AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Pagi harinya, suasana di koridor SMA terasa berbeda dari biasanya.
Begitu Al dan Saka melangkah melewati gerbang sekolah, atmosfer mendadak berubah menjadi canggung sekaligus tegang.
Ratusan pasang mata langsung tertuju kepada mereka.
Beberapa siswi yang sedang mengobrol di dekat mading sekolah mendadak diam, lalu berbisik-bisik sambil melirik Al dengan pandangan sinis sekaligus ngeri.
"Al, lu ngerasa nggak? Udara pagi ini rasanya berat banget," bisik Saka, berjalan mepet di sebelah Al.
Ia berulang kali membetulkan tali tas ranselnya untuk mengalihkan rasa gugup. "Semua orang ngeliatin kita kayak kita ini buronan kelas kakap."
Al tetap berjalan dengan dagu tegak. Wajahnya datar, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai tegel koridor. "Biarkan saja, Saka. Anggap saja kita lagi jalan di red carpet."
"Red carpet gundulmu! Ini mah lebih mirip jalan menuju tiang gantungan," gerutu Saka pelan.
Saat mereka berbelok di koridor dekat laboratorium biologi, tiga orang siswa tampak berdiri menghalangi jalan.
Di tengah-tengah mereka, berdiri Deno dengan seragam yang sengaja tidak dimasukkan dan senyum mengejek yang terkembang lebar di wajahnya.
Di sampingnya ada Farel dan Rio, dua kaki tangannya yang setia.
"Wah, wah, lihat siapa yang datang," sindir Deno dengan suara sengaja dikeraskan, memancing perhatian siswa-siswa lain yang mulai berkerumun di koridor. "Selamat pagi, Tuan Muda Al. Atau... harus panggil Mbah Dukun sekarang?"
Farel dan Rio langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Deno.
"Deno, jaga ya mulut lu!" bentak Saka, langkahnya maju satu tindak ke depan, namun Al segera merentangkan tangan di dada Saka, menahannya agar tidak tersulut emosi.
Al menatap Deno dengan pandangan dingin, seolah sedang melihat tumpukan sampah. "Ada apa, Den? Pagi-pagi sudah cari panggung?"
Deno melangkah maju dua langkah, memperkecil jarak di antara mereka.
Ia melipat tangan di dada dengan gaya menantang. "Gue cuma heran aja, Al. Kok lu masih berani menampakkan muka pas-pasan lu itu di sekolah ini setelah web sekolah dan grup angkatan rame semalam? Oh, atau jin peliharaan lu yang ngasih lu rasa percaya diri ekstra?"
"Jin?" Al menaikkan sebelah alisnya, tampak sama sekali tidak terganggu. "Oh, jadi tulisan sampah di web sekolah itu kerjaan lu?"
"Heh, jangan asal tuduh! Siapa pun bisa nulis di forum anonim sekolah," elak Deno sambil tersenyum licik. "Tapi faktanya, foto lu nyetir mobil sport seharga miliaran itu asli, kan? Semua orang di sini tahu lu anak yang susah miskin tanpa bantuan orang tua angkat mu, kau bukan siapa-siapa, dari mana lu dapet duit sebanyak itu dalam semalam, hah? Lu dapet warisan dari penguasa pantai selatan?"
Kerumunan siswa di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, membenarkan ucapan Deno. Rumor semalam tampaknya sudah mendarat dengan sukses di kepala mereka yang mudah terhasut.
Saka yang sudah naik pitam hampir saja melayangkan tinjunya. "Lu kalau ngomong..."
"Saka, diam," perintah Al, suaranya pelan namun sarat akan otoritas yang membuat Saka tertegun dan mundur.
Al kemudian menatap Deno, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan siswa yang menonton mereka. Senyum tipis, hampir tak kentara, terukir di wajah Al.
"Deno, Deno..." Al menggeleng-gelengkan kepalanya kasihan. "Isi otakmu itu ternyata lebih dangkal dari perkiraanku. Karena kau nggak mampu beli mobil kayak begitu dan nggak mampu bayar ganti rugi, kamu pikir satu-satunya cara orang lain bisa memilikinya adalah dengan cara mistis?"
"Halah, nggak usah banyak taktik ngeles lu!" bentak Deno, mulai kesal karena Al tidak terpancing emosi seperti yang ia harapkan. "Lu tuh cuma miskin yang mendadak pamer! Lu pikir kita semua bodoh?"
Al mengangkat tangannya. "Percaya atau tidak, dalam hitungan ketiga kau bakal dapat berita buruk tentang ayah mu," kata Al yang mendadak tersenyum miring