NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Di Labirin Arsip dan Pengkhianatan

Bab 26: Di Labirin Arsip dan Pengkhianatan

Gedung PT Mega Konstruksi berdiri tegak dengan dinding kaca yang memantulkan langit Jakarta yang kelabu. Namun, bagi Anindya, keindahan arsitektur itu hanyalah kedok bagi labirin birokrasi yang membingungkan. Sebagai staf administrasi junior di bagian arsip, ia ditempatkan di lantai basement dua, sebuah ruangan luas yang dingin, berbau kertas tua, dan minim cahaya matahari. Ruangan ini adalah "pembuangan" bagi dokumen-dokumen yang dianggap tidak lagi mendesak, namun bagi Anindya, ini adalah tambang emas informasi.

Hari pertamanya dimulai dengan tatapan sinis dari rekan kerjanya, seorang wanita bernama Meta yang sudah lima tahun mendekam di bagian arsip tanpa pernah mendapatkan promosi.

"Jangan pikir karena kamu dibawa langsung oleh Pak Arman, kamu bisa santai di sini," ucap Meta sambil membanting setumpuk map cokelat ke meja Anindya. "Tugasmu sederhana: sortir semua dokumen proyek dari tahun 2010 sampai 2015.

Masukkan ke sistem digital. Kalau ada satu lembar saja yang hilang, aku yang akan memastikan kamu keluar dari gedung ini sebelum jam makan siang."

Anindya hanya mengangguk sopan. Ia tidak butuh pengakuan dari Meta. Ia butuh waktu sendirian dengan dokumen-dokumen itu.

Begitu Meta pergi untuk bergosip di pantry, Anindya mulai bekerja dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Matanya memindai setiap baris angka dan nama vendor dengan ketelitian seorang analis forensik. Sambil melakukan tugas rutinnya, ia mulai mencari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tender-tender yang dimenangkan oleh Wijaya Group.

Sesuai dugaannya, ia menemukan sesuatu yang janggal pada Proyek Pembangunan Jembatan Layang di Jakarta Timur tahun 2013. PT Mega Konstruksi sebenarnya mengajukan tawaran yang jauh lebih efisien, namun di menit-menit terakhir, ada sebuah "surat pengunduran diri teknis" yang diajukan oleh salah satu manajer PT Mega Konstruksi.

Akibatnya, proyek itu jatuh ke tangan Wijaya Group secara otomatis.

Anindya mencatat nama manajer tersebut: Herman Prasetyo.

"Pengkhianat di dalam selimut," bisik Anindya. Ia menyadari bahwa Pak Arman benar; ada kebocoran di perusahaan ini, dan orang itu kemungkinan besar masih bekerja di sini, mungkin di lantai atas, menikmati komisi dari Tuan Wijaya.

Di jam makan siang, Anindya memilih untuk tetap berada di meja kerjanya, pura-pura sibuk dengan tumpukan kertas. Ia membuka ponsel lama pemberian Satria yang ia sembunyikan di balik tumpukan map. Ada pesan baru masuk.

“Hati-hati dengan lantai lima. Herman Prasetyo adalah orang kepercayaan Ayah. Dia yang memegang kendali atas sabotase tender selama ini.

Jangan sampai dia tahu kau sedang mengorek arsip lama.”

Anindya mematikan ponselnya. Satria memberikan informasi yang akurat, tapi Anindya bertanya-tanya: Kenapa Satria mengkhianati ayahnya sedalam ini? Apakah karena rasa bersalah, atau ada rencana lain yang lebih gelap?

Tiba-tiba, pintu ruang arsip terbuka dengan keras. Bukan Meta yang datang, melainkan seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal yang tampak sangat tidak cocok berada di basement yang berdebu. Pria itu adalah Herman Prasetyo.

Herman menatap Anindya dengan pandangan menyelidik. "Kamu orang baru yang dibawa Arman?"

Anindya berdiri perlahan, memasang wajah polos dan sedikit ketakutan—sebuah akting yang sudah ia pelajari selama delapan tahun menghadapi Nyonya Lastri. "I-iya, Pak. Saya Anindya. Saya sedang merapikan arsip tahun 2013."

Mata Herman menyipit ketika mendengar angka '2013'. Ia berjalan mendekat ke meja Anindya, tangannya menyentuh tumpukan map yang sedang dikerjakan Anindya. "Tahun 2013 adalah tahun yang membosankan. Tidak banyak proyek besar. Kenapa Arman menyuruhmu mulai dari sana?"

"Pak Arman bilang beliau ingin melakukan audit menyeluruh terhadap efisiensi tender masa lalu, Pak," jawab Anindya dengan suara yang sedikit bergetar, berpura-pura gugup.

Herman terdiam sejenak, lalu tersenyum dingin. "Arman memang selalu suka membuang-buang waktu. Dengarkan aku, Nduk. Jangan terlalu rajin. Di perusahaan ini, orang yang terlalu banyak tahu biasanya tidak akan bertahan lama. Kerjakan saja apa yang diperintahkan Meta, jangan lebih."

Herman kemudian berbalik dan pergi, namun Anindya bisa merasakan aura ancaman yang ditinggalkan pria itu. Herman sudah mulai curiga.

Anindya tahu ia harus bergerak lebih cepat sebelum Herman menyadari bahwa "gadis Paket C" ini sedang memegang leher karier gelapnya.

Sore harinya, setelah jam kantor berakhir, Anindya tidak langsung pulang ke apartemen aman yang diberikan Satria. Ia pergi ke daerah kumuh di pinggiran rel kereta api di Jakarta Utara. Berdasarkan informasi dari Bapak Suroso, salah satu keluarga korban kebakaran gudang tahun 2005 tinggal di sana.

Ia sampai di sebuah rumah petak yang nyaris roboh. Di sana tinggal seorang wanita tua yang buta, Ibu Maryam, yang kehilangan anak laki-laki satu-satunya dalam kebakaran itu.

"Siapa?" tanya Ibu Maryam saat mendengar langkah kaki Anindya.

"Saya Anindya, Bu. Saya... saya teman dari orang yang dulu bekerja di gudang Tuan Wijaya," ucap Anindya lembut.

Mendengar nama 'Wijaya', Ibu Maryam gemetar. Air mata mulai mengalir dari matanya yang keruh.

"Kenapa kalian datang lagi? Uang santunan yang diberikan orang-orang itu sudah lama habis untuk biaya pengobatan saya. Mereka bilang anak saya mati karena kecerobohannya sendiri. Mereka bilang anak saya merokok di dekat bensin."

Anindya berlutut di depan Ibu Maryam, memegang tangannya yang kasar. "Itu bohong, Bu. Anak Ibu tidak bersalah. Pintu gudang itu dikunci dari luar oleh suruhan Tuan Wijaya agar mereka bisa mengklaim asuransi."

Ibu Maryam tersentak. "Apa? Jadi... anakku dibunuh?"

"Saya sedang mengumpulkan bukti untuk menyeret pria itu ke pengadilan, Bu. Tapi saya butuh surat-surat atau barang peninggalan anak Ibu yang mungkin masih ada. Apa Ibu menyimpan sesuatu dari masa itu?"

Ibu Maryam meraba-raba kolong tempat tidurnya dan mengeluarkan sebuah kotak kaleng biskuit yang sudah berkarat. Di dalamnya ada sebuah jam tangan yang sudah pecah dan selembar surat kontrak kerja yang hangus sebagian.

"Anakku sempat mengirim surat ini seminggu sebelum kejadian. Dia bilang dia takut, karena dia sering melihat orang-orang asing membawa jerigen cairan di malam hari ke gudang itu," isak Ibu Maryam.

Anindya menerima kontrak itu dengan tangan gemetar. Ini adalah bukti tambahan yang sangat krusial. Meskipun tidak langsung membuktikan pembakaran, surat ini membuktikan adanya premeditasi atau rencana jahat sebelumnya.

Saat Anindya berjalan keluar dari gang sempit rumah Ibu Maryam, sebuah motor besar tiba-tiba melaju kencang ke arahnya. Pengendaranya mengenakan helm full face hitam. Motor itu tidak berhenti, malah sengaja menyerempet Anindya hingga ia terjatuh ke tumpukan sampah.

Anindya meringis kesakitan, lengannya berdarah karena tergores seng tua. Pengendara motor itu berhenti beberapa meter di depannya, menatapnya sejenak, lalu melakukan gerakan tangan seperti memotong leher, sebelum akhirnya melesat pergi.

Teror ini bukan lagi gertakan, pikir Anindya sambil memegang kotak kaleng Ibu Maryam erat-erat.

Ia segera memesan taksi dan kembali ke apartemen. Di dalam lift, ia membersihkan darah di lengannya dengan tisu. Ia menyadari satu hal: musuhnya sudah mulai kehilangan kesabaran. Tuan Wijaya mungkin sudah mengetahui pergerakannya lewat Herman Prasetyo di kantor.

Begitu sampai di apartemen, ia menemukan ayahnya sedang duduk di kursi roda pemberian Satria, menatap televisi yang mati.

"Ayah, ada apa?" tanya Anindya cemas.

Pak Rahardian menunjuk ke arah meja makan. Di sana ada sebuah keranjang bunga besar dengan pita merah. Di tengahnya terselip sebuah kartu ucapan dengan tulisan tangan yang sangat indah namun mematikan.

"Selamat atas pekerjaan barumu di PT Mega Konstruksi, Anindya. Ingatlah, semakin tinggi sebuah gedung, semakin sakit jatuhnya. Salam hangat, Nyonya Lastri."

Anindya meremas kartu itu hingga hancur. Mereka sudah tahu tempat persembunyian ini. Bahkan apartemen "aman" dari Satria pun sudah bocor.

Anindya segera mengambil ponsel rahasianya dan menelepon Satria.

"Satria! Kau bilang tempat ini aman! Kenapa Ibu bisa mengirim bunga ke sini?!" teriak Anindya penuh amarah.

Ada keheningan panjang di seberang sana. "Aku... aku tidak tahu, Nin. Aku bersumpah. Mungkin mereka memasang pelacak di mobil yang kupakai kemarin. Nin, tinggalkan tempat itu sekarang juga.

Aku akan menjemputmu di minimarket depan."

"Tidak!" potong Anindya. "Aku tidak akan lari lagi, Satria. Jika mereka ingin bermain di tempat terbuka, mari kita bermain. Aku punya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada ancaman bunga mereka."

Anindya menutup teleponnya. Ia menatap ayahnya yang tampak ketakutan. "Ayah, jangan takut. Nin tidak akan membiarkan mereka menyentuh Ayah.

Mulai besok, Nin akan membuat mereka menyesal karena telah mengusik kita di Jakarta."

Anindya duduk di depan laptopnya. Ia tidak lagi mencari arsip lama. Ia mulai masuk ke dalam sistem keuangan internal PT Mega Konstruksi secara ilegal. Ia mencari bukti transfer rahasia antara Herman Prasetyo dan rekening-rekening yang terafiliasi dengan Wijaya Group.

Jika Tuan Wijaya ingin menghancurkan kariernya di PT Mega Konstruksi lewat Herman, maka Anindya akan menghancurkan Herman dan Wijaya secara bersamaan sebelum matahari terbit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!