapi, kini ia biarkan terurai.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
"Kami bertemu Azazel di tempat para petinggi The Watcher. Mereka juga mencari kitab Henox," sahut Uriel.
"Kenapa mereka mencarinya? Dan kenapa kalian mendatangi para petinggi The Watcher?" Aku menatap mereka berdua bergantian.
"Tentu saja kami ingin tahu mengenai gadis yang dikatakan Ramiel. Gadis penerima takdir pembunuh Messias." Uriel memicingkan mata menatapku. "Apa kau tahu sesuatu mengenai gadis itu?"
Aku tidak segera menjawab, melainkan melirik Azrael yang memasang gestur pura-pura tidak tahu. Di depan sana, Mikhael menghentikan permainan serulingnya, lantas menghampiri kami. Aku mencoba untuk menghindari pertanyaan ini. Tapi, tampaknya sia-sia karena rekan-rekanku mempunyai insting yang lebih tajam dan selalu tepat.
"Apa gadis itu adalah gadis manusia yang kemarin bersamamu di hutan?" Raphael menebak.
Aku mengangkat bahu. "Kurasa begitu."
"Wow! Kebetulan yang sangat mengejutkan, bukan? Mungkinkah itu sebabnya ingatan gadis itu tidak bisa dihilangkan?" Ia melanjutkan.
"Aku akan mencari tahu untuk sementara. Aku tidak berharap ia adalah gadis yang dimaksud---karena Jophiel mengatakan gadis pemilik takdir tidak punya umur yang panjang," kataku.
"Well, itu takdir yang buruk tentu saja," komentar Uriel, mengernyit.
"Yeah, buruk sekali," sahutku menyetujui. Kurasakan kunci yang berada dalam genggamanku bergetar sangat hebat. Kubuka genggaman tanganku sambil mengerutkan alis memandang benda itu.
"Sepertinya kunci itu berada sangat dekat, Gabriel ..." Mikhael berkata, ikut mengamati kunci yang berada di tanganku dengan wajah serius.
Aku memejamkan mata guna merasakan getaran kunci itu. Hawa panas yang mengaliri telapak tanganku, kuserap ke seluruh tubuh. Biasanya cara seperti ini sangat efektif untukku melacak di mana kunci itu berada.
Dan tiba-tiba saja, aku terhenyak begitu mengetahuinya. Kunci itu ... kunci itu bersama seorang manusia dan manusia itu adalah Keana!
What the hell happened?
Bagaimana kunci itu bisa berada di tangannya? Ini benar-benar membuatku tak habis pikir. Semakin lama segalanya menjadi semakin rumit. Aku tidak mungkin salah merasakan keberadaan benda itu. Sial! Ia pasti sedang dalam bahaya. Dan benar saja, aku bisa melihat peristiwa yang dialami Keana saat ia bersama benda itu dan itu bukanlah peristiwa yang menyenangkan.
"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Mikhael penasaran dengan ekspresiku yang tiba-tiba saja menegang.
"Gadis itu ... kurasa aku harus menghampirinya sekarang." Kutatap mereka semua bergantian dengan panik. Lalu, cepat-cepat melesat terbang meninggalkan tempat itu.
🍁🍁🍁