Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Aula Sekte
Pagi datang tanpa upacara.
Angin kering menyapu dataran di luar kota fana, membawa debu halus yang menempel di pakaian. Batu-batu kecil berserakan di tanah retak, warnanya kusam, tak ada jejak tumbuhan selain semak mati yang patah tertindih angin.
Aku berdiri di tepi dataran itu, menatap hamparan kosong yang membentang sampai ke bukit rendah di kejauhan.
Chen Yu berdiri di sampingku, memicingkan mata menahan silau. “Di sini?” tanyanya singkat.
Aku mengangguk.
Di tepi penglihatanku, panel itu muncul. Tidak mendadak, tidak menyilaukan. Ia terbuka seperti lembaran tipis, menampilkan garis-garis sederhana.
Blueprint Bangunan Sekte Terbuka.
Aula Sekte (Dasar).
Gambar itu tidak megah. Hanya denah persegi sederhana, satu ruang utama, fondasi dangkal, tanpa ornamen. Di sudut-sudutnya, beberapa simbol redup terkunci rapat.
Fungsi dasar tercantum singkat: pusat sumpah, pusat keputusan, penanda identitas.
Tidak ada kata lain.
Aku menatap blueprint itu lama. Tidak ada kekecewaan yang muncul. Justru sebaliknya—kesederhanaan itu terasa tepat. Sekte yang lahir dari gubuk tak membutuhkan aula berlapis emas.
Aku menggeser pandangan ke tanah.
Panel itu menampilkan batas minimal wilayah, garis cahaya tipis membentuk persegi panjang kasar di atas dataran tandus. Tidak besar. Cukup untuk satu bangunan dan ruang kosong di sekitarnya.
Tidak ada rekomendasi lokasi.
Tidak ada peringatan.
Aku melangkah maju, sepatu menekan kerikil yang langsung bergeser. Tanah di bawahnya keras, padat, seperti belum pernah digarap.
“Tidak ada yang akan mengusik tempat ini,” kataku.
Chen Yu mengamati sekeliling. “Karena tak ada yang menginginkannya.”
“Karena itu cukup.”
Ia terdiam. Tidak membantah.
Aku berjalan mengikuti garis cahaya itu, berhenti di titik tengah. Panel di tepi penglihatanku menunggu, garis penanda berkedip pelan.
Konfirmasi Lokasi Pembangunan.
Aku menekan konfirmasi.
Cahaya itu menguat sesaat, lalu menancap ke tanah seperti paku tak terlihat. Tidak ada ledakan. Tidak ada gemuruh. Hanya getaran ringan di telapak kakiku, seperti denyut nadi yang baru terbangun.
Chen Yu merasakannya. Ia menoleh cepat. “Tanahnya… bergerak?”
“Sedikit,” jawabku.
Getaran itu mereda. Blueprint tetap melayang di penglihatanku, kini terkunci pada titik ini.
Aku mengambil napas, lalu menurunkan pandangan. “Kita bersihkan.”
Chen Yu mengangguk tanpa bertanya bagaimana.
Kami mulai bekerja.
Batu-batu besar digeser dengan tangan. Kerikil disingkirkan. Tanah keras dicungkil menggunakan potongan besi tumpul yang kami temukan di pinggir kota. Setiap hentakan menghasilkan bunyi kering, memantul pendek di udara pagi.
Matahari naik perlahan.
Keringat mengalir, membasahi pakaian. Debu menempel di lengan dan wajah. Tidak ada bantuan selain tenaga kami sendiri.
Panel itu tetap ada, tapi tidak melakukan apa pun. Ia hanya menampilkan denah, garis fondasi samar di tanah, seperti bayangan yang menunggu diisi.
“Kalau hujan,” kata Chen Yu sambil mengangkat batu pipih dan melemparkannya ke pinggir, “tempat ini akan jadi lumpur.”
“Kalau hujan,” jawabku, “kita lihat apa yang terjadi.”
Ia menatapku sekilas, lalu kembali bekerja.
Menjelang siang, batas fondasi mulai terlihat. Tanah di dalam garis terasa berbeda—masih keras, tapi tidak setegar bagian luar. Setiap kali aku menghentakkan alat besi, getaran kecil menjalar lebih jauh.
Chen Yu berhenti sejenak, menempelkan telapak tangannya ke tanah. “Hangat.”
Aku merasakan hal yang sama saat berlutut. Kehangatan tipis, bukan panas. Seperti tanah yang menyimpan sisa matahari, meski langit tertutup awan tipis.
Angin berubah arah.
Tidak kencang, hanya berputar pelan di sekitar area fondasi. Debu yang tadinya beterbangan kini melayang rendah, mengikuti garis cahaya yang hanya bisa kulihat.
Aku berdiri. Panel di tepi penglihatanku menambahkan indikator kecil—aktivitas lingkungan meningkat. Tidak ada penjelasan.
“Teruskan,” kataku.
Kami menggali dangkal, mengikuti denah. Tidak dalam, hanya cukup untuk menandai fondasi. Setiap garis yang selesai ditandai membuat cahaya samar di tanah bertahan lebih lama sebelum memudar.
Menjelang sore, kami berhenti.
Bukan karena selesai, tapi karena tubuh menuntut jeda.
Chen Yu duduk di atas batu besar, mengusap lehernya. “Aula sekte,” katanya pelan, seolah menguji kata itu. “Aneh rasanya.”
“Belum ada apa-apa,” jawabku.
Ia tersenyum tipis. “Tapi tidak kosong.”
Aku menatap tanah di hadapan kami. Garis fondasi itu masih samar, namun jelas. Retakan kecil muncul di beberapa titik, bukan akibat pukulan, melainkan seperti tanah yang menyesuaikan diri.
Aku berlutut, menyentuh salah satu retakan.
Ada denyut halus di bawah telapak tanganku.
Bukan aliran yang kukenal. Bukan hembusan yang biasa dirasakan orang-orang di sekte lama. Ini lebih dalam, lebih tua, seperti gema dari ruang yang lama tertutup.
Aku menarik tangan.
Chen Yu memperhatikan wajahku. “Ada masalah?”
“Belum,” kataku. “Tapi tempat ini tidak mati.”
Ia menatap tanah itu lama, lalu berdiri. “Kalau begitu… kita tidak salah memilih.”
Aku tidak menjawab.
Matahari mulai turun. Cahaya sore memanjang, bayangan kami membentang di atas fondasi yang belum menjadi apa-apa.
Panel itu meredup, blueprint tetap terkunci. Aula Sekte belum berdiri. Tidak ada dinding, tidak ada atap.
Namun tanah di bawah kaki kami tidak lagi sama seperti pagi tadi.
Aku berdiri di tengah garis fondasi, menatap hamparan tandus yang kini terasa… terjaga.
“Besok,” kataku, “kita lanjutkan.”
Chen Yu mengangguk. Ia menatap dataran itu sekali lagi sebelum berbalik, seolah mengingat letaknya.
Aku tetap berdiri, memandang retakan yang berdenyut pelan.
Aula Sekte belum ada.
Tapi sesuatu di bawah tanah telah terbangun, dan ia tidak berniat tidur kembali.
...
Pagi berikutnya datang dengan bau tanah basah yang tak seharusnya ada.
Aku berhenti di tepi dataran sebelum melangkah lebih jauh. Tanah tandus itu—yang kemarin keras dan kering—kini memancarkan uap tipis. Bukan kabut, bukan embun. Seperti napas pelan yang keluar dari retakan-retakan halus di permukaan.
Chen Yu tiba di belakangku, membawa alat seadanya. Ia juga berhenti.
“Semalam tidak hujan,” katanya.
Aku mengangguk. “Tidak.”
Kami melangkah masuk.
Setiap langkah terasa sedikit lebih berat, bukan karena tanah menjadi lunak, tapi karena ada perlawanan halus, seperti menginjak permukaan yang belum sepenuhnya rela diinjak. Di tepi penglihatanku, panel itu muncul kembali.
Status Pembangunan: Aktif
Fondasi Aula Sekte: 12%
Tidak ada instruksi tambahan.
Aku bergerak ke tengah fondasi. Garis cahaya yang kemarin samar kini lebih jelas, tertanam di tanah seperti bekas sayatan yang tak bisa disembunyikan. Aku menurunkan alat besi dan menghantam.
Dentangannya berbeda.
Bukan bunyi batu pecah, melainkan suara dalam yang merambat, seolah hentakan itu menjalar ke bawah, jauh melampaui kedalaman galian dangkal.
Tanah bergetar.
Chen Yu segera menjauh satu langkah, bersiaga. "Guru.”
“Aku tahu.”
Aku menghantam lagi, kali ini mengikuti garis blueprint. Setiap pukulan membuat cahaya di tanah berdenyut singkat, lalu menyatu kembali. Retakan kecil melebar, memancarkan kilau pucat yang tak menyilaukan mata, tapi cukup jelas terlihat.
Angin berubah.
Ia tidak lagi berputar liar seperti kemarin. Kini ia mengalir, mengikuti bentuk fondasi, mengitari area itu dengan pola yang rapi. Debu terangkat, tapi tidak menyebar. Ia melayang rendah, seolah ditahan sesuatu.
“Kau merasakannya?” tanyaku tanpa menoleh.
Chen Yu mengangguk. “Seperti… tempat ini bernapas.”
Kami bekerja lebih cepat.
Batu disingkirkan. Tanah dicungkil. Setiap bagian fondasi yang selesai ditandai membuat getaran kecil mereda di sekitarnya, seolah sesuatu di bawah tanah menerima batas itu.
Panel di tepi penglihatanku memperbarui angka perlahan.
18%.
23%.
Tidak ada suara.
Tidak ada cahaya besar yang turun dari langit.
Hanya perubahan kecil yang terus menumpuk.
Saat matahari naik tinggi, panas tidak terasa menyengat. Udara di dalam area fondasi lebih sejuk dibandingkan sekitarnya. Aku berhenti sejenak, mengamati perbedaan itu.
“Kalau orang luar masuk,” kata Chen Yu sambil menyeka keringat, “mereka akan sadar.”
“Belum,” jawabku. “Tapi nanti.”
Aku melangkah ke titik pusat aula—ruang yang menurut blueprint akan menjadi tempat sumpah dan keputusan. Saat kakiku menapak, denyut di bawah tanah menguat sesaat.
Panel berkedip.
Peringatan Lingkungan: Anomali Energi Terdeteksi.
Tidak ada penjelasan lanjutan.
Aku berlutut, menempelkan telapak tanganku ke tanah.
Denyut itu terasa lebih jelas. Bukan tekanan. Bukan aliran deras. Lebih seperti gema dari sesuatu yang besar, tertahan lama, kini terusik oleh garis-garis fondasi yang kami buat.
Chen Yu mendekat, berhenti beberapa langkah dariku. “Apa yang kau lakukan?”
“Mendengar,” jawabku singkat.
Aku menarik napas, menahan tangan tetap di tanah. Getaran itu tidak menolak. Tidak menyambut. Ia hanya ada.
Lalu—retakan di bawah telapak tanganku melebar sedikit.
Cahaya pucat merembes keluar, cukup untuk membuat bayangan jariku terlihat jelas di tanah. Tidak panas. Tidak dingin. Hanya… dalam.
Aku menarik tangan dengan cepat.
Tanah itu menutup kembali, seolah tak pernah terbuka.
Chen Yu menahan napas. “Itu—”
“Bukan sekarang,” potongku. “Kita lanjutkan fondasi.”
Ia menatapku beberapa detik, lalu mengangguk.
Kami bekerja sampai sore.
Struktur masih belum tampak. Tidak ada dinding yang bangkit, tidak ada balok yang turun dari udara. Namun setiap garis fondasi kini stabil, cahaya samar menetap di dalam tanah, tidak lagi memudar cepat.
Panel memperbarui status.
Fondasi Aula Sekte: 41%.
Aku berdiri di tepi area, memandang hasil kerja kami. Dari luar, ini masih tampak seperti tanah tandus yang sedikit digarap. Tidak ada yang mencolok.
Namun saat aku melangkah keluar dari batas cahaya, udara berubah seketika. Lebih kering. Lebih ringan.
Aku melangkah kembali masuk.
Perbedaannya jelas.
Chen Yu merasakannya juga. Ia melangkah bolak-balik sekali, lalu berhenti di dalam area. “Ini… berbeda.”
Aku mengangguk.
Saat matahari hampir tenggelam, tanah berdenyut lagi.
Kali ini lebih kuat.
Bukan gempa. Bukan guncangan yang merusak. Hanya satu gelombang pendek yang merambat dari pusat fondasi ke luar, lalu menghilang di tepi batas cahaya.
Angin berhenti.
Hening jatuh tiba-tiba, berat dan menekan. Burung-burung di kejauhan terdiam. Bahkan suara serangga seolah tertelan.
Panel itu muncul lebih jelas dari sebelumnya.
Aktivitas Lingkungan: Tinggi
Sumber Energi: Tidak Terklasifikasi
Aku menatap tanah yang berdenyut pelan. “Kita berhenti.”
Chen Yu tidak membantah.
Kami berdiri di luar batas fondasi, menatap ke dalam. Cahaya di tanah kini berdenyut pelan, teratur, seperti napas yang telah menemukan iramanya.
“Aula Sekte belum berdiri,” kata Chen Yu.
“Belum,” jawabku.
“Tapi tempat ini—”
“—tidak kosong,” selesaiku.
Panel itu meredup, menyisakan satu baris kecil di sudut penglihatan.
Pembangunan Berlanjut Setelah Penyesuaian Lingkungan.
Tidak ada saran. Tidak ada perintah.
Aku menatap dataran itu lama, lalu mengalihkan pandangan ke bukit rendah di kejauhan. Angin mulai bergerak lagi, tapi arahnya tetap condong ke pusat fondasi, seolah tertarik.
Aku tahu satu hal dengan jelas.
Aku tidak memilih tanah mati.
Tanah inilah yang membiarkan dirinya dipilih.
Aula Sekte belum berdiri.
Namun wilayah ini telah berubah—dan perubahan itu tidak akan berhenti di sini.