Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.
Aiza dan Akhmar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Digodain
Lutut kaki Akhmar jadi lemas, kontradiksi dengan gerakan yang baru saja tubuhnya lakukan. Akhmar menjauhkan wajahnya hingga nyaris terhuyung jatuh kalau saja tidak secepatnya menyeimbangkan diri. Dahinya mengernyit kuat, tidak percaya dengan kecerobohan yang baru saja ia lakukan.
Sial! Akhmar menatap wajah Meta yang memerah, entah karena malu atau sedang marah. Dan ia terkejut melihat Meta yang akhirnya tersenyum sipu. Artinya tindakannya tadi tidak menimbulkan efek marah.
“Sori.. Sori… Sumpah, itu tadi nggak sengaja. Kecelakaan.” Akhmar berusaha meyakinkan dengan mengangkat dua jari.
Tiba- tiba tatapan Akhmar tertuju pada Aiza yang berdiri di kejauahan, gadis itu berada tepat di sisi gedung sekolah sambil membawa buku besar. Gadis yang juga tengah menatap ke arahnya itu memandang degan raut berbeda. Dia menonton kejadian tadi.
Sepertinya Akhmar salah jika menganggap ciuman gratis tadi adalah sebuah keberuntungan, tapi kesialan. Sebab kejadian itu justru dipergoki oleh Aiza aneh, kenapa ia merasa kesal saat tingkahnya itu disaksikan oleh Aiza?
Apa yang dipikirkan gadis itu setelah melihat kecelakaan tadi?
Sial sial sial! Akhmar tidak berhenti mengumpat dalam hati.
Melihat reaksi Meta yang malah senang mendapat ciuman dari Akhmar, Jampang emosi bukan kepalang. Lelaki itu meninju dinding pagar.
“Aiza! Aiza! Tungguin!” teriak gadis lain mendekati Aiza dan langsung dijawab dengan anggukan kepala.
Mereka pergi dan hilang dari pandangan.
AIZA. Akhmar mencatat nama itu dengan baik di kepalanya. Kemudian tatapannya tertuju ke pagar belakangnya. Jampang sudah tidak ada di sana.
Akhmar balik badan dan keluar dari area sekolah itu dengan memanjat pagar. Ia mendengar Meta berseru memanggil namanya namun tidak ia perdulikan. Peduli amat dengan Meta, Akhmar tidak membutuhkan gadis itu. Rasa aneh yang muncul dalam dirinya terhadap Aiza membuatnya tidak tertarik pada gadis lain.
***
“Aiza!”
Gadis berwajah seperti boneka patung itu menoleh ke sumber suara yang memanggil. Tampak gadis yang tak kalah mungil mendekat ke arahnya.
Aiza tersenyum menyambut Nayla yang menghampirinya.
“Katanya mau pinjem buku gue. Nih, gue pinjemin.” Nayla menyerahkan bukunya.
“Thanks, Nay.” Aiza mengambil buku itu dan memeluk di dada.
Bel baru saja berdering dan anak-anak Aliyah bertaburan keluar kelas masing-masing.
“Yuk, pulang bareng gue! Gue dijemput sama Nyokap,” ajak Nayla.
“Enggak. Makasih, Nay. Gue naik angkot aja.”
“Heran gue ama lo, orang tua lo kan orang berada, masak sih lo pulang pergi sekolah naik angkot? Minta beliin motor kek, minta dianter jemput kek, atau….”
“Gue pengen mandiri,” celetuk Aiza yang tidak ingin minta dibeliin barang-barang mewah dari Ayahnya, apalagi minta dibeliin kendaraan, ia tidak sudi. Apa bedanya minta pada Ibunya? Karena jika ia meminta pada Ibunya, otomastis Ibunya akan meminta pada Ayahnya. Lebih baik tidak sama sekali.
“Ya udah, gue pulang. Dadaah…”
Aiza tersenyum dan melambaikan tangan.
Aiza balik badan lalu keluar pagar samping sekolah, melewati sebuah gang. Langkahnya memelan saat menatap ke depan, ia baru ingat bahwa ia akan melintasi persimpangan jalan tempat dimana ia pernah digodain anak-anak sekolah. Ia tidak suka digoda para lelaki. Ia benci dirayu dan dipuja. Rayuan lelaki kepada wanita tidak lain bermula dari setan. Dan Aiza tidak menyukai hal-hal berbau rayuan lelaki.
Benar dugaan Aiza, cowok-cowok di persimpangan jalan sana tampak bersiul-siul menunggunya melintas.
Bersambung