NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Dokter Genius

Kehidupan Kedua: Dokter Genius

Status: sedang berlangsung
Genre:Kaya Raya / Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Menyembunyikan Identitas / Mafia / Dokter Genius / Dokter
Popularitas:31.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ornies

Di bawah cahaya gemerlap Negara Korea, terlahir kembali seorang Dokter Genius Mafia yang menyembunyikan bakatnya. Saat takdir mengaitkannya dengan seorang anak keluarga Mafia, persaingan dan konflik memuncak dalam kerumitan yang tak terelakkan. Tetapi, ada perawat cantik yang misterius, memikat perhatiannya. Dalam perang antara dendam dan cinta, jam tangan kuno yang menjadi sistem pintar AI memberikan dimensi baru.

Dalam atmosfer misteri dan tarikan cinta, mampukah sang Dokter Genius menemukan kekuatan baru? Saksikan perjalanan yang menggetarkan ini, di mana masa lalu, kejutan, dan teknologi kuno menyatu dalam kisah yang takkan terlupakan. Dan di tengah segala pilihan, akankah misteri di balik perawat akan terbongkar?

*
*

Cerita ini murni karya sendiri dan semua karakter serta latar yang digunakan berasal dari imajinasi author sendiri dan tidak ada dalam sejarah manapun.

Jika ada kesamaan nama tokoh atau alur cerita itu hanyalah suatu kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ornies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28. Dokter Baru Meresepkan Obat Sembarangan?

Keesokan harinya, Alan terbangun dengan semangat yang baru. Hari ini adalah hari yang penting dalam perjalanan misinya. Dia merasa diberkati oleh kunjungan orang tuanya semalam, yang telah memberinya kehangatan dan dukungan yang sangat dia butuhkan.

Setelah sarapan bersama, Alan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Sebelum pergi, ibunya memberikan sebuah kotak kecil kepada Alan. "Ini untukmu, Nak. Sebagai tanda dukungan dan cinta dari kami."

Alan tersenyum dan membuka kotak tersebut. Di dalamnya, ada kalung sederhana dengan liontin yang terbuat dari batu berwarna biru. "Ini indah, Bu. Terima kasih banyak."

Ibunya menjelaskan, "Warna biru melambangkan ketenangan dan keberanian. Kami ingin kamu selalu tahu bahwa kami ada di belakangmu, mendukungmu dengan segala yang kamu hadapi."

Alan merasa hangat di hatinya. Dia memakai kalung tersebut dengan penuh rasa terima kasih, merasa lebih kuat dengan dukungan dari orang tuanya.

Saat langit pagi mulai terang, Alan memasuki koridor rumah sakit dengan langkah mantap. Dia mengenakan jas putihnya yang biasa dan menggenggam stetoskop di tangannya. Wajahnya tampak serius, mencerminkan fokusnya pada pekerjaannya yang sangat penting.

Begitu masuk ke dalam ruangan pasien, suasana hatinya berubah menjadi tenang dan penuh perhatian. Dia melihat seorang pasien pria paruh baya yang terbaring lemah di tempat tidur. Meskipun terlihat lemah, mata pasien itu terbuka dan penuh harap.

"Dokter Kim," sapanya dengan lemah, senyum lembut terukir di wajahnya. "Bagaimana kabar saya hari ini?"

Alan tersenyum ramah kepada pasien itu. "Hari ini adalah hari yang baru, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu Anda pulih." Dia mulai memeriksa catatan medis dan memberikan perhatian khusus pada resep yang telah diraciknya.

Setelah memeriksa kondisi pasien dengan teliti, Alan mengambil botol obat dari saku jasnya. Dia dengan hati-hati menuangkan cairan obat ke dalam gelas kecil. "Obat ini akan membantu memperkuat tubuh Anda dan meredakan gejala yang Anda rasakan."

Dengan tangan lembut, Alan memberikan gelas obat kepada pasien itu. "Minumlah dengan perlahan, Pak. Dan pastikan untuk beristirahat dengan baik. Saya akan kembali untuk memeriksa perkembangan Anda."

Pasien itu tersenyum dengan penuh harap dan mengangguk lemah. "Terima kasih, Dokter Kim. Saya tahu Anda melakukan yang terbaik untuk kami semua."

Alan mengangguk, senyumnya tetap hangat. "Kami di sini untuk membantu, Pak. Jika ada yang Anda perlukan, jangan ragu untuk memberi tahu perawat."

Setelah memberikan perhatian medis kepada pasien pertama, Alan melanjutkan tugasnya dengan mengunjungi pasien-pasien lain. Dia meresepkan obat, memeriksa kondisi, dan memberikan dukungan moral kepada setiap pasien yang dia jumpai.

Saat hari berjalan, suasana hati Alan berubah menjadi rasa puas. Dia merasa bahwa setiap langkah yang dia ambil adalah bentuk konkret dari tekadnya untuk membantu mereka yang membutuhkan, serta mengungkap misteri yang telah menghantuinya.

Di antara perawatan pasien, Alan mendapati momen-momen hangat dengan rekan-rekannya di rumah sakit. Mereka bertukar cerita, saling berbagi pengetahuan, dan terkadang berbicara tentang hal-hal yang lebih ringan. Alan merasa beruntung memiliki lingkungan kerja yang mendukung, di mana mereka bisa saling memberi dukungan dan berkolaborasi.

Saat hari mulai berakhir, Alan kembali ke ruangannya dan mengambil alat-alat yang dia butuhkan. Dia melihat jam tangannya dan mengingat pesan dari Luke, jam tangan kuno. Dia tahu bahwa misteri yang sedang dia hadapi adalah sesuatu yang tidak bisa dia ceritakan kepada siapa pun, bahkan rekan-rekan terdekatnya di rumah sakit.

Dalam perjalanannya mencari kebenaran, Alan tahu bahwa dia harus menjaga rahasia ini dengan hati-hati. Dia memahami risiko yang ada dan bersiap menghadapi segala konsekuensi yang mungkin terjadi. Dengan tekad yang kuat dan dukungan dari orang-orang terdekatnya, dia melangkah maju dalam perjalanan yang penuh tantangan ini.

***

Suasana di ruang tunggu menjadi tegang saat keluarga pasien mulai mengeluarkan perasaan frustrasi mereka. Seorang perawat mencoba dengan sabar menjelaskan situasi kepada mereka.

"Maaf, kami ingin menjelaskan bahwa Dr. Kim adalah dokter kami yang memiliki pengetahuan medis yang cukup untuk meresepkan obat. Tindakan yang diambil oleh Dr. Kim adalah berdasarkan pertimbangan medis." Menjelaskan oleh perawat rumah sakit yang bertugas hari ini.

Anggota Keluarga 1 dengan nada marah "Pertimbangan medis? Apakah Anda menganggap kami bodoh? Bagaimana mungkin dia tahu apa yang terbaik untuk ayah saya tanpa rekomendasi dokter senior?"

Anggota Keluarga 2 tertawa dengan sinis "Ini terlalu berlebihan. Dokter baru yang meresepkan obat sembarangan? Saya rasa saya bisa jadi dokter juga!"

Alan datang ke ruang tunggu setelah mendengar keributan tersebut. Dia melihat wajah khawatir pada wajah keluarga pasien dan perawat yang berusaha menengahi situasi. Alan memahami bahwa mereka hanya peduli tentang kesehatan dan keselamatan orang yang mereka cintai.

"Dengan izin," ucap Alan dengan lembut saat dia mendekati keluarga pasien. "Saya Dr. Alan Kim, dokter yang merawat ayah Anda. Saya minta maaf jika pemberian obat tanpa pemberitahuan membuat Anda khawatir."

Alan berbicara dengan lembut "Saya memahami perasaan Anda. Saya juga ingin memberikan yang terbaik untuk ayah Anda. Saya telah meracik obat ini berdasarkan pengetahuan medis saya dan kondisi ayah Anda."

Anggota Keluarga 3 dengan nada mengejek "Pengetahuan medis Anda? Anda baru seumur jagung! Bagaimana bisa kami yakin bahwa obat ini tidak berbahaya?"

Perawat mencoba menjelaskan "Kami memahami kekhawatiran Anda. Dr. Kim telah berkoordinasi dengan tim medis kami. Kami yakin bahwa tindakan yang diambil memiliki pertimbangan yang baik."

Salah satu anggota keluarga pasien, seorang wanita muda yang kemungkinan anak dari pasien tua tersebut, mengangkat alisnya dengan skeptis. "Kenapa Anda memberikan obat tanpa memberi tahu kami terlebih dahulu? Bagaimana kami bisa yakin bahwa obat tersebut aman?"

Alan menatap mereka dengan penuh pengertian. "Saya paham bahwa Anda cemas dan khawatir. Saya ingin memastikan bahwa Anda tahu bahwa obat yang saya berikan sudah sesuai dengan kebutuhan ayah Anda. Saya telah meraciknya sendiri berdasarkan kondisi medis yang dia alami. Pemberian obat ini adalah langkah yang saya rasa perlu diambil untuk membantu kesehatannya."

Namun, anggota keluarga pasien tetap tidak terlalu yakin. "Tapi bagaimana kami tahu bahwa obat ini aman dan efektif? Anda adalah dokter pemula, bukan?"

Alan menjelaskan dengan sabar, "Saya mengerti bahwa Anda khawatir. Namun, saya telah meresepkan obat ini berdasarkan pengetahuan medis yang saya miliki. Saya berusaha yang terbaik untuk membantu ayah Anda, dan obat ini telah saya racik dengan hati-hati. Jika Anda merasa tidak nyaman, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter senior di sini."

Perlahan, raut wajah anggota keluarga pasien mulai sedikit mereda. Mereka merenung sejenak sebelum akhirnya mengangguk perlahan. "Kami hanya ingin yang terbaik untuk ayah. Kami harap obat ini benar-benar aman dan membantu."

1
Aster
namanya kim minjun apa munjin thor?
nindikrn_: untung di ingat. Namanya Kim Min Jun. Aku ubah di Pesan Author.
total 1 replies
Aster
oh ini alan transmigrasi ke dunia yg sama ya? cuma time skip 5 taun kemudian
nindikrn_: Iya betul 👍
total 1 replies
Aerik_chan
Semangat kak...satu gift bunga mawar untukmu...
Aerik_chan
Ragu tapi kek ada rasa penasaran ya kan...
Aerik_chan
Apa dia jangan2???
nindikrn_: Dia siapa? 🤣
Masih Misteri
total 1 replies
Aerik_chan
Baca sinopsisnya kok penasaran. eh baca bab 1 semakin penasaran. semangat kak

yuk saling dukung #kuambil apa yang menjadi milikku #Sweet love level 999
nindikrn_: terima kasih sudah membaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!