"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG Rapat UTAMA
Aroma kayu cendana tua dan pendingin udara yang berhembus konstan memenuhi lantai teratas gedung pencakar langit Alveric Tower. Ruang rapat utama bertaraf internasional itu didominasi oleh interior kayu mahoni gelap dan kaca transparan yang memperlihatkan lanskap metropolitan Jakarta dari ketinggian puluhan lantai. Di atas meja kaca panjang yang mengilap, beberapa cangkir porselen berisi kopi espresso pekat berdiri berdampingan dengan tumpukan dokumen tebal bersampul hard cover.
Sore itu, dua kekuatan terbesar di industri bisnis ibu kota resmi bertemu dalam satu meja.
Alexander Lauren Alveric duduk di kursi utamanya dengan posisi tubuh tegap dan penuh wibawa. Kemeja putih terukurnya terbalut jas navy bernilai fantastis, dipadukan dengan dasi sutra yang terpasang rapi. Di sisi kanannya, Adrian Kenzie Alveric, putra sulung yang menjadi tangan kanannya duduk dengan laptop terbuka, menatap layar dengan raut dingin dan fokus mutlak. Sementara di sisi kirinya, Julian Tristan Alveric duduk lebih santai, meski kemeja formal yang mengenakannya tetap memancarkan aura seorang putra keluarga terpandang.
Di seberang meja, Kael Mahendra duduk menatap Alexander dengan tatapan mata elang yang penuh dengan kalkulasi tajam. Kehadiran Kael didampingi oleh dua putra tertuanya: Ethan Mahendra, yang berdiri tegap dalam balutan jas hitam dengan ekspresi kaku tanpa cela, serta Raka Mahendra, yang memangku tablet digitalnya sembari menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri.
Pertemuan dua klan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan perundingan proyek konsorsium bernilai triliunan rupiah yang akan menentukan peta bisnis selama satu dekade ke depan.
"Kerja sama di kawasan ekspansi Singapura sudah mencapai delapan puluh persen persetujuan," suara Alexander memecah keheningan ruangan. Suaranya berat, tenang, namun memiliki tekanan dominan yang kuat. "Namun, saya tidak ingin ada celah dalam pembagian hak kelola aset, Kael."
Kael menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menyesap espressonya pelan sebelum meletakkannya kembali ke cangkir. "Kau mengenal saya sejak kita masih merintis dari bawah, Alexander. Mahendra Group tidak pernah bermain-main dengan efisiensi. Jika Alveric menjamin kelancaran regulasi hukumnya, kami yang akan mengeksekusi pendanaannya secara mutlak."
Adrian menggeser berkas fisik di atas meja ke arah Ethan. "Setiap klausul dalam dokumen ini sudah melewati audit tim hukum Alveric, Mas Ethan. Termasuk hak dividen dan risiko amortisasi di tahun kelima."
Ethan meraih berkas itu dengan gerakan efisien. Tangannya yang kokoh membalik halaman demi halaman dengan cepat namun teliti. "Poin empat huruf B perlu revisi kecil, Adrian. Kami tidak menerima skema joint venture yang memberikan porsi suara berimbang untuk keputusan darurat. Mahendra harus memegang kendali mayoritas di sektor operasional."
Julian, yang biasanya lebih memilih mengamati dari jauh, terkekeh tipis sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sangat khas gaya Mahendra. Selalu ingin pegang kendali penuh tanpa mau menyisakan ruang kompromi."
Raka menoleh ke arah Julian, senyum miringnya makin melebar. "Itu bukan arogan, Julian. Itu namanya kepastian bisnis. Dalam dunia venture capital, sedikit saja ragu untuk mengambil alih kendali, proyek triliunan bisa melayang."
"Tapi dalam dunia hukum dan kemitraan," timpal Adrian dingin, matanya menatap lurus ke arah Ethan, "keseimbangan adalah kunci agar tidak ada salah satu pihak yang tergerus saat krisis terjadi."
Atmosfer di dalam ruangan rapat yang luas itu mendadak menjadi sangat tegang. Para calon penerus dari kedua klan bertukar pandangan tajam, memperlihatkan aura dominasi yang mereka warisi dari para ayah mereka. Tidak ada gertakan murahan, hanya adu argumentasi cerdas yang dilapisi kesopanan tingkat tinggi.
Alexander dan Kael saling memandang sejenak. Bukannya marah, kedua patriarch itu justru menunjukkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. Mereka bangga melihat bagaimana putra-putra mereka tumbuh menjadi sosok yang siap memimpin.
"Anak-anak kita tumbuh dengan sangat baik, Kael," ujar Alexander santai, memecah ketegangan yang sempat menggantung.
"Tentu saja," balas Kael, tatapannya menyapu Adrian dan Ethan secara bergantian. "Mereka dibesarkan untuk memimpin, bukan untuk mengalah."
Kael lalu mengalihkan pandangannya pada Alexander dengan raut yang sedikit lebih serius. "Bicara soal masa depan klan... bagaimana dengan anak-anak kita yang masih di SMA, Alexander? Saya mendengar Zavier dan Nayla makin sering berada di proyek sekolah yang sama."
Mendengar nama adiknya disebut, gerakan jari Julian yang sedang memainkan pulpen sempat terhenti sesaat. Ia melirik sang Ayah dengan cermat.
Alexander mengangguk pelan, memperbaiki posisi duduknya. "Nayla anak yang penurut dan sangat menjaga nama baik Alveric. Dia paham betul di mana posisinya berada. Begitu pun Zavier, saya yakin dia anak yang berdisiplin tinggi."
"Zavier memang cerdas," sahut Kael datar. "Tapi dia punya sisi keras kepala yang harus terus diawasi. Saya tidak akan membiarkan perasaan pribadi atau gangguan kecil di usia mudanya merusak rencana besar yang sudah kita susun untuk kedua keluarga ini."
Ethan merapikan penutup pulpennya dengan bunyi klik yang nyaring. "Papi tenang saja. Saya dan Raka selalu memastikan Zavier berada di jalur yang benar. Kalau ada hal yang melenceng dari skenario Mahendra, kami yang akan menyelesaikannya lebih dulu."
Adrian menambahkan dengan nada dingin yang sama tegasnya. "Begitu juga dengan Nayla. Keluarga Alveric tidak pernah memberikan toleransi untuk kegagalan atau penyimpangan aturan."
Pembicaraan itu berlanjut ke detil teknis bisnis, namun ucapan para pria di ruangan itu menegaskan satu kenyataan pahit yang tak terbantahkan. Di tingkat teratas kekuasaan dua klan besar ini, setiap langkah, keputusan, dan bahkan masa depan anak-anak mereka sudah dipetakan dengan sangat rapi. Sebuah jaring raksasa yang siap mencengkeram siapa saja yang berani mencoba keluar dari jalurnya.
Sementara pertemuan teknis mengenai dokumen konsorsium kembali berlanjut di meja rapat utama, Raka Mahendra memilih untuk menyandarkan punggungnya pada senderan kursi kulit. Jemarinya yang biasanya lincah menari di atas layar tablet digital kini bergerak lambat, sekadar mengusap tepian kaca dengan raut wajah yang menggelap samar.
Di seberangnya, Julian Alveric yang menangkap perubahan gestur itu hanya melirik tipis tanpa bersuara. Sebagai sesama anak kedua dari keluarga besar, Julian cukup peka untuk membaca apa yang sedang bergejolak di dalam benak Raka.
Setiap kali nama Zavier keluar dari bibir Kael Mahendra dengan nada kebanggaan yang teramat halus namun begitu jelas terdengar ada rasa panas yang membakar benak Raka.
Sejak kecil, Raka dan Ethan lah yang membanting tulang di bawah pengawasan ketat sang Papi. Ethan mengorbankan seluruh masa mudanya untuk dilatih menjadi mesin bisnis tanpa cela, sementara Raka bekerja tanpa kenal waktu di balik layar: meretas risiko finansial, mengamankan investasi berisiko tinggi, dan memeras otak demi memastikan Mahendra Group tetap berdiri di puncak hierarki. Seluruh tugas berat yang dilemparkan Papi selalu berhasil mereka selesaikan hingga tak berbisa.
Namun, di setiap jamuan makan malam formal, di hadapan para kolega bisnis klan lain seperti Alexander Alveric, nama yang paling sering dipamerkan Kael justru Zavier—si bungsu yang bahkan belum menyentuh dunia korporat sama sekali.
"Raka," suara berat Kael memotong lamunan Raka dari ujung meja. "Bagaimana laporan analisis risiko algoritma untuk dividen Singapura? Sudah kamu serahkan ke tim Adrian?"
Raka mengangkat wajahnya, menyunggingkan senyum miring yang terpasang sempurna sebagai topeng profesionalitasnya. "Sudah, Papi. Semuanya sudah siap sejak kemarin malam. Tidak ada celah."
Kael hanya mengangguk singkat, seolah pencapaian Raka itu hanyalah sebuah kewajiban standar yang tak perlu diapresiasi lebih. "Bagus. Pastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun."
Kael lalu kembali berpaling pada Alexander, raut wajahnya melunak seketika saat ia melanjutkan pembicaraannya. "Kembali ke soal anak-anak... Zavier itu punya intuisi yang sangat langka, Alexander. Meskipun dia kadang terlihat tenang dan acuh, saya bisa melihat potensi kepemimpinan alami yang jauh lebih tajam. Dia mengingatkan saya pada masa muda saya sendiri. Begitu dia lulus nanti, saya berencana langsung menempatkannya di jajaran dewan direksi."
Tangan Raka di bawah meja terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Intuisi langka? batin Raka sinis. Zavier hanya duduk manis di kamar, melukis dan melamunkan gadis Alveric itu, sementara aku dan Abang Ethan yang mengurus ratusan lembar saham setiap harinya.
Ethan, yang duduk di sebelah Raka, menyadari kepalan tangan adiknya. Tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di depannya, Ethan menyenggol lengan Raka secara teratur, sebuah isyarat dingin untuk menyuruh adiknya tetap mengontrol emosi di depan keluarga Alveric.
Raka menahan napasnya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Begitu sesi rapat resmi ditutup dan kedua kepala keluarga melangkah menuju ruang kerja privat untuk menandatangani dokumen inti, Raka langsung berdiri, mematikan layar tabletnya dengan sentuhan kasar.
"Aku butuh udara segar," gumam Raka pendek pada Ethan.
"Jangan buat kekacauan di gedung Alveric, Raka," peringat Ethan dengan suara amat rendah, matanya menatap tajam ke arah sang adik. "Papi tidak suka melihat kita emosional."
"Aku tidak emosional, Abang," sahut Raka dengan kekehan hampa yang getir saat mereka berdua berjalan menyusuri koridor kaca menuju area smoking room di lantai teratas. "Aku cuma heran. Apa pun yang kita kerjakan, berapa jam pun waktu tidur yang kita korbankan untuk Mahendra Group, di mata Papi kita ini cuma pelaksana. Tapi Zavier? Cuma dengan diam dan bersikap manis sebagai anak bungsu, dia selalu jadi emas di mata Papi."
Ethan menghentikan langkahnya, berdiri tegap membelakangi dinding kaca yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi Jakarta. "Zavier masih SMA, Raka. Papi cuma menaruh harapan besar padanya karena dia anak terakhir."
"Harapan besar?" pangkas Raka cepat, suaranya naik satu oktav meski masih ditahannya agar tidak memicu perhatian pegawai lain. "Papi membanggakan Zavier seolah-olah dia genius yang akan menyelamatkan keluarga ini! Sementara aku? Aku yang membereskan kekacauan investasi di Eropa semalam penuh tanpa tidur, dan Papi cuma bilang 'Bagus, tingkatkan lagi'. Pernah Papi membanggakan kamu atau aku di depan Om Alexander seperti dia membanggakan Zavier tadi?"
Ethan membisu. Wajah kaku sang abang sulung itu tetap tanpa ekspresi, namun tatapan matanya yang meredup menunjukkan bahwa kalimat Raka tepat menembus titik paling sensitif di hatinya. Ethan pun merasakan kepahitan yang sama, namun ia telah melatih dirinya untuk menerima ketidakadilan itu sebagai bagian dari takdir seorang anak sulung.
"Tugas kita adalah memastikan Mahendra tetap di atas, Raka. Tidak usah memikirkan siapa yang paling dibanggakan," balas Ethan dingin, mencoba menutup pembicaraan.
Raka tersenyum sinis, menyandarkan bahunya ke dinding kaca sembari merogoh saku jasnya. "Aku menyayangi Zavier sebagai adikku, Abang. Tapi kalau Papi terus-terusan menempatkan dia di atas kepala kita tanpa dia harus bersusah payah... aku tidak yakin aku bisa terus diam dan menonton pertunjukan ini."
kekny zavier ini tipe aku 🤭