NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Siang itu, lorong utama rumah sakit terlihat lebih sibuk dari biasanya. Beberapa perawat berlalu-lalang membawa berkas, sementara keluarga pasien duduk di kursi tunggu dengan wajah beragam—cemas, lelah, berharap.

Di tengah suasana itu, dua pria berjalan berdampingan memasuki area dalam rumah sakit.

Kenan melangkah dengan wajah datar, rahangnya tegas, sorot matanya dingin dan fokus. Aura kepemimpinannya begitu kuat, seolah tempat itu tunduk pada keberadaannya.

Di sampingnya, Joe berjalan sambil membawa beberapa bingkisan buah dalam kantong kertas tebal. Tangannya sudah sedikit pegal, tapi mulutnya tetap tak bisa diam.

“Ken, sumpah, lain kali kalau mau jenguk orang sakit, minimal buahnya jangan sebanyak ini,” keluh Joe pelan.

Kenan melirik sekilas tanpa menghentikan langkah. “Lu sendiri yang bilang, ‘Biar keliatan niat.’”ucap Kenan.

Joe mendecak. “Iya, tapi niat gue nggak segede ini juga.”

Beberapa staf rumah sakit yang berpapasan langsung menegakkan badan dan memberi hormat. Mereka semua tahu dua pria itu bukan orang sembarangan. Kenan adalah mantan direktur dan dokter aktif dirumah sakit itu. Selain itu Mereka adalah anak dari pemilik rumah sakit, sekaligus Kakak dari direktur utama.

Kenan hanya mengangguk singkat. Joe membalas dengan senyum canggung.

Mereka berhenti di depan lift. Tepat di sana, sudah berdiri Bisma, bersandar santai sambil menatap layar ponselnya.

Begitu Kenan melihat Bisma, ekspresi datarnya langsung berubah. Sudut bibirnya terangkat, senyum jahil khasnya muncul.

Kenan mendekat tanpa ragu.

“Hai, abang ipar,” sapa Kenan ringan sambil melambaikan tangan.

Bisma mendengus pelan. Ia mematikan ponselnya dan menoleh malas. “Ngapain lo ke sini?”tanya Bisma.

“Ketus amat, Bro,” Kenan terkekeh. “Gue ke sini mau ngapel calon istri.”

Bisma menaikkan alis. “Emangnya adik gue mau jadi istri lo?”

Kenan menyeringai. “Untuk sekarang sih belum. Tapi kita lihat aja nanti. Pasti tergila-gila.”

Joe terkikik. “Percaya diri nggak ada obat.”

Bisma tersenyum miring. Ia harus mengakui—Kenan memang punya modal untuk sesombong itu. Wajah tampan, karier mapan, nama besar keluarga. Banyak perempuan jatuh hanya dengan satu tatapan. Tapi anehnya, Kenan justru jarang benar-benar tertarik.

“Jangan terlalu kepedean, Pak Kenan Aryasatya Baskara Mahendra ” sindir Bisma.

Bisma lalu menoleh ke Joe. Tatapannya bertanya.

Joe langsung mengangkat tangan. “Bukan saudara saya.”

“Dasar saudara laknat,” gumam Kenan sambil menyentil kening Joe.

Tukk!

“Aduh! Sakit gila!” Joe meringis.

Saat itu juga, pintu lift terbuka.Bisma langsung melangkah masuk tanpa menghiraukan keduanya.

“Kalau mau ribut, silakan. Gue duluan.”ucapnya sudah berada didalam lift.

“Tunggu gue, Bis!” Kenan menyusul cepat. Di ikuti Joe.

“Jangan teriak, dodol. Ini bukan pasar.”kata Bisma.

“Gue tau!” balas Kenan kesal.

Lift itu pun menutup dan meluncur ke lantai lima.

Tak lama kemudian, langkah mereka terhenti di depan kamar rawat Alvian. Lorong rumah sakit terasa lebih lengang dibanding siang tadi. Hanya suara pendingin ruangan dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas.

Bisma berdiri paling depan. Ia meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan sambil mengucap salam.

“Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Alvaro, Ayah Dika, Mama Yasmin, dan Pak Bara hampir bersamaan.

Di sudut ruangan, Aru yang tadinya duduk di sofa langsung berdiri. Rambutnya tergerai rapi, hanya ia sisipkan ke belakang telinga sebelum melangkah mendekat. Ia menghampiri Bisma dan menyalami tangannya dengan sopan.

“Silakan masuk, Phi,” ucap Aru lembut. “Mas Kenan, Joe.”

Kenan mengangguk kecil. Sorot matanya sempat tertahan sepersekian detik pada wajah Aru, lalu ia memalingkan pandangan seolah tak terjadi apa-apa.

“Sendiri aja?” tanya Bisma sambil menoleh ke sekeliling.

“Yang lainnya lagi sholat, Phi,” jawab Aru. “Habis makan siang.”

Joe maju selangkah, mengangkat bingkisan di tangannya.

“Aru, ini ada buah dari Kenan,” ucapnya santai. “Buat Alvian sama kamu.”

Aru menerima bingkisan itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Mas Kenan,Joe.”

“Sama-sama,” jawab Kenan sambil tersenyum tipis.

Senyum Aru membalas, sederhana tapi hangat.

Dan entah kenapa, dada Kenan kembali terasa aneh.

"Kenapa hal sesederhana ini selalu bikin gue kehilangan fokus, sih?Jantung gue gedebak gedebuk. " batin Leo.

Bisma berjalan ke arah ranjang Alvian. Adiknya tertidur pulas, wajahnya tampak lebih tenang. Ia duduk di ujung ranjang, mengusap rambut Alvian pelan.

Kenan dan Joe memilih duduk di sofa.

“Kai mana, Ru?” tanya Kenan.

Joe langsung menyeringai. “Ehem… emang boleh ya panggilnya Ru selembut itu?”

Kenan melirik tajam. “Namanya Aru. Gue singkat.”

Joe tertawa kecil. “Santai.”

Aru menggeleng pelan, senyum tipis tersungging. “Kai lagi tidur, Mas. Habis makan tadi dia ngantuk. Aku baringin di kamar sebelah.”

Kenan mengangguk. Bayangan Kai tidur dengan wajah polos muncul di kepalanya.

"Vian udah lama tidur nya,Dek?” tanya Bisma.

“Baru, Phi,” jawab Aru. “Tadi sempat bangun karena nyium bau nasi padang.”

Bisma terkekeh. “Dasar keras kepala.”

“Kalian udah makan?” tanya Aru sambil menatap mereka bergantian.

Ketiganya menggeleng.

“Belum.”

Aru menunjuk pintu kamar sebelah. “Kalau gitu sholat dulu di kamar itu. Habis itu kita makan bareng. Aku juga belum.”

Joe langsung berdiri. “Sip.”ucap Joe semangat.

Kenan berdiri menyusul. Sebelum melangkah, ia menoleh pada Aru.

“Jangan mulai dulu.”katanya

Aru mengangguk kecil. “Nggak. Aku tunggu.”

Kalimat sederhana itu membuat langkah Kenan terasa lebih ringan saat berjalan meninggalkan ruangan.

Setelah sholat, mereka kembali ke kamar rawat Alvian. Karpet kecil yang tadi disiapkan Aru kini terisi oleh beberapa piring beralas kertas cokelat, lengkap dengan nasi hangat dan lauk padang yang tersisa. Rendang, ayam pop, sambal hijau, dan gulai tersusun rapi. Meski sederhana, suasananya jauh dari kata biasa.

Mereka duduk lesehan membentuk setengah lingkaran.

Kenan duduk bersila dengan punggung tegak, Joe di sebelahnya yang sudah lebih dulu menyerbu sambal, sementara Bisma memilih duduk agak dekat dengan ranjang Alvian agar mudah memantau adiknya.

“Akhirnya makan,” gumam Joe sambil menyuap. “Gue udah lapar dari tadi.”

“Makanya jangan kebanyakan bacot,” sahut Bisma tanpa menoleh.

Joe mendengus, tapi tetap makan dengan lahap.

Aru duduk berseberangan dengan Kenan. Ia mengambilkan nasi secukupnya, lalu menambahkan lauk satu per satu dengan hati-hati.

Suasana terasa hangat dan santai. Tidak ada obrolan berat. Hanya bunyi sendok, tawa kecil Joe, dan sesekali komentar Bisma soal rasa masakan.

“Rendangnya pas,” komentar Bisma. “Nggak terlalu pedas.”

Aru tersenyum kecil. “Iya, adek pilih yang aman aja.”

Kenan menyuap perlahan. Entah kenapa, makan lesehan seperti ini terasa berbeda. Lebih tenang. Lebih… rumah.

Saat mereka sedang asyik makan—

Pintu kamar terbuka.

“Loh, Kenan? Joe?”

Suara itu membuat semua kepala menoleh.

Mami Amara berdiri di ambang pintu bersama Papi Bas, Ayah Dika, Mama Yasmin, Pak Bara, dan Alvaro. Wajah Mami Amara jelas menunjukkan keterkejutan bercampur heran.

“Iya, Mi,” jawab Kenan singkat sambil berdiri setengah, sopan.

Joe ikut menoleh sambil mengunyah. “Halo, Aunty,Om.”

Papi Bas mengernyitkan dahi, menatap Kenan dari ujung kaki sampai kepala. “Katanya kemarin sibuk?”

“Udah kelar, Pi,” jawab Kenan singkat, nada suaranya datar seperti biasa.

Joe langsung nyeletuk tanpa dosa, “Joe cuma nemenin Kenan ngapel calon istrinya aja,Om.”

“Huk—uhuk!”

Aru tersedak. Sendoknya berhenti di udara. Wajahnya langsung memerah.

Bisma yang duduk paling dekat refleks meraih gelas air dan menyodorkannya. Kenan juga reflek memberikan air pada Aru.

“Pelan-pelan,Dek” ujar Bisma

"Kamu nggak papa, Ru, " ucap Kenan khawatir.

Aru menerima gelas itu dengan tangan sedikit gemetar. “Ng—nggak apa-apa,” ucapnya sambil terbatuk kecil, wajahnya makin tersipu.

“Ru?” ulang para orang tua hampir bersamaan.

Nada suara mereka kompak, penuh tanda tanya.

Kenan masih duduk santai, seolah bukan namanya yang sedang dibicarakan. Ia menoleh sekilas.

“Kenapa?” tanyanya datar.

Joe menahan tawa, sementara Bisma menghela napas pelan, sudah bisa menebak ke mana arah suasana.

Mami Amara melangkah masuk sambil tersenyum penuh arti. “Lanjut makan aja,” ucapnya ringan.

Papi Bas, Ayah Dika, dan Pak Bara saling berpandangan. Tak ada yang berkata apa-apa, tapi senyum kecil muncul di wajah mereka masing-masing.

Mama Yasmin bahkan mengangguk pelan, seolah mengerti tanpa perlu dijelaskan.

Ada sesuatu yang hangat di udara. Sesuatu yang tak diucapkan, tapi dirasakan semua orang.

Aru menunduk sedikit, fokus ke piringnya meski telinganya terasa panas.

Kenan kembali menyuap makanannya.

Dan kali ini, sudut bibirnya terangkat—senyum kecil yang jarang sekali muncul.

Bersambung...................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!