Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.
Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Yang Tersisih
Harsa, Sore itu ia terlihat tengah berjalan ke luar dari kantor setelah sebelumya menyelesaikan agenda hari itu dengan melakukan rapat Teknis Penanganan Perkara bersama orang-orang penting yang bertugas dan mengawasi kasus yang akan segera dilimpahkan ke pengadilan.
“Ini bener saya gak jadi ikut, Pak?” tanya seorang gadis muda usia sekitar 20-an yang tak lain adalah anak magang yang baru sekitar seminggu ini bekerja di Bidang Tindak Pidana Umu bersama Harsa dan tim lain yang bertugas di bagian tersebut.
Tadinya Harsa sengaja mengajak anak magang itu ikut dengan ia dan salah satu staffnya untuk bertemu dengan saksi utama dalam perkara yang akan naik sidang senin nanti. Namun, entah kenapa Harsa tiba-tiba berubah pikiran dan memperbolehkan gadis bernama Amel itu pulang dan ia hanya akan pergi bersama Julio saja.
Sosok yang pikirannya tampak penuh dengan satu tangan memegang tas, sementara satu tangan lagi di dalam saku celana itu tampak terdiam sambil mengangguk. Harsa menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, “gak apa-apa, kamu bisa langsung pulang aja. Besok bisa minta salinan BAP-nya di Julio saja buat kamu pelajari.”
Mata gadis muda itu tampak berbinar, ia kegirangan atas keputusan mentornya yang tiba-tiba berubah ini.
“Makasih ya, Pak. Kalau gitu saya pamit pulang.” Gadis bernama Amel itu sedikit membungkuk memberi hormat dan terimakasih pada Harsa yang sudah berbaik hati.
“Kenapa bapak tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Julio membuka suara saat Amel sudah melajukan motornya ke luar dari halaman Gedung Kejaksaan Tinggi tempat mereka bekerja.
“Bukannya tadi bapak mau Amel langsung lihat prosedur cara Penyidik dan Jaksa saat menemui saksi?” lanjut Julio penasaran.
Dan Harsa yang sebenarnya tak memiliki alasan khusus pun hanya menggeleng. Tangannya menekan remote mobil, membuat kendaraan warna putih itu lantas berbunyi. Lalu ia pun berjalan mengitari mobil dan masuk ke dalamnya tanpa menjawab pertanyaan Julio yang mana membuat wajah laki-laki 29 tahun itu memberenggut masam. Sudah hafal dengan tabiat seorang Harsa yang kadang tak asyik, pria dengan setelan cuek juga pediam itu selalu berhasil membuatnya elus dada.
Bagaimana bisa seorang Jaksa yang sudah banyak menangani kasus ini adalah orang yang ternyata sangat irit bicara? Julio bertanya-tanya dalam hati.
“Tapi nanti bapak antar saya lagi ke sini, kan?” tanya Julio memastikan saat sudah menyusul Harsa masuk ke mobil. Ya, mumpung belum jalan, setidaknya ia tahu jawaban pria itu. Kalau-kalau Harsa tak akan mengantarnya kembali untuk mengambil motor maka ia lebih baik naik motor saja menuju Rumah Sakit.
“Gak tahu. Nanti dilihat Lio, kalau saya gak berubah pikiran.”
“Ah elah, Pak. Ya udah saya naik motor aja ya kalau gitu, daripada nanti repot lagi harus balik ke sini.” Julio memberenggut, menghadapi Harsa bukanlah hal yang baru baginya. Ia sudah hafal sikap kadang-kadang Jaksa satu itu. Meski begitu, Harsa orangnya baik dan mereka semua di bagian Pidum sudah sangat akrab dengannya yang masih memiliki sisi lain, yaitu ia aslinya royal dan sangat peduli terhadap orang terdekatnya. Julio dan rekan staf yang lain bahkan dekat dengan keluarga Harsa karena pria ini sering mentraktir merema makan tiap kali menyelesaikan sebuah kasus. Ya, walau sebenarnya merekalah yang awalnya memaksakan akrab dengan Harsa. Karena jika tidak demikian orang kaku itu jelas tidak akan pernah mau membuka diri.
Seperti kata Buk Zizah, Kepala Seksi Pidum yang telah hafal betul dengan tabiat Harsa, 'orang introvert seperti Harsa tuh kalau gak diketok duluan sama orang extrovert kayak kita dia bisa gak akan pernah buka diri' dan berkat kalimat itu mereka semua bisa akrab dengan Harsa meski harus agak memaksa.
Harsa berdecak, “Gak usah drama, Lio, meski saya masih ada urusan. Emang pernah kamu lihat saya gak bertanggung jawab?”
Julio hanya tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Harsa saat pria itu sudah mulai melajukan mobil di bawah langit sore yang kian memerah.
Mereka pun pergi ke Rumah Sakit. Agenda sore ini yaitu janji temu dengan saksi dalam sabuah kasus pelecehan dengan para penyelidik. Harsa dengan didampingi Julio sebagai staf ingin langsung turut mendengar cerita saksi sekaligus korban dalam kasus pelecehan yang menyeret nama aktor ternama tanah air.
Korban yang dikonfirmasi masih dalam masa pemulihan pasca trauma itu masih dirawat dan baru sadar dua hari yang lalu.
“Dia memang agak pendiam sejak sadar, kebanyakan begong juga,” terang keluarga korban saat hanya diam setelah pihak penyidik dengan didampingi dokter mengajukan pertanyaan.
“Kondisi psikis pasien masih terguncang,” sambung dokter seraya menjelaskan kondisi pasien yang kemungkinan masih trauma hingga belum bisa dimintai keterangan walau awalnya tadi pagi sempat setuju tapi kini ia malah lebih banyak merenung dengan tatapan kosong.
Harsa menghela napas. Ia ikut merasakan bagaimana luka batin dan fisik yang tertoreh pada korban. Ini jelas masih membuatnya takut dan mungkin akan sulit bagi mereka untuk mendengar keterangannya dalam waktu dekat.
“Kalau belum bisa, ada baiknya jangan terlalu dipaksa, Pak, kita tunggu sampai dia benar-benar pulih dulu.” Demikian Harsa memberi saran yang mana menjadi akhir pertemuan sore itu.
Setelahnya Harsa, Julio dan rekan Penyidik dari Kepolisian langsung pulang.
“Lio, kamu bisa tunggu saya di mobil? Say ada urusan sebentar.”
Julio yang baru ingin mengemukakan tanggapan soal kasus yang tengah di tangani ini lantas menutup mulut rapat-rapat, urung meneruskan niat begitu Harsa lebih dulu menyampaikan keinginannya. Julio tahu itu bukanlah sebuah permintaan izin atau pun permohonan persetujuan, melainkan sebuah perintah yang harus ia laksanakan.
“Siap, Pak!”
.
.
Anin... Sore hari adalah jadwal rutin ia membawa Zura ke luar dan jalan-jalan di sekitar komplek. Menikmati suasana sore yang syahdu di bawah langit dengan rona kemerahan merupakan pemandangan cantik yang tak boleh ia lewatkan untuk diabadikan.
“Senjanya cakep banget, foto yuk, Ra.” Anin berujar takjub sembari memerhatikan warna jingga yang kian pekat memenuhi kala sang penerang semesta mulai tergelincir di ujung barat sana.
Anin lalu mulai memotret dengan Zura yang sibuk ke sana kemari memerhatikan tanaman yang ada di halaman rumah mereka sembari berceloteh. Sesekali Anin berjongkok sambil mengambil foto Zura. Ia tersenyum tiap kali melihat hasil potretannya yang menakjubkan.
“Mama juga mau, ih. Tapi gimana caranya, ya? ” tanya Anin bingung saat ia juga ingin berada satu frame bersama sang anak dengan senja sebagai latar belakang di depan rumah mereka sore itu. Tak menemukan ide, Anin pun lebih memilih berselfie bersama Zura yang seakan begitu paham kamera, bayi itu tersenyum lebar menampakkan enam gigi dan dua gigi bawah yang baru muncul menerobos gusinya.
“Anin, sabtu jadi gak?” Di saat yang bersamaan suara dari depan membuat Anin yang tengah berjongkok tepat membelakangi gerbang lantas menoleh. Dilihatnya Mbak Gita dengan mengendarai sepeda, sepertinya baru pulang gowes dengan Aldo di belakangnya berhenti tepat di depan rumahnya.
“Jadi dong,” jawab Anin antusias sembari membawa Zura ke dalam gendongannya. Bersiap untuk masuk sebab hari sudah hampir gelap.
“Asyik! Harsa udah ACC emang?”
“Udah dong.”
“Ya udah nanti info di grup aja ya jam berangkatnya. Gak usah riweh, nanti belanjanya pas sekalian berangkat aja, kan ya?”
Anin sih ngikut bagaimana keputusan Gita saja sebagai orang yang selalu mengkoordinir setiap kegiatan yang akan mereka lakukan. Tentu ia hanya akan mengikuti semua keputusan.
“Ya, udah masuk gih, udah maghrib. Dada Zura.”
“Daaa Zu Zu gemoy,” timpal Aldo seraya berdada ria pada Zura sembari menyusul ibunya. Membuat Zura lantas cekikikan sambil menggoyangkan kaki senang.
“Yuk, kita masuk juga Zu Zu.” Dnegan mengikuti panggilan Aldo pada Zura, Anin melangkah masuk.
Namun, suara dering telepon membuat Anin lekas menerima panggilan yang tak lain dari Ayahnya.
“Assalamualaikum, Iya, ada apa, Pak?” tanya Anin setelah menempelkan ponsel ke telinga sembari terus berjalan ke dalam rumah.
“Bapak cuma mau ngasih tahu, bapak lagi di Semarang tapi gak bisa mampir ke kamu. Soalnya udah harus balik malam ini, ada urusan mendesak.”
Entah kenapa perkataan itu berhasil membuat mata Anin panas. Sensasi tak enak tiba-tiba menerpa, bergejolak tak menentu di relung dada. Untuk yang kesekian kali, Anin merasa tersisihkan.
Perasaan yang awalnya biasa saja saat tahu Ayahnya datang ke Jawa meski tanpa mengabarinya di awal itu kini tiba-tiba berubah jadi kecewa. Anin muak, Anin marah. Ia merasa tak dianggap.
Kenapa selalu aku? Tanyanya dalam hati saat rasa sakit karena mengingat bagaimana perlakuan tak adil yang ia terima dari orang tuanya sendiri memenuhi hati. Masih tak menyangka jika ternyata dirinya tak pernah dianggap. Ia selalu jadi yang paling terakhir dikabari dan diberitahu hal apa pun itu. Ia selalu tersisihkan.
Entah sejak kapan? Tapi Anin mulai menyadari semua itu sejak ia memiliki keluarga sendiri. Ia sadar, Bapak tak pernah benar-benar memberatkan perasaannya sedikitpun. Apa pun itu, ia selalu di urutan terakhir. Terlebih, Mamak juga kadang berlaku demikian, berat sebelah tiap kali mereka melakukan Kesalahan dan hanya ia yang dihakimi. Membuat Anin makin hari makin kehilangan kepercayaan terhadap keluarga yang seharusnya menjadi rumah tempat pulang, tapi ia malah senggan untuk sekedar singgah, apalagi berteduh mengadu resah. Apa mereka pikir itu tak menyakiti?
“Halo, Anin?” tanya Bapak dari seberang sana saat tak mendengar Anin merespon apa pun.
“Iya, gak apa. Bukannya udah biasa ya?” Bukannya udah biasa aku selalu jadi yang paling terakhir tahu tentang apa pun itu? Bukannya udah biasa kalau aku selalu gak dipertimbangkan dalam keputusan apa pun? Bukannya udah biasa ya, aku gak pernah dapat hal sepesial untuk merasa dianggap?
Dan inilah Anin dengan salah satu luka yang membuatnya merasa tak berharga bagi siapapun saat orang tuanya bahkan selalu membuatnya merasa tersisihkan.