Bahaya!
Seorang gadis manis menjual dirinya sendiri pada kakak iparnya. Kirana namanya dia mendapat perlakuan sadis dari sang suami yang menyuruhnya menjadi wanita malam.
Kirana tidak pernah di sentuh oleh suaminya, sehingga hubungan terlarang antara dirinya dan kakak iparnya perlahan menjadi sebuah kerangka cinta.
Mampukah cinta mereka meruntuhkan norma, dan membebaskan Kirana dari cengkeraman suaminya?
Simak kisah lengkapnya dalam Novel Pelacur tapi Perawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaman
Pagi itu akhirnya Kirana dan Alvin kembali dari Denpasar Bali mereka tidak langsung pulang tapi menuju ke Puncak Bogor, rencana malam itu mereka akan bertemu dengan teman teman Alvin.
Kirana saat itu sedang memilih gaun yang di rasa cocok untuk dirinya kenakan, Alvin hanya senyam senyum saja melihat sang istri yang nampak akan menjadi sorotan malam itu.
Jam menunjukkan pukul 8 malam dan saat itulah saat di mana mereka akan berangkat ke sebuah vila yang sudah mereka semua janjikan bersama, seperti yang sudah di ramalkan oleh Alvin sebelumnya, Kirana dan Alvin menjadi sorotan banyak orang.
"Kirana?" Teriak seorang pria yang melambaikan tangannya dari kejauhan, sosok pria bertubuh tinggi dengan baju batik dan celananya yang khas itu sudah dapat di kenali oleh Kirana dan Alvin.
"Jangan deket deket, kamu virus!" Ucap Alvin menghalangi jalan pria itu, Kirana tertawa melihat wajah lemon suaminya.
"Cih, hai Bos dia juga perlu teman di luar, bukan cuma teman di ranjang." Sindir pria tersebut.
"Hai Kirana? Apa kabar?" Sapa Galuh membuat Alvin tersenyum lembut dan menghentikan keduanya.
"Jangan pegangan tangan itu mencemarkan radiasi istri ku." Tepis Alvin saat tangan Galuh akan terulur hendak berjabat tangan dengan Kirana.
"Ya ampun Pak Bos, situ kaya jadi bapak bapak komplek yang galak itu loh, lagian kita udah kenal sejak sekolah." Singgung Galuh hingga tawa renyah terdengar dari bibir Kirana.
"Jalankan protokol yang aku suruh atau kamu jangan deket deket sama istri ku, ngerti?" Kini wajah Alvin nampak serius membuat Galuh bergidik ngeri.
"Iya, ayo ke dalam." Galuh mempersilahkan para sahabatnya duduk hingga berapa lama Kirana malah kehilangan jejak sang suami yang kini entah berada di mana.
"Lihat suami aku gak?" Tanya Kirana pada Galuh yang saat itu sedang mempersilahkan sahabat yang lain duduk yang baru saja datang, Galuh menunjuk ke arah luar di mana nampak Alvin dan seorang gadis berhijab tengah duduk.
"Si...siapa gadis itu?" Tanya Kirana merasa ada sesuatu yang membuat dadanya terbakar kala itu.
"Oh dia Zahara, kamu mungkin gak kenal dia soalnya dia dulu ada di sekolah yang beda." Jawab Galuh menjelaskan.
"Oh, mereka deket ya?" Tanya Kirana merasa cemburu, Galuh yang belum merasa aneh dengan sikap Kirana mengangguk setuju.
"Dia teman SMA Alvin, dia gadis yang baik dan selalu memberikan banyak saran yang baik bagi kami." Jawab Galuh tanpa beban, hingga nampak kini Alvin tertawa bersama Zahara yang membuat dada Kirana meraung merasa kepanasan.
"Oh, aku masuk dulu kalo gitu." Kirana duduk di salah satu kursi dia tak melihat anggur atau alkohol di sana, sangat di sayangkan bila ada keduanya saat ini mungkin Kirana sudah mabuk berat.
Gambaran Alvin tengah bersenda gurau dengan Zahara lagi lagi melintas dalam ingatan Kirana dan itu tentu saja membuat dada Kirana bergejolak. Alvin kembali dan duduk di samping Kirana, Alvin kebingungan saat melihat wajah masam Kirana yang sangat berbeda dari saat mereka datang tadi.
"Kok wajahnya gitu si?" Tanya Alvin membuyarkan lamunan Kirana, Kirana membuang muka tidak ingin menatap Alvin sedikitpun. Alvin semakin bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya.
"Gak enak badan ya?" Tanya Alvin mengingat perjalanan mereka siang tadi yang memang sangat menguras tenaga di tambah kini Kirana tengah berbadan dua.
"Enggak tuh, jangan main ambil kesimpulan aja. Heh!" Kirana kembali membuang muka membuat Alvin semakin gelagapan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sang istri.
"Sayang, ada apa?" Alvin yang merasa tidak enak hati meraih dagu sang istri agar dapat melihat wajah istrinya itu dengan jelas, wajah Kirana tiba tiba memerah dan matanya berkaca kaca namun dia tidak ingin menangis saat itu.
"Udah fokus aja selsaian reuni yang kerennya." Jawab Kirana kembali menepis tangan Alvin, selama acara berlangsung Kirana tidak bicara lagi sedikitpun. Dia hanya menjawab pertanyaan dari orang lain selain Alvin.
Alvin kian tidak enak hati di tambah Kirana juga nampak mendiamkannya dan tidak perduli kepadanya, perasaan Alvin saat itu sudah di hantui rasa takut berlebih.
Setelah acara yang berlangsung mewah dan meriah itu Kirana dan Alvin akhirnya kembali ke vila di mana tempat semula mereka beristirahat, sepanjang perjalanan Kirana tidak berbicara sedikitpun pada Alvin.
Saat sudah sampai di vila Kirana juga nampak acuh tak acuh pada Alvin, dia juga nampak mandi terlebih dulu dan langsung tidur. Alvin yang melihat itu berpikir bila semua yang terjadi pada Kirana hanyalah bawaan kandungan saja dan tidak ada hal lainnya.
Saat pagi hari Alvin tidak menemukan keberadaan Kirana di sampingnya Alvin berpikir bila Kirana berada di kamar mandi namun 1 jam menunggu Kirana tak kunjung keluar membuat Alvin berinisiatif membuka pintu kamar mandi.
"Dimana Kirana?" Alvin mengerutkan keningnya, dia buru buru ke luar kamar dan mencari Kirana di mana mana namun tidak dia temukan, Alvin melihat mobil mereka masih ada di parkiran yang artinya Kirana tidak pergi jauh.
"Ran, di mana kamu?" Alvin kembali masuk melihat setiap sudut di kediaman itu dan nihil dia tidak menemukan wanitanya.
Pagi itu Kirana baru saja bangun dari tidurnya dan dia menatap wajah Alvin dan terasa muak pada pria itu, saat itu jam baru menunjukkan pukul 3 dini hari namun Kirana sudah di buat muak saat melihat Alvin. Kirana akhirnya memutuskan untuk keluar kamar dan tidur di sofa.
Saat pagi hari Kirana melihat ke kamar di mana Alvin tidur dan pria itu agaknya masih terlelap, Kirana kembali balik kanan dan menatap ke luar vila di mana nampak hijau daun teh pagi itu, beberapa warga yang sedang memetik daun teh membuat Kirana penasaran.
"Pagi, kalian pagi pagi sekali sudah memetik teh." Sapa Kirana pada orang orang yang nampak tersenyum ramah kepadanya.
"Pagi juga, dari kota ya?" Tanya seorang ibu dengan senyum lembutnya.
"Heheh iya, saya mau belajar metik teh boleh gak?"Tanya Kirana turun dari tempat dirinya semula yang berdiri di samping vila itu.
"Silahkan, ayo sini!" Ajak salah satu wanita yang nampak masih sangat muda, Kirana akhirnya bersama mereka pagi itu dan belajar banyak hal dari orang orang desa. Dulu dia juga tinggal di desa tapi dia tidak berdekatan dengan kebun teh, jadi saat melihat warga yang sedang memetik teh rasa penasaranpun akhirnya timbul.
"Kamu itu usianya berapa tahun De?" Tanya Kirana pada gadis manis yang nampak sangat lugu dan lucu di mata Kirana.
"14 Tahun kak, mumpung hari libur aku mau bantu ibu buat metik teh." Jawab gadis itu lugu, Kirana tersenyum lembut merasa sangat nyaman berdekatan dengan mereka.
Mbak baru mau maraton lagi dikarya kak Nuah yang sudah tamat
ceritanya bagus👍👍