Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembunuh
CHAPTER 18
Yuzuriha melesat ke arah Timur dengan langkah berlari yang penuh kegelisahan—tempat di mana Juichi sedang berjuang, sudah jelas terlihat dari kejauhan, terpantul kilatan cahaya dari benturan yang menggelegar.
Tak butuh waktu lama, dia tiba di lokasi pertempuran. Di tengah puing-puing jalan raya yang hancur lebur, Juichi mengendalikan mobilnya yang tampak seperti berasal dari masa depan, menghindari serangan dengan kelincahan yang mengagumkan. Lawannya adalah monster kadal raksasa dengan tubuh bertambah besar tiap detik, sosok yang jelas bukan lawan mudah.
"Sialan, gerakannya lincah sekali!" bisik Juichi sambil memutar setir dengan cepat. Monster itu mengulurkan lidah panjang seperti ular yang mengarah langsung ke mobil. BAM! Tubuh mobil terkena benturan keras dan terpental hingga menyentuh tembok bangunan dekatnya, namun baja futuristiknya hanya sedikit bergores.
Dari atas atap sebuah rumah yang cukup jauh, Yuzuriha mengangkat tangan dengan kencang. "OIIIIII, JUUUICHHIIII!" Suaranya terdengar jelas meskipun hiruk-pikuk pertempuran.
Juichi menoleh ke arahnya dari dalam mobil, wajahnya penuh kesal. "Dasar gadis nakal! Bukannya bantu malah manggil-manggil dari situ!" Ia membuka kaca mobil dan meneriakkan dengan keras, "OI YUZU! BANTU AKU LAWAN MONSTER INI! SELESAI KITA KE TEMPAT SHUN DAN RIOT!"
Tanpa berlama-lama, Yuzuriha mengaktifkan Ten—energi merah menyala menyelimuti seluruh tubuhnya dan jarum yang digenggam. Dalam sekejap, jarum itu membesar dan memanjang hingga seperti pedang raksasa.
Dia melompat dari atap dan melesat ke arah monster. Makhluk itu menyadari datangnya ancaman baru dan dengan cepat mengibaskan ekornya yang tebal seperti kayu besi ke arah Yuzuriha. Tak sempat menghindar, tubuhnya terkena benturan langsung dan terlempar hingga tertimbun puing-puing bangunan yang roboh.
"YUZU!" Juichi langsung keluar dari mobil dan membuang batu demi batu yang menutupi tubuhnya, tangannya gemetar sedikit. "Jangan kau mati disini... jangan dong..." Ia menoleh ke belakang dan melihat monster itu perlahan mendekat dengan langkah yang menggoyangkan tanah. "CIH! OI YUZU! KALAU KAU MATI DISINI, SIAPA YANG AKAN MEMBUNUH 'DIA'?!" Teriaknya dengan penuh emosi.
Seketika, sinar merah muncul dari balik puing-puing. Yuzuriha bangkit dengan wajah penuh tekad, jarumnya yang terlempar jauh tiba-tiba melesat ke tangannya seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat.
"Makasih... sudah mengingatkanku." Napasnya berat, tapi matanya tetap menyala.
Juichi tersenyum lega dan kembali masuk ke mobil. Kali ini, ia mengaktifkan sistem senjata tersembunyi—dari sisi kiri-kanan lampu depan dan bagian depan tubuh mobil, muncul masing-masing dua meriam api yang siap menembak.
"Ya ampun..." Yuzuriha meregangkan otot-ototnya sambil menyentuh bagian dada kirinya, "Rasanya tulang rusukku ada yang patah..." Meski begitu, dia tetap mendekat ke mobil.
Keduanya saling bertatap dan mengerti tanpa perlu banyak bicara—rencana sudah terbentuk di benak mereka. Tak lama kemudian, bayangan besar kaki monster muncul tepat di atas mereka, siap menjatuhkan berat badannya.
Juichi langsung menekan pedal gas hingga ke lantai! Mobil melesat menghindar tepat saat kaki monster itu menjatuhkan diri ke tanah, menimbulkan guncangan yang membuat seluruh area bergetar. Monster itu melihat-lihat kaki nya dengan ragu—seolah merasa tidak menginjak apa-apa selain tanah dan puing-puing batu.
TAK-TAK-TAK-TAK! Suara tembakan meriam bergema keras. Juichi yang sudah berada di posisi aman menembak tubuh monster secara terus-menerus, membuat makhluk itu kesakitan dan langsung mengejar mobilnya.
Namun, tak diketahui monster itu, tepat di atas kepalanya ada sosok yang mengambang di udara. Rambut merah Yuzuriha bergerak di angin malam, latar bulan purnama yang terang membuatnya tampak seperti dewi pejuang yang datang dari surga.
Sebelum monster bisa mengejar Juichi lebih jauh, Yuzuriha melompat dari atas kepalanya, menggunakan kaki monster itu sendiri sebagai pijakan. Dia memusatkan seluruh energi Ten ke kedua jarum yang kini tampak lebih tajam dari baja paling keras.
"Selamat tidur, cicak kecil." Suaranya lembut namun penuh kekuatan.
Dalam gerakan kilat, dia terjun bebas dan menyayat leher monster dengan satu gerakan memotong yang bersih. Energi Ten yang terkonsentrasi membuat jarumnya mudah membelah kulit tebal makhluk itu. Kepala monster terlepas dari tubuhnya, jatuh dengan suara gemuruh sebelum perlahan menghilang menjadi asap hitam. Darah hangat makhluk itu membasahi seluruh tubuh Yuzuriha.
Juichi mendekat dengan mobil dan membuka kaca jendela, wajahnya penuh perhatian. "Kau baik-baik saja?" Pintu belakang mobil terbuka sendirinya.
Yuzuriha menahan rasa sakit dan mengangguk, "Ya, aku baik saja. Ayo cepat ke tempat Shuchan dan Riot!" Dia masuk ke dalam mobil dengan langkah sedikit terengah-engah.
Tanpa berlama-lama, Juichi mengemudi dengan cepat melewati jalan yang hancur akibat kekacauan pertempuran, mesin mobil berbunyi seperti mengaum.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di lokasi baru. Saat keluar dari mobil, ekspresi wajah mereka langsung berubah menjadi terkejut—Riot tengah menghadapi monster berkepala dua dengan tiga ekor yang mengerikan, sementara Shun berdiri di atas atap gedung jauhnya, mengirimkan panah-panah yang akurat untuk menutupi gerakan Riot. Di sekitarnya, 25 anggota Justice bergerak dengan hati-hati, mencari celah untuk menyerang.
Tanpa ragu, Yuzuriha dan Juichi bergabung dalam formasi. Riot yang melihat kedatangan mereka langsung melompat mundur dan memanggil, "SHUN! TURUN KE BAWAH SEKARANG!"
Shun yang selama ini berada di atas atap mengangguk dan turun dengan cepat.
"Kalian sudah selesai di sana?" tanya Riot sambil tetap memperhatikan monster di depannya.
"Sudah!" jawab Yuzuriha dan Juichi serempak.
"Bagus!" Riot menoleh ke Shun dengan senyuman yang penuh keyakinan. "Shun, gunakan belati mu!"
Shun mengangguk tanpa ragu. Ia menonaktifkan Ten sebentar, mengambil sepasang belati dari sabuk pinggangnya, lalu mengaktifkan kembali energi itu. Kali ini, energi hitam pekat menyatu dengan merah membara, menyelimuti tubuhnya dan belati yang digenggam. Belati itu berubah bentuk—bilahnya menjadi hitam seperti arloji dengan ujung yang sangat tajam, gagangnya juga berubah menjadi warna hitam pekat.
Riot siap menyerang bersama Shun, sementara Juichi kembali ke mobil untuk mengaktifkan senjata khususnya—dari atap mobil muncul sebuah meriam besar yang membutuhkan orang untuk mengendalikannya langsung, karena hanya senjata itu yang mampu menghentikan kemampuan regenerasi monster tersebut.
Saat Juichi sedang menyiapkan senjata, tanpa mereka sadari Shun dan Riot sudah melesat ke arah monster. Mereka melompat tinggi, dan monster itu dengan cepat mengibaskan dua ekornya secara bersamaan untuk menghalangi mereka. Namun, bukan menghindar, keduanya justru menerima benturan itu dan dengan cepat menusukkan senjatanya ke dalam tubuh ekor monster, menggenggam gagangnya dengan kuat agar tidak terlempar.
Dari kejauhan, Yuzuriha membantu dengan menembakkan jarum-jarumnya yang bisa mengontrol arah, sementara Juichi menembakkan peluru-peluru besar dari meriam atap mobil—serangan beruntun itu membuat monster kesulitan bergerak dengan cepat.
Saat ekor monster mau menarik kembali tubuhnya, Shun dan Riot menggunakan momentum itu untuk melompat tinggi ke arah leher makhluk itu. Kedua senjatanya terangkat ke atas, siap menghantam.
"SHUN! GUNAKAN FIX!" Teriak Riot dengan penuh kekuatan.
Meskipun tidak tahu apa itu Fix, Shun menuruti dengan penuh kepercayaan. Ia melihat Riot memusatkan seluruh energi Ten ke kedua pedangnya, lalu mengikuti langkahnya—memusatkan semua kekuatan yang ada di dalam dirinya ke belati yang digenggam. Rasanya seperti ada kekuatan baru yang mengalir ke seluruh tubuhnya, membuat belati terasa lebih berat namun juga lebih kuat dari sebelumnya.
Saat hampir menyentuh leher monster, mereka secara bersamaan menghancurkan senjatanya ke bawah dengan gerakan vertikal yang penuh kekerasan.
"RRRAAAAAAGHHHHHHHH!!!" Teriakan mematikan monster itu menggema hingga terdengar sampai ke tempat pengungsian warga jauh di kejauhan. Mereka yang mendengarnya mengira pasukan Justice sudah hampir menang.
Darah panas makhluk itu keluar deras seperti air mata yang tak ada ujungnya. Tubuhnya terjatuh dengan keras dan mulai menghilang menjadi asap. Sebelum benar-benar hilang, suara pelan terdengar dari bibirnya: "A...A...Akhirnya... A...A...Ayah..." Air mata darah keluar dari matanya, seolah merasakan kelegaan yang mendalam.
Shun mendengar kata-kata itu dengan jelas. Rasa terkejut membuatnya tak bisa bergerak—seolah monster itu punya cerita dan keluarga yang tersembunyi.
Saat tubuh monster hampir hilang, Hige—pemimpin dari 25 anggota Justice—muncul dengan langkah angkuh. Ia berdiri tepat di samping kepala monster yang hampir lenyap dan mulai menendangnya berkali-kali.
"Dasar tidak berguna! Jadi manusia tidak berguna, jadi monster juga tidak berguna!" Teriaknya sambil mengeluarkan pistol laser dari sabuknya, mengaktifkan Ten untuk memperkuat daya tembak. Dia menembakkan laser ke kepala monster itu berkali-kali sebelum meludah tepat di atasnya. "CIH!"
"M-m-manusia katamu?!" Shun terkejut, suaranya gemetar.
Riot hanya menunduk dan berjalan ke depan tubuh monster yang hampir hilang, lalu membungkuk seolah sedang berdoa.
"M-master... apa maksudnya?" tanya Shun dengan napas yang tidak teratur.
Riot selesai berdoa dan mendekat ke arahnya. "Seperti yang kau dengar, Shun."
Napas Shun semakin cepat, pikirannya menjadi sangat kacau. Ribuan pertanyaan muncul dalam benaknya: "Manusia?", "Monster?", "Apa sebenarnya yang terjadi?"
Ia merasa bingung dan tidak tahu harus berpikir apa. Saat itu juga, suara Hige terdengar lagi dengan sangat lantang.
"OI BOCAH! KAU BARU SAJA MEMBUNUH MANUSIA LOH! MONSTER ITU DULUNYA ADALAH MANUSIA!" Teriaknya dengan senyuman yang menjijikkan.
Pada saat itu juga, kekuatan kaki Shun seolah hilang. Ia terjatuh berlutut di atas tanah yang penuh darah dan puing-puing, tubuhnya gemetar hebat.
Dia baru saja membunuh sebuah makhluk yang dia anggap monster... tapi kenyataannya, itu dulunya adalah manusia.
Pikiran Shun terbang ke masa lalu—ia merasa sama saja dengan pembunuh orang tuanya. Benarkah dia memang Anak Iblis seperti yang selalu dikatakan orang-orang?
Dia sudah membunuh manusia.