Seorang wanita bernama Arabella Gwenevieve berusia 22 tahun.. Hidupnya begitu kelam setelah dijual oleh kedua orang tuanya dan menikah dengan seorang pria yang dijodohkan dengannya.. Namun pernikahan tersebut hanya berlangsung selama beberapa bulan dan suaminya kembali mencampakkannya.. Hidupnya berubah setelah bertemu dengan seorang mafia yang sangat kejam dan di takuti di kota tersebut..
penasaran seperti apa kisahnya?
Ikuti Kisah nya terus.. jgn lupa like and vote sebanyak banyaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yaya genza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"kurasa aku mendapatkan gadis yang cocok." Pikir Charles.
Melihat latar belakang keluarganya, Rosye dibesarkan dalam norma norma keluarga yang ketat. Dia dirawat dan mendapatkan pendidikan yang cukup. Gadis itu cantik, tenang, cerdas. Contoh kesempurnaan di depan layar.
Rosye akan menjadi istri yang baik, dia akan menampilkan kesan sebagai istri yang sempurna dan Charles membutuhkan yang seperti itu.
"Aku sudah memutuskan untuk menikahimu, Rosye. "
"Terima kasih Mr. Aldridge. Dad pasti akan senang mendengarnya. "
Charles meraih tissue dan mengusap noda saus di sudut bibirnya. Ia tersenyum kaku.
"Bagus, aku akan segera menemui ayahmu dan menetapkan tanggal pertunangan. "
Rosye berdiri, Charles melakukan hal yang sama. Pria itu mengulurkan tangan ke arah Rosye, lalu menariknya mendekat setelah keluar dari sekitar meja makan malam.
Restoran tempat mereka makan malam berada di pusat kota, dan disana merupakan tempat yang ekslusif. Bahkan jika Charles ingin, ia bisa membuat Rosye ber c i n t a dengannya disana tanpa merasakan ketidak nyamanan. Tetapi ia tidak berniat melakukan hal hal seperti itu, sementara pikirannya di penuhi oleh Arabella.
Charles meraih dagu Rosye, mengusapnya lembut. Rosye menghela nafas, mengerjap menatap Charles dengan kepasrahan yang selalu Charles dapatkan dari wanita manapun, kecuali Arabella.
Dengan lembut ia menci um Rosye, membuat gadis itu meleleh. Saat ciu man yang hanya saling menempel itu usai, Charles menyeringai.
"Kau akan jadi istri yang sempurna untukku Rosye. "
"Aku harap aku tidak mengecewakanmu Mr. Aldridge. "
"Jika itu penghianat, aku masih akan memberi kesempatan. "
"Terima kasih. Kurasa aku harus pergi sekarang. " Rosye tersenyum.
"Baiklah."
Rosye menjauh lalu menghilang dari balik pintu. Charles mengerutkan alis tebalnya, lalu meraih segelas anggur lagi. Ketika sedang menikmati minuman itu, Charles menerima telpon dari Leo.
"Tuan Charles.!"
"Ada apa.? "
"Nona Arabella, dia melarikan diri.! "
Flashback On
Arabella tau Charles tidak ada di mansion. Itu akan mudah, ya ini akan mudah. Ia pasti akan bisa keluar dari mansion itu dengan menyamar menjadi pelayan.
Beberapa pelayan yang dipercaya memiliki pekerjaan berbelanja, dan mereka selalu tertutup. Memakai masker dan seragam hitam ketika melakukannya setiap seminggu sekali saat mengambil persediaan bahan makanan.
"Nona ada apa.? " Arabella keluar dari kamar nya dan menemui seorang pelayan.
"Akhir akhir ini aku tidak bisa tidur. Bisakah aku meminta obat tidur yang cukup kuat.? "
"Apa nona baik baik saja.? "
Melihat lingkaran hitam di bawah mata Arabella membuat pelayan itu meringis. Seolah memahami apa yang dialami Arabella. Mereka tau gadis itu adalah tahanan sang tuan, dan pasti sulit hidup dalam tekanan.
"Akan saya ambilkan. " Ucapnya kemudian.
"Terima kasih" Kata Arabella.
Tak lama kemudian si pelayan itu mengantarkan obat dan air ke kamar Arabella. Setelah si pelayan itu keluar, Arabella meraih obat itu dan menghancurkannya dengan sendok, lalu sebagian obat itu ia masukkan ke dalam kertas yang di lipat. Setelah itu Arabella keluar kamar lagi.
"Apa nona membutuhkan hal lain.? " Tanya pelayan.
"Aku belum meminum obatnya karena ini masih terlalu awal untuk tidur, bolehkah aku pergi mencari udara segar.? "
"Baiklah."
Pelayan itu bersikap sangat santai. Karena ia tahu, sebaik apapun Arabella mencoba melarikan diri dari pintu utama, itu akan membuatnya berakhir tertangkap.
Para pelayan itu juga mengikuti perintah sang tuan yang sudah memberi izin agar Arabella tidak disekap di dalam kamar, agar mereka membebaskannya melakukan apapun asalkan tidak pergi ke danau atau ke kandang harimau.
Sayangnya mereka lengah. Mereka tidak tahu jika Arabella sudah menyadari ada pintu keluar lain. Bahwa dia berencana untuk membebaskan dirinya dengan cara halus.
Arabella berjalan jalan di sepanjang lorong mansion, menatap lukisan besar yang ada disana satu persatu. Bersikap netral tanpa menunjukkan niat terselubung. Lalu, saat tidak ada yang mengawasinya. Arabella menyusup ke dapur untuk menuangkan jus dan mengambil sisa pie apel di lemari es. Lalu ia pergi ke bagian sisi belakang mansion, tempat dimana kamar kamar para pelayan berada.
Arabella mengetuk pintu, lalu seorang pelayan muda yang cantik dan sudah akrab dengan Arabella keluar dan menatap nya dengan terkejut.
"Nona Arabella.? "
"Hai. Apa aku membuatmu terkejut.? "
"Apa yang nona lakukan disini.? " Tanya sang pelayan. Arabella berkedip lugu.
"A.. Aku hanya merasa sangat kesepian. Bolehkah aku minta ditemani sambil makan pie dan jus. ? "
"Tapi nona. Aku tidak bisa lama menemanimu. Karena aku punya tugas malam ini. "
"Tidak masalah. Aku hanya ingin berbicara sebentar. "
Lalu pelayan itu menatap nampan yang dibawa Arabella.
"Nona bahkan repot repot membawakan jus untukku.? "
"Kenapa? Kau sahabatku Katryn." Gadis itu menarik sudut bibirnya.
"Kau baik sekali. " Ucap sang pelayan.
"Apa aku tidak diundang masuk.? " Tanya Arabella dengan lugu.
Pelayan itu mendorong pintunya, lalu Arabella masuk ke kamar berukuran sedang, tempat pelayan itu beristirahat selama tinggal di sana. Arabella duduk di tepi tempat tidur, meletakkan gelas berisi jus dan pie enak itu. Lalu mereka mulai makan.
"Aku punya teman baik, namanya Cessia. Dia gadis yang baik. " Arabella memulai pembicaraan.
"Oh ya? " Katryn menyesap jusnya, Arabella tersenyum lebar.
"Aku merindukannya. Kami sering pergi membeli makan malam di restoran china. Kurasa dia akan senang jika bekerja di tempat yang bagus seperti ini, dia suka rumah rumah dan segala hal yang mewah. "
"Aku sendiri suka tinggal disini. Meskipun harus mempertaruhkan hidup. " Lalu senyum Arabella meredup.
"Senang rasanya memiliki teman mengobrol. " Lanjutnya.
"Apa benar tuan Aldridge memintamu menikah dengannya.? " Tanya Katryn
"Ya, tapi aku menolak. "
"Kenapa.? " Katryn mengerutkan kening.
"Karena aku punya tujuan hidup sendiri. "
"Hmm kadang kadang kita memang tidak bisa mengelak dari takdir dan.... "
Sebelum pelayan itu menyelesaikan ucapannya, ia sudah terkapar di tempat tidur. Arabella cepat cepat bertindak, ia menutupi tubuh Katryn dengan selimut.
"Aku harus cepat.! "
Arabella melihat pakaian yang ditumpuk di atas meja, pakaian yang akan dipakai pelayan itu saat pergi berbelanja nanti.
"Kenapa berbelanja saja harus rahasia.? " Pikir Arabella.
Charles adalah orang penting. Bahkan bahan bahan makanan yang akan ia makan haruslah diambil dari tempat rahasia. Karena bisa saja musuh mengetahui tempat pembelian bahan makanan dan meletakkan racun atau sebagainya untuk membunuh Charles.
"Aku harus pergi dari sini. Sedikit lagi.! " Gumam Arabella.
Ketika pintu di ketuk, Arabella sudah siap. menemukan dua pelayan yang menatapnya dari balik masker. Arabella mengintip dari tepi topi hitam. Tubuh Arabella dan Katryn nyaris sama, bahkan warna mata mereka pun sama. Dan katryn dikenal sebagai pelayan yang jarang bicara.
"Siap pergi.? " Tanya salah seorang pelayan.
Arabella mengangguk, meniru gerak gerik bahkan cara berjalan Katryn agar kedua pelayan itu tidak curiga.
HAPPY READING♥
Jangan Lupa Like, Komen, Subscribe Sayangku♥
kake nya Carles atau musuhnya tour