Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman di Balik Tipu Daya
Grey baru saja melangkahkan kaki ke dalam kereta kuda mewah berlapis beludru merah ketika sebuah suara yang sangat dikenalnya membuat bulu kuduknya merinding.
"Sepertinya ada tuan muda yang ingin menemui kediaman kekasihnya, ya?"
Suara itu terdengar sengau, sedikit menggoda, dan disertai tawa kecil yang membuat Grey langsung mengerutkan kening. Ia menoleh ke arah pintu kereta yang masih terbuka, dan di sana berdiri sesosok pemuda dengan tubuh kurus namun berotot, raut wajahnya tampak ganas karena sebuah bekas luka panjang membentang dari pelipis kanan hingga dagunya.
Vega Arcsein.
Sahabat sejak kecil Grey, teman sepermainan di masa-masa akademi kerajaan dulu. Mereka telah melalui banyak hal bersama—perkelahian, hukuman, dan malam-malam panjang di perpustakaan akademi. Namun, Grey tidak pernah benar-benar nyaman berada di dekat Vega.
Bukan karena Vega jahat. Tapi karena pemuda itu terlalu pandai bermain kata, terlalu lihai menyembunyikan niat, dan terlalu sering membuat Grey terjebak dalam masalah yang tidak perlu.
Apalagi kebiasaan Vega yang hampir selalu menceritakan petualangan cintanya dengan berbagai wanita—terutama wanita dewasa yang anggun dan menawan. Grey selalu geli mendengarnya.
"Vega, kenapa kau ada di sini?" Grey bertanya sambil duduk di kursi seberang, melipat kedua tangannya di dada. "Seharusnya kau berada di perbatasan Ragonves. Bukankah kau seorang kapten prajurit?"
Vega melompat masuk ke kereta tanpa permisi, duduk dengan santai di samping Grey. Pedang panjangnya yang terselip di pinggang beradu dengan gagang pintu kereta, menghasilkan bunyi cling keras.
"Ah, tak seru bagiku jika tidak mengganggumu," sahut Vega dengan senyum menyeringai. "Lagipula, aku ingin libur sebentar. Hidup di perbatasan itu membosankan, kawan. Hanya pasir, debu, dan para prajurit tua yang mendengkur." Ia menghela napas dramatis. "Aku butuh melihat wanita cantik untuk menyegarkan mataku."
Grey mendesah kesal, telapak tangannya menepuk dahi. "Kau benar-benar tidak berubah, Vega."
"Tentu saja tidak! Mengapa harus berubah jika aku sudah sempurna?" Vega tertawa, lalu menepuk punggung Grey dengan keras hingga pemuda itu terbatuk. "Tapi cukup bicara tentang diriku. Kau sendiri bagaimana? Sepertinya kau sangat bersemangat pagi ini."
Grey menatap sahabatnya dengan tatapan serius. "Daripada kau banyak mengkhayal tentang wanita, lebih baik kau ikut saja denganku ke kediaman keluarga Sienta."
Vega mengangkat alis, bekas lukanya tampak lebih menonjol saat ia menyeringai. "Serius? Padahal aku tadi berencana mengajak Tuan Muda Vincentes ke rumah bordil di kawasan timur. Tapi..." ia mengangguk pelan, "...jika itu maumu, yasudahlah."
Grey menatap Vega dengan tatapan kecut. "Seorang prajurit seharusnya mendeklarasikan hidupnya demi kedamaian kerajaan. Kau justru masih memikirkan wanita—terutama seleramu yang aneh."
Vega tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di dalam kereta. "Kau benar, Tuan Muda. Gadis memang menawan—tapi wanita dewasa jauh lebih menawan." Ia mengedipkan mata. "Mereka tahu apa yang mereka inginkan, Grey. Dan mereka tidak main-main."
"Sudahlah, lupakan saja," potong Grey cepat, tidak ingin memperpanjang topik itu. Wajahnya berubah serius. "Saat ini aku perlu bantuanmu untuk mengungkap sesuatu tentang keluarga Sienta."
Tawa Vega langsung menghilang. Ia mencondongkan tubuh ke depan, matanya yang tajam menatap Grey dengan penuh perhatian. "Aneh? Bukankah keluarga itu terkenal kejam? Sepengetahuanku, mereka tidak pernah main-main. Siapa pun yang berani melawan akan mati dalam semalam." Ia mengusap dagunya. "Seharusnya kau tidak takut dengan mereka?"
Grey menggeleng. "Bukan takut, Vega. Aku curiga. Sikap mereka terasa aneh. Terutama Tuan Kenta dan Nyonya Belinda—mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Tatapan mereka kosong, tepuk tangan mereka hampa. Tidak ada kebahagiaan di acara pertunangan itu."
Vega menyandarkan punggungnya ke kursi, tangannya menggenggam erat gagang pedang. "Mungkin mereka hanya tidak suka dengan keputusan itu?"
"Tidak. Ada yang lebih dalam." Grey menggigit bibir bawahnya. "Dan yang lebih penting, Keilla... seharusnya dia bahagia, kan? Tapi yang kulihat, dia justru masih bersikap dingin padaku. Dia tersenyum, tetapi matanya—matanya kosong. Seperti ia dipaksa."
Vega terdiam sesaat, lalu tiba-tiba tertawa.
"Hahaha! Kau benar-benar terjebak, kawan." Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Kau jatuh cinta pada seorang gadis yang bahkan tidak bisa kau baca perasaannya. Menarik."
"Vega, ini serius!"
"Baiklah, baiklah." Vega mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Aku akan membantumu. Sebagai gantinya, traktir aku minuman di kedai Bibi Dolia."
Grey menghela napas lega. "Kalau perlu, kedainya pun ambil saja. Semua bayaran tidak perlu dipikirkan."
Vega menyeringai lebar, matanya berbinar puas. "Ini dia yang kuharapkan. Kau adalah teman terbaikku, kawan. Aku tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun!" Ia tertawa lepas, suaranya menggema di sepanjang jalan.
Grey hanya menggelengkan kepala, namun di sudut bibirnya tersungging senyum kecil. Meskipun Vega adalah orang yang penuh tipu daya dan mudah terpengaruh oleh wanita, Grey tahu betul—di saat-saat sulit, sahabatnya itu bisa diandalkan.
Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Grey.
"Vega seharusnya berada di perbatasan," pikirnya dalam hati. "Kapten prajurit tidak bisa libur seenaknya tanpa alasan jelas. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Ia menatap Vega yang sedang berceloteh tentang kedai Bibi Dolia dan minuman keras terbaik di Ragonves. Wajah sahabatnya tampak santai, ceria, tanpa beban. Tapi Grey tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Vega," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Kau yakin kau hanya liburan?"
Vega berhenti sejenak. Matanya yang tajam menatap Grey, lalu ia tersenyum—senyum yang tidak bisa diartikan.
"Tentu saja, kawan. Aku hanya ingin bersenang-senang." Ia menepuk bahu Grey. "Sekarang, fokuslah pada misimu. Kita akan mengawasi keluarga Sienta bersama. Kau di sisi depan, aku di sisi gelap."
Grey mengangguk, meskipun hatinya masih diliputi rasa tidak tenang.
Kereta kuda mulai melaju, melewati jalanan berbatu menuju kediaman keluarga Sienta di ujung barat Ragonves. Angin pagi berhembus masuk melalui celah jendela, membawa aroma rumput dan tanah basah.
Di dalam kereta, dua sahabat duduk berdampingan—satu dengan hati penuh harap, satu lagi dengan senyum yang menyimpan rahasia.