Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tunggu
Sore itu, mal mewah milik keluarga Devereux benar-benar dibuat sibuk oleh aksi belanja brutal tiga wanita yang seolah tidak kenal lelah. Butik demi butik desainer papan atas disambangi tanpa ampun, menjadikan kunjungan hari itu sebagai salah satu rekor transaksi terbesar di kawasan komersial tersebut.
"Serena, yang warna emerald green ini bagus nggak buat aku?" tanya Celeste antusias, memamerkan sebuah gaun malam berpotongan sirene bertabur kristal Swarovski di depan cermin besar.
Serena mengangguk mantap sambil tersenyum profesional. "Sangat cocok, Cele. Warna itu akan sangat kontras dan elegan dengan warna kulit Anda, apalagi jika dipadukan dengan perhiasan berlian."
"Ambil yang itu, ukuran S!" perintah Celeste kepada pelayan butik yang langsung sigap membungkus barang belanjaan tersebut.
Tidak hanya berhenti di situ, Celeste benar-benar membuktikan ucapannya untuk menghabiskan uang sang suami. Tas-tas tangan edisi terbatas dari rumah mode Prancis dan Italia, sepatu hak tinggi bertabur permata, hingga rangkaian produk perawatan kulit mewah berharga fantastis berpindah tangan ke dalam kantong belanjaan eksklusif. Padahal dia punya banyak sekali dikamar.
Kurang dari dua jam, tidak kurang dari sepuluh kantong belanjaan besar berlogo merek-merek mewah internasional telah memenuhi troli. Para pegawai butik bahkan harus mengerahkan dua orang pelayan tambahan khusus untuk membawakan semua barang bawaan tersebut sampai ke lobi utama.
Setelah puas memborong seluruh barang incaran mereka, ketiganya memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah kafe rooftop eksklusif yang menyadap pemandangan indahnya kota di sore hari.
Begitu mereka duduk di sofa beludru yang empuk, Serena dengan sigap menyusun rapi semua tas belanjaan di dekat meja, lalu berdiri kembali di sisi Celeste
"Gila ya, hari ini rezeki anak soleh," ucap Cassandra sambil menyeruput iced caramel macchiato mahalnya dengan penuh kepuasan.
Mereka bercanda ria dan saling mengejek sore itu.
Di tengah gelak tawa dan keseruan mereka di kafe, Celeste tampak sedang sibuk membuka beberapa botol nail polish mewah beraneka warna yang baru saja dibelikan Serena tadi. Wanita itu asyik mengoleskan kuteks merah marun ke kuku jarinya, sama sekali tidak memperhatikan gerak-gerik di sekitarnya.
Di sisi meja, Serena duduk mengawasi sang nyonya kecil dengan senyuman tipis penuh perhatian.
Tiba-tiba, dering ponsel di dalam tas Cassandra berbunyi nyaring. Cassandra melirik layar ponselnya, dan seketika wajahnya berubah pucat pasi saat melihat nama yang tertera di sana: Mommy.
"Aduh, mati gue" Dengan tangan sedikit bergetar, Cassandra mengangkat panggilan tersebut dan langsung menjauhkan ponsel dari telinganya sejauh mungkin.
Benar saja, sedetik kemudian suara melengking penuh amarah langsung menggelegar dari ujung sambungan, membuat isi kafe seolah ikut bergetar.
"CASSANDRA LEONNA DEVEREUX! ANAK NGGAK ADA AKHLAK!" teriak Chalista dari seberang telepon dengan nada menggebu-gebu.
Di seberang benua, tepatnya di Negara X tempat Chalista dan suami tercintanya—Cassian alias Daddy mereka—tengah menikmati liburan eksklusif, wanita paruh baya itu baru saja menyemburkan tehnya usai membaca berita hangat di tablet miliknya.
"Bisa-bisanya abangmu menikah secara diam-diam dan membuat kehebohan satu negara, dan kamu—sebagai adik—malah diam aja?!" lanjut Chalista mengomel panjang lebar tanpa jeda, napasnya memburu karena emosi. "Kamu kira berita pernikahan Caspian sama menantu kesayangan Mommy itu berita gosip artis murahan, hah?! Kenapa kamu nggak ngabari Mommy dan Daddy, Cassandra?! Mau jadi apa keluarga kita kalau hal sebesar ini baru tahu dari headline berita internasional?!"
Cassandra menelan ludahnya susah payah. Ia melirik sekilas ke arah Celeste yang masih asyik meniup kuku jarinya yang baru dioles kuteks, sama sekali tidak mendengar keributan di ujung telepon karena terlalu fokus pada warna cat kuku tersebut.
"M-Mommy... sabar dulu, jangan teriak-teriak..." cicit Cassandra pelan dengan suara bergetar, mencoba membela diri setengah mati. "Bukannya aku sengaja nutupin... tapi Abang sendiri yang ancam--"
"ALASAN!" sergah Chalista semakin ngegas dari seberang sambungan telepon.
"Nggak usah bawa-bawa nama abangmu buat cari pembelaan! Pokoknya sekarang juga kamu pulang ke mansion utama!"
Cassandra sontak terperanjat mendengar titah sang ibu. Sebelum ia sempat melayangkan protes, Chalista kembali menyambung dengan suara penuh ancaman yang sukses membuat bulu kuduk merinding.
"Jangan buang-buang waktu lagi, Cassie! Saat ini juga Mommy dan Daddy sudah dalam persiapan naik jet pribadi buat balik ke mansion utama kita. Kalau pas sampai di sana kamu masih keluyuran di luar, awas saja!"
Tut.
Sambungan diputus begitu saja sepihak oleh sang ibu.
Cassandra terdiam kaku di kursinya, ponsel yang masih menempel di telinga perlahan ia turunkan dengan tangan bergetar. Wajahnya yang tadinya ceria mendadak pias, berubah pucat pasi bagaikan mayat hidup.
Di seberangnya, Celeste yang baru saja selesai merapikan botol kuteks terakhir mendongakkan kepala. Karena tadi asyik memperhatikan warna cat kuku mengkilap pemberian Serena, ia sama sekali tidak mendengar detail omelan mertua—eh, maksudnya omelan ibu Cassandra di telepon.
"Kenapa muka lo pucat begitu, Cassa? Kayak baru lihat hantu aja," tanya Celeste santai sambil meniup kuku-kukunya agar cepat kering. Serena ikut melirik dengan alis terangkat, heran melihat perubahan drastis pada ekspresi sahabat Celeste itu.
Cassandra menelan ludahnya yang terasa kelenjar ludahnya mendadak kering. Ia menatap Celeste dengan sorot mata penuh keputusaan dan rasa kasihan yang mendalam.
"Cele... bestie-ku tersayang..." cicit Cassandra dengan suara bergetar pelan, hampir menangis. "Gue... gue harus pulang sekarang. Nyawa gue kayaknya udah di ambang kehancuran."
Celeste mengernyitkan dahi, menutup botol kuteksnya dengan sebelah tangan.
"Hah? Pulang kenapa? Lo kesurupan apa gimana tiba-tiba pamit? Padahal kita baru mau lanjut makan dessert"
"Nggak bisa, demi kelangsungan hidup dompet dan jasad gue!" pekik Cassandra panik sambil menyambar tas miliknya. "Udah ya, bye! Selamat menikmati status barunya, semoga amal ibadah lo diterima! Jangan terlalu lama pulangnya"
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Cassandra langsung ngibrit meninggalkan meja kafe, berlari terbirit-birit menuruni eskalator demi menghindari amukan sang ibu yang sedang dalam penerbangan jet pribadi menuju mansion.
Melihat kehebohan sahabatnya itu, Celeste hanya menggelengkan kepala pelan sambil tertawa kecil. "Dasar, ada-ada aja kelakuannya." Ia lalu menoleh ke arah Serena di sampingnya. "Serena, sebelum kita balik ke mansion, temenin mampir ke salon dulu ya. Mau rapuhin rambut sekalian treatment sebentar."
"Iya Cele" jawab Serena patuh.
Beberapa jam kemudian, setelah puas mempercantik diri di salon mewah, Celeste dan Serena akhirnya tiba di pelataran utama kediaman Devereux. Langkah kaki Celeste yang tadinya santai mendadak terhenti begitu ia mendorong pintu utama mansion yang menjulang tinggi.
Suasana di dalam ruang tamu terasa jauh lebih senyap dan mencekam dari biasanya.
Para pelayan berdiri menunduk di sudut ruangan tanpa berani bersuara sedikit pun.
Dan di tengah-tengah ruangan, duduk dengan anggun di atas sofa beludru hitam adalah Caspian. Pria itu sudah melepas jas kerjanya, menyisakan kemeja hitam dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang begitu kuat. Lelaki itu menatap tajam ke arah pintu masuk, menunggu kedatangan sang istri dengan sorot mata dingin setajam silet yang tidak menyisakan celah kelembutan.
Celeste spontan menelan ludahnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat bukan karena takut, melainkan karena visual di hadapannya terlalu luar biasa.
(Anjir, anjir... aura villain-nya dapet banget ini, bintang 10) batin Celeste dalam hati, terpaku sejenak mengagumi ketampanan berbahaya sang suami yang sungguh kelewatan batas.
Caspian langsung berdiri, menyambar tubuh istrinya, dan memanggul Celeste di atas bahunya bagaikan karung beras.
"E-eh?! Apa-apan nih! Turunin nggak?!" pekik Celeste kaget setengah mati, reflek memukul-mukul punggung bidang Caspian dengan kedua tangannya karena posisi kepalanya kini berada di bawah.
Plak!
Sebuah tepukan yang cukup kuat tiba-tiba mendarat tepat di pantat Celeste dari tangan Caspian, membuat sang istri langsung terkesiap dan terdiam seketika karena malu bercampur syok.
"Diam, atau hukumannya ditambah," ucap Caspian dingin, sama sekali tidak peduli pada rontaan sang istri.
Pria itu langsung melangkah lebar menaiki tangga menuju lantai atas dengan langkah tergesa-gesa, membawa sang istri masuk ke dalam kamar pribadi mereka dan mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam, membiarkan suasana ruang tamu tetap sunyi dan tenang.
Di lantai bawah, Serena yang berdiri tegak menyaksikan seluruh adegan spektakuler itu hanya bisa terpaku sesaat. Serena menghela napas panjang dalam diam, lalu menyatukan kedua tangan di depan dada sambil berucap pelan di dalam hatinya:
"Selamat ya, Nona... semoga selamat sampai tujuan"
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Caspian menurunkan tubuh Celeste ke atas tempat tidur king size yang luas. Pria itu berdiri menjulang di hadapannya, menatap sang istri dengan sorot mata yang menyiratkan dominasi mutlak sekaligus ketegasan seorang suami yang siap memberikan "pelajaran".
Caspian mendekatkan wajahnya ke arah kepala Celeste. Pria itu menghirup aroma harum dari rambut Celeste yang baru saja selesai dirawat di salon mewah sore tadi. Senyuman tipis yang nyaris tak kasat mata terukir di sudut bibirnya karena wangi itu tercium begitu candu.
Caspian kemudian mendaratkan sebuah ciuman lembut di puncak kepala Celeste, membuat sang istri terkesiap kecil.
"Tambah cantik," gumam Caspian pelan dengan suara baritonnya yang serak, sebelum manik kelamnya kembali menajam. "Sekarang, saatnya menjalani hukuman karena sudah membuatku menunggu terlalu lama dan keluyuran tanpa memberi kabar."
Celeste sontak meringis pelan sambil memutar bola mata malas. Ia tahu betul apa arti tatapan dan kalimat itu—malam ini mereka tidak akan tidur cepat, dan badai hukuman ala sang suami pasti akan berlangsung sangat, sangat lama.
.
.
.
.
Jam di dinding kamar utama telah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Suasana di dalam kamar begitu sunyi dan hangat. Di atas tempat tidur, Celeste tampak terlelap pulas dalam posisi menempel erat pada tubuh bidang suaminya. Setelah badai hukuman dan kelelahan yang luar biasa, Caspian dengan telaten sempat membersihkan tubuh istrinya terlebih dahulu sebelum memakaikannya sehelai gaun tidur tipis berwarna pink yang terlihat lembut dan manis saat dipakai Celeste.
Kini, Caspian duduk bersandar di kepala ranjang dengan posisi setengah tegap, membiarkan sang istri tidur menempel di sisinya. Selimut tebal menutupi setengah tubuh mereka, sementara di pangkuannya terdapat sebuah tablet menyala yang menampilkan laporan-laporan penting dari anak buahnya. Meskipun matanya tampak tajam, tidak ada sedikit pun kantuk di wajah pria itu.
Pikiran Caspian melayang pada pesan singkat yang diterima nya dari Xanderion.
Jet pribadi yang membawa kedua orang tuanya—Chalista dan Cassian—telah mendarat di landasan privat mansion utama Devereux lebih cepat dari perkiraan.
Pria itu mendengus pelan, mematikan layar tabletnya lalu meletakkannya di nakas sebelah tempat tidur. Ia melirik sekilas ke arah Celeste yang meringkuk nyaman dan menempel di tubuhnya, tampak begitu damai tanpa beban. Caspian meraih jari-jari lentik istrinya yang terlihat pendek dan mengecupnya berulang kali.
POV cassian : bukan rejeki yg melebar tp kepala ma telinga saya yg melebar ,, 😒😒😒😒😒😒
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kasihan caspian di sekitar ny byk org2 di luar Nurul ,, termasuk sang istrii ,,
Kade di Kadek ,, 😂😂😂😂