Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa judul (2)
Flashback on
Usia Nara saat itu baru menginjak delapan belas tahun.
Langit sore menggantung kelabu di atas gerbang sekolahnya. Bel pulang sudah lama berbunyi, tapi Nara masih berdiri di sana, memeluk tasnya erat sambil sesekali melirik ponsel. Tidak ada panggilan tak terjawab.
Ayahnya selalu tepat waktu.
Selalu.
Motor Beat hitam milik ayahnya adalah hal paling mudah dikenali oleh Nara. Suaranya khas. Getarannya familiar. Bahkan dari kejauhan, Nara selalu tahu itu ayahnya.
Angin sore menyentuh pipinya ketika akhirnya—
“Itu ayah,” gumamnya pelan.
Senyum kecil merekah di wajah Nara. Dari kejauhan, ia melihat sosok pria paruh baya itu berhenti sebentar di pinggir jalan, menoleh ke kanan dan kiri sebelum menyalakan lampu sen-sen
Nara mengangkat tangan kecilnya, meski jarak mereka masih cukup jauh.
Namun senyum itu—
Perlahan memudar.
Dari arah berlawanan, sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggi. Suaranya kasar, menggeram, tidak melambat sedikit pun meski jalanan tidak sepenuhnya lengang.
Nara merasakan dadanya menegang.
“Ayah…” bisiknya.
Semua terjadi terlalu cepat.
BRAKKK!
Suara benturan keras memecah udara sore.
Motor ayahnya terpental. Tubuh pria itu terhempas beberapa meter, jatuh dengan posisi yang salah. Helmnya terlepas. Jalanan seketika sunyi—lalu berubah kacau.
“N—NO…!”
Tas Nara jatuh dari genggamannya.
Kakinya seperti membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dunia di sekelilingnya terasa berputar, seolah ia sedang berdiri di dalam mimpi buruk yang tidak bisa ia hentikan.
Ia melihat—
Darah.
Begitu banyak darah.
Merah. Mengalir. Membasahi aspal.
Ayahnya terbaring tak bergerak. Wajah yang selalu tersenyum itu kini pucat. Dadanya tidak naik-turun.
Nara tersadar.
Dengan jeritan yang pecah, ia berlari.
“AYAHHH—!!”
Ia jatuh berlutut di samping tubuh ayahnya, tangannya gemetar saat menyentuh lengan yang sudah dingin. Darah mengotori seragam putih abu-abunya. Tapi Nara tak peduli.
“Ayah bangun… ayah bercandakan?” suaranya bergetar, penuh harap yang rapuh.
“Ayah kan mau jemput Nara…”
Tak ada jawaban.
Hanya bau besi dari darah yang menusuk hidungnya.
Nara menangis.
“AYAH JANGAN GINI…!”
Orang-orang mulai berkumpul. Ada yang menarik tubuh Nara, ada yang menutup pandangannya. Tapi gambar itu sudah terlanjur tercetak di kepalanya.
Darah di aspal.
Darah di tangannya
Darah ayahnya.
Sejak hari itu, Nara tidak pernah bisa melihat darah tanpa gemetar.
Di rumah sakit, lampu putih terasa terlalu terang.
Ibunya duduk terpaku di kursi, wajahnya kosong. Tangannya gemetar, matanya merah dan bengkak. Nara duduk di sampingnya, tak mengeluarkan suara apa pun—seolah seluruh tangisnya sudah habis di jalanan tadi.
Ketika dokter keluar dan menggeleng pelan, dunia Nara benar-benar runtuh.
Malam itu, ibunya menangis sambil memeluk Nara erat.
“Kalau aja… kalau aja ayah kamu gak jemput kamu hari ini…” isaknya pecah.
“Kalau aja kamu pulang sendiri…”
Kata-kata itu—
Menusuk.
Nara terdiam.
Sejak saat itu, ia percaya satu hal:
Kematian ayahnya adalah kesalahannya.
Ia tidak pernah meminta dijemput lagi. Tidak pernah mau menyusahkan siapa pun. Tidak pernah mau menjadi alasan seseorang terluka.
Dan darah—
Darah menjadi mimpi buruk yang terus menghantuinya.
Flashback off
★★★
Nara membuka matanya dengan perlahan.
Napasnya terasa berat, seolah dadanya ditekan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Ingatan tentang darah, jeritan, dan tubuh ayahnya yang tergeletak di aspal masih terlalu nyata. Mimpi itu—lagi.
Ia menghela napas panjang, lalu menariknya dengan tergesa dan menghembuskan perlahan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kacau.
“Cuma mimpi…” gumamnya pelan, meski suaranya bergetar.
Namun ketika matanya menyesuaikan dengan keadaan sekitar, tubuh Nara menegang.
Ruangan itu hampir gelap. Lampu temaram dengan cahaya kekuningan membuat bayangan di dinding terlihat panjang dan asing. Tirai tebal menutup jendela. Udara terasa dingin dan sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah kamar biasa.
“Aku di mana…?” bisiknya panik.
Rasa takut menjalar cepat.
Apa aku diculik?
Tangannya bergerak refleks, memeriksa tubuhnya sendiri. Pakaiannya masih utuh. Tidak ada yang berubah. Roknya masih sama, blusnya masih rapi. Sedikit lega menyusup, meski ketakutan belum juga pergi.
Dengan cepat, Nara bangkit dari ranjang. Kakinya sedikit goyah, tapi ia memaksakan diri berjalan menuju pintu. Tangannya baru saja hendak memutar gagang—
Klik.
Pintu terbuka dari luar.
Sosok tinggi berdiri tepat di depannya.
“AH—!”
Nara terkejut mundur, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia hampir jatuh jika saja sebuah tangan tidak dengan sigap menahan pinggangnya.
“Hati-hati, sayang,” ucap suara itu lembut namun nadanya masih terdengar datar."
Sentuhan itu membuat Nara tersentak. Dengan cepat ia mendorong tubuh pria itu menjauh dan menatapnya penuh kewaspadaan.
“Jangan sentuh aku!” bentaknya.
Pria itu menatapnya tanpa terkejut, seolah sudah menduga reaksi tersebut.
“Kenapa aku ada di sini?” tanya Nara tajam, napasnya belum stabil. “Apa kamu menculik aku?”
Alis pria itu terangkat sedikit. Ia melangkah mendekat, terlalu dekat.
“Apakah kamu tidak mengingat pria yang ada di depanmu ini, hmm?” tanyanya pelan sambil mengangkat tangan hendak mengusap rambut Nara.
Plak.
Nara menepis tangan itu dengan kasar.
“Aku bilang jangan sentuh aku!”
Namun meski menolak, pikirannya bekerja keras. Wajah itu—dingin, tampan, dengan sorot mata yang membuat perutnya terasa mual.
Dan tiba-tiba—
Ingatan itu menghantamnya tanpa ampun.
Kamar gelap.Rasa sakit. Tubuhnya yang dipaksa. Mahkota harga dirinya yang direnggut.
“K-kamu…” suara Nara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.
Ia mundur selangkah.
“Kamu…” suaranya meninggi, penuh luka yang tertahan. “Kamu yang udah hancurin hidup aku!”
Raviel terdiam.
“Kamu yang ngambil mahkota aku!” teriak Nara sambil memukul dada Raviel dengan keras, berkali-kali. “Kamu maksa aku! KAMU PRIA PALING BRENGSEK YANG PERNAH AKU KENAL!”
Air mata jatuh deras.
“Hiks…”
Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya melemah. Pandangannya mulai berkunang.
“Baby—” Raviel reflek mengulurkan tangan, suaranya berubah panik.
Namun sebelum ia bisa melakukan apa pun, tubuh Nara tiba-tiba ambruk ke bawah.
“ARA!”
Raviel menangkapnya tepat waktu, jantungnya berdegup kencang. Wajah Nara pucat, matanya terpejam, napasnya lemah.
Tanpa membuang waktu, Raviel menggendongnya kembali ke ranjang, meletakkan tubuh rapuh itu dengan hati-hati.
“Bodoh…” gumamnya pelan, rahangnya mengeras—antara marah pada dirinya sendiri dan takut kehilangan.
Tangannya gemetar saat meraih ponsel.
“Datang sekarang kemansion saya sekarang juga!” perintahnya dingin pada sambungan telepon. “gadis saya pingsan.”
Telepon terputus.
Raviel duduk di sisi ranjang, menatap wajah Nara yang basah oleh air mata.
“Kamu boleh membenciku,” bisiknya rendah. “Tapi kamu tetap milikku.”