NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tersadar

Sejak kembali dari rumah orang tuanya, Anya masih terdiam seribu bahasa. Ia memilih untuk menyendiri dan merenung di taman belakang rumah, mencari ketenangan di tengah gejolak batin yang melanda.

Perkataan ibunya tentang ayahnya terus terngiang di benaknya. Memang benar apa yang dikatakan ibunya, ia tidak seharusnya memendam kebencian terhadap ayahnya terlalu lama. Namun, hatinya berbisik sebaliknya, ia masih ingin merasakan amarah dan kekecewaan terhadap ayahnya.

Kekecewaan yang ia rasakan terlalu mendalam, luka yang ditorehkan oleh ayahnya terlalu perih, sehingga kebencian itu tumbuh begitu besar dan mengakar kuat di dalam hatinya.

"Anya, kenapa Anya terus berada di sini dari tadi? Arga merasa kesepian," ucap Arga dari arah belakang, menghampiri Anya yang masih larut dalam lamunannya di taman.

Anya tetap terdiam, tidak membalas ucapan Arga. Mendapati respons seperti itu, Arga memasang wajah cemberutnya, menunjukkan rasa tidak senangnya. Ia kemudian duduk di samping Anya, mencoba menarik perhatiannya.

Arga menatap wajah Anya yang masih terdiam membisu dengan tatapan kosong. Dengan polos, ia bertanya, "Anya kenapa diam saja? Apa Anya sedang marah atau kesal sama Arga?"

Anya menoleh dan menatap Arga dengan tatapan tajam yang menusuk. "Bisakah kau pergi sekarang? Aku sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu," ucapnya dengan nada dingin dan menusuk.

Mendengar permintaan Anya yang terdengar seperti perintah, Arga menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Arga tidak mau pergi! Arga ingin berada di sini bersama Anya," ucapnya dengan nada keras kepala sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menunjukkan tekadnya untuk tetap berada di sisi Anya.

"Mengapa kau selalu membuntutiku seperti bayangan? Apa kau tidak paham bahwa aku sedang tidak ingin berurusan dengan siapapun?!" bentak Anya dengan nada tinggi, amarahnya tak terkendali.

Arga tersentak mendengar bentakan Anya yang begitu menusuk, namun ia tetap berdiri tegak di hadapannya. "Arga hanya ingin berada di dekat Anya, Arga tidak tega melihat Anya bersedih seorang diri di sini," jawabnya dengan nada pelan dan tulus.

Anya menggenggam kedua tangannya erat-erat, berusaha mengendalikan emosi yang bergejolak di dalam dirinya. "Kau! Kaulah biang keladi dari semua masalah ini! Aku muak denganmu! Aku sangat muak denganmu!" teriak Anya dengan histeris sambil menunjuk Arga dengan gemetar.

Tiba-tiba, Arga memeluk Anya dengan erat, mencoba meredakan emosinya. Anya terkejut dengan tindakan tiba-tiba Arga, namun ia tidak memberontak atau mencoba melepaskan diri. Arga memeluknya erat seolah ingin menyalurkan kekuatan dan ketenangan kepada Anya yang sedang dilanda amarah dan kesedihan.

"Arga tidak tahan melihat Anya bersedih seperti ini. Arga ingin Anya selalu ceria dan tertawa," ucap Arga dengan tulus sambil memeluk erat tubuh Anya, seolah ingin melindunginya dari segala kesedihan.

Anya tertegun dengan tindakan Arga yang begitu tiba-tiba dan penuh perhatian. Tubuhnya terasa kaku, namun air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang semakin pucat.

Dengan perlahan, Anya membalas pelukan Arga dengan erat, membiarkan semua kesedihan dan kekecewaan yang selama ini ia pendam keluar bersama air matanya. "Ayah kejam... Ayah sangat kejam," ucapnya di tengah isak tangis yang memilukan.

Dengan sabar, Arga berusaha menenangkan Anya dengan mengelus-elus punggungnya. "Anya, Ayah tidak kejam kok. Ayah sayang sama Anya. Tadi Ayah sudah berpesan sama Arga kalau Arga tidak boleh membuat Anya terluka dan menangis seperti apa yang sudah Ayah lakukan pada Anya," ucap Arga dengan polos, mengulang kembali kata-kata yang diucapkan oleh Bram, ayah Anya.

Anya semakin terisak mendengar perkataan Arga. Kata-kata polos Arga justru semakin menghantam hatinya yang terluka. Ia merasa bersalah karena telah melampiaskan amarah dan kekecewaannya pada Arga yang tidak bersalah. Di satu sisi, ia ingin sekali memaafkan ayahnya dan melupakan semua kejadian pahit yang telah berlalu, namun di sisi lain, luka yang ditorehkan oleh ayahnya terlalu dalam dan menganga lebar, seolah mustahil untuk disembuhkan dalam waktu dekat.

Anya semakin mengeratkan pelukannya pada Arga, seolah ia takut kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar menyayanginya dengan tulus dan tanpa syarat. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan, Arga... Aku benci Ayah karena telah menyakitiku, tapi di saat yang sama, aku juga merasa kasihan padanya," bisik Anya di tengah isak tangisnya yang pilu.

Arga hanya bisa memeluk Anya dengan erat, tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk diucapkan agar bisa menghibur dan menenangkan hati Anya yang sedang bergejolak. Ia hanya berharap, dengan kehadirannya di sisi Anya, ia bisa memberikan sedikit kekuatan dan ketenangan bagi Anya untuk menghadapi semua masalahnya yang rumit dan pelik.

"Kalau Anya ingin melakukan sesuatu untuk Ayah, Arga akan membantu Anya dengan senang hati. Apa pun itu, Arga akan selalu mendukung Anya," ucap Arga dengan tulus, berharap bisa meringankan beban yang sedang ditanggung oleh Anya.

Hatinya semakin terenyuh dan sakit mendengar perkataan polos dari Arga. Ia semakin merasa bersalah karena selama ini ia telah bersikap buruk dan tidak adil pada Arga.

Sejujurnya, Arga juga merupakan korban dalam situasi ini, sama seperti dirinya. Namun, Arga hanya bisa menerima dan menjalani takdirnya dengan lapang dada karena ia tidak tahu apa-apa tentang perjodohan ini, berbeda dengan dirinya yang sejak awal menentang dan tidak bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya.

Arga selalu memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan tidak pernah sekalipun menunjukkan rasa kecewa atau marah dengan semua sikap dingin dan ketus yang ia tunjukkan selama ini. Justru dialah yang selama ini bersikap jahat dan tidak berperikemanusiaan pada Arga, namun Arga tetap terus bersikap baik dan penuh perhatian padanya.

Anya melepaskan pelukannya. Ia menatap Arga dengan tatapan yang berbeda, tatapan yang penuh dengan penyesalan dan rasa terima kasih. "Arga, maafkan aku," ucap Anya dengan suara bergetar. "Maafkan aku karena selama ini aku sudah bersikap buruk padamu."

Arga menatap Anya dengan bingung. "Anya tidak perlu minta maaf. Arga mengerti," jawab Arga dengan tulus.

Anya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus untuk pertama kalinya. Ia meraih tangan Arga dan menggenggamnya erat, seolah menyalurkan kekuatan dari Arga. "Aku janji, mulai sekarang aku akan mencoba bersikap lebih baik padamu," ucap Anya dengan tekad yang membara di dalam hatinya.

Mendengar ucapan Anya, Arga tersenyum lebar, menunjukkan kebahagiaannya. "Anya memang selalu baik kok," ucapnya dengan polos.

Melihat senyum tulus Arga, hati Anya kembali terenyuh. Ia teringat akan semua perbuatan buruk yang telah ia lakukan pada Arga selama ini. Anya merasa sangat bersalah, ia menyadari bahwa dirinya belum sepenuhnya dewasa dan belum bisa menerima semua keadaan yang menimpanya.

Ia melampiaskan semua kekesalan dan kemarahannya pada Arga, padahal Arga juga merupakan korban dalam situasi ini dan tidak tahu apa-apa tentang perjodohan mereka. Arga juga masih membutuhkan perhatian dan perawatan yang lebih untuk kesehatan mentalnya. Namun, dengan egoisnya, Anya selalu memarahi dan bersikap kasar terhadap Arga, tanpa memikirkan dampak buruknya pada mental Arga. Ia terlalu fokus pada dirinya sendiri dan melampiaskan semua kekesalannya tanpa mempedulikan perasaan Arga.

Anya menggenggam erat tangan Arga, merasa bersalah karena selama ini ia telah mengabaikannya dan tidak berusaha memahaminya. "Arga, bisakah kau menceritakan padaku apa yang sedang kau rasakan saat ini?" tanyanya dengan nada lembut dan penuh perhatian. "Aku ingin mengenalmu lebih dalam dan memahami apa yang ada di dalam hatimu."

Arga tampak kebingungan dan menatap Anya dengan tatapan polos. "Arga tidak tahu apa yang harus Arga ceritakan pada Anya," jawabnya dengan jujur.

Anya tersenyum hangat dan mengusap lembut rambut Arga. "Ceritakan saja apa pun yang ingin kau ceritakan. Tentang hal-hal yang kau gemari, mimpi-mimpi yang ingin kau wujudkan, atau hal-hal sederhana yang membuatmu merasa senang," ucapnya dengan sabar dan penuh pengertian.

Arga berpikir sejenak, lalu mulai bercerita dengan semangat. "Arga sangat suka minum susu cokelat hangat sebelum tidur, Arga juga senang bermain ayunan di taman, lalu Arga kadang-kadang juga suka melukis gambar-gambar yang lucu, lalu..." ucap Arga terdiam sejenak, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat, lalu melanjutkan ceritanya dengan senyum yang merekah di bibirnya. "Tapi yang paling Arga sukai di seluruh dunia ini adalah Anya," ucapnya dengan tulus sambil menatap Anya dengan tatapan penuh cinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!