Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Suatu saat nanti setelah kalian besar, pasti akan mengerti
"Pemirsa, inilah dia! Pasangan yang sedang menjadi sorotan publik. Seorang model cantik, Nancy Feriawan, tertangkap kamera sedang dinner romantis dengan seorang produser film ternama, Thomas Anderson." Seorang presenter membuka berita itu dengan senyum cerah.
Tampak gambar di layar televisi Nancy dan Thomas yang sedang makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Keduanya tampak begitu bahagia, tertawa bersama, dan saling menatap dengan pandangan mesra. Kilatan lampu kamera wartawan terus menyala, mengabadikan setiap momen kebersamaan mereka.
Selesai makan malam mereka keluar dari restoran mewah tersebut, sambil bergandengan tangan. Bahkan Thomas tak ragu membukakan pintu mobil untuk Nancy dengan gestur seolah mereka memang ada hubungan spesial.
"Saat ini Nancy telah melebarkan kariernya dengan merambah dunia akting dan membintangi sebuah film yang di produseri oleh Thomas Anderson. Keduanya juga terlihat sering terlihat berduaan di lokasi syuting film terbaru yang dibintangi oleh Nancy." Presenter itu menambahkan.
"Apakah kedekatan mereka terjalin karena proyek film ini, atau sebelumnya memang sudah ada hubungan spesial di antara mereka? Kita tunggu saja kabar selanjutnya!" pungkasnya mengakhiri berita tentang Nancy.
Beberapa saat Darrel terdiam membeku, matanya menatap layar televisi, tetapi pikirannya kosong entah pergi ke mana.
Zayn dan Zoey menatap Darrel dengan wajah bingung. "Papa, itu Mama, kan? Kenapa Mama sama Om itu?" tanya Zoey dengan polos.
"Iya, Pa. Kenapa Mama gandeng tangan sama Om itu?Kapan Mama pulang dan sama kita lagi?" timpal Zayn dengan nada yang sama penasarannya.
Darrel tersentak, pertanyaan polos dari kedua anaknya terasa menghunjam hatinya. Dia merasa seperti ditusuk ribuan jarum. Lidahnya kelu, tak tahu harus menjawab apa. Dia menatap kedua buah hatinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kemudian ditariknya napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dia paham, cepat atau lambat, anak-anaknya pasti akan mempertanyakan yang sebenarnya terjadi pada kedua orangtuanya. Mengapa mamanya pergi dan tidak tinggal bersama mereka.
Darrel bingung, apakah harus menjelaskan pada mereka sekarang sebab mereka masih kecil. Namun, dia tidak ingin anak-anaknya mendengar kebenaran itu dari orang lain. Maka, dia pun memutuskan untuk menjelaskan semuanya dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Sayang...duduk sini, dekat Papa," ucap Darrel dengan suara pelan. Dia meminta kedua anaknya mendekat lalu menepuk pahanya agar mereka duduk dipangkuannya.
Zoey dan Zayn menurut. Mereka duduk di pangkuan Darrel dengan wajah penuh tanda tanya.
Darrel merangkul keduanya dengan erat. "Papa tahu, ini sangat sulit untuk kalian pahami. Tapi, Papa akan coba jelaskan," ujarnya dengan hati-hati.
"Mama...Mama memang sedang bekerja di luar negeri. Tapi...ada beberapa hal yang mungkin belum kalian ketahui." Darrel berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat.
"Mama dan Papa sudah tidak bersama lagi," ucap Darrel dengan berat hati. Dia menatap kedua anaknya dengan tatapan lembut dan penuh kasih.
Zoey dan Zayn terdiam. Mereka saling bertukar pandang, lalu kembali menatap Darrel dengan tatapan bingung.
"Tidak bersama lagi? Maksudnya apa, Pa?" tanya Zoey dengan polos.
"Maksudnya...Mama dan Papa sudah berpisah, Sayang. Dan itu artinya papa dan mama tidak bisa tinggal bersama lagi," jawab Darrel dengan suara lembut.
"Berpisah? Kenapa? Apa Papa nakal sama Mama? Lalu Mama pergi dengan membawa koper seperti malam itu?" tanya Zayn dengan nada khawatir.
Darrel menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Sayang. Papa tidak pernah nakal sama Mama. Dan ini bukan salah siapa-siapa. Hanya saja, Mama dan Papa sudah tidak cocok jadi kami memutuskan untuk berpisah."
"Kalau begitu Mama tidak akan kembali pada kita? Tapi...tapi kenapa, Pa? Kami kan, sayang sama Mama. Kami mau Mama pulang," ucap Zoey dengan mata berkaca-kaca.
"Zayn, juga mau Mama pulang," timpal Zayn tak kalah sedih.
Darrel memeluk kedua anaknya dengan erat. Dia merasakan air mata mulai mengalir di pipinya. Dia menyadari bahwa ini adalah momen yang sangat sulit bagi mereka.
"Papa tahu kalian sedih. Papa juga sedih. Tapi...kita harus kuat dan bisa menerima," ucap Darrel dengan suara tercekat.
"Tapi...apa Mama tidak sayang lagi sama kita, Pa? Makanya Mama pergi sama Om itu?" tanya Zoey dengan nada lirih.
Darrel melepaskan pelukannya dan menatap Zoey dengan tatapan lembut. "Tidak, Sayang. Mama pergi bukan berarti Mama tidak sayang sama kalian. Mama tidak mungkin melupakan kalian."
"Mama pergi, karena...karena ada alasan lain yang belum bisa kalian pahami sekarang. Ini persoalan orang dewasa, dan suatu saat nanti setelah kalian besar, pasti akan mengerti," sambungnya mencoba memberi pengertian.
"Lalu...kapan Mama pulang, Pa? Kami kangen sama Mama," tanya Zayn dengan wajah memelas.
Darrel terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia bahkan tidak tahu apakah Nancy akan pulang atau tidak.
"Papa... Papa nggak tahu kapan Mama akan pulang. Tapi papa janji, papa akan selalu ada buat kalian dan menjaga kalian. Papa akan selalu menyayangi kalian banyak-banyak," ucap Darrel dengan sungguh-sungguh.
Zoey dan Zayn memeluk Darrel dengan erat. Mereka menangis dalam pelukan ayahnya. Darrel membalas pelukan mereka lebih erat, berusaha memberikan mereka kekuatan dan ketenangan.
Setelah beberapa saat, tangisan mereka mulai mereda. Darrel mengusap air mata di pipi kedua anaknya dengan lembut.
"Sudah, ya. Jangan sedih lagi." ucap Darrel sambil tersenyum.
"Iya, Papa," jawab Zoey dan Zayn bersamaan.
"Ayo kita bermain." Darrel kemudian mengajak kedua anaknya kembali bermain. Dia berusaha mengalihkan perhatian dari kesedihan yang mereka rasakan. Membuat mereka tertawa dengan candaannya yang bahkan tidak lucu sama sekali, menjadi kuda atau badut yang penting bisa membuat mereka tertawa dan lupa akan kesedihannya. Meski hatinya sendiri berbalut kesedihan.
Namun, Darrel bertekad untuk tidak menyerah. Dia akan menjadi ayah yang terbaik bagi mereka. Dia akan memberikan mereka kasih sayang dan kebahagiaan yang mereka butuhkan.
.
Malam harinya, setelah memastikan Zayn dan Zoey sudah tertidur lelap, Darrel mengecup kening kedua anaknya dengan lembut, lalu keluar dari kamar. Dia duduk di ruang tamu lalu membuka ponselnya mencari portal berita selebriti dunia dan menemukan berita tentang Nancy dan Thomas Anderson.
Hatinya kembali terasa tercubit, melihat foto Nancy tertawa bahagia bersama pria lain. Darrel tertawa hambar seolah menertawakan hidupnya yang jungkir balik bagai roller coaster. Kebahagiaan itu hanya sekejap dia rasakan.
Darrel menutup ponselnya dan beranjak menuju kamar. Dia merebahkan diri di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar sambil bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Namun, dia percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuannya. Pasti akan selalu ada jalan keluar bagi setiap masalah. Dengan keyakinan itu, Darrel memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. Dia berharap, esok hari akan menjadi hari yang lebih baik.