NovelToon NovelToon
Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Cintaku Dipalak Preman Pasar Sholeh 2 (Extended)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen School/College / Persahabatan / Tamat
Popularitas:712.4k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Tak disangka, awal pertemuan nya yg buruk merubah jalan hidup gadis ini. Awal dimana ia mengenali seorang preman nan berandal yang membawanya masuk ke dalam dunianya, dunia yang penuh warna. Membawanya mengenal dan belajar sebuah kata yg disebut orang, dari mata turun ke hati dari benci menjadi---cinta.

Cinta masa remaja yang terkadang manis kaya permen kapas, kadang asin bagai air garam, dan asam-asam pedes mirip rujak.


Season ke 2 CINTAKU DIPALAK PREMAN PASAR SHOLEH, menceritakan kisah cinta para penghuni MIPA 3.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAMA-NARA : GANGGUAN

"Ram, ana uhibbuki fillah'nya mana?! Kaya waktu pas latihan teaaa!" teriak Bayu.

Nara melihat mereka nyengir lebar karena ketauan menguping.

"Heeuh poho (lupa)!" ujar Rama menepuk jidatnya sendri.

"Ra----ana uhibbuki fillah kalo bahasa anak sekarang mah, lope-lope sekebon jengkol," lanjut Rama menyodorkan lebih dekat permen berbentuk kaki berperisa mangga itu.

"Diambil aja Ra, ngga akan jadi utang kok!" ucapnya. Nara melipat bibirnya menerima permen itu.

"Kamu latihan dulu di rumah, buat hari ini?" tanya Nara, dan Rama tertawa menyadari kebo dohannya.

Sungguh Rama itu unik, tidak seperti cowok kebanyakan. Tidak seperti Willy yang membuat suasana se-romantis mungkin dengan coklat, sebuket bunga, dan spanduk di dalam cafe yang cozy sepaket puisi Kahlil Gibran. Cara Rama malah terkesan seperti sedang bercanda--- Nara mengedarkan pandangannya ke sekeliling fosil hewan yang membisu, seperti sedang ikut menunggu jawaban Nara.

"Suittt!---suittt! Terima---terima!" teriakan mereka heboh dan gemas sendiri.

Rama masih menatap Nara lekat.

Karena kehebohan yang terjadi membuat pak Wahyu beserta rombongan siswa lain yang berada di belakang rombongan Rama menoleh ke arah mereka berada.

"Loh! Kalian kenapa pisah dari rombongan? Ini kenapa pada heboh disini sendiri?! Bubar---bubar!!" suara pak Wahyu mengejutkan mereka semua termasuk Rama dan Nara.

"Eh bapak, engga pak...anu ! Ini nyari barang yang hilang!" jawab Bayu langsung kabur bersama yang lain.

"Beuhh gangguan bro, iklan moltooo!" decih Ridwan.

"Ramadhan? Ayo ikut rombongan bu Hilda lagi, ck--ck! Ampun!" decaknya menggerutu saat Rama dan Nara melintas berlalu.

"Kan! Aku bilangin juga," omel Nara berjalan bersama.

"Jadi?" tanya Rama, Nara menghentikkan langkahnya, menatap lekat-lekat Rama yang sudah harap-harap cemas.

"Aku---"

drrttt......

drrtt........

Ponsel Nara bergetar, mengganggu moment serius yang siap tercipta. Semakin menambah detakan jantung di dada Rama.

"Bang Akhsan?" gumam Nara menautkan alisnya.

Nara membalikkan badannya, sedikit menjauh dari Rama.

Alis gadis itu menukik dan keriting, ia terlihat panik dan menutup panggilannya, "Ram, aku harus pulang sekarang!"

"Ada apa?" tanya Rama.

"Papa masuk rumah sakit!" jawabnya singkat.

"Kita ijin bu Hilda dulu," Rama menarik tangan Nara menyusul dimana bu Hilda berada. Rama tak lepas menggandeng Nara menemui bu Hilda, begitupun gadis itu yang tak berniat melepas genggaman tangan keduanya.

"Bu!"

Mereka semua menoleh, "euuhh yang dipanggil bu Hilda, kenapa jadi semua ikut noleh. Kalian semua ibu-ibu?" decak Vian.

"Bu, papa Nara masuk rumah sakit barusan, Nara mau ijin buat pulang cepat?" ijin Nara.

"Oh gitu, boleh tapi kamu gimana? Pulang sendiri dari sini?" tanya bu Hilda.

"Ya Allah, papa kenapa Ra?" tanya yang lain.

"Mendadak masuk rumah sakit barusan," jawab Nara.

"Biar saya yang anterin Nara bu," sahut Rama. Membuat mereka termasuk Nara menoleh pada Rama, "kenapa bengong, katanya ayahmu masuk Rumah sakit?" tanya nya.

"Ah iya--iya! Tapi kamu ngga perlu repot-repot anterin aku Ram, aku bisa sendiri kok,"

"Oh engga--engga! Aku anterin kamu!" paksa Rama keputusannya sudah final. Kini Rama menatap bu Hilda meminta persetujuannya.

"Boleh, hati-hati Rama--Nara! Salam buat keluarga," jawab bu Hilda.

"Hati-hati pa! Ma!" ucap Yusuf diikuti anggukan yang lain.

"Lang titip tas nanti tolong ke rumahin aja!" ujar Rama yang ogah membawa tasnya sendiri.

"Siap bruh!" Gilang menunjukan jempolnya ke arah Rama.

"Yuk!" ajak Rama, Nara awalnya ragu dengan Rama namun ia harus segera ke rumah sakit demi menemui papa.

Nara membawa tas miliknya dari penitipan, lalu Rama menyetop kendaraan angkutan yang melintas, setelah sedikit berjalan dari gerbang museum.

"Rumah sakit mana?"

"Santo---Y," jawab Nara.

Keduanya meninggalkan museum dengan pandangan Nara yang resah, tangan Rama menggenggam tangan Nara, "semua bakal baik-baik aja, insyaAllah!" pandangannya begitu meneduhkan.

Langkah keduanya cepat menyusuri lorong rumah sakit, terkadang beradu angin dengan para pengunjung lain, tapi bukan itu yang jadi fokus utama Nara, ia melirik tangannya yang sejak tadi digandeng Rama tak pernah dilepaskan, membuat Nara seketika merona, hatinya menghangat.

RUANG FATIMA

Nara mendongak melihat ruangan, "ini ruangannya."

Nara membuka pintu ruangan dimana Akhsan ada disana, "papa!" seru Nara berjalan menghampiri dan menghambur memeluk pria yang terkulai lemas di ranjang rumah sakit. Rama memilih diam di ambang pintu ruangan, sementara Akhsan duduk di samping ranjang papa Nara.

"Ra, itu papa sakit loh. Kamu peluk-peluk kaya melukin guling gitu, dek!" tegur Akhsan.

Nara melepaskan pelukannya dan menegakkan kembali badan, "mama mana bang?"

"Mamah lagi ambil obat sama bayar administrasi dulu," jawabnya mulai beranjak dari kursi.

"Mau minum lagi ngga pa?" tanya Akhsan.

"Udah cukup," tolak papa.

"Kok kamu disini? Bukannya lagi karya wisata?" tanya papanya bernada lemah.

"Iya, Nara ijin pulang duluan tadi pa," jawab Nara mengusap-usap tangan papa-nya yang terpasang selang infusan, ia melihat sdlang itu terhubung ke labu cairan yang tergantung.

"Nara kesini sama siapa, sendiri ?" tanya nya lagi.

Nara menggeleng "Nara dianter sama Rama, pa" balas Nara menoleh pada Rama, pemuda yang awalnya berada di ambang pintu itu mendekat lalu menunduk sopan, "iya om, Nara sama Rama. Om gimana udah enakan?" tanya Rama salim takzim.

"Alhamdulillah, Rama makasih ya, sudah mau repot-repot anterin Nara segala," imbuh papa Nara.

"Sama-sama om, om cepat sehat lagi," papa Nara mengulas senyuman pada Rama sebagai jawaban.

"Ram, thanks ya! Udah anter Nara!" Akhsan menepuk pundak Rama.

"Sama-sama bang," jawab Rama.

Terdengar bunyi langkah mendekat dar luar ruangan, "eh, ada Rama!" seru mama saat mendapati Rama dan Nara sudah memenuhu ruangan.

"Iya tante," Rama meraih punggung tangan mama Nara sopan.

Rama melirik jam di tangannya, "Ra, udah siang juga aku harus pulang," ijin Rama undur diri.

"Oh, oke." Nara ikut beranjak.

"Ma, pa--Rama mau ijin pulang! Soalnya tadi juga ijin dari kegiatan terus tasnya masih di titip Gilang," basa basi Nara.

"Oh gitu. Makasih banyak Rama, sudah mau anterin Nara ya!" tandas mama.

"Sama-sama tante, kalo gitu--om,tante, abang. Saya pamit undur diri, buat om syafakallah cepet sehat lagi,"

"Aamiin,"

"Ma, Nara anter Rama dulu ke depan!" ujar Nara.

Keduanya berjalan tak secepat tadi, namun kini keduanya tengah dilanda *moment awkward*, sama-sama diam dan hanyut dengan pikiran masing-masing.

"Ram!"

"Ra!"

Keduanya berucap bersamaan, lalu kembali mengatupkan mulutnya, "kamu duluan aja...." Nara mempersilahkan.

"Ngga ladiest first," balasnya mempersilahkan Nara bicara duluan.

"Oke, makasih ya Ram. Udah nganterin aku, dan soal yang tadi---" Nara menggantung ucapannya di udara, membuat langkah mereka ikut terhenti, pandangan keduanya saling melempar tatapan.

Bagaimana dengan Willy, jika Nara menerima Rama. Tapi tak dapat dipungkiri perasaan Nara begitu nyaman dengan Rama, sementara Willy---tak ada apapun untuk pemuda itu.

.

.

.

.

1
Anonymous
Nara semoga kamu selamat
gak diapa"in sama Willy cs
Anonymous
Ramadhan Gilang is the best
Anonymous
Hati"memilih teman Nara Masih untung jamu dipantsu Rama
Anonymous
Cinta anak sekolah selslu rona"TOP
Anonymous
Sombong amat tuh anak Mipa 2
Anonymous
Ramadhan memburu cinta
Anonymous
Klas Mipa 2 dan Mioa 3 ada persaingan kayaknya
Anonymous
Berisik sangat mengganggu ketentraman hati (kata hati Nara )😄
Anonymous
Baru baca kak👍
panjul man09
terlalu banyak pemerannya agak pusing ,di perkecil deh thor !
🥀🥀: ngga usah baca !
total 1 replies
lestari saja💕
cupiddddd😇😇😇
Kᵝ⃟ᴸEfy💫💦
kata2 papaRam wezzzeh🤣
Kᵝ⃟ᴸEfy💫💦
Rifal disini udah ngeh sama Dea
lestari saja💕
klo dulu kirana yg suka rama,rama tak suka,willy suka kirana.klo sekarang rama mengejar krn rama suka dan nara juga suka.
lestari saja💕
karena cinta segi tak beraturan temen jadi demen sekarang jadi musuhan
lestari saja💕
pasti diplesetin deh ini tar
lestari saja💕
rama sweet kayak suamiku,klo mau pergi pasti masangin helm nya....
Kᵝ⃟ᴸEfy💫💦
nyamannya baca disini, poin-poinnya langsung masuk di aq...sambil nungguin update Rifal_Dea,baca NARAMA dulu🤗
lestari saja💕
hemmmm....gimana ga kejebak kalo seribu jurus dilancarkan bertubi tubi....
nyaman dong di treat kaya princes juga
lestari saja💕
wiihhh ngatain anaknya sidepan abah nya...ga takut kena sambit golok daging ini rika
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!