Kegelapan dan Cinta sangat cocok untuk menggambarkan cerita ini. Karakter utamanya adalah seorang pemuda bernama Hayakawa Yugioh.
Ia bertemu dengan tiga gadis cantik di tempat yang berbeda-beda. Kuroyuki Yukino (Stasiun Kereta), Minazuki Reina (Klub Voli), dan Hanamori Airi (Hujan Badai).
Yugioh membantu semuanya untuk menyelesaikan masalah hidup masing-masing. Seiring berjalannya waktu, ketiganya mulai jatuh cinta padanya.
Dimulai dengan mengancamnya menggunakan benda tajam, menguntitnya ke manapun ia pergi, dan paling parah mengajaknya mati bersama.
Diakhir... Mereka mengajukan pertanyaan yang intinya: 'Siapa yang akan ia pilih untuk menjadi istrinya?.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.4: Stasiun Tokyo
Pastinya Yugioh bisa ku tawari hal itu, hehehe. Pemandangan mobil berlalu santai lumayan indah!
Semuanya menurutku seperti terpampang jelas dalam karya seni super luar biasa yang sangat mahal.
Bangunan-bangunan tinggi menjulang ke atas, para pejalan kaki baik hati, beberapa gang kotor tempat pembulyan terjadi, semua itu begitu menakjubkan. Beginilah, yang dilihat oleh Hayakawa Honoka selama perjalanannya.
“...” Yugioh sibuk sendiri dengan konsol gamenya, sedangkan Yukino duduk santai tanpa berbuat apapun dan satunya lagi terus memikirkan rencana-rencana untuk keduanya kalau sudah sampai di kediaman Hayakawa.
Di keluargaku, hanya ada seorang saja yang nggak ku benci. Dia adalah nenekku. Orangnya baik banget serta pengertian padaku.
Dia tidak pernah berkata kasar padaku juga menyuruhku melakukan hal-hal aneh kayak kerja dan lainnya.
Hatinya begitu tulus layaknya ibu sesungguhnya. Sayangnya... nenekku sudah di alam sana, menyusul kakek yang duluan atau sekitar setahun sebelumya.
Nenek meninggal sekitar 10 tahun yang lalu, kakek setahun lalunya lagi. Bagaimana dengan paman atau bibi?
Aku tidak terlalu akrab dengan keluarga Hayakawa lainnya. Apalagi, mereka jarang menampakkan diri di kediaman utama atau tempatku tinggal.
Ya, keluarga kami itu inti dan sisanya cabang. Nenek dan kakek menyukai ibu dan ayahku, jadinya diberi keistimewaan lebih.
Alasan nenek menyukai ibuku adalah karena diriku. Oh benar! Dia itu sangat aneh. Aku nggak terlalu mengerti dirinya.
Lalu... nenekku padahal sudah tua banget atau usia sebelum kematiannya 67 tahun, kelihatan kayak 30 tahunan hingga akhir hidupnya.
Kurang lebih, waktu itu nenekku pake baju dinas dan menyelinap masuk ke dalam kamar tidurku. Padahal pintunya dikunci dan cuman aku yang punyanya.
Bagaimana caranya masuk? Katanya aku lupa kunci, tapi... Diriku merasa sudah menguncinya. Namun, nenek jarang bohong, mungkin pernyataannya bisa ku terima.
Yahh... bukan di situ yang anehnya sih. Posisi tubuhnya menurutku terlalu berlebihan untuk kecupan pipi.
Kalian tahu kan, kalau orang yang lebih tua melakukannya adalah salah satu bukti kasih sayangnya pada anak.
Waktu itu, mataku sedikit terbuka dan posisinya kayak mau kecup bibirku. Entah salah lihat atau benar, hal tersebut sangat aneh bukan?
Tapi pada akhirnya, dia orang yang begitu baik walau terlalu berlebihan sampai membuatnya mengerikan.
Saat aku lumayan akrab dengan kakak-kakak perempuanku waktu usiaku 6 tahun, tatapan matanya kayak seorang pembunuh.
Dulu dia pernah mengancamku dalam posisi baru bangun tidur. Wajahku yang ketakutan hanya membuatnya tersenyum manis.
“Yugi-chan nggak boleh terlalu akrab dengan wanita selain nenek oke!”
“Ah! Ba-baik... la-lalu...” Ia memalingkan pandangannya ke belakang neneknya. “Ke-kenapa nenek bawa pisau?”
“Oh ini!” kedua matanya melebar serta mulutnya menganga kecil terkejut. “Nenek mau motong sayuran. Sayangnya habis, jadi sembari nunggu kakek beli, nenek memutuskan berkunjung dulu ke kamarmu.”
“Be-begitu ya! La-lalu... ke-kenapa belum disimpan?”
Suasana seketika menjadi gelap dan membuat tubuhnya merinding ketakutan karena kedua matanya disertai senyuman lebarnya itu.
“Ng-nggak jadi.”
Dia pun beranjak dari atas tubuhku dan pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Yahh... itu adalah salah satu moment paling mengerikan dalam hidupku.
Sebenarnya masih banyak lagi dan sepertinya semuanya dari nenekku yang baik hati.
Yahh... beralih dari hal-hal mengerikan yang ditujukan padaku, sisanya nggak ada masalah.
Lalu... setelah menempuh waktu selama kurang lebih 45 menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Kediaman Keluarga Hayakawa.
“Ayo turun semuanya!” ajak mamanya dengan senang hati.
Entah apa yang dia rencanakan, kalau berani macam-macam dengannya, aku bakal menghentikannya.
Yugioh berpegang teguh pada ucapannya. Jadi, kalau ada perbuatan yang membuat Yukino kenapa-kenapa, ia akan menghentikannya dengan cara apapun.
Kedua mengangguk dan begitu keluar dari mobil, posisi berada di tengah-tengah taman dengan rerumputan indah tersebar melingkar membentuk spiral menakjubkan.
Kalau berada di titik tengah lalu lari mengikuti arus spiralnya maka ketika kembali dan terus mengulanginya, kepala siapapun akan pusing.
Bentuk atapnya mirip-mirip di kastil yang megah. Semuanya tampak elegan juga tertata rapi.
Di sepanjang Engawa, terpasang cukup banyak Chocin yang membuatnya makin cantik lagi. Beberapa kucing liar sering keluar-masuk Mon karena ini bukanlah tempat tinggal para bangsawan.
Semua ruangan dikiri berjumlah tiga dan semuanya terbuka karena sepertinya sedang terjadi rapat di situ.
Pandangan mata Yugioh mengarah ke situ yang kemungkinan besar mereka adalah keluarganya.
Pakaian mereka berbeda-beda. Loungewear dan Cardigan + Loose Pants dikenakan oleh salah seorang dari dua pria yang terlihat tampan.
Mata hijau daun, suasana setenang air mengalir, dan sedang meneguk secangkir teh matcha.
Ia melirik sedikit ke arah Yugioh dan langsung kaget serta kelihatan senang banget, sedangkan dianya sendiri biasa saja atau langsung memilih memalingkan wajahnya ke belakang.
“Mereka berempat sudah berkumpul ya! Oh tenang saja, Yugioh! Hari ini cuman keluarga kita aja. Minggu besok katanya mereka bakalan berkunjung bentar ke sini. sesekali, sempatkanlah ketemu!”
Ia hanya mengangguk saja dan tidak benar-benar mau melakukannya. “Mouu!! Yugioh nggak berubah ya! Di sekolah kamu nggak belajar sama sekali kah? Nilaimu gimana? Mama belum sempat lihat.”
“...”
Yugioh diam saja dan terus fokus ke konsol gamenya. Mamanya melihat ke arah situ. Dirinya marah serta memilih diam untuk mengekspresikan emosinya sambil berjalan lebih cepat menuju ke tempat empat orang berada.
Yukino yang melihat hal tersebut cuman bisa tersenyum kecil aja. “Hayakawa-kun, kalau tidak menyukai mereka semua, bagaimana caraku membantumu?”
Pertanyaan tersebut membuat Yugioh agak terkejut sampai melihat ke arahnya. “...Bohong kan!”
“Nggak kok. Kalau mau, aku bahkan bisa membantumu menyingkirkan mereka semua dari hidupmu.”
Perkataannya menurutku sangat berbobot. Hehehe, salah satu yang ku inginkan, tapi... “Tidak perlu. Terimakasih atas tawarannya!” Yugioh menunduk sejenak serta mengangkatnya kembali.
“Walau aku benci mereka, tahu ada orang-orang yang masih baik padaku, itu sudah lebih dari cukup. Pada akhirnya...”
Senyuman disertai sedikit sinar matahari tersorot jelas ke arahnya. Auranya makin bertambah dan membuat Yukino memerah sebadan-badan. “Mereka itu keluargaku.”
Mendengar hal tersebut, dirinya langsung bergerak aneh entah kemana. Hanya tiga kata saja yang dikatakan dengan tulus dan niat hati baik, sudah lebih dari cukup tentang alasannya salah tingkah.
“...Ke-kenapa dengannya?”
“A-abaikan saja deh. Sekarang, waktunya menuju mereka semua.”
Begitu sampai di depan semuanya, ia mengawalinya dengan melirik ke arah pria sebelumnya yang senang banget sewaktu melihatnya.
“Ka-kapan aku harus membayarnya lagi, A-aoyama-san?”
Fufufu. Dia ini kasihan sekali ya! Uang yang ku pinjamkan untuk pernikahan, sebenarnya bekas hutangku pada bos papa mertua.