Ini adalah sequel dari novel "Mendadak Dikejar Setan" Dimana novel ini akan menceritakan kehidupan Arion Putra Menawan yang memiliki bakat istimiwir, selain dia terkenal dikalangan setan, Arion juga digemari banyak gadis apalagi posisinya sebagai ketua Mapala (Manusia Pecinta Alam). Kegiatan manjat memanjat gunung, ternyata mempertemukan dengan Lorenza, gadis cantik yang merupakan sepupu sahabatnya yang juga tertarik dengan kegiatan yang memacu adrenalin. Tanpa sepengetahuan orangtuanya yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, Arion nekat merencanakan pendakian bersama rombongan Mapala, yang ternyata membuat para iblis yang mengincarnya selama ini semakin mudah mendekati dan mencoba mengambil jiwa murni Arion untuk dipersembahkan pada Sang Raja Iblis.
DESCLIMER!
NOVEL INI BUKAN NOVEL 'HUH HAH' jadi jangan sampai salah jurusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Serang dia!
Dalam keadaan seperti ini, Rion mengeluarkan pedang cahaya birunya.
Pedang yang terbuat dari cahaya berwarna biru memancarkan sinarnya di tengah hutan yang gelap gulita.
"Kemarilah, aku akan menyerahkanmu pada sang Raja Iblis! hahahaha..." seru satu sosok makhluk manusia berkepala kuda.
Dan dibelakangnya berjejer kawanan kuda berwarna hitam.
"Serang dia!" manusia setengah kuda itu, melompat ke atas salah satu kuda. Dan mengayunkan tangannya memberi isyarat untuk menyerang Rion.
Trap!
Trap!
Trap!
Suara derap langkah kuda menyerbu Rion dan juga Loren.
Tanpa menjawab, Rion berlari kencang seperti seekor heyna. Dia mengeluarkan pedang cahaya biru dari selongsongnya.
Sedangkan Loren, dia menggerakkan tangannya ke udara, "Hyaaaa!" dia menangkap busur dan anak panahnya yang terbuat dari cahaya berwarna merah.
"Aaarghhhh!!!" Rion berlari dan menghunuskan cahaya biru pada kuda-kuda yang berusaha menyerangnya.
Pyuuuuuss!
Loren menarik busurnya dan melamparkan anak panah tepat ke arah kaki kuda, yang membuat hewan itu limbung dan akhirnya jatuh terkena cahaya merah, lalu hilang begitu aja.
"Hati-hati, kuda ini semakin bertambah banyak!" ucap Rion saat bersentuhan punggung dengan Loren.
"Ya, aku tau!" Loren menarik busurnya dan memanah satu persatu kuda yang menyerangnya. Loren hanya perlu menengadahkan tangannya untuk mendapatkan anak panah yang nggak terbatas jumlahnya.
Rion melayang mengayunkan pedangnya, "Hyaaaaaakkk!" dia mendarat dengan kedua kakinya yang kuat.
Segitu banyaknya kuda yang dihunus pedang dan juga di jepret anak panah, ada satu kuda yang berlari dengan kencang dan berniat untuk menendang Loren dengan dua kakinya yang diangkat ke atas.
Ngikkkkkkk!
Kuda meringkik.
Dan ketika kedua kaki kuda itu akan menyentuh punggung Loren, dari arah samping Rion segera mendorong dan memeluk Loren hingga keduanya terjatuh dan berguling di tanah.
Dengan susah payah
"Akhhh!" pekik Loren, dia mendorong Rion saat kuda yang lain akan menginjak tubuh mereka berdua.
Rion yang menyadari kuda-kuda itu tak banyak juga berkurang, malah bertambah semakin sedangkan tenaga mereka udah terkuras habis.
Rion berlari kencang ke arah manusia berkepala kuda tertawa lepas melihat dua anak manusia yang akan membuat dia kembali menyempurnakan tubuhnya menjadi manusia seutuhnya yang mempunyai kekuatan luar biasa.
Daaaaaaaannn...
SREEEEEETTTTT!
Rion melompat dan melayang di udara, dia mengayunkan pedang cahaya yang kini menembus tubuh sosok itu.
KREEKKKK!
Sebuah kepala kuda menggelinding di bawah kaki Rion, yang dalam sekejap hilang berubah menjadi satu cahaya yang bergerak ke atas, bergabung bersama para bintang di tengah langit malam.
Dan sekawanan kuda lainnya yang awalnya begitu nyata, kini berubah menjadi bentuk transparan dan ikutan ngilang juga.
Rion memegang pedangnya, "Hhhhhh ... hhhh...!" dadanya naik turun.
Dia segera mengembalikan pedang itu ke bentuk semula, sebelum akhirnya dia menghampiri Lorenza, yang terduduk lemas di tanah.
"Elu nggak apa-apa?" tanya Rion.
"Aku nggak apa-apa, kok! hhh ... hhh," Loren nggak kalah ngos-ngosan.
Rion membantu Loren buat berdiri.
Gadis itu, meniup busur yang dipegangnya, sebelum busur itu berubah seperti sebuah asap putih yang kemudian hilang tertiup angin.
Rion mengambil senter yang sempat terlempar. Dia mengarahkannya ke depan, "Kita balik ke tenda!" ucapnya.
Loren menengok ke belakang, ada pohon yang bergoyang sendiri padahal nggak ada angin sama sekali.
"Apa Minetta datang lagi? please jangan sekarang!" batin Lorenza.
"Ada apa? apa ada sesuatu yang ngikutin kita lagi?" tanya Rion.
Loren menggeleng, "Nggak ada, kita harus balik ke tenda. Atau kita akan bikin semua orang khawatir karena kita kelamaan perginya,"
"Harusnya tadi kamu hentikan waktu, jadi kita nggak perlu keluar banyak tenaga," kata Rion.
"Iya juga ya, kenapa aku nggak kepikiran?" Loren menyentuh kepalanya sendiri.
Dan ketika dia mau melangkah, kakinya terkilir, "Aaawkh!"
Seketika Rion menangkap tubuh Loren yang hampir jatuh, "Kaki elu kesleo?"
"Kayaknya..." Loren menahan nyeri.
"Bisa jalan?"
"Bisa kok bisa, aku bisa jalan sendiri," Loren melepaskan diri dari Rion, tapi ternyata rasa nyeri yang sangat hebat dirasakan di area tungkai kakinya.
Dan hap!
Rion menangkap pinggang Loren, mencegah gadis itu terjatuh dan terjatuh lagi, jangan dilanjutin ntar elu malah pada nyanyi!
Sedekat ini dengan Loren, membuat Rion jadi deg-degan. Dadanya yang naik turun dengan napas yang tambah nggak beraturan, bukan karena abis menumpas kejahatan, tapi karena kesetrum sama si Loreng.
Tiba-tiba...
Ketika wajah si Rion udah deket dan semakin deket, eh si Loren nyeletuk, "Aku haus!"
Langsung ambyarr itu situasi. Dengan saltingnya Rion ngejawab, "Sama, gue juga haus!"
"Kita balik sekarang..." kata Loren.
Dan mereka berdua pun jalan menuju tenda, Rion sesekali mengumpat dalam batinnya, "Kok elu jadi tukang sosor sih, Rioooon???!!!! kemana image dingin elu selama ini?"
Setelah jalan lumayan jauh, mereka sampai juga di tenda. Dan kedatangan mereka langsung disambut, Slamet, Eza dan Adam.
"Gue kira elu pada kemana!" kata Adam dengan wajah khawatirnya.
Rion dan Loren bingung harus menjawab apa.
"Baju kalian kenapa pada kotor gitu?" tanya Eza, ngeliat Rion da Loren secara bergantian.
"Jatoh!" sahut Rion, dia masih nuntun Loren. Tapi muka Eza yang nyebelin bikin Rion ngomong lagi, "Yang jelas nggak sesuai sama yang elu pikirin!"
"Yeee emangnya gue mikirin apa? suudzon aja nih, Yono!" Eza nimpalin.
"Kaki kamu kenapa, Ren?" tanya Adam, setelah Loren duduk dan selonjorin kaki. Sedangkan Rion tetep berdiri sambil mata
terus ngeliatin sang gadis pemikat hati, eh!
"Kesleo," jawab gadis itu singkat, "Tapi nggak apa-apa, paling ntar juga baikan!" lanjutnya.
Sedangkan Mova yang awalnya sama Loren pun menghampiri orang-orang yang ada di sekitar api unggun.
"Ada apa, Mov?" tanya Slamet yang menyadari kehadiran cewek yang ngebet banget sama Rion.
"Nggak apa-apa cuma pengen tau ada apaan,"
Adam mulai memijit engkel kaki Loren, "Akh! jangan ditekan kayak gitu!" gadis itu meringis kesakitan.
"Bang Eza aja yang---"
"Modus aja lu, Za! kagak sepupunya Rion kagak sepupunya Adam, mau lu deketin semua!" Slamet ngegaplok pipi tuh bocah.
"Kan gue niatnya cuma nolongin Dek Loren," Eza membela diri.
Merasa banyak yang perhatian sama Loren, Mova pun kesel banget. Tapi pas liat baju Rion yang kotor, Mova jadi penasaran.
"Baju elu kenapa?" Mova nanya, dia bersihin sisa-sisa tanah yang nempel di jaket dan baju Rion.
"Jatoh! udah nggak apa-apa, gue bisa bersihin sendiri," Rion menolak halus bantuan Mova.
"Gimana masih sakit?" tanya Adam pada gadis yabg entah sepupunya atau bukan, karena Rion udah nggak yakin soal itu.
"Udah lumayan kok," jawab Loren.
"Kalau masih sakit, besok kamubstay ada di tenda, nggak usah ikut naik!" kata Adam tapi dijawab gelengan kepala Loren.
"Aku tetep ikut naik!" ucap Loren.
"Udah tau lagi sakit masih keras kepala, yang ada elu nanti nyusahin orang-orang!" Mova nyeletuk nggak enak.
"MOVAAAAAA!" Rion menegur.
"Ya kan bener yang gue bilang. Kan udah tau kakinya lagi sakit, jadi nggak usah maksain diri buat ikutan naik ke puncak! jangan karena satu orang, yang lain jadi kesusahan!" Mova nggak mau ngerem ucapannya, pokoknya dia nggak mau sepupu Adam ikut dalam pendakian.
Loren melihat Adam dengan tatapan mengiba.
"Kalau ada apa-apa sama sepupu gue, gue yang bakal tanganin, jadi elu nggak perlu khawatir!" ucap Adam.
"Lebih baik kita semua masuk ke tenda, udah malem!" Rion menutup perdebatan ini.
Ketika mereka semua beranjak, Loren menengok Rion sekilas, "Seharusnya kamu nggak melakukan pendakian ini!" batin gadis itu