NovelToon NovelToon
Air Mata Shafira

Air Mata Shafira

Status: tamat
Genre:Angst / Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Tamat
Popularitas:146.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Gentra

Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.

Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.

Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

“Oh benarkah? Aku sangat bersyukur memiliki kalian berdua! Aku kira bukti-bukti yang ada pada kalian itu, akan sangat membantuku dan mempercepat prosesnya!” kata Shafira dengan wajah yang semringah. Ia puas dengan rencana yang di dukung penuh oleh dua pria tampan dan kaya di sekitarnya.  

Meskipun Shafira bukan wanita yang gila harta, tapi keberadaan orang yang bisa menyokong kehidupan secara finansial akan mempermudah dirinya. Ia punya harta peninggalan kedua orang tuanya yang apabila di jual, maka seluruh kebutuhan dan keinginannya bisa terpenuhi seumur hidup. Asalkan ia hanya hidup sendiri saja.

Namun, ia tidak gegabah dan tergesa-gesa dalam menggunakan harta warisan ayah dan ibu tercinta. Ia masih memiliki tabungan dan uang yang cukup walau Erick tidak pernah memberikan haknya.

Panggilan Video antara Shafira dan Ardan terputus, saat ada panggilan lain yang masuk. Riyan terpaksa mengakhirinya meski Ardan masih ingin bicara dengan Shafira.

“Halo, Bu!” kata Riyan, setelah mengganti saluran pada ibunya yang tiba-tiba menghubunginya.

“Ibu mau ketemu kamu sekarang dengan anakmu, mereka pulang cepat hari ini, karena bagi lapor dan mereka minta kamu mau pergi menemani mereka liburan! Apa kamu ada waktu?” kata wanita paruh baya itu.

Riyan tiba-tiba tercekat saat mau bicara, ia sengaja mengeraskan volume pada smartphone itu hingga Shafira bisa mendengar pembicaraannya dengan sang ibu.  

Seorang perawat yang disewa oleh Erick, tetap stand by di ruangan itu dan memperhatikan sikap Riyan serta Shafira. Ia juga mendengar seseorang bicara di seberang sana  

Memang, sudah beberapa hari ini Riyan tidak mengunjungi sang buah hati. Sebenarnya ia rindu tapi kesibukan dan juga kondisi perasaannya, belum bisa ia kendalikan sejak kematian istrinya waktu itu. Namun, ucapan ibunya tadi, membuatnya malu sebab ia secara tidak langsung telah mengakui kalau ia jarang menemui anaknya sendiri.

“Baik, Bu, aku ada waktu!”

“Benar kamu tidak ada praktik hari ini?”

“Sebenarnya ada, aku sedang di ruang perawatan Shafira!”

“Shafira?”

Panggilan telepon antara Riyan dan ibunya tiba-tiba terputus karena pria itu mendengar suara tangisan, dari seorang anak kecil yang cukup keras, di depan pintu ruang rawat inap Shafira. ia segera pergi keluar dan terkejut saat mendapati salah satu anaknya terjatuh di lantai.  

Riyan akan segera membantu anak itu, tapi salah seorang penjaga yang berdiri di dekat pintu, sudah lebih dulu menolongnya.

“Zian, Zain? Apa kalian baik-baik saja?” tanya Riyan sambil berlutut dan memeluk salah satu anaknya yang masih menangis. Setelah itu ia memeriksa bagian kaki dan tangan Zain, guna memastikan kalau semua baik-baik saja.

Anak itu mengangguk sambil mengusap sisa air matanya.

“Papa ...!” kata kedua anak itu lembut dan manja serta bergelayut di leher ayah mereka.

“Kamu di sini, ternyata?” tanya Renata—ibunya Riyan.  

Wanita itu mendekati Riyan yang tengah memeluk anaknya. Zain dan Zian—dua cucunya itu, berlari saling berkejaran, saat dirinya tengah menelepon. Sehingga tanpa sengaja anak itu terjatuh. Namun, mereka tidak terluka membuat Riyan dan Renata bersyukur. Mereka langsung mengajak dua anak duduk di kursi besi panjang yang terletak tak jauh dari kamar Shafira.

Tak lama mereka berbincang di sana, karena Riyan hendak mengajak mereka ke ruangan pribadinya. Masih ada tugas lain menantinya. Namun, sebelum pergi ia harus lebih dulu berpamitan dengan Shafira.

Riyan memasuki ruangan Shafira kembali dengan menggendong Zain dan Zian di badannya depan dan belakang. Saat Shafira melihatnya, ia pun tercengang.

“Mereka anak Anda, Dok! Lucu sekali, apa aku boleh menggendongnya?” kata Shafira begitu antusias. Ia menyukai anak-anak apalagi ia juga baru kehilangan calon bayinya. Melihat dua anak kembar yang lucu dan menggemaskan itu, membuat hatinya terhibur.

“Jangan!” kata seseorang yang berdiri di belakang Riyan. Itu suara Renata yang ikut masuk setelah penjaga menginginkannya.

Shafira langsung menoleh pada wanita paruh baya itu dan seketika membuat matanya melebar dengan sempurna.

“Bu Renata?” katanya.

“Shafira?” sahut Renata.

“Apa kalian sudah saling kenal?” tanya Riyan heran, ia menurunkan dua anak lelakinya sambil menatap Shafira.

“Ya, tentu saja, Shafira seorang perancang dan dia desainer andalanku, tapi ia bekerja secara freelance untuk konveksiku!” kata Renata seraya mendekati Shafira dan menjabat tangannya.

“Ibu apa kabar?” tanya Shafira terharu.

“Aku baik, kenapa kamu bisa berada di sini, kamu sakit apa? Pantas saja sekarang kamu sudah jarang mengirimkan desainmu padaku, Shafira? Mana teleponmu susah dihubungi lagi!”

“Maafkan, saya, Bu! Saya masih sakit dan tidak bisa terlalu sering membuat desain lagi, soalnya—“ ucapan Shafira terputus, ia bimbang untuk mengatakan alasannya.

Biar bagaimanapun juga, Renata hanyalah orang luar yang tidak mungkin mendengar semua, masalah rumah tangganya. Meskipun keterlambatan desainnya disebabkan oleh masalah keluarganya, tapi Renata tidak perlu tahu.

“Oh, kalau begitu kamu konsentrasi saja untuk sembuh dulu, jangan memaksakan diri, oke?” kata Renata sambil mengusap lembut tangan Shafira.

Zain dan Zian mendekati nenek mereka dan menatap Shafira penuh waspada, mereka anak kecil yang tidak mudah atau langsung bisa beradaptasi dengan orang dewasa hingga terlihat menjaga diri.

“Oh, iya, kenalan sini sama Tante Shafira! Ini kedua cucuku, Shafira ... mereka adalah matahariku!” kata Renata sambil memangku dua anak kembar itu di atas pahanya.

“Mereka lucu sekali, Bu! Kalau aku sudah sehat nanti, aku ingin sekali menggendongnya!”

“Itu artinya, kamu harus sering-sering datang ke butik-ku!”

“Aku akan mengusahakannya, Bu!”

“Baiklah, aku berdoa untuk kesembuhanmu!”

“Terima kasih!”

Zain dan Zian mau menjabat tangan Shafira dengan malu-malu, tapi lama kelamaan mereka tidak merasa canggung lagi dan naik di tempat tidur Shafira. Mereka bercanda di sana dengan riangnya.

Sementara Riyan menatap takjub ke arah anak-anaknya dan Shafira yang tidak kaku dalam mendekati buah hatinya. Ia tidak menyangka jika mereka bisa akrab dalam waktu singkat.

“Bu, aku masih ada urusan,” kata Riyan setelah sekian lamanya hanya diam terpaku menetap interaksi Shafira dan anak-anaknya.

Renata menoleh, “Pergilah, urus urusanmu, aku dan anak-anak akan di sini saja, kalau Shafira tidak keberatan!”

“Tentu saja tidak, Bu!” kata Shafira penuh semangat. Kehadiran Renata memberinya suasana keluarga yang sudah lama tidak ia dapatkan setelah ibunya tiada.

“Baiklah, kalau begitu, aku akan kembali ke sini kalau sudah selesai nanti!” kata Riyan. Tiba-tiba saja ia merasa berat hati meninggalkan anak-anaknya pergi.

Setelah Riyan pergi, Renata dan Shafira kembali berbincang tentang perkembangan mode dan bisnis pakaian yang sekarang tengah berkembang. Di sela-sela obrolan yang menyenangkan itu, mereka tetap menyempatkan waktu untuk bercanda dan bermain dengan Zain dan Zian.  

Namun, di tengah kegiatan menyenangkan itu, tiba-tiba seseorang masuk begitu saja tanpa permisi.

“Siapa dia, Shafira? Apa dia keluargamu?”

1
Rusmiati Eyus
ceritany bgs dn sngt menarik
💞®²👸ᖽᐸ🅤ᘉᎿ🅘💞: Terimakasih kk🙏
total 1 replies
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa: Sama² kak thor....karya yang baik
dan yang penting tetap semangat kak thor ✌️
total 2 replies
Yunerty Blessa
cerita yang menarik....ada sebahagian bisa dijadikan pelajaran..
syabas kak thor
Yunerty Blessa
sabar bu Renata... mereka adalah tamu kalian...
Yunerty Blessa
ibu mertua yang baik dan perhatian sekali....
Yunerty Blessa
tahniah buat kelahiran baby boy kalian...
Yunerty Blessa
aduh lucunya 🤣🤣
Yunerty Blessa
akhirnya Riyan dan Shafira bisa hidup bahagia lagi.... tahniah buat pernikahan kalian....
Yunerty Blessa
menyesal kan
Yunerty Blessa
maka nya isteri itu disayangi bukan disyaki
Yunerty Blessa
apa sudah jadi dengan Erick....
Yunerty Blessa
akhirnya Shafira menerima Riyan juga...
Yunerty Blessa
syabas Riyan
Yunerty Blessa
salah satu nya wasiat kedua orang tua Shafira tidak ditetapi oleh Erick 😏
Yunerty Blessa
takut pilihan nya dibeli oleh calon Ardan....
Yunerty Blessa
terima lah Shafira...
Yunerty Blessa
itulah balasan buat Erick kerana terlalu jahat sama Shafira
Yunerty Blessa
seorang anak haus akan kasih sayang seorang ibu
Yunerty Blessa
kalau memang kau tidak mahu kehilangan Shafira lagi.....nikahi dia Riyan....
Yunerty Blessa
berarti Riyan juga suka dengan Shafira....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!