NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Kasim Kaisar perlahan membuka gulungan titah tersebut. Sebelum membacakan isi titah tersebut, Kasim menatap satu persatu anggota keluarga jenderal Vance dengan tatapan meremehkan. Netranya kembali menatap ke arah gulungan titah yang sudah terbuka lebar, baris demi baris tulisan di atasnya mulai dibacakan. Suaranya begitu lantang seolah-olah sedang menunjukkan otoritas sang penguasa.

"Atas nama Yang Mulia Kaisar Cassian von Alterus, pelindung negeri dan pemegang titah langit.

Jenderal muda Evren Vance, putra mendiang Jenderal Arthur Vance, dinyatakan terbukti melakukan permufakatan untuk memberontak terhadap takhta kerajaan.

Berdasarkan hukum kerajaan pasal XIII, kejahatan makar diganjar hukuman mati serta pemusnahan seluruh garis keturunannya.

Dengan ini…”

Di halaman belakang kediaman.

Seorang pelayan laki-laki yang sebelumnya diutus oleh Eldrick berlari tergopoh-gopoh dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar sang kakek.

“Tuan besar! Tuan besar gawat!” teriaknya dengan penuh kepanikan.

“...”

Tidak ada jawaban, namun mata sayu itu perlahan terbuka dan melihat ke arah sang pelayan. Tubuhnya terlalu renta untuk memberikan respon yang kuat. Ia hanya bisa menatap sang pelayan dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Ada utusan istana membawa titah raja untuk mengeksekusi tuan muda. Tuan Eldrick meminta saya untuk mengambil benda itu dari anda.”

Mata sayu kakek langsung terbuka lebar, melotot ke arah sang pelayan. Kejutan ini terlalu besar untuk ditanggung tubuhnya yang sudah renta. Tangan yang semula gemetar di atas selimut kini mencengkeram kain itu erat. Napasnya yang semula pelan mendadak memburu. Namun ia tetap memaksakan diri bangun dari tempat tidur. 

Tubuh kurusnya gemetar, dengan dibantu sang pelayan, ia berjalan ke sebuah lemari untuk mengambil kotak kayu. Matanya menatap sendu kotak tersebut karena beberapa ingatan lama kembali memenuhi isi kepalanya. Untuk pertama kalinya setelah pindah ke halaman belakang, ia keluar dari kamar. Dan ia keluar demi cucunya tersayang.

Pandangan kasim terus turun ke baris paling bawah mengikuti setiap kalimat yang dibacanya. Saat putusan hampir selesai dibacakan, suara dari kakek tua itu menggema membuat kasim berhenti berbicara dan mendongak dengan ekspresi penuh amarah.

“Tunggu!”

“LANCANG SEKALI! Apa kamu tidak tahu kalau aku sedang membacakan titah Kaisar?” Sentaknya kepada sang kakek karena sikapnya yang sangat lancang. “Titah Kaisar sama saja dengan keberadaan Sang Kaisar di sini!”

“Aku tidak peduli!” Suaranya terdengar serak dan lemah, namun tidak dengan tekadnya. Langkah kakinya secara perlahan terus maju memasuki area halaman kediaman.

“Bahkan jika Kaisar mu sekalipun yang datang langsung, dia tetap harus tunduk di depan benda ini!” jawabnya dengan tegas.

“Kecuali kalau Kaisar mu bisa membangkitkan kembali mendiang Kaisar terdahulu dari dalam tanah kubur dan memaksanya mencabut kuasa benda ini!”

Tangan gemetarnya perlahan membuka kotak kayu itu. Seluruh halaman mendadak hening. Bahkan sang kasim menghentikan umpatan yang nyaris keluar dari mulutnya.

Dengan kedua tangan yang terus bergetar, ia mengangkat sebuah benda dari dalam kotak.

Kakinya perlahan bergerak membawanya semakin mendekati sang kasim lalu menunjukkan benda itu tepat di depan wajahnya.

Wajah sombong sang kasim berubah menjadi pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung mulai memenuhi dahi dan lehernya. Lututnya lemas dan ia langsung berlutut tanpa sempat melanjutkan membaca titah Kaisar. Rombongan utusan yang melihat itu pun saling pandang dengan penuh tanda tanya di wajah mereka. Namun mereka tetap mengikuti sang kasim untuk berlutut dan menunduk.

Kasim langsung menoleh ke samping memberi isyarat dengan tangannya agar salah satu pengawal mendekat ke arahnya. Membisikkan sebuah pesan lalu pengawal tersebut berlari keluar. Menaiki kuda dan dengan cepat meninggalkan kediaman jenderal menuju ke arah istana.

Menit demi menit terus berlalu. Evren masih berlutut dengan tangan mengepal. Sementara yang lain merasa kebingungan dengan kejadian langka ini. Tidak pernah mereka melihat seseorang menyela pembacaan titah Kaisar, bahkan kasim pun sampai harus berlutut. Detak jantung setiap orang begitu keras hingga rasanya mereka bisa mendengar detak jantung masing-masing.

Lalu suara tapak kuda dari kejauhan mulai mendekat dengan cepat dan berhenti tepat di depan kediaman jenderal.

“TITAH KAISAR DATANG!” Teriak sang pengawal memberitahukan kedatangan titah Kaisar yang baru.

Semua orang menunduk semakin dalam. Dengan menahan lututnya yang masih gemetar, sang kasim memaksakan dirinya untuk berdiri dan menerima titah yang baru. Membuka gulungan kain emas itu, lalu meneguk ludahnya saat melihat barisan tinta yang masih basah.

“Atas nama Yang Mulia Kaisar Cassian von Alterus, pelindung negeri dan pemegang titah langit.

Jenderal muda Evren Vance, putra mendiang Jenderal Arthur Vance, dinyatakan terbukti melakukan permufakatan untuk memberontak terhadap takhta kerajaan.

Berdasarkan hukum kerajaan pasal XIII, kejahatan makar diganjar hukuman mati serta pemusnahan seluruh garis keturunannya.”

Kasim berhenti berbicara membuat semua orang menahan nafasnya. 

Halaman kediaman berubah sunyi.

Tak seorang pun berani mengangkat kepala.

Bahkan embusan angin terdengar begitu jelas.

Suasana yang semakin tegang dan memanas itu membuat ibu Evren ambruk ke lantai dengan air mata yang terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Sementara Evren masih mempertahankan posisinya dengan wajah yang semakin memerah.

Puluhan kemenangan yang diraihnya dan sang ayah selama bertahun-tahun langsung lenyap seketika hanya karena selembar titah. Darah yang pernah mereka tumpahkan untuk negeri ini ternyata tidak ada apa-apanya di depan kecurigaan sang Kaisar.

“Namun, dengan mempertimbangkan jasa mendiang jenderal Arthur Vance dan jasa jenderal muda Evren Vance kepada negara ini. Maka hukuman mati serta pemusnahan seluruh garis keturunannya dibatalkan.

Sebagai gantinya, keluarga jenderal diturunkan statusnya dari keluarga bangsawan menjadi rakyat biasa. Jenderal muda Evren Vance dicabut seluruh jabatannya dan diasingkan ke perbatasan di utara. Mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjaga perbatasan sebagai prajurit biasa."

Titah selesai dibacakan dan keluarga Vance bisa sedikit bernafas karena nyawa mereka masih selamat.

Setelah itu, sang kakek memberikan benda itu beserta wadah kotak kayunya kepada kasim untuk dibawa kembali ke istana. Benda peninggalan Kaisar terdahulu itu akhirnya kembali ke tempatnya. Meskipun perlindungan itu kini sudah tidak ada, tapi mereka lega karena nyawa satu-satunya keturunan keluarga Vance bisa selamat. Meskipun harus dibayar dengan pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak bisa kembali ke ibukota.

Setelah rombongan utusan istana pergi, Evren mengangkat tubuh lemah sang ibu yang sudah tergeletak di tanah dan membawanya masuk ke dalam kamar. Matanya semerah darah setelah apa yang baru saja terjadi, ditambah kondisi sang ibu tercinta menjadi seperti sekarang ini karena tidak tahan menerima tekanan yang begitu besar. Hatinya terguncang dan jantungnya melemah saat mendengar putusan yang baru dibacakan setengah.

Sementara itu, sang kakek dituntun oleh Eldrick kembali ke halaman belakang. Kondisinya juga langsung menurun karena beliau memaksakan diri untuk pergi ke halaman utama di kondisi tubuhnya yang begitu lemah.

Kediaman jenderal yang dulu selalu diagungkan, kini sudah menjadi perbincangan di seluruh penjuru kota. Dan orang-orang di dalam kediaman kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Perasaan tidak berdaya ini benar-benar memukul Evren hingga ke dasar lubang di hatinya. Di medan perang, dia adalah seorang jenderal yang mengambil seluruh keputusan. Tapi di ibukota, dia bahkan tidak mampu mengangkat kepalanya di hadapan selembar kertas emas milik sang Kaisar. 

“Aku, Evren Vance bersumpah tidak akan pernah melupakan pengkhianatan ini!” Desisnya dengan mata merah yang menatap sang ibu yang masih belum siuman.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!