Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8. Cemburu buta Wati, godaan Widuri
Lanjut lagi guys. Semoga masih Semangat
Hari sudah mulai beranjak sore. Matahari yang awalnya bersinar dengan teriknya, kini sudah mulai perlahan menghilang di ufuk barat.
Akhirnya Harjo pun bersiap untuk pulang. Dia merasa sudah cukup hari ini, waktunya pulang. Pada saat Harjo hendak bangkit dari kursinya, Widuri pemilik warung memanggilnya.
“Jo kemari sebentar.”
Pinta Widuri, yang berada di dalam warung, sambil beberes barang dagangannya.
Warung dan Rumah kediaman Widuri berbeda, sebab kediamannya berada agak lebih kedalam lorong, sehingga kurang sesuai untuk berdagang.
"Oh ya, ada apa Widuri" Harjo datang menghampiri.
Widuri yang juga sudah hampir semua selesai memasukkan sisa barang dagangannya ke dalam warung, berkata:
"Nanti kita pulang bareng ya! Arah rumah ku, kan sama dengan arah rumahmu."
Widuri mulai menjelaskan maksudnya sehingga harus memanggil Harjo.
"Baiklah Aku akan menunggumu!"
Harjo mengiyakan permintaan Widuri untuk pulang bersama-sama dengannya.
Tiba-tiba Moko berkata:
"Hebat bang Jo, baru sebentar saja singgah di warung sudah mendapatkan perawan cantik."
Moko coba menggoda Harjo.
"Iya nih, ada aja Harjo ini, pedagang warung juga mau di embatnya."
Udin mencoba menyindir Harjo, setelah terlebih dahulu Arif, mencubit lengannya memberi kode.
Udin dan Arif menunjuk-nunjuk ke arah Harjo.
Udin boleh di katakan adalah salah seorang bawahan dari Arif, karena Arif sering mengajak Udin untuk bekerja bersama-sama dengannya memelihara maupun menjual ternaknya miliknya.
Tanpa diketahui oleh orang lain, Arif sebenarnya juga mempunyai rasa ketertarikkan terhadap Widuri, pedagang warung yang memang berwajah cantik, berkulit putih, berambut panjang dan bertinggi 170 cm, serta ditambah lagi masakannya yang sungguh membuat warga kampung ini menyukainya. Sehingga Arif saat ini sedang diliputi rasa cemburu.
Moko menyambut perkataan Udin.
"Emang kenapa, kalau bang Jo suka dengan Widuri, itu haknya. Aku rasa nggak ada yang boleh melarangnya. Selama Widuri juga belum menikah."
Widuri yang tadinya mau menjawab Udin, tidak jadi karena jawaban dari Moko sudah cukup baik menurutnya. Dia menyentuh lengan Harjo dan membisikkan kata,
"Sabar!" Widuri berkata pelan coba menenangkan Harjo.
Harjo hanya tersenyum menanggapi perkataan Widuri.
"Kamu kalau suka bilang aja Jo, jangan ditutupin, lihat Moko dan Udin sampai bertengkar tuh!"
Arif mencoba membantu Udin dengan mengeluarkan perkataan yang sedikit menyudutkan Harjo. Padahal Dia tahu sendiri Harjo tidak berkata apa-apa.
"Kamu apaan sih, Rif? Harjo kan tidak berkata apa-apa. Udin yang mulai."
Moko coba membela Harjo.
"Sudah kamu tahu apa? Udin, Dia tidak salah apa-apa. Kamu diam saja!"
Arif coba mempertahankan argumennya.
Mendengar Keributan Arif, Udin dan Moko. Widuri yang telah selesai memasukkan barang-barangnya didalam warung, langsung berkata:
"Sudah kalian ini apaan sih, orang gak ada apa-apa juga, malah kalian yang ribut. Saya punya hak untuk dekat dengan siapapun juga. Tidak ada yang bisa melarang saya!" Widuri dengan tegas memperingatkan mereka.
"Iya Wid, aku tidak bermaksud apa-apa kok. Maksudku baik kok!"
Arif ingin menunjukkan bawa dirinya tidak bermaksud apa-apa. Dia tidak sedang menyalahkan Widuri.
Widuri yang sudah mendengar dari awal pertengkaran itu, tahu bawa Arif dan Udin lah yang bersalah.
"Sudah, kamu tidak usah beralasan." Widuri menjawab dengan ketus.
"Ayo kita pulang Jo" pinta Widuri ke Harjo.
Harjo pun dengan tenang mengikuti Widuri dari belakang.
Tetapi ketika Harjo hendak melewati Arif dan Udin.
Arif yang sudah merasa emosi, terlebih dahulu memberikan kode kepada Udin untuk menyerang Harjo, tanpa diketahui Moko. Sebab posisi duduk yang berbeda meja.
Moko lebih dekat ke etalase warung sehingga lebih dahulu di lewati Widuri di ikuti Harjo, setelahnya barulah mereka melewati Udin dan Arif. Saat Harjo tepat melewati Arif.
Tiba-tiba keduanya menyerang bersamaan, Arif dengan tendangannya menyerang bagian perut Harjo,
"Hsuft..."
Sedangkan Udin mencoba menyerang dengan pukulan terbaiknya
"Hiat."
Kilas balik masa muda Harjo
Sebenarnya pada masa kecilnya, Harjo pernah tinggal di luar kampung. Dia dititipkan oleh Ayahnya kepada Kakeknya.
Ternyata Kakeknya itu adalah seorang ahli bela diri. Tanpa diketahui oleh Harjo, ayahnya memang sengaja, menitipkannya di sana supaya Harjo belajar beladiri yang wajib di turunkan secara turun-temurun di dalam keluarga Harjo.
Harjo termasuk murid yang cakep dan berbakat dalam mempelajari beladiri. Dia cepat tangkap sehingga dalam waktu singkat Harjo dapat menguasai setiap jurus. Oleh sebab itu Harjo tidak terlalu lama dititipkan bersama Kakeknya.***
Balik ke masa saat ini.
Tanpa diketahui mereka berdua Arif dan Udin, Harjo sudah melesat berpindah tempat ke belakang mereka berdua. Namun Dia tidak menyerang dengan keras. Harjo hanya menyentil kedua telinga mereka berdua.
Moko yang berada di belakang, terkejut dengan yang dilihatnya.
Sedangkan Widuri bingung dengan apa yang terjadi di belakangnya.
Dia cuma mendengar suara Arif dan Udin mengatakan ”hsuft dan hiat”.
"Ayo Jo panggil Widuri ke Harjo. Lambat benar jalanmu!"
"Eh iya. Ayo jalan, sudah terlihat gelap." Jawab Harjo santai. Harjo segera melewati Arif dan Udin, mengejar Widuri.
Sedangkan Arif dan Udin kebingungan seolah-olah bermimpi. Moko segera berlari, mengajar Harjo dan Widuri.
Tetapi karena arah rumah Moko yang berbeda mereka berpisah di persimpangan jalan.
"Aku balik dulu Bang, Wid." Moko permisi sambil mengacungkan tanda jempol.
Widuri tersipu malu, mengira kalau tanda acungan jempol Moko, adalah menunjukkan keserasian antara dirinya dan Harjo.
Harjo menanggapinya hanya tersenyum simpul saja.
Saat asik berjalan, tiba-tiba terlihat Wati melintas di depan mereka. Wajahnya terlihat merah padam, tetapi Widuri dan Harjo tak menyadari akan hal itu.
"Eh Bu Wati"
Widuri mencoba menegur sapa Wati yang saat itu berjalan dengan cepat melintas di hadapannya.
Tetapi Wati tetap berjalan saja, tanpa menghiraukan mereka. Harjo dan Widuri tidak tahu apakah Wati mendengar atau tidak sapaan dari Widuri.
Kembali ke Lima menit sebelumnya
Wati yang terlihat ngos-ngosan, napasnya terdengar seperti kuda habis berlari jauh. Wati telah berjalan dari rumah makan di tepi sungai dan saat ini Dia melihat Harjo sedang berjalan tetapi bersama seorang wanita yang adalah Widuri, gadis cantik pemilik warung.
Wati memperlambat langkah kakinya, seperti kura-kura berjalan, kemudian Dia melihat seorang pemula melewati Harjo dan Widuri dengan mengacungkan jari jempolnya.
Melihat itu hati Wati terasa sakit, seperti bangunan tua roboh di hancurkan dengan bom. Sebab Wati juga melihat wanita itu yang ternyata adalah Widuri pedagang warung yang juga tak kalah cantik dibanding dirinya sedang tersenyum malu-malu, hatinya kini hancur seperti robohnya tembok Berlin.
Sesaat Wati mengarahkan wajahnya memandang ke arah Harjo yang juga tersenyum. Hatinya tambah sakit, seperti Hiroshima dan Nagasaki terkena bom atom.
Oleh sebab itu Wati melangkahkan kakinya dengan lebih cepat lagi. Wati tak mampu menjawab sapaan Widuri. Hati Wati saat ini dalam keadaan remuk redam. Patah hati, seperti daun berguguran dimusim kemarau panjang.***
Balik ke waktu sekarang
"Ada apa ya dengan Bu Wati yang biasanya ramah, tetapi saat ini tidak menjawab sapaan ku." Wati mulai mempertanyakan hal ini kepada Harjo.
Harjo terkejut. Dirinya juga tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada Wati.
"Aku juga kurang tahu, mungkin Dia lagi sibuk, terburu-buru harus pulang."
Harjo hanya dapat menjawab seadanya, karena Dia juga tidak tahu. Mereka berdua sama-sama tidak tahu.
"Mungkin juga ya!" Jawab Widuri.
Widuri masih dalam keadaan galau, hatinya ingin segera mengetahui apa sih yang telah terjadi.
"Apa kamu tidak ada hubungan khusus Jo dengan Bu Wati?"
Widuri refleks mempertanyakan, pertanyaan yang sebenarnya Dia pun tidak mau menanyakannya saat ini.
"Mudah-mudahan mereka tidak ada hubungan!"
Widuri berkata dalam hatinya. Sebab Dia takut dan belum rela kalau Harjo ada hubungan khusus dengan Wati.
"Wah, enggak."
Jawab Harjo merasa canggung,
"Nggak mungkin dong guru secantik Dia yang berasal dari Kota memiliki hubungan denganku yang hanya sebagai seorang petani seperti aku."
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru