Senja seorang gadis muslimah yang tinggal di kota kecil, dan di sanalah dia dipertemukan dengan Fajar, seorang mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan tugas kuliahnya. Mereka saling mencintai.
Namun, terjadilah peristiwa yang diluar dugaan kedua insan itu serta menguji ketulusan cinta mereka.
Fajar terpaksa dijodohkan oleh kedua orang tuanya karena sebuah alasan.
Masalah apakah yang membuat perjodohan itu terjadi? Akankah cinta mereka akan bertahan untuk selamanya atau berakhir, seperti berakhirnya sang fajar yang tergantikan oleh matahari?
Yuk ikuti cerita nya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Senja di bekap dengan sapu tangan yang sudah di kasih obat bius, seketika kesadaran nya menurun dan tak sadarkan diri.
Orang tersebut menyeret Senja, ke arah kendaraan yang sudah terparkir sedikit jauh dari rumah Pak Surya mungkin tujuan nya agar tak menimbulkan suara.
Beberapa orang yang menggunakan penutup kepala dengan tergesa-gesa langsung menyeret tubuh Senja ke dalam kendaraan, lalu setelah semuanya di rasa aman mereka melakukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa kali nyari menabrak pengendara lain.
Bumi dan Luna sudah berhasil memasuki Desa di mana Senja tinggal, bagi lelaki yang sudah tidak lagi muda dan tidak pernah menikah lagi setelah bercerai dari Luna ini pengalaman pertama datang ke Desa ini. Ia sudah tidak sabar ingin memeluk sang buah hati, rasa cinta untuk Luna pun tidak berubah sedikitpun sebab mereka berpisah atas paksakan. Begitu juga dengan Luna meskipun sudah menikah dan memiliki anak dari pernikahan yang ke 2 tetapi belum mampu menghapus cinta nya untuk Bumi, begitu juga dengan kehadiran Mentari belum mampu menggantikan posisi Senja di hatinya.
"Masih jauh nggak dari sini? " tanya Bumi terhadap Luna, di saat sudah memasuki jalan Desa.
"Sebentar lagi, mungkin sekitar lima belas menit lagi"
"Hati-hati bawa mobil nya, bagaimana kalau nabrak orang! " kata Bumi terhadap sopir.
"Itu pak kendaraan yang tadi seperti terburu-buru nggak tahu jalanan ini sempit main serobot saja"
"Ya sudah lain kali hati-hati, kita belum mengenal jalanan di sini" pesan Bumi.
"Baik lah"
Mereka semua diam tidak ada lagi yang berbicara, tetapi hati Luna merasakan ada yang aneh dengan kendaraan yang tadi hampir di tabrak. Namun Luna tidak mampu mengungkapkan perasaan yang gundah, ia berusaha menghilangkan perasaan yang ada di hatinya semoga ini bukan pertanda buruk untuk keluarga nya.
Setelah beberapa menit mereka berada di jalan Desa akhirnya sampai di tempat tujuan, meskipun waktu sudah begitu larut. Mungkin kedatangan mereka mengganggu pemilik rumah.
Sopir menghentikan kendaraan nya dengan sempurna di halaman rumah pak Surya.
Mereka langsung keluar dari kendaraan yang di tumpangi , lalu berjalan perlahan menuju teras sebab pintu pagar pun sudah terbuka.
Setelah sampai di teras mereka merasakan ada yang aneh, kenapa dengan pintu rumah juga terbuka.
Luna mengucapkan salam hingga beberapa kali tidak ada jawaban hingga, menaikkan volume suaranya agar terdengar oleh pemilik rumah.
Hingga pada akhirnya suara samar-samar terdengar oleh Pertiwi, lalu ia membangunkan sang suami.
"Yah... Bangun itu ada suara mengucap salam, siapa? coba lihat siapa tahu penting"
"Apa sih, Bu... ini sudah malam mana mungkin ada tamu di larut malam seperti ini"
"Ayo cepat lihat dulu! "
Pak Surya akhirnya bangun dan berjalan perlahan menuju sumber suara dan setelah berada di depan, betapa terkejutnya saat melihat yang datang itu siapa.
"Maaf mengganggu waktu istirahat nya, belum pada tidur kah ini ko semua pintu terbuka" kata Luna.
"Pintu terbuka... " jawab Pak Surya dengan raut wajah kaget, sebab ia ingat betul bahwa sudah menutup pintu pagar apalagi rumah kenapa bisa terbuka.
"Ada apa sih Yah... " Pertiwi menyahut dari arah belakang.
"Senja...." kata Pak Surya sambil membalikan tubuhnya lalu berlari untuk segera menuju kamar Senja.
Pertiwi juga kaget langsung berlari mengikuti sang suami, betapa terkejutnya di saat tiba di kamar Senja tidak ada tanda-tanda bahwa anaknya berada di dalam kamar. Kemari, kamar mandi dan semuanya sudah mereka periksa tetapi tidak menemukan Senja.
"Apa Senja ada di panti? " tanya Pertiwi terhadap sang suami.
Bumi dan Luna belum bisa mencerna apa yang terjadi di rumah ini.
Pertiwi langsung mencari Senja ke panti, siapa tahu dia tidur bersama anak-anak di sana. Sebab itu juga kebiasaan nya tetapi selalu memberi tahu sang ibu bahwa akan tidur bersama mereka.
Setelah mencari keberadaan Senja di panti dan tidak ada di sana juga, Pertiwi dan Surya kembali ke teras rumah di mana ada Luna dan Bumi yang sedang menunggu.
Sepasang suami-istri yang sedang bingung dengan apa yang terjadi, mereka duduk di kursi yang ada di sana berhadapan dengan Luna dan Bumi.
"Apa yang terjadi...? " tanya Luna.
"Senja... dia tidak ada di kamarnya, sudah mencarinya ke panti di sana juga tidak ada" kata Pertiwi dengan raut wajah yang sedih.
"Maksudnya... " kata Luna dan Bumi dengan bersamaan, sungguh mereka belum paham apa yang terjadi pada saat ini.
"Senja tidak ada" jawab Pertiwi sambil berderai air matanya... ia sangat mengkhawatirkan anaknya meskipun itu tidak lahir dari rahimnya tetapi rasa cinta untuk Senja begitu besar.
"Coba kamu jelaskan dulu apa yang terjadi sebelum nya" kata Luna, dengan suara lembut nya ia berusaha untuk lebih tentang sebab masalah seperti ini harus di hadapi dengan kepala dingin.
Pertiwi menjelaskan semuanya yang terjadi sebelum hilang nya Senja, dan Bumi sudah berhasil menangkap dari cerita yang di sampaikan oleh Pertiwi.
"Apa kalian punya musuh? " tanya Bumi.
"Saya pikir itu tidak ada, tetapi yang namanya manusia bisa saja "
"Apa kendaraan yang tadi berpapasan, hampir nabrak itu" kata Luna sambil menatap ke arah Bumi.
"Ada CCTV kah di sini? "
"Ada"
"Kita cek terlebih dahulu, semoga ini ada petunjuk! " kata Bumi mengajak Surya, lalu mereka menuju ruangan di mana bisa melihat rekaman tersebut.
Setelah berada di sana, lalu Bumi memeriksa nya atas ijin dari Surya dan ternyata CCTV bagian depan tidak berfungsi sehingga tidak ada petunjuk apapun.
"Sial...camera nya tidak berfungsi, ternyata mereka sudah merencanakan ini dengan matang" kata Bumi sambil mengepalkan tangan nya.
"Terus kita nggak ada petunjuk untuk mencari keberadaan nya? "
"Sabar... kita pikirkan, pasti ada cara lain, kita bisa cek sidik jari yang ada di pagar dan sekitar sini siapa tahu ada petunjuk" kata Bumi, mungkin bukan hal yang sulit untuknya untuk menyusut hal seperti ini, secara ia saat ini orang yang sangat berpengaruh. Hanya tinggal memerintahkan beberapa orang kepercayaan nya pasti akan segera di temukan.
"Semoga mereka tidak melakukan apapun, apa yang mereka inginkan dari Senja" kata Surya sambil menatap nanar ke depan ia membayangkan sang penculik itu memperlakukan nya dengan kasar, bahkan ia membayangkan hal terburuk terjadi kepada Senja.
"Jangan sedih seperti itu, pasti Senja baik-baik saja" Bumi berkata sambil mengusap punggung Surya, padahal ia juga merasakan hal yang sama. Akan tetapi ia berusaha untuk tenang dan mencari jalan keluar yang terbaik.
Kedua pria itu akhirnya keluar dan Bumi langsung memerintahkan orang-orang kepercayaan nya untuk, mencari tahu keberadaan putri tercinta.
jangan maruk, jangan ngasih harapan ke anak orang yg ga bisa juga kamu pertanggung jawabkan akhirnya meninggalkan luka🙄
semakin sedikit urusan Luna menghadapi sang Mama, dia pun bisa kembali bersama sang suami yg telah lama terpisah dan tentunya bersama Senja juga🤣
lantas dia anak Luna, kenapa harus di titipkan ya kan menurut senja. semoga ikhlas menerima semua nya ya senjaaah
ah lama tak baca thor, hadir kembali lanjutin si fajar 🤭