Inilah kisah cinta Rudi dan Vina yang berliku. Pasangan kekasih yang sudah lima tahun menjalani jalinan, tiba-tiba dipisahkan oleh sebuah insiden yang menimpa Vina dan menjadi aib bagi keluarga besarnya.
Setelah tiga tahun, Vina kembali ke keluarganya di sebuah kampung nelayan di pesisir selatan Provinsi Lampung. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Rudi telah sangat berubah, yaitu menjadi pemuda yang alim dan sehari-hari mengajar anak-anak mengaji. Bisa disebut bahwa Rudi telah menjadi seorang ustaz baru.
Perubahan mantan kekasihnya itu membuat cinta lama Vina kepada Rudi kembali tumbuh.
Namun, tidak seperti tiga tahun yang lalu bahwa Rudi adalah miliknya seorang, tetapi kini ada beberapa wanita yang telah dekat dengan Rudi. Misalnya, Kulsum putri Ustaz Barzanzi, Bulan si pengusaha muda nan kaya, dan Alexa janda muda.
Namun, Vina merasa bahwa Rudi adalah miliknya dan dia harus memilikinya kembali.
Temukan intrik-intrik cinta yang seru di novel "Rudi adalah Cintaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAC 29: Menunggu Rudi
*Rudi adalah Cintaku (RAC)*
Setelah menurunkan barang sumbangan Bulan Adinda untuk anak-anak mengaji, Rudi mengantar gadis karir itu izin kepada Kamsiah dan kemudian mengantarnya kembali ke mobil.
Setelah melepas kepergian Bulan bersama mobilnya, Rudi berbalik hendak masuk kembali ke rumahnya. Namun, sudut mata Rudi melihat kemunculan Vina dari balik pohon kedondong.
Rudi menengok. Dia melihat Vina berjalan terburu-buru mendekati pagar rumahnya.
Lagi-lagi Vina dilanda kekesalan yang membuatnya ingin menangis lagi karena melihat Rudi buru-buru berjalan pergi masuk ke dalam rumah.
Tindakan Rudi itu membuat Vina mempercepat langkahnya dengan berlari kecil.
“Rudi!” panggilnya sekali, tetapi Rudi bergeming dan terus menghilang di dalam rumah.
“Daeng, ada Vina di luar. Kalau cariin saya, bilang saya lagi salat duha,” kata Rudi kepada ibunya.
“Vina? Vina pacar kamu itu?” kejut Kamsiah. Asli, wanita itu belum mendengar tentang kepulangan Vina dari Jakarta.
“Iya,” jawab Rudi, lalu segera masuk ke kamarnya.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Vina.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Kamsiah sambil muncul dari dalam dan mendapati Vina yang berdiri di ambang pintu depan.
Kamsiah terkejut melihat penampilan Vina yang berambut emas.
“Ya Allah! Kamu Vina?” tanya Kamsiah belum yakin.
“Iya, Daeng,” jawab Vina seraya tersenyum lebar.
“Ya Allah! Rambutmu kok kuning seperti bintang film kartun?” kata Kamsiah sambil memegang kedua lengan gadis itu dan memandangi wajahnya lekat-lekat.
Tiba-tiba Vina bersedih lalu berujung meneteskan air mata, yang justru membuat Kamsiah bingung. Vina lalu memeluk Kamsiah yang heran dan balas memeluk gadis tersebut.
“Maafkan saya Daeng! Hiks hiks hiks!” ucap Vina terisak.
“Kenapa? Kok minta maaf, Nak?” tanya Kamsiah masih belum mengerti.
“Iya, Daeng. Gara-gara saya, Rudi jadi merana sampai mabuk-mabukan, sampai-sampai Puang Haji meninggal. Hiks hiks hiks …!” jawab Vina.
“Oooh, itu. Enggak, itu bukan salah kamu, Nak. Waktu itu, Rudinya saja yang tidak mau dengar nasihat orangtua. Puang Haji juga meninggal bukan karena siapa-siapa, memang sudah waktunya,” kata Kamsiah bernada sedih pula. “Enggak usah diingat-ingat, bikin sedih saja.”
“Iya, Daeng,” ucap Vina lalu melepas pelukannya dan menyeka air matanya.
Sebenarnya Rudi sedang menguping di pintu kamarnya yang tertutup. Di kamarnya, ia sudah menggelar selembar sajadah.
“Ayo duduk dulu!” ajak Kamsiah.
Jika Bulan Adinda sebatas duduk di teras, maka Vina diajak duduk di ruang tamu yang ada televisinya. Namun, itu bukan ukuran bahwa Vina akan berpeluang lebih besar untuk dijadikan calon menantu. Memang, Vina memiliki riwayat kedekatan dengan keluarga itu lebih lama dan lebih dalam.
“Kamu sudah menikah, Nak?” tanya Kamsiah.
“Belum, Daeng. Meski saya terlalu salah karena meninggalkan Rudi tiga tahun lalu, tapi saya masih merasa adalah pacarnya Rudi,” jawab Vina.
“Oooh. Tapi nanti diselesaikan saja, jangan sampai ada kesalahpahaman,” kata Kamsiah.
“Iya, Daeng,” ucap Vina dengan ekspresi agak kecewa. “Tapi Rudi mana, Daeng?”
“Lagi salat. Tunggu saja sebentar,” jawab Kamsiah.
“Iya, Daeng,” ucap Vina, tapi kemudian dia tersadar bahwa saat itu baru jam sebelas, belum masuk waktu zuhur. “Tapi, salat apa Rudi jam segini?”
“Salat duha. Enggak lama kok, palingan juga hanya beberapa menit. Tunggu saja. Daeng buatkan teh dulu ya,” kata Kamsiah.
“Iya, Daeng,” kata Vina.
Kamsiah lalu bangun dari duduknya dan pergi ke dalam.
“Canggung banget sih. Kayak orang jauh saja,” gerutu Vina lirih kepada dirinya sendiri.
Memang, kini Vina merasa canggung sendiri bertamu ke rumah itu. Sangat berbeda dengan tiga tahun lalu, cukup dengan salam, maka dia bisa bebas masuk sampai ke dapur dengan sendirinya, saking dekatnya dia dengan keluarga Rudi. Namun hari ini, dia benar-benar seperti tamu. Ia pun tidak berani masuk sendiri ke dalam.
Tidak berapa lama, Kamsiah kembali keluar dari ruang dalam dengan membawa nampan kaleng yang mewadahi segelas tes dan setoples kue.
“Saya seperti tamu lebaran saja, Daeng,” ucap Vina baso basi. Padahal di dalam hati dia berkata, “Padahal dulu saya kalau mau minum apa saja buat sendiri di dalam.”
“Enggak apa-apa. Kan tamu dari jauh,” kata Kamsiah sambil meletakkan teh untuk Vina dan juga toples beling yang berisi kue kering.
“Pikir saya, Rudi sudah nikah,” kata Vina.
“Dianya belum siap. Katanya perlu belajar lagi biar bekal untuk menjadi kepala rumah tangga cukup,” kata Kamsiah. “Di Jakarta masih kuliah atau sudah kerja, Nak?”
“Alhamdulillah di Jakarta sudah memimpin usaha minyak wangi, Daeng. Saya dibantu sama Bibi Anti saya yang juga usaha minyak wangi, terus saya dilepas mandiri dan punya perusahaan sendiri,” jawab Vina.
“Oh. Bagus sekali itu,” puji Kamsiah. “Tunggu sebentar. Saya lihat Rudi dulu.”
“Iya.”
Kamsiah lalu bangkit lagi dan pergi ke dalam. Dia ke kamar Rudi. Dibukanya pintu yang tertutup dan ternyata tidak dikunci.
Kamsiah melihat Rudi sedang salat dalam posisi ruku, lalu bangkit untuk kemudian sujud. Kamsiah pergi lagi ke luar.
Seperginya sang ibu, Rudi justru menengok ke belakang lalu tersenyum karena ibunya telah pergi.
“Masih salat,” ujar Kamsiah kepada Vina. “Tunggu saja, sebelum zuhur juga pasti sudah selesai. Rudi selalu salat di masjid kalau lima waktu.”
“Iya, Daeng,” ucap Vina seraya tersenyum. “Tadi saya lihat ada tamu perempuan. Siapa itu, Daeng?”
“Oooh, itu Bulan. Dia tinggal di Air Panas. Anaknya baik sekali, Nak. Barusan dia menyumbang buku-buku buat anak-anak yang ngaji di sini,” jawab Kamsiah.
“Sejak kapan dia kenal dengan Rudi, Daeng?” tanya Vina.
“Setelah meninggal puangnya, Rudi memang berhenti minum-minuman, tetapi Rudi jadi pemurung, pendiam, selalu di kamar enggak mau keluar-keluar. Dia sering nangis sendiri di kamar kalau ingat puangnya. Sampai-sampai Daeng takut kalau Rudi jadi gila. Awalnya idenya Aziz yang bawa Bulan ke sini lalu mengenalkan Rudi sama Bulan, maksudnya biar Rudi bisa melupakan kamu, Nak. Habis mau diapakan lagi, kamu juga enggak bisa dihubungi,” kisah Kamsiah.
Terdiamlah Vina mendengar cerita Kamsiah. Ia menarik napas panjang, seiring sebutir air mata bening jatuh. Vina segera menyekanya.
“Jadi karena si Bulan itu Rudi bisa normal lagi?” tanya Vina dengan suara agak serak.
“Bukan. Bulan hanya penghibur hati Rudi saja. Berkat bimbingan Ustaz Barzanji, Rudi mau salat terus, sampai setiap salat tahajud dia menangis terus. Alhamdulillah, lama kelamaan, Rudi mulai membaik. Dia mau salat di masjid, sudah mau pergi ke pantai bareng Aziz dan Sandro. Pada saat-saat seperti itu, Bulan selalu datang, seminggu bisa tiga atau empat kali,” kata Kamsiah.
“Benar-benar Rudi sudah bukan milik saya,” batin Vina.
Sementara itu, Rudi yang mendengar ibunya bercerita masa lalu, jadi meneteskan air mata. Ia kembali mengenang almarhum ayahnya. Ia teringat kedurhakaannya kepada lelaki kurus yang lembut itu. Apalagi jika dia ingat cerita Aziz bahwa pernah ayahnya menggendongnya saat dia mabuk berat. Dia justru memukul-mukul kepala puangnya hingga jatuh terlutut sampai lutut itu berdarah. Dan itu terjadi di depan orang banyak.
Rudi menangis dengan berusaha tanpa suara. Jika selalu ingat dosa-dosanya kepada sang ayah, ia selalu akan menangis.
“Saya lihat Rudi dulu, Nak,” kata Kamsiah sambil bangkit lagi dari duduknya.
“Iya, Daeng.”
Ternyata, ketika Kamsiah melihat ke kamar Rudi, putranya itu masih dalam kondisi salat. Kamsiah jadi menunjukkan wajah heran. Padahal sudah cukup lama dan sebentar lagi waktu zuhur masuk. Kamsiah kembali keluar.
“Rudi masih salat,” ujar Kamsiah.
“Hah! Masih salat?” kejut Vina.
“Enggak tahu kenapa begitu lama. Enggak biasanya seperti itu,” kata Kamsiah juga heran.
“Mungkin karena dia enggak mau ketemu saya, Daeng,” ucap Vina sedih. (RH)