Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Bertemu sebagai musuh berakhir di pelaminan.
Kisah perjodohan untuk mempererat hubungan kedua keluarga.
Janganlah terlalu mencintai, siapa tau menjadi musuh.
Jangan terlalu membenci, mana tau jadi cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Dalam perjalanannya banyak pertanyaan yang dilontarkan dari bibir Tari kepada Sisil.
"Mbak! Gedung ini ada berapa lantai?" tanya Tari dengan matanya melirik keseluruh penjuru kantor.
"Ada 27 lantai. Sekarang kita ke lantai 10 karena kamu akan bekerja di divisi perencanaan" jelas Sisil.
"Lalu untuk lantai lain di tempati apa saja?" tanya Tari bingung.
"Setiap lantai memiliki divisinya masing-masing. Semakin tinggi lantainya semakin tinggi jabatan kalian. Contoh saja, di lantai 27 itu khusus untuk pemilik perusahaan ini, di sana cuma ada sekretaris, dan beberapa asisten pribadinya mereka. Turun ke lantai 26 kamu akan menemukan ruangan Direktur Keuangan. Lantai 25 yang tadi itu untuk Direktur kita, Pak Dimas. Selain sebagai direktur, beliau juga menjabat sebagai asisten pribadi pemilik perusahaan ini. Selama pemilik perusahaan ini di luar negeri yang memegang kendali Pak Boy. Beliau yang menjadi Direksi disini. Untuk lantai 3-9 itu di gunakan untuk laboratorium." jelas Sisil.
"Ooo.. Jadi siapa pemilik perusahaan ini sekarang?" tanya Tari penasaran.
"Pak Aditya" ucap Sisil.
"Beliau yang mana?" tanya Tari penasaran.
"Beliau jarang di kantor, mungkin kamu tidak bisa bertemu dengannya" ucap Sisil.
"Nah! Sekarang kita sudah sampai. Ini meja kamu. Bekerjalah dengan baik, beri kesan terbaik pada perusahaan ini. Jika kamu berprestasi kamu bisa diangkat menjadi karyawan di perusahaan ini." ucap Sisil berhenti disalah satu meja.
"Baik. Terima kasih" ucap Tari tersenyum.
"Sama-sama. Saya akan kembali, jika butuh apa-apa tanyakan pada orang-orang disini" ucap Sisil beranjak pergi.
Tari mengangguk kepalanya dan duduk di kursinya dengan tenang.
-----
*Di ruangan Dimas.
Shofi masih duduk di depan meja Dimas untuk menunggu keputusan Dimas akan dirinya.
Dimas menatap wajah Shofi secara intens, bukan karena ia menyukainya, tapi ia berusaha melihat dengan jelas wajah Shofi, sekilas ia mengingat wajah seorang wanita yang sedang tidur di mobil Adit saat dirinya datang menemui Adit saat ban mobil mereka kempes. Shofi merasa dirinya selalu di pandangi, ia menjadi sedikit risih dan memilih menundukkan kepalanya.
"Shofia putri hartono!" ucap Dimas menatap Shofi dengan memegang cv yang ada di meja.
"Iya saya" ucap Shofi menatap Dimas sejenak lalu menunduk kembali.
"Sekarang kamu bekerja di lantai 27" ucap Dimas lembut.
"Sebagai apa, Pak?" tanya Shofi penasaran.
"Sebagai asisten pribadi" ucap Dimas santai.
"Pak! Saya magang disini. Kenapa posisi saya langsung jadi asisten pribadi?" tanya Shofi semakin bingung.
"Karena saya melihat dari cv mu, kamu termasuk salah satu mahasiswa berprestasi. Jadi saya yakin, kamu cocok menjadi asisten pribadi direktur" jelas Dimas
"Kalau seperti itu penilaian Bapak, saya terima dengan senang hati" ucap Shofi lembut.
"Hmm.. Ada pertanyaan lain lagi?" tanya Dimas menatap Shofi sambil menutup cv nya.
"Tidak, Pak. Terima kasih. Saya izin permisi!" ucap Shofi bangun dari kursinya dan membungkuk sedikit kepalanya.
"Hmm.. Kamu boleh pergi sekarang" ucap Dimas tersenyum.
Shofi membalasnya dengan senyum kemudian ia beranjak pergi.
Shofi menaiki lift dan menekan tombol 27. Dengan perasaan sedikit lega ia terus berjalan menghampiri sekretaris Adit yang berada di lantai 27. Dia tidak tau nama pemilik perusahaan Sultan Holding. Dia cuma tau perusahaan itu dipimpin oleh Pak Boy, salah satu dosennya.
"Excuse me!" Ucap Shofi berhenti di meja Rara, sekretaris Adit.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rara lembut menatap Shofi.
"Perkenalkan nama saya Shofi. Saya anak magang baru disini." ucap Shofi lembut sembari mengulurkan tangannya.
"Saya Rara, sekretaris CEO disini" ucap Rara bersalaman dengan Shofi.
"Mbak Rara! Saya kesini atas perintah Pak Dimas. Beliau menempatkan saya sebagai asisten pribadi CEO" jelas Shofi lembut dengan senyuman di bibirnya.
"Mari saya antar ke ruangan" ucap Rara menuntun Shofi ke ruang Adit. Shofi hanya mengangguk kepala dan mengikuti arahan Rara.
Pintu otomatis terbuka, Rara dan Shofi langsung masuk.
"Kok sepi Mbak?" tanya Shofi bingung dengan mata terus melirik keseluruh ruangannya.
"CEO kita belum datang, kamu tunggu saja disini" ucap Rara menyuruh Shofi untuk menunggu Adit.
"Kapan CEO akan datang ke kantor?" tanya Shofi penasaran.
"Saya kurang tau." ucap Rara singkat.
"Haish... Gue disuruh tunggu yang gak pasti, apa gak gila tu orang?" gerutu bathin Shofi kesal.
"Sebaiknya kamu tunggu disini, saya permisi dulu." ucap Rara beranjak pergi.
Shofi langsung duduk di sofa milik Adit. Ia mengambil ponsel di dalam tasnya dan seperti biasa ia membuat instastory untuk mencegah rasa bosannya.
-----
*Di kampus.
Setelah mengajar 2 sks, Adit langsung meninggalkan kelas.
Tak ingin berpisah dengan Adit, Erina dan Rini mengejar Adit.
"Bapak! Mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Erina pecicilan.
"Saya ada kerjaan lain di luar kampus" ucap Adit sambil berjalan.
"Pak! Boleh saya minta nomor kontak bapak?" tanya Rini melas.
Adit tersentak dan berhenti berjalan. Ia menatap wajah Rini yang melas.
"Untuk apa nomor ponsel saya?" tanya Adit mengernyit keningnya.
"Saya bisa menanyakan sesuatu mungkin menyangkut kuliah" jelas Rini gugup.
"Hmm.. Boleh" Adit mengambil ponsel di sakunya dan menyerahkan nomor ponsel untuk Rini.
Rini segera mengetik nomor ponsel Adit dan menyimpannya. Erina pun mengintipnya dan juga menyimpan nomer ponsel Adit.
"Thanks, Pak!" ucap Rini tersenyum sumringah.
"Sama-sama. Saya permisi" ucap Adit tersenyum dan terus berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Wow.. Gue berhasil dapat nomer kontak Pak Adit" ucap Rini cengengesan.
"Gue pun sama" ucap Erina cengengesan.
Mereka melompat-lompat kegirangan. Adit hanya tersenyum melirik tingkah kekanak-kanakan mereka dan mempercepat langkahnya.
Adit mengemudi mobilnya menuju kantor. Tiba di parkiran, ia langsung mengambil setelan bajunya dan menggantinya di dalam mobil. Karena kaca mobilnya gelap jika dilihat dari luar, ia lebih leluasa mengganti pakaiannya di dalam mobil.
Adit merapikan rambutnya dan menyomprot minyak wangi, kemudian ia keluar dari mobilnya dengan style formalnya.
Ia mengancing jasnya dan berjalan dengan wibawanya menuju kantor. Ia selalu tersenyum pada semua karyawannya.
Tiba di lift, ponsel Adit berdering dan ia rogoh sakunya dan mengambil earphone Bluetooth dan memasangkannya di telinganya.
"Bos! Lagi dimana?" tanya Dimas penasaran.
"Gue lagi di lift kantor, kenapa?" tanya Adit penasaran.
"Shofi sudah gue tempatkan sebagai asisten lo. Dia sekarang tunggu lo di ruang lo" jelas Dimas tersenyum bahagia karena ia berhasil menjalankan tugasnya.
"Hmm, bagus." ucap Adit mengakhiri telponnya saat lift nya terbuka. Ia terus berjalan ke ruangnya.
"Pagi, Pak!" ucap Rara menyambut kedatangan Adit.
"Pagi" ucap Adit tersenyum.
"Pak! Di dalam ada yang menunggu bapak" ucap Rara lembut.
"Baik! Saya akan menemuinya." ucap Adit terus berjalan masuk.
"Hah.. Pak Adit gak bertanya siapa yang menunggu? Hmm.. Jangan-jangan Pak Dimas sudah memberitahunya duluan" bathin Rara.